
Warna, kapan kau akan memberi sedikit sentuhan warna jinga mu, warna ketentramannmu, dan kemilauan yang mencerahkan di hidupku. Disaat senja menghadang dengan warna emasnya, aku selalu menantinya mencoba menenangkan kelamnya malam yang mengeluti dan menyelemuti kalbuku. Jiwa ku semakin membiru menerpa kegalauan. Aku mencoba menetralkan hatiku menjadi sosok yang putih, walau ku tahu aku akan selamanya menjadi hitam…
***
18 Desember 2000,
Pukul 13.25
Dengan memakai baju merah dan celana jeans biru tua, aku berjalan sambil tergopoh-gopoh mengecek perlengkapan melukisku.
“Cat air, kuas 1,2,3,4 udah… apa lagi Fin?” Tanyaku ke Terfin yang asik berjalan tanpa memperddulikan ku yang gelisah.
“Kanvas!” jawabnya singkat.
“Serius kamu? Aku gak bawa…haduh, gimana dong?” heboh.
“Itulah kalau hidup gak beraturan. Gak ada!”
“Apanya yang gak ada? Tadi kau bilang bawa kanvas!”
“Gak ada disuruh bawa kanvas Oliviaaaa! buruan gih! makanya dari rumah di cek. Dan di INGAT!” Berjalan cepat meninggalkan aku berjalan sendiri dibelakanganya. Aku tampak repot sekali mengecek peralatan melukisku. Seperti biasa aku selalu kelimpungan jika akan mengikuti perlombaan, sehingga membuatku amnesia mendadak.
Hari ini aku dan Terfin berserta beberapa perwakilan dari sekolah seluruh kecamatan akan mengikuti lomba melukis yang bertema kelautan. Tempat lomba ini juga diadakan di salah satu pantai yang sangat indah di pulau ini, terutama pantai ini langsung menghadap ke lautan lepas Filipina.
Seorang anak yang tidak terlalu mahir, kali ini memecahkan rekor ternekadnya. Untuk urusan nekad aku memang jagonya—Selagi masih muda, aku ingin mencoba segalanya. Aku memang tidak bisa melakukannya, tapi apa salahnya untuk mencoba. Jika aku menyukainya, aku pasti akan tahu dimana letak bakat ku sebenarnya. Seperti kali ini, aku mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba. Diantaranya adalah perserta terbaik dari perwakilan beberapa sekolah dan perserta umum sekecamatan. Ini terlalu gila bagiku yang sama sekali tidak mempunyai dasar melukis. Jadi setiap ada kegiatan yang menantang aku tidak pernah kalah ketinggalan untuk mencoba kegiatan-kegiatan itu. Ya, seperti hari ini.
Waktu perlombaan masih satu jam lagi, namun aku sudah tiba lebih awal dari waktu lomba. Aku memang sengaja datang lebih awal, karena aku ingin sekali melihat pertunjukan karnaval dan ingin memburu beberapa barang-barang unik di bazar yang jarang sekali ada terkecuali saat even seperti ini.
Setelah puas berkeliling, kami berhenti untuk berehat, merengangkan persendian dan mencari-cari ide melukis. Aku memang sudah gila. Sampai detik ini aku belum mempunyai ide untuk melukis di perlombaan. Padahal, waktu sudah semakin dekat dengan perlombaan.
“Eh itu Boby!” Seru ku melambaikan tangan memberi kode kearah Boby agar dia segera menghampiri kami.
Boby merupakan teman seangkatan dan sekelas dengan ku. Masa kecilnya juga di habiskan bersama ku. Bagaimana tidak, rumah kami bertetanggaan belum lagi setiap sekolah kami selalu bareng. Hampir seluruh kehidupan Boby ku ketahui dari halnya keluarga, prestasi, apapun itu aku sangat mengetahuinya.
Melukis juga merupakan hobinya. Sudah segudang piala dan sertifikat dipunyainya. Dari turnamen sekecamatan bahkan Internasional. Jika aku kerumahnya, aku tidak ingin memasuki kamarnya, baru di depan pintu saja hawa iri ku sudah tercium.
Baru tiba di depan ku saja Boby langsung menarik tangan ku menuju ke area melukis. Dia sudah tidak sabaran ingin melukis. Aku yang melihat semangatnya tiba-tiba menjadi ciut.
Setibanya di tempat melukis, ku edarkan pandangan kesegala penjuru, hitung-hitung mencari ide yang kiranya akan nyangkut di kepalaku setibanya di tempat ini. Kanvas sepanjang tiga puluh meter membentuk leter ‘U’ dengan tambahan kanvas yang berhadapan, jadi setiap perserta akan saling berhadapan saat melukis.
Posisi yang pas. Aku dan Terfin memilih urutan pertama tepat di ujung sebelah kiri dari pintu masuk. Posisi ku berada didalam arena sedangkan Terfin diluar arena dengan posisi berhadapan dengan ku.
Waktu belum menunjukkan perlombaan akan dimulai. Kami bertiga pun masih berada di luar arena. Aku semakin gugup melihat pengunjung yang semakin bertambah karena ingin melihat acara melukis ini.
“Tambah lemes...” ujar ku memutar-mutar kuasku dengan jari, gugup.
“Tenanglah, emangnya baru ikutan?” Tanya Boby yang dari tadi di sampingku.
“Iya, kami berdua ini baru ikutan even yang kayak ginian, apalagi ditambah banyak pengunjung yang datang. Baru kali ini!” Jelas Terfin.
“Jangan diambil pusing lah, entar malah depresi lagi waktu ngelukisnnya. Tenang… tenang…Anggap aja mereka itu ide lukisan kalian.”
Aku tidak mengerti apa yang di maksud Boby. Meskipun dia mencoba menghibur kami, tetap saja perasaan gelisah dari kegugupan ku makin bertambah. Aku masih mengedarkan mata mengusir kegelisahan, namun kali ini padangan ku tersangkut kesebuah objek yang membuatnya tidak dapat berkedip.
Pandangan mata ku tidak lepas dari seseorang yang menggunakan baju bermotif kotak-kotak berwarna kuning yang sedang berjalan tidak jauh dari lokasi dimana aku, Terfin dan Boby berada. Orang itu menebarkan senyumnya, tapi tidak kearahku. Detak jantung ku berdenyut tak beraturan. Aku tidak bisa membedakan kegugupan sebenarnya, apa ini karena menjelang pertandingan atau memang karena objek ‘itu’ yang membuatku tidak berkedip? Ini berlebihan. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan, sejenak menenangkan perasaan aneh ini.
“Kenapa Vi’?” Tanya Terfin yang dari tadi melihat ku tersenyum sendiri. Tersenyum karena senang—
Aku segera memberi kode dengan mata, memberitahunya bahwa ada seseorang yang akan melintas di depan kami. Terfin hampir saja bersuara menanyakan maksud dari kodean ku, namun segera ku cegah dengan menyenggol tangannya agar dia diam. Karena tepat saat itu, orang yang ku maksud melintas di detik itu juga—Aku salah tingkah dan mencari alasan untuk mengusir sikap aneh ku ini. Aku berpura-pura mengobrol dengan Terfin. Karena sikap aneh dadakan ku ini, Terfin hanya bengong melihat aku yang berbicara sendiri.
“Kamu ngomong apaan Vi’?” Tanyanya masih belum nggeh’ dengan tingkah ku. “Oh! Pantes dari tadi senyum-senyum mulu. Mau ku salam kan?” akhirnya dia mengerti ketika melihat dengan jelas orang yang baru melintas itu.
“Ah, ngawur. Kagak lah.”
“Alah, Jangan ngelak. Kalau suka, bilang. Entar basi lagi di diamkan terus.”
“Ah... kagak!”
“Eh, eh dia mau kesini tuh! aku kasih tahu yah?” sambungnya heboh melihat orang yang dimaksud berjalan mendekat kearah kami berdua, lagi. Tapi tujuan orang itu bukan ke arah kami melainkan ke beberapa orang yang berada tepat di samping kami bertiga. Ternyata di samping ku ada beberapa senior yang juga akan mengikuti lomba melukis.
“Eh jangan! Awas loh!” sergahku, ketika orang yang ku maksud mendekat dengan kami. Orang itu datang dengan sahabatnya. Apa Sahabatnya? Tunggu dulu! Aku sangat kenal sahabatnya itu. Karena mengetahui hal itu juga lah yang membuat salah tingkah ku semakin menjadi-jadi. Dengan sekuat hati aku pura-pura tidak merespon jantung yang berdegup kuat—Bahkan aku bisa dengan jelas mendengar debaran jantung ini—Tampang orang itu tidak menunjukan wajah yang seram, tapi aku tidak tahu kenapa aku begitu gugup tepatnya aku sangat takut. Ingin rasanya berlari menjauh. Sebenarnya, wajah orang itu begitu lembut, polos, tampan dan manis—Sepertinya aku punya kelainan jiwa dengan wajah orang yang seperti itu, wajah itu justru menakutkan bagi ku.
“Ah cemen kamu!” Kesal Terfin ketika aku mencoba menjauh dari gerombolan seniorku itu. Sebenarnya orang yang ku maksud itu adalah orang yang membuatku jatuh hati pada pandang pertama ku di bulan Agustus lalu. Orang yang pertama kali aku kenal dari foto—dan membawa ku menjadi aneh setiap melihatnya.
“Deh, masa cewek sih yang disuruh ngomong, yang bener aja. Gak…gak. Jatoh harga diri ku.” Bisik ku. Sambil berjalan menuju panggung tempat pengambilan cat, diikuti Terfin dan Boby.
“Kau suka Vi sama kakak kelas itu?” Tanya Boby tiba-tiba yang membuatku semakin menjadi gila.
“Ah, Enggak kok! Tuh… Ada teman ku yang suka.” Elakku. Meskipun aku mengelak, mata ku tidak bisa berbohong, aku masih menatap seniorku, yang sedang bercengkrama dengan salah satu peserta yang tidak lain temannya sendiri.
***
Aku mengambil ancang-ancang membuat lukisan yang indah, walaupun masih dalam angan. Aku meleburkan cat biru tua ke sisi atas kemudian biru muda ke sisi bawah. “Bikin apaan Vi?” Tanya Boby keheranan melihat ku yang berada di sampingnya hanya meratakan cat biruku ke semua sisi kanvas.
“Oh, ini laut sama langit.” Jelas ku.
“???” Dia menatapku seakan tidak percaya bahwa aku bisa melukis. Namun, kenyataannya aku memang tidak bisa melukis. Karena malu belum melukis apa-apa, jadinya aku hanya mengecat seluruh kanfasku dengan dua warna. “Ah, sudah lah. Buatlah sesuai keinginan mu.” Lanjutnya.
“Emm…”
Beberapa menit berselang, masih sama seperti semula, hanya dua warna yang di padukannya diatas kanvas ku. Aku benar-benar ingin bunuh diri, karena tidak dapat ide sama sekali.
“Sudah selesai Vi?” Tanya Terfin dibalik kanvasnnya.
“Belum.” Singkatku, masih berpikir akan karya ku yang mendek.
“Emangnya bikin apaan?”
“Aku aja binggung, Kau…??”
“Bikin yang bertema kelautan lah… hahaha.” Candanya.
“Huh…dasar! Di tanya juga!” ujarku kesal menekan-nekan kanvas ku dengan kuas hingga membuat Terfin terganggu.
“Duh Olivia, jangan nekan-nekan gitu dong…”
“Emm…” cuekku.
__ADS_1
Kembali hening, kami semua kembali berkonsentrasi dengan lukisan masing-masing. Tidak lama kemudian…
“Vi’…Vi’…” Bisik Terfin dibalik kanvasnya.
“Apaan???” Jawab ku masih belum semangat karena sama sekali tidak dapat ide.
“Dia ada disini!”
“Siapanya yang ada disini?”
“Itu baju kotak-kotak….”
“Emang kenapa dengan baju kotak-kotak?” masih belum fokus dengan pembicaraan Terfin.
“Ih, nih orang! Itu cowok yang kau suka ada disini!” Jelas Terfin meyakinkan ku dengan nada suara yang meninggi, membuat ku kelimpungan ingin menutup mulutnya.
Aku tercengang di balik kanfas ku. Perasaan aneh itu kembali muncul dan menguasai paru-paruku. Seakan mematikan fungsi kerja paru-paruku untuk mendapatkan oksigen. Kurasakan wajah ku mendingin. “Ah, serius kamu?!” bisik ku.
“Iya beneran, ku kasih tahu ya?”
“Awas kamu!” ancamku sembari mengintip orang yang dimaksud Terfin, sedang berada di luar arena. Setelah memastikan perkataan Terfin benar, aku segera menarik kembali kepalaku ke depan kanvasku.
“Yeee… cemen kamu!” ledeknya.
“Alah, gaya mu Vin’, kayak juga berani.” Ujarku sedikit menantang.
“Eh, gak percaya dengan ku ya?” Belum sempat aku menanggapi pembicaraan Terfin, tiba-tiba terdengar suara yang aku kira hanya candaan Terfin. “Eh… Eh… baju kuning!” Panggil Terfin kearah sesorang yang menggunakan kemeja bermotif kotak-kotak berwarna kuning. Untuk memastikan kembali, aku mengintip lagi— Ah sial! Mati aku!
“Apa? Aku kah?” Jawab seorang, yang menggunakan kemeja kotak-kotak bewarna putih yang tidak lain sahabat dari orang yang menjadi pusat perhatian ku itu. Dia Donny, aku sudah mengenalnya lama sekali, karena suatu even yang diadakan di pulau ini juga. Tapi aku tidak terlalu mengenalnya. Hanya sekedar mengenalnya karena Papa ku pernah berkerja sama dengan orang tuanya.
“Bukan! teman mu itu, nah!” jelas Terfin kesal, karena lain yang di tanya lain pula yang menjawab.
Di balik kanvas aku hanya mengulang sumpah serapah kesal ku karena tindakan Terfin
“Iya, Kenapa?” Akhirnya seorang yang dituju Terfin pun menjawab dengan ramah. Kaki ku semakin lemas. Seakan tulangku melunak begitu saja.
“Ini temanku suka sama kau... Kau maukah sama dia?” Ujarnya gamblang, tanpa basa-basi.
“Yang mana?” Jawab temannya lagi.
“Ih, nih orang! Lain yang ditanya, lain yang menjawab.” Gumam Terfin. “Ini nah yang didepanku.”
Bukk…!!!
Tendangan di tulang kering Terfin pun melayang. Aku tidak menyangka Terfin yang tidak punya nyali itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat hanya untuk mengatakan aku suka dengan orang itu. Aku harap ambulans akan tiba tepat waktu, sepertinya aku kehabisan nafas sekarang juga.
“Uhhh! sakit tau Fi’…” Gerang Terfin merasakan sakit di kakinya karena spontan aku menendang kakinya tanpa diperitah oleh otak ku.
“Siapa suruh!!! nekad amat sih kamu, sebel aku!” bisik ku kesal di balik kanvas.
“Tapi senangkan…?” godanya lagi.
Walau kesal, aku tidak bisa menyembunyikan rasa senang ku karena pada akhirnya orang itu tahu aku— ini kata-kata yang menyulitkan ku. Aku menyukainya.
Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Bagaimana aku bernafas sekarang. Huh! “Ah kau nih! Kau membuatku malu...”
Seorang mencubit pipi ku di sebelah kiri tanpa ku sadari. “Aww!” Aku terkejut sambil menahan perih dipipiku. Lalu menoleh ke arah orang yang mencubit. Yang terlihat pertama kali bukanlah seorang yang mencubiti pipiku dengan ekspersi gemasnya, melainkan teman dari pelaku pencubitan ini. Aku terpaku di tempat, mataku mengikuti arahnya yang semakin menjauh dariku, entah mengapa dalam ekspersi dinginnya aku bisa melihat dia sedang tersenyum. Eh? Kenapa dia begitu dingin kepada ku? Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun kearah ku. Perasaan ku semakin mengebu-gebu tidak jelas. Aku juga semakin takut karena dia bersikap seperti itu kepada ku.
“Imutnya kamu…. Iiiih gemas aku jadinya.” Akhirnya aku tersadar bahwa Donny masih di samping ku.
“Ih, sakit tau!” kesal ku dengan nada khas anak-anak ku, sebenarnya aku bukan kesal karena Donny yang tiba-tiba mencubitku, melainkan sikap temannya yang menjadi dingin kepadaku semenjak Terfin memberitahukan aku menyukainya. Apa dia tidak suka dengan ku? Tidak suka karena aku menyukainya? Rasanya aku menyesal karena Terfin memberitahukan hal ini. Jika aku tahu responnya seperti itu. Lebih baik dia tidak perlu mengetahui aku menyukainya dan lebih baik aku meyukainnya secara diam-diam saja.
Tidak lama kemudian Donny memasang ekspresi perpisahan masih gemas kepada ku lalu menyusul temannya, yang tidak ku tahu namanya. Aku masih memandangi orang berbaju kotak-kotak berwarna kuning itu. Semangatku luruh. Aku menyerah dipermulaan.
Pandangannya masih lurus kedepan, tidak ada senyum seperti aku lihat di foto, ketika dia bercanda di depan kelasnya, di pemakaman kemarin, atau terakhir ketika aku melihat sedang bercanda gurau bersama teman-temannya sebelum acara ini dimulai. Hanya Donny saja yang memberikan senyumnya dan respon kepadaku. Bukan itu yang ku harapkan.
Pikiranku kacau. Aku kembali melanjutkan melukis. Ya, lukisan seorang yang patah hati. Gambar yang amburadul. Hanya ada pemandangan lautan, pohon kelapa dan buahnya yang terjatuh ke lautan. Aneh!
***
“Ah, kamu!” Ujar ku kesal sambil berjalan-jalan di pinggir pantai sembari menunggu jemputanku datang.
“Loh, bukannya kau yang nyuruh...” Balas Terfin bahagia.
“Kapan aku nyuruh? Sembarangan aja kamu nih! Malu aku. Apalagi tuh si Donny nyubit pipi ku. Ah, malas banget lah. Dia berani-beraninya mencubit pipi ku.”
“Kau juga sih nantang aku. Haha”
“Ah, setahu aku kau tuh sama cemennya kayak aku. Kirain kamu gak bakalan berani. Malu aku Fiiin, gimana ini? Aku takut nih...” aku semakin panik.
“Makanya jangan main-main sama aku yah…hahaha.”
“Emm… jadi apa jawabannya Fin?” Tanyaku tersipu malu.
“Yeeee…! Tadi aja marah-marah, ternyata penasaran juga ya?”
“Ah, enggak… siapa tau dia ada ngomong apa, gitu.”
“Tadi sih pas aku ngasih tahu kamu suka sama dia sewaktu di luar arena, dia itu senyum-senyum mulu ngeresponnya. Aku aja gak sanggup nahan seneng ngelihat responnya yang kayak gitu. Manis banget Vi’ senyumnya. Sayangnya kamu udah suka duluan. Kalau enggak aku yang bakalan ngaku aku yang suka sama dia. Hahaha... jangan di ambil hati. Aku bercanda.”
“Masa?” aku membayangkan bagaimana ketika dia tersenyum mendengar peryataan Terfin mengenaiku.
“Emangnya pas di dalam arena dia kayak mana sama kamu?”
“Dia dingin banget Fin’. Noleh pun enggak.”
“Oh ya? Kalau gitu. Aku tanyakan lagi, yah?” Belum sempat aku menjawab, Terfin malah berlari kearah ketiga sahabat yang sedang berjalan di tepi pantai. Aku sempat meraih tangannya. Namun karena ototnya yang kuat aku malah gagal menahannya.
Sangking hebohnya, Terfin malah terperosok ke lubang kecil saat berlari menuju targetnya. Meskipun begitu semangatnya tak terpatahkan, bahkan rasa malunya pun tidak hilang, justru malah menjadi pemacunya.
Ketiga sahabat itu ialah, Dony, Angga yang ternyata adalah tetangga jauh ku dan sahabatnya itu, entah siapa namanya. Sedang menikmati desiran ombak yang menghantam kaki-kaki telanjangnya. Mereka bersenda gurau hanya saja sebuah teriakan membuat candaan mereka teralihkan. Siapa lagi yang mengalihkan kalau bukan Terfin.
“Eh...Eh…Gimana jawabanya?” Teriak Terfin kearah para seniornya. Yang menantapnya binggung. Dari jauh aku menahan rasa malu dengan bersembunyi di balik pohon cemara yang besar.
“Apanya yang gimana?” Jawab Donny.
“Errgh, bukan kau tau! Itu teman mu?”
__ADS_1
“…..” Cowok itu hanya tersenyum melihat tingkah Terfin. Namun aku bersyukur, karena tingkah konyol Terfin akhirnya aku bisa melihat dia tersenyum. Memang benar, senyumnya indah.
“Masih kecil tahu…” Jawab Donny lagi,
“Ih, biar lah. Biar anak kecil begitu dia pintar fisika tau!!!” Jelasnya dengan nada yang jutek plus gak nyambung, lalu kembali berlari kearah ku yang sedang menunggu di balik pohon cemara.
“Fiuuhh…!” Terfin mengatur nafasnya setelah berlari kembali menuju ku.
“Rese amat nih orang!” kata ku memukul lenggan Terfin.
“Tapi senang, kan?” Canda Terfin sambil mengusap-usap tangannya yang perih karena pukulanku.
“Ah… Rese!!” Ujarku ngambek.
Beberapa hari kemudian akhirnya berlalu, namun ternyata masalah beberapa hari lalu membuatku tidak bisa nyenyak. Aku takut kalau masalah itu akan menjadi besar. Jadi untuk membuat masalah itu hilang dari pikiranku, aku memikirakan ide… yang pada akhirnya aku menyadari itu adalah kesalahan bersar.
Hari itu adalah hari rabu. Waktu istirahat tiba. Kelas dalam keadaan sunyi karena jam istriahat telah tiba. Dikelas hanya ada aku dan Terfin. Kami mengintip di balik jendela, melihat kondisi para senior yang berlalu-lalang di depan kelas, di ujung sana. Cukup jauh memang dengan kelas kami. Mata kami menangkap sesuatu yang selama ini kami cari-cari.
“Sekarang minta maaf sana! Bersihkan nama baikku!” Ujar ku kesal sambil memaku pandangan kearah senior kelas tiga.
“Ah, ogah ah… males aku.” Elak Terfin yang langsung bermalas-malasan di mejanya.
“Ah, Terfiiiin... Mau di taruh dimana entar muka ku!”
“Kau aja deh yang ngomong sana. Kan kamu yang malu, aku mah biasa aja.”
“Idih! Kan yang ngomong kemaren kamu. Sana gih!! Yang buat aku malu juga kamu.” Aku menarik-narik tangan Terfin agar segera bangkit dari tempatnya.
“Ya udah tulis surat aja gimana?” Terfin menyarankan dengan muka malasnya.
“Umm… Iya, kau yang tulis dan kasih kedia oke…”
“Ummm…” Ujarnya singkat lalu mengambil selembar kertas dan bolpoin. “Apaan isinya nih?”
“Emmm…. Apa ya?” Aku berpikir keras mengenai kata apa yang tepat untuk dituliskan di selembar kertas itu. “Kak, maaf yah atas kelakuan teman ku kemaren. Dia memang gitu orangnya. Sebenernya aku gak suka sama kakak, maksudnya bukan membenci kakak, dalam tanda kutip deh ^_^ Jadi jangan geer dulu ya. Mungkin temanku yang suka, jadinya dia bawa-bawa nama ku. Oke. Sorry, atas perilaku temanku.” Terfin menuliskan kata-kata yang aku ucapkan tanpa memeperdulikan apa maksud dari surat itu.
“Kasih nama gak?”
“Jangan! awas loh!”
Beberapa menit kemudian dengan tekad yang besar Terfin memberanikan diri untuk menemui Donny yang kebetulan juga sedang melintas tidak jauh dengannya ketika dia keluar dari dalam kelas. Aku hanya memantaunya dari jauh. Melihat percakapan kecil, antara Terfin dan Donny.
Perasaanku mulai lega. Aku kembali ke tempat dudukku. Namun belum berapa lama… “Vi…Vi… gila tuh si Donny!” Ujar Terfin panik masuk kedalam kelas.
“Kenapa Fin…?” Muka ku berubah drastis. Kaku. Panik.
“Dia baca tuh surat! Terus dia kasih liat ke Eky, abang mu! Kebetulan juga, Eky lagi di belakang Lab saat aku ketemuan dengan Dony.”
Badanku serasa mati rasa. Aku jatuh terduduk di kursiku. Lalu menjatuhkan kepalaku ke meja dengan lemah. “Mati aku!”
“Tapi Eky, Cuma senyum-senyum aja gak peduli. Tenanglah…”
“Tetep aja…. tewas aku.”
Belum berapa lama Terfin memberikan penjelasan, Dony melintas di depan kelas kami. Dia hendak menuju kelasnya. Spontan kami berdua berlari kearah jendela, kembali mengamati gerak-gerik Dony. Belum berapa lama, dia membuat kami berdua panik, lagi. Ia melambaikan surat yang sudah terbuka itu kearah teman-temanya yang tidak lain adalah para senior, tepat disana para senior-senior cewek sedang berkumpul.
Mati aku….
***
Hari berganti hari. Kehidupan ku tetap berjalan seperti biasa, hanya saja ada yang berbeda dengan ku. Tiap hari aku harus menghindar dengan seorang senior. Kau tahu harus bagaimana, ketika kau bertemu dengan seseorang dan dia adalah orang yang sangat terkenal? Yah, walau hanya terkenal di lingkup di daerah ku, tidak sampai nasional.
Kenzie, nama yang telah ku cari tahu selama ini. Siapa yang tidak mengenal namanya, mungkin hanya aku saja yang telat mengatahui namanya. Dan hampir yang mengenalnya adalah anak-anak di kalangan remaja. Bagaimana tidak, dia adalah personil band lokal yang sering manggung di luar daerah. Nama bandnya juga sudah terkenal dimana-mana. Ditambah lagi dengan wajah, tubuh dan style-nya yang O.K.
Namanya juga pernah disebut melalui pengeras suara melalui ruangan kantor guru. Kebetulan, saat itu aku sedang berada di dalam kantor guru, sedang menyerahkan buku-buku tugas yang disuruh guru mata pelajaran yang saat itu mengajar di kelas ku. Pemilik nama Kenzie di panggil saat itu. Setelah seorang pemilik nama Kenzie itu masuk, betapa terkejutnya aku setelah mengetahui siapa pemilik nama itu. Ya itu lah permulaan aku mengenal namanya. Kenzie Shandy.
Setelah mengetahui siapa pemilik nama itu aku segera menutup wajahku dengan buku dan berjalan berhati-hati keluar kantor, menghindarinya. Orang itulah, orang yang aku sukai ketika aku pertama kali melihatnya dari sebuah foto yang satu tim dengan Eky.
Suatu hari juga, Aku dan Terfin bertemu dengan Dony, Angga dan Kenzie di kantin. Saat itu Angga yang mengenal ku sedang iseng-isengnya menghampiriku dan menanyakan sesuatu. “Olivia, beneran Kamu suka sama Kenzie?” tentu aku kaget ketika Angga menghampiriku dengan pertanyaan itu.
Dan seperti ini lah jawaban Terfin “Iya, gini-gini dia pintar Fisika tau.” Lagi dan lagi. Aku hanya tersenyum malu lalu menarik tangan Terfin meninggalkan Angga dengan senyuman menjengkelkannya itu. Untung saja dia tidak menanyakan di saat kantin tengah ramai-ramainya. Aku juga yakin, bahwa Angga bukan lah orang yang suka membuat orang malu di tengah keramaian.
***
January awal, ini menjadi awal aku merasakan kebebasan lagi. Aku sudah kuat untuk mengembangkan senyumku setelah depresi pasca ujian akhir semester lalu. Seharusnya memang begitu.
Hari ini adalah bagian dari seminggu menjelang pembagian rapor. Menjelang pembagian rapor, waktu kami selama seminggu hanya di gunakan untuk mengisi kegiatan-kegiatan ektrakulikuler dan berbagai macam perlombaan yang di adakan oleh OSIS. Hari ini, kelas kami tidak kebagian slot dari beberapa lomba, dan berujung malah di suruh untuk membersihkan ruangan Lab IPA serta membantu memasukkan barang-barang praktikum yang baru datang dari toko.
Banyak canda-canda yang tertorehkan hari ini untukku. Namun, tidak dengan ku yang sama sekali tidak ada niat untuk tersenyum bahkan tertawa.
Pekerjaan bersih-bersih hari ini cukup melelahkan, tapi tidak dengan ku, Terfin, Reisa dan Dila. Kami hanya ikut membantu mengambil alat-alat untuk dipindahkan kedalam Lab, jadi tidak terlalu banyak beban yang di tanggung tangan dan pundak kami.
Ternyata bukan dari kelas satu-A saja yang ikut membantu, melainkan para senior-senior di kelas yang tidak kebagian slot lomba hari ini di tugaskan untuk ikut membantu pekerjaan ini.
Waktu itu, Aku dan ketiga sahabat ku hendak keruangan kantor untuk mengambil beberapa barang. Sebelum ke kantor para guru, kami akan melintasi beberapa anak tangga terlebih dahulu. Ketika hendak menaiki anak tangga tersebut— Dengan bercanda gurau dan tertawa-tawa (Tapi tidak dengan ku, yang masih kepikiran nilai hasil ujian ku yang belum keluar. Karena itu aku jadi malas untuk berbicara) Namun entah mengapa secara serentak mereka mengentikan tawa mereka memberikan kode kearahku untuk melihat apa yang mereka ingin beritahu kepada ku. Awalnya aku masih tersenyum— terpaksa—mendengar celotehan mereka dan belum menyadari apa yang mereka maksud.
Pada akhirnya aku megerti apa yang membuat mereka menghentikan tawa mereka. Seseorang yang membawa microsoft optik yang masih terbungkus plastik itu berada di atas anak tangga. Perlahan menuruni anak tangga menuju Lab—ternyata itu lah dalang dari berhentinya tawa mereka.
Aku sempat terpaku di tempat dan begitu juga dengan ketiga sahabatku yang seketika menepi lalu memberikannya jalan. Aku tak peduli dengan orang itu, aku mencoba tetap berjalan di tengah kecanggungan. Toh jalanan lebar—kenapa harus menepi, dia bukan raja, jadi aku tidak perlu menghawatirkan jarakku—Namun ketika melihat wajahnya yang tenang dan tidak sedingin biasanya, aku bagaikan lilin yang terkena api. Aku tidak ingin menunjukan perasaan senangku— Kenzie. Orang itu yang saat ini aku lihat sedang menuruni anak tangga.
Akhirnya aku mencair juga, Aku ikut-ikutan menepi untuk memberinya jalan—hanya saja aku sendiri di arah kiri jalan, sedangkan ketiga sahabatku sedang berkumpul di kanan jalan—Aku tahu wajahnya sedikit memerah karena sahabat-sahabatku sedang melihatnya dengan tatapan ingin memakannya. Dia memang bersikap biasa, tapi dia tidak bisa menyembunyikan hal yang satu itu…
“Uppsss!” Reisa, Terfin dan Dila tertawa bersamaan melihat tingkah senior kami itu. Ternyata dia tidak melihat satu anak tangga di bagian bawah, hampir saja dia terjatuh, tapi dia berusaha membuat dirinya terlihat tidak seperti itu. Wajahnya bersemu memerah. Lalu... Lalu dia melihat ke arah ku. Aku hanya tidak peduli dengan keadaanya yang seperti itu. Memangnya dia saja yang bisa memberikan wajah dinginnya. Aku juga bisa seperti itu. Dia hanya melihatku sepersekian detik lalu berjalan dengan santai menuju arah Lab.
“Eh… kalian ini.” Aku mengingatkan. Wajah ku datar, aku tidak menunjukan respon apa pun. Melanjutkan langkah menuju kantor guru.
“Salting kali dia tuh Fi’ sama kamu…haha.” ujar Reisa yang membuat ku tersipu malu.
“Ah, ngelantur aja kalian nih.” Masih dengan wajah dingin ku.
“Sepertinya Kenzie juga suka sama kamu?” sambung Dila.
“Ngawur!!” Telak ku dengan ekspresi kesal.
Samar-samar ku respon mereka dengan sikapku yang tidak biasa. Aku memang bersikap dingin di hadapan mereka. Namun aku tidak bisa menyembunyikan diri kalau aku juga tersenyum, saat mereka sedang berada di belakang ku.
***
__ADS_1
Kekuatan 60 detik itu merubah segalanya, menuntunku ke jalan yang seharusnya tak ku lalui. Aku tak ingin jika terus mengabaikannya dipikiran. Meskipun aku mencoba tidak mengingatnya, suatu hal kecil muncul dan mengingatkan segala tentangnya— Ah, apa kau menyukai ku? Walau kenyataannya itu tidaklah mungkin. Aku tahu ini lah pikiran seorang pengharap. Para pengharap akan berpikir itu adalah kenyataan untuknya.