
►#Note ponsel Olivia sebelum kecelakaan
Aku tidak mengharapkan ini.
Mencintaimu sangat menyakitkan.
Semua tentang mu. Aku tidak berharap mengingat mu kembali.
Perjalanan ini sangat menyia-yiakan. Entah mengapa hati ini terasa sakit. Jujur aku tidak mengharapkan Richi yang bisa bersama ku kelak, bukan karena mengetahuinya dia sudah mempunyai seorang pendamping hidupnya. Hatiku memang hancur mengetahui itu. Hidupku seakan tidak ada artinya lagi. Kenapa dia seperti ini, memberikan harapan palsu itu. Seharusnya dia tidak perlu mengatakan untuk saling menunggu...
Namun di detik itu aku tiba-tiba mengingat seseorang yang perlahan memudar di hidupku. Aku merasa aku menjadi seorang monster karena aku kembali teringat dengan mu, Kenzie.
Apakah aku monster? Hingga kau selalu menghindar tepat didepan ku. Kenapa kau begitu membenciku Ken? Aku benci kebenaran cerita ini—kenyataan ini. Bahkan aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengatakan.
***
Setahun lalu, tahun 2013…Beberapa hari menjelang kecelakaan...
“Wah… Foto baby siapa? Lucu banget.” Tanya ku melalui Akun Facebook Richi.
“Emm… iya. Lucu bangetkan mirip ayahnya.” Ujar Richi menjawab Foto yang dia jadikan photo profil di facebooknya.
“Tambah banyak aja keponakan mu… entar aku cubitin kalo ketemu deh..”
“^_^” singkatnya.
Keesokkan harinya aku datang kerumah Richi membawakan pakaian bayi, yang sengaja aku persiapkan untuk kunjungan ku kerumah Richi. Ini kunjungan ku dari sekian lamanya. Ketika aku sudah mulai merangkak perahan bersama bisnisku di negeri orang.
Sebelumnya aku sempat dilarang Mama untuk kerumah Richi. Namun aku bersikeras. Entah kenapa untuk pertama kalinya ia melarang ku untuk bertemu dengan laki-laki itu. Biasanya dia yang selalu membangga-banggakan Richi. Pada kenyataannya apa yang harus di banggakan dari Richi. Sesampainya dirumah Richi, aku disambut dengan ayahnya yang sedang mengendong bayi, bayi itu sama dengan di photo profil Richi saat itu. Keponakan Richi.
“Hai Olivia, kapan kamu pulang?” sapa ayah Richi yang air mukanya berubah, terlihat sangat canggung karena kedatanganku.
“Ahh… Baru semalam pak…” mencubit gemas pipi bayi yang sedang digendong ayah Richi. “Ah… sama seperti di poto. Lucu.”
Tiba-tiba seorang perempuan keluar dan menyambutku dengan ramah dan hangat. “Hai…” sapanya mengampiriku.
“Hai… Oh... menantu baru pak?” Tanyaku. Aku rasa ini adalah istri dari kakak kedua Richi. Dan anak yang di gendong oleh ayahnya adalah keponakan Richi. Namun respon ayah Richi membuat balon-balon pertanyaan timbul di kepalaku.
“Emm… iya nak.” Dia tersenyum ragu.
“Ini ada oleh-oleh aku bawakan buat anak kamu. Oh iya. Kenalin saya Olivia.” Ujar ku memperkenalkan diri kepada wantia itu.
“Saya Sinta.”
Tiba-tiba, Richi muncul dari balik pintu—aku tersenyum bahagia— Dia bahkan ingin kembali masuk dengan muka yang begitu panik. Tapi langkahnya terhenti ketika aku keburu menyapanya.
“Oh… hai Vi’… kamu datang kok gak ngasih kabar?” Ujarnya serba salah dengan senyum yang ku rasa di paksakan untuk membuatku senang.
“Oh iya mbak masuk dulu. Gak enak berdiri didepan pintu.” Tawar perempuan itu ramah.
“Oyah… terima kasih.”
Perempuan itu mengambil alih gendongan anak laki-laki itu dari gendongan ayah Richi. Richi tampak panik di hadapan ku. “Terima kasih banyak ya mba’… udah datang, sampai ngerepotin gini.”
“Ah, enggak biasa aja. Oyah siapa namanya?”
“Zac Anuary Fatar…” ujarnya tersenyum. “Richi sendiri yang ngasih nama.”
“Aaah… ada bakat kamu ngasih nama.” Ujarku memukul lengan Richi yang berdiri didepanku.
“Pa’ bisa jagain Zac? Aku mau buat minum dulu.” Ujar Perempuan itu kepada Richi—Pangillan itu? —Richi tampak gelisah. Tidak lama akhirnya aku terkoneksi dengan panggilan yang perempuan itu ucapkan kepada Richi. Yang sebenarnya adalah mantan kekasih ku. Bukan, kami bahkan lebih dari kekasih yang sudah putus hubungan. Kami mempunyai janji, kami punya komitmen. Dia juga berjanji bertanggung jawab atas semua masa lalu yang pernah kami lakukan.
“Emm… Iya…” Richi sangat panik sekarang, ketika perempuan itu masuk ke dalam. Richi memberanikan dirinya berbicara lagi.
__ADS_1
Aku shock. Ku usahakan diriku tidak terlihat seperti itu. Ku sembunyikan baik-baik perasaan ini. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Ayah Richi yang berada disamping ku tiba-tiba memegang punggung tangan ku. Dia memberiku semangat. Tapi itu seakan tidak ada artinya. Ayah Richi sangat mengenal ku. Hanya saja dia tidak mengetahui apa yang pernah ku lakukan bersama anaknya yang... berengsek itu.
“Vi’ maaf... Dia Istriku. Dan ini buah hati kami.” Aku terdiam. Emosiku memuncak saat itu. Namun aku tetap menyembunyikan perasaan yang bergejolak di dalam diriku.
“Nak’… maafkan Bapak.” Lanjut Ayah Richi. Seharusnya bukan ayahnya yang meminta maaf. Melainkan anaknya itu.
“Vi’… Maaf.” singkatnya, seketika Perempuan itu masuk keruangan ditempat kami berada dengan membawakan beberapa gelas minuman dan beberapa makanan ringan.
“Aaah… kamu ini jahat banget. Nikah gak panggil-panggil aku.” Aku angkat bicara. Masih berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa. Ini sangat sakit. Namun aku tidak ingin membuat perempuan itu juga merasakan hal yang sama. Terutama itu akan berdampak buruk dengan anaknya.
“Loh… mbak, Richi gak ngasih tahu saat kami nikah? Waduh Pa’ kamu ini gimana sih.” Ujarnya terlihat agak kesal kepada Richi. “Maaf ya mbak.” Jawab perempuan itu yang tidak lain Istri sahnya Richi.
“Hahaha… gak masalah. Saya juga gak mungkin datang lah. Saya jauh banget saat itu.”
Richi Tertunduk bersalah.
“Emangnya saat itu mbak ada dimana? Aduh maaf banget ya mba.”
“Iya gak masalah. Saya saat itu lagi Beijing. Maklum, saya lebih mendahulukan mengejar impian saya, ketimbang menghadiri pernikahan kalian. Maaf ya.” Ujarku menekan nada suara. Sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan perkataan ini. Namun begitu saja dia keluar dari mulutku.
“Oh, embak dari Beijing? Jauh banget ya.”
“Emm…” tersenyum terpaksa. Aku minum dengan cepat minuman yang telah disugguhkan. “Oh ya, maaf banget saya harus buru-buru. Saya pamit dulu ya.” Mata ku berkaca-kaca. Berusaha menahan air mata yang hampir terjatuh. Aku berdiri menepuk pundak Richi kuat. “Langeng ya Richi…”
Belum jauh dari rumah Richi. Aku sedang menunggu taksi yang akan lewat. Kaki ku bergetar hebat menahan amarah yang sukar di kendalikan. “Olivia!” panggil Richi dari jauh. Aku hanya terdiam seketika mengetahui siapa pemilik suara itu. Tidak sedikitpun aku menoleh kearah sumber suara. “Maaf...” Ujar Richi menghampiriku.
“Tujuan kita kali ini berbeda. Walau ada tangis. Itu tidak akan merubahnya. Aku sadari itu. Lanjutkan apa kata hati mu katakan.” kataku tanpa memandang Richi...Namun air mataku tidak bisa di tahan lagi.
“Aku harap kau bisa memakluminya. Maaf.”
“Kau pergi menitipkan sebuah janji. Begitu saja! Tanpa mengucapkan selamat tinggal. Lalu apa arti aku berdiri disini. Dengan niat baik-baik aku langkahkan kaki ku kesini. Tapi dengan sekejap kau hancurkan niat ku.” Richi hanya terdiam. “Manis kata-katamu sebelum aku melangkah kesini... tapi, pahit ku rasa ketika langkah kaki ini telah berpijak disini...”
“Aku rasa saat itu kau sudah tidak mencintai ku lagi. Kau selalu menolakku jikalau aku meminta untuk kembali kepada mu. Bukankah kau tidak mencintai ku? Bukankah selama ini di pikiran mu hanya ada seorang Kenzie.”
“Aku tahu kau masih mencintainya. Itu kenapa aku memutuskan untuk menghilang dari mu. Aku tidak percaya dengan mu. Apalagi kita sudah melakukan itu—Disaat kita jauh berbeda daratan, bagaimana aku bisa mempercayai mu lagi. Sedangkan dengan ku, kau berani menggadaikan kehormatan mu untuk melupakan orang lain. Itu kenapa aku rela melepasmu, disana. Bahkan tidak mau lagi berhubungan dengan mu. Apakah nasibku sama dengannya? Bagaimana aku sudi jika kau sama memperlakukannya seperti denganku. Kenzie itu sahabat kecil ku. Aku tidak akan rela jika kau perlakukannya seperti itu.”
“Apa?!” Aku sungguh tidak percaya dengan ucapan Richi. Aku sangat terguncang mengetahui saat ini Kenzie adalah sahabat Richi? “Menjadi orang terhina di depan orang yang pernah mengemis-mengemis cintamu. Bagaimana rasanya? Ya, kau tidak perlu merasakan itu!” Air mataku terjatuh semakin deras.
“Maksudmu?”
“Dasar berengsek! Hebat sekali kau menyembunyikan kebohongan mu. Mencari alasan-alasan seperti itu! Aku bukan seorang nabi yang sanggup menahan kesabaran. Tapi aku berusaha untuk itu semua. Dan berharap kau mengerti! Setidaknya jangan membuat orang lain menunggu!”
Taksi berhenti tepat di depan kami berdua. Aku segera menaiki taksi itu dan membanting pintu dengan keras, hingga membuat kaget sang sopir. Dengan segera aku meminta maaf karena tidak sengaja.
Tanpa pikir panjang lagi. Sepulang dari rumah Richi. Aku langsung berpamitan lagi dengan keluarga ku untuk segera terbang kembali ke Beijing. Aku rasa mama sudah mengerti keadaan ku. Dia menyemangatiku. Aku sangat berdosa sekali karena tidak menjadi anaknya yang baik. Bahkan aku telah melakukan kesalahan yang pernah terjadi dan itu sangat membuat kedua orang tuaku terpuruk. Aku memang anak yang tidak bisa berterima kasih atas kasih sayang yang pernah diberi. Hanya karena masalah cinta aku melupakan tanggung jawabku membahagiakan kedua orang tuaku. Malah menambah dosa dan menjerumuskan kedua orang tuaku ke dalam lembah dosa yang tidak mereka ketahui bahwa anaknya ini telah membohonginya.
Namun sebelumnya aku akan singgah dulu ke Bandung. Untuk bertemu dengan Azira adik ku. Aku hanya semalam bertemu dengan Azira. Besok paginya aku akan bertemu dengan seseorang lagi, —sebelum aku benar-benar memutuskan benar-benar ke Beijing secepatnya.
Satu lagi keajaiban yang aku cari.
***
“Kamu yakin Fin’ ini alamatnya?” Tanya ku diseberang telepon.
“Iya. Aku langsung tanya dari Angga. Tumben kamu tanyain dia. Aku kira kamu sudah melupakannya.”
“Tidak mungkin aku dengan mudah melupakannya. Kau tahu sendiri. Haha... Yah Karena dialah aku mengenal istilah cinta itu. Hahaha... Aku berlebihan ya. Ya udah kalau gitu. Thanks ya Fin’… doakan yang terbaik ya.”
Aku langsung mencari alamat yang diberikan Terfin. Alamat itu sangat mudah untuk ku kunjungi. Alamat kantor itu tidak jauh dari pusat perkotaan.
“Punten, bisa saya bertemu dengan Kenzie?” Tanya ku kepada penjaga keamanan.
“Kenzie? Kenzie yang mana ya neng?” tanyanya binggung dengan logat sundanya. Aku sempat putus asa karena penjaga ini saja tidak tahu-menau mengenainya. Ya, hari ini aku memutuskan bertemu dengan Kenzie. Aku mengharapkan keajaiban kepadanya. Walau aku telah kotor seperti ini. Namun setidaknya aku bisa tahu apa yang dia rasakan mengenai perasaannya kepadaku. Meskipun hasilnya aku tidak tahu bagaimana nanti, aku tetap saja nekad.
__ADS_1
“Kenzie, umm…. Ini fotonya.” Ujar ku yang langsung mengeluarkan ponsel lalu mencari foto, setelah menemukan ku perlihatkan kepadanya. Mungkin jika Kenzie tahu, dia pasti akan jijik dengan ku karena menyimpan salah satu fotonya.
“Oh… Dia yang punya kantor ini neng... Pak Kenzienya sedang keluar neng. Biasanya jam segini lagi makan siang.”
“Oh ya? biasanya lama gak ya?”
“Ya gak lama sih neng. Kan makan siang doang… eneng tunggu aja di dalam.”
“Oh, saya tunggu saja dulu deh disini.”
“Kalau boleh tahu ada perlu apa ya neng?”
“Emm… saya ingin bertemu dengan Kenzie aja. Sudah lama gak ketemu.”
“Teman sudah lama ya neng?”
Aku hanya mengganguk.
“Owalah... Kayaknya jarang liat juga.” Ujarnya basa-basi.
“Iya, saya jarang kesini. Jadinya jarang kelihatan.”
“Kerja dimana neng? Kenapa gak satu kantor aja sama pak Kenzie.”
“Emm… saya juga sedang membangun bisnis sendiri. Kalau menjadi rekan bisnis mungkin saja bisa bareng Kenzie.”
“Memangnya bisnis dimana?”
Aku sempat ragu memberitahukannya. “Saya bisnis di China, Beijing tepatnya.”
“Wuaah… hebat eh si eneng. Sudah geulis, punya bisnis diluar negeri lagi… hebat… hebat.”
“Haha… kamu bisa aja.”
“Ohh… saya tahu nih. Jauh-jauh datang dari China, karena mau datang di acaranya nikahannya pak Kenzie ya?”
Kejutan kedua untuk ku, kejutan di Indonesia yang tidak terduga-duga. Jantung ku kali ini berpacu sangat cepat. Kepalaku kembali terasa berat. Cobaan apalagi ini? Sepertinya aku tidak bisa menerima cobaan ini.
“Emm… Iya.” jawab ku sebisanya.
“Wah, si eneng ini… TOP deh, sampai ngerelain datang gitu. Oh ya itu pak Kenzie sudah datang. Sebentar saya panggil dulu ya.” Tangkapnya ketika melihat mobil Kenzie memasuki perkarangan kantor.
Bukan menunggu Kenzie turun dari mobilnya. Aku malah bergegas menyetop taksi. Dan segera pulang menemui Azira untuk berpamitan. Ya, malam ini aku akan segera kembali ke Beijing. Aku sangat gila. Dasar manusia bodoh!
Perjalanan tiga hari di Indonesia. Meskipun membuahkan hasil karena mengetahui semuanya, tetap saja ini merupakan kehancuran bagiku.
Mungkin ini juga kesalahan-kesalahan ku—karma. Dari halnya tega membuat Richi menunggu ku begitu lama, dan diam-diam mengharapkan orang lain yang sama sekali tidak mengetahui siapa aku. “Wei.” sapa ku melalui telepon. Aku menghubungi Adrian untuk menjemputku di bandara nanti.
Perjalanan ke Jakarta-Beijing sangat panjang. Tepat menjelang pagi hari aku baru sampai di Beijing.
Aku berdiri seorang diri. Aku menatap kosong kedepan. Air mataku begitu saja mengalir. Adrian menghampiriku. “Kamu kenapa?” Dan untuk pertama kalinya aku memeluk Adrian, kuat sangat kuat. Aku tidak bisa menahan lagi air mata yang tumpah dan membasahi dada Adrian. Tidak bisa lagi menahan bobot tubuh yang semakin melemas.
***
#Kenzie
Ada note yang di tuliskan Adrian di salah satu sheet note ini. Dia menceritakan bahwa besok harinya. Setelah enam jam, Adrian mendapat kabar bahwa mobil yang digunakan Olivia menabrak dan masuk ke jurang berbatu yang berkedalaman empat puluh meter. Saat itu Adrian sedang perjalanan menuju Taiwan.
Setelah disinyalir, bahwa saat itu Olivia pinsan di jalanan saat mengemudi. Itu dikarenakan karena penyakit Aneurisma cerebralnya. Dan menyebabkan kecelakaan maut di persimpangan jalan dan membuat mobilnya menerobos ke sebuah jurang.
***
Bisakah kau tidak pergi lagi. Aku takut kehilanganmu setelah mencarimu dan menemukanmu. Terima kasih telah mengajari aku arti mencintai. Aku Mencintaimu…. Akankah kau mencintaiku lagi?
__ADS_1