
#Kenzie
Sayangnya, aku terlambat satu langkah. Meruntuhkan semua harapan yang ku bangun akhir-akhir ini. Olivia dan Adrian tadi pagi sudah lepas landas mengunakan pesawat menuju negeri sakura, Jepang. Wanita yang di sebut Bi Arum yang memberi tahu kan, ketika aku bertandang kerumah itu lagi. Satu tujuan yang tidak jelas, untukku.
Kepergian ini, bukan kepergian secara mendadak. Dia sudah merencanakan jauh-jauh hari. Sebelum kedatangan ku ke Beijing. Aku tidak tahu akan terjadi seperti ini. Aaah… Rencana bodoh.
Aku beranjak pergi meninggalkan rumah itu dengan kesal.
Hari ini tidak ada kegiatan selain merenung. Berdiam diri didalam kamar hotel. Waktu seakan terbuang percuma.
Aku memegang ponselku, mengetikkan sesuatu disana. Aku memulai pembicaraan dengan Angga, sahabatku. Walau sekedar chating.
š………………………………………………………………………………………………
Aku : Kau ingin mempermainkan ku?
Angga : Ada apa dengan mu? Tidak ada niat kami untuk mempermainkan mu.
(Kursorku berkedip cukup lama. Aku memikirkan sesuatu yang rumit.)
Aku : Itu hanya sebatas tujuh tahun tiada arti, empat belas tahun dalam tujuh tahun itu. Itu palsu!
Angga : Bukankah kau yang ingin mencarinya? Aku hanya menceritakan yang aku tahu. Bagaimana apakah dia mengingat mu lagi?
………….………………………………………………………………………………………
Aku menempelkan kepalaku kemeja. Dan memejamkan mata sejenak.
***
Seminggu lalu,
“Hai Rosie, mana ayah mu?” Tanyaku memandang sekeliling halaman depan rumah, menanyakan kepada anak perempuan yang berumur tiga tahun setengah sedang bermain dengan sepeda mininya. Lalu aku tersenyum lebar setelah mataku menangkap sosok laki-laki sedang memotong tangkai bunga di samping rumahnya.
Perlahan, aku melangkah mendekati laki-laki itu.“Pindah profesi bos?” tanyaku mengagetkannya dari belakang. Aku sangat bahagia mengunjungi sahabatku untuk sekian lamanya.
“Kenzie?” peluknya spontan. “Kapan kau pulang?” Tanya lagi dengan mimik wajah yang masih tidak percaya akan kehadiranku.
“Aaah, tidak perlu ku kasih tahu. Malas lah, ngasih tahu orang yang nikah gak panggil-panggil.” Ujarku berlagak kesal, dengan senyuman mengoda.
Angga menarik ku kedalam rumahnya. Mengajakku masuk keruangan tengah. “Ah, kau juga, nikah gak panggil-panggil. Curiga pemuja rahasia mu kecewa berat itu.” Melirik kearah ku dengan tatapan yang aneh. Tidak, dia mengodaku.
Aku mendonggak tidak mengerti kearanhnya, menyelidiki tatapan sahabatku ini. “Yee… ngolok lue. Gue belum nikah bro’…. Ah, elu… dari dulu ngolok gue terus. Maksud mu pemuja rahasia…?” Tersenyum malu.
Seorang wanita masuk ke ruangan tempat kami berada. Aku rasa dia penasaran dengan suara yang sedikit gaduh di ruangan tengahnya. Matanya menatapku tak percaya. “Kenzie?” ucapnya pelan.
“Hai…Terfin, bagaimana kabar mu?” seruku, aku senang melihat keluarga ini berkumpul.
“Baik, bagaimana dengan mu? Emm, istri mu?”
Aku menatapnya heran. “Ah, gak lucu ah. Memang ya kalian berdua. Cocok banget. Nyindir aku mulu.”
Ia mendekat. “Emangnya kenapa, Ken’?”
“Biasa, bukan jodoh.” Tersenyum simpul.
“Iya, tunangan gak ngasih tahu. Batal pun gak ngasih tahu. Dasar kau.” Timpal Angga, suami Terfin.
Terfin masih memandangku dengan aneh. Lalu menyuruh kami duduk. “Serius?”
“Umm…” aku mengiyakan.
“Kamu ketemu dengan Olivia?” Sambung Terfin penasaran.
“Olivia adiknya Eky?”
Angga memandang lekat-lekat istrinya. “Ma!” tegurnya.
“Apa lagi yang mau disembunyikan sih Pa’…Bukankah kau juga bilang dia pernah suka.”
Aku hanya tersenyum malu mendengar pembicaraan mereka yang seakan menyeretku kemasa lalu.
“Bagaimana dengan sekarang?”
“Stt…!” timpal Angga lagi yang langsung menutup rapat mulut istrinya. “Dia baru saja batal menikah.” Bisiknya. Terfin melepaskan dekapan tangan suaminya.
“Pa… Olivia Cuma butuh kepastian, itu aja. Tidak atau iya, yang penting dia tahu. Kau tahu juga janjinya dulu. Aku tidak tega dengannya. Dan aku harap dia bisa mengakhiri dan bisa mencintai orang lain. Kau tahu sendiri Olivia sangat gila menunggunya. Aku tak akan membiarkanya memendam lebih lama.”
“Emm… iya… Iya aku menyerah.”
“Emangnya ada apa Fin?” Tanyaku heran dengan perdebatan suami istri ini.
“Setahun kemaren kau sudah bertemu dengannya?” sambung Terfin.
“Dengan siapa?” semakin binggung.
“Olivia…”
“Sudah lama aku tidak bertemu dengannya selepas SMA. Memangnya ada apa?”
__ADS_1
“Sudah lama juga setelah dia meminta alamat mu, dia tidak ada kontak dengan kami lagi. Aku kira dia putus asa. Dan mencoba menghilang lagi. Aku kira kau bertemu dengannya.”
“Ah, tidak. Aku tidak pernah bertemu dengannya semenjak aku kuliah sampai sekarang. Memangnya sekarang dia dimana?” tanyaku masih belum sadar akan pertanyan-pertanyaan itu.
“Yang kami tahu, terakhir kali ku tahu kabar dari Mamanya. Dia menetap di China. Sudah sekitar tiga-empat tahunan belakangan ini. Selama di Bandung kau tidak pernah bertemu?”
“Di Bandung?”
“Astaga, jangan bilang kau juga tidak tahu kalau dia sekolah disana? Ya tuhan….” Ia menepuk dahinya.
“Eh, tunggu dulu. China?” Aku memikirkan sesuatu yang masih ku ingat, sudah lama sekali. “Ah… aku ingat! Waktu itu ada yang mencariku, sudah lama sih. Tapi aku tidak yakin. Itu yang ku dapatkan dari penjaga keamanan di kantorku. Dia bilang ada gadis cantik mencariku. Dia bilang perempuan itu dari China. Mungkin dia pikir perempuan itu, teman ku. Aku masih penasaran siapa orang itu sebenarnya. Selama ini aku memikirkan itu, entah kengapa?” Terdiam, mengingat lagi. “Mungkin saja, kehilangan Olivia ada kaitannya degan hal itu... Mungkin saja itu dia!” Tangkap ku.
“Itu sudah pasti dia!” Seru Terfin.
“Aaah… Aku rasa juga seperti itu. Ketika aku hendak menemuinya dia sudah menghilang. Saat itu aku baru saja selesai makan siang.”
“Aku rasa, dia tahu kalau kau akan menikah. Jadi sudah pasti dia gak akan mungkin menanyakan lagi mengenai perasaan mu terhadapnya.” Sahut Angga.
“Terutama Olivia bukanlah orang yang akan merusak perasaan orang lain. Mungkin saja jika kau jadi menikah dengan pacar mu saat itu, kau akan kepikiran dengan perkataannya kalau dia sudah lama menyukai mu. Itu mengapa dia memutuskan untuk memilih pergi. Daripada meneruskan keinginannya untuk memberitahu mu. Dan mungkin… karyawan mu itu bercerita banyak tentang mu. Lalu dia langsung kembali ke China karena kenyataan yang tidak sebanding dengan usahanya.” Sambung Terfin. “Eh, tapi tunggu dulu. Bukannya dia pernah bilang sama aku. Antara keajaiban dan Masa lalu. Ah… Richi!” Terfin Tiba-tiba teringat sesuatu.
“Ada apa dengan Richi?” Angga ikut-ikutan mengubah ekspresi wajahnya. Sedangkan aku, hanya termangu melihat pembicaraan suami istri ini.
“Waktu itu dia pernah bilang, sepulangnya dari China, dia pasti akan mengungkapkan perasaannya sama kamu—Meskipun aku sahabatnya, bagaimana pun juga aku tidak mengerti isi hatinya. Dia memang sangat membinggungkan—Kenapa dia ngotot mau mengungkapkan perasaannya walaupun masih bersama Richi?—Dia juga tidak peduli apapun hasilnya, ya setidaknya dia bisa lega karena perasaan yang terpendam itu bisa bebas.” Menatap ku.
“Emmm?” Aku semakin binggung.
“Udah deh aku ceritakan dari awal—Olivia itu sudah lama memendam rasa sukanya sama kamu. Setelah berjalan selama tujuh tahun, dia sempat menyerah. Dan beberapa tahun berikutnya, tiba-tiba saja dia bertekad mau mengungkapkan perasaannya sama kamu. Aneh, bukan? Aku saja tidak tahu mengapa dia berubah, padahal beberapa waktu lalu dia sudah tidak ingin mengenal mu lagi—Aku menyarankan kepadanya untuk membuka hati pada orang lain, tapi tetap saja dia ngeyel. Aku hanya kasihan dengannya, dia terlalu mencintaimu hingga mengorbankan banyak waktu hanya untuk memikirkan mu. Apalagi selama itu dia hanya berdiam, tidak ada usaha juga. Hanya menunggu. Untuk apa coba? Toh pada akhirnya dia justru menyakiti hatinya sendiri. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Richi sewaktu Olivia mencoba terbuka dan menceritakan jika dia masih suka sama kamu—Aku kasihan dengannya— ini lah deritanya menjadi seorang perempuan.” Aku shock mendengar pernyataan Terfin, sahabat terdekat Olivia. “Jadi dia memutuskan untuk fokus dengan cita-citanya dulu. Awalnya aku gak yakin. Dia bakalan bertahan. Dia juga bilang, dia akan menikah di umurnya dua puluh enam tahun. Dan setahun lalu dia datang dan ingin mencari mu. Katanya dia merindukanmu. Aku tidak percaya dia begitu mencintaimu selama itu. Tapi tunggu dulu, jika tidak, Lalu—Aku jadi binggung?” ujarnya mengingat perkataan Olivia.
“Binggung kenapa?”
“Jika bukan dengan mu, tentunya dengan Richi kan…atau orang yang mencintainya. Tapi? Kok gak ada yang jelas sih. Lalu Richi kenapa? Bukankah? Apa mereka sudah menikah? Kenapa dia gak ada kabar gini?”
“Ummm…Richi?” Ujar Angga memikirkan sesuatu. “Itu bukan mantan pacarnya?”
“Ya…Sebenarnya hubungan mereka sudah sangat serius. Aah, tak perlu juga aku memberitahunya. Pasti kau akan muak untuk mendengarkannya. Dan sudahlah…”
“Aaaah. Aku tahu kenapa juga Olivia menghilang!” Timpal Angga teringat sesuatu. Ia berjalan meninggalkan ku dan Terfin. Cukup lama. Dan kembali membawa undangan nikahan. “Syukur aku mengoleksi undangan-undangan.” Memperlihatkan kepada kami berdua.
Undangan berwarna merah marun. Tertulis di dalamnya dua pasangan kekasih yang akan menikah. Tapi ada yang menganjal disana.
“Richi udah nikah?!” Terfin shock mengamati undangan itu. Dua tahun yang lalu. “Astaga!” Terfin memukul meja penuh amarah. “Dasar berengsek itu cowok!”
“Umm….” Angga mengiyakan. “Aku juga pernah bertemu dengannya di acara tahun baru. Bersama istri dan anaknya. Saat itu kau sedang dinas di luar.” Jelasnya.
“Anak???” Terfin semakin shock.
“Yang benar Ga’?” Tanya ku penasaran dengan kisah ini. Aku masih tidak menyangka saja dengan kebenaran cerita ini. Tiga belas tahun dia mencintai ku. Ini terlalu mendramatisir. Seperti cerita-cerita sinetron yang di ada-ada. Tapi bagaiamana pun cerita itu nyata untukku.
“Jadi kepergian Olivia itu sudah jelas. Gak dapat keduanya. Dan memulai hidup barunya.” Timpal Terfin. “Mungkin dia kan membenci mu, atau sengaja tidak mengingat mu. Ini sudah terlalu lama untuk menunggu keajaiban. Kalau kau tidak memiliki rasa yang sama, tolong jangan kau berikan harapan semu itu, jikalau kau bertemu dengannya lagi. Itu sangat menyiksanya.”
“Harapan apa Fin’. Apa sampai segitunya dia membeciku. Dan sengaja tidak mengingat ku? Kenapa dia sampai begitu membenci ku?”
“Cewek mana sih Ken yang tidak mengharap. Tatapan mu, senyum mu, sikap mu. Hanya kau saja yang bisa menjawab. Bukankah dulu kau punya perasaan yang sama? Kalian bedua itu sangat aneh.”
Aku terdiam.
Apa ini karma, aku gagal menikah dan dia menghilang.
“Meskipun tidak ada yang memberi tahu, semuanya akan terasa berbeda. Dan insting perempuan itu lebih peka. Walau terus mengacuhkannya. Dan ternyata benar kan, kau pernah menyukainya? Tinggkah mu dengan mudah bisa ditebak Ken’. Sesorang juga akan bertanya-tanya dan mengharap perasaan itu. Kalau tidak kenapa kau selalu tersenyum ketika kau berapapasan dengannya ketika tidak ada orang lain melihat kalian. Kenapa kau salah tingkah saat hal tidak penting terjadi di depan kalian berdua. Lalu, kenapa saat itu kalian minta nomor ponselnya?” sambung Terfin. Seketika melirik kearah suaminya yang pura-pura tidak tahu. “Itu kenapa dia mempertahankan cintanya—dan sekarang, sudah Jelas dia akan melupakan mu, karena dia tidak mungkin memendam perasaannya untuk suami orang. Membenci mu karena dia terlalu mengharapkan mu.”
Aku merasa darahku tidak mengalir. Badan ku seakan luruh. Aku tidak bisa berpikir apa-apa. “Aku akan menyusulnya.” Ujarku antusias.
“Kau mau ke China? Yakin?” Sambung Angga.
Terfin menatap ku tidak percaya. Seakan aku hanya basa-basi dengan ucapanku. “Akan ku cari tahu alamatnya. Ini sudah empat belas tahun. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Tapi bukan kah lebih baik kau tidak usah bertemu dengannya lagi?”
“Ini sudah lama… ini salah ku.” Aku menatap Angga—mencoba menyakinkannya kembali. “Jika dia tidak yang menyatakan, aku akan yang menyatakan. Aku akan yang memulainya.”
“Apa kau yakin? Jika dia sudah menikah bagaimana?” tanya Angga lagi.
“Aku sangat yakin…” tapi aku tidak yakin dengan pertanyaan kedua itu.
“Olivia bukan orang yang gampang jatuh cinta. Aku rasa kau masih punya kesempatan. Ya aku harap begitu dan aku harap kau tidak kecewa ketika semuanya sudah berjalan seperti seharusnya. Dan ketika kau harus mengetahui tentang kebenaran yang selama ini tidak harus terjadi, karena dia terlalu mencintai mu.”
“Maksudmu? Kenapa aku harus kecewa?”
“Nanti kau juga akan tahu atau tuhan tak ingin kau tahu. Jika kau memang mencintainya. Dengarkan kata hati mu. Dan ku harap kau bisa mengendalikan ego mu. Aku harap kau memang tidak akan kecewa. Aku tahu Olivia tidak mungkin akan membuat orang yang di cintainya kecewa. Yakinkan hatimu, jangan membuat kesalahan saat kau bertemu dengannya.”
***
š………………………………………………………………………………………………
Angga: (Pesan pemberitahuan berbunyi) Kenzie kau membuatku penasaran!!!!
Aku tersadar dari lamunan.
Aku: Dia ke Jepang hari ini. Seorang cowok tampan bersamanya Olivia. Hatiku hancur Ga’…
Angga: Salah mu juga sih, andai saja dulu kau tidak gengsi. Makanya jangan cari cewek cantik dan mengharap kesetiaan. Lihat sekarang, ada cewek yang bahkan lebih cantik yang menunggu mu selama ini, bukankah kesetiaannya sudah teruji.
__ADS_1
Angga: Benar-benar, dia sangat menyukaimu. Bahkan sebagai gantinya dia harus amnesia, untuk melupakan harapan dan keajaiban itu. Tanpa dia memaksa untuk melupakan mu.
Aku: Perasaan gengsi ku terlalu tinggi, sampai-sampai aku melupakannya. Kau tahu sendiri Olivia bagaimana, dulu.
Angga: Kau juga sih. Kan sudah aku katakan. Kalau kau ingin mendengarkan kejujuran. Dengarkan getaran jantung seorang perempuan.
Aku: Aku belum pernah berdekatan dengannya. Bagaimana aku bisa mendengarkannya?
Angga: Ah, Kenzie… Kenzie. Sudah berapa banyak perempuan yang kau pacari. Sampai-sampai kau hanya mendegarkan kepalsuan. Hanya kau yang bisa menyelesaikannya. Selesaikanlah segera.
…………………………………………………………………………………………………
Aku menutup layar ponselku. Aku teringat kembali dengan buku pemberian Adrian, masih ada lembaran yang belum ku baca.
&………………..………………………………Diary…………………………………….&
Lembar berikutnya...
Aku sudah membayar semuanya, mama dan papa bahagia. Adikku bisa kuliah di luar negeri. Mereka bangga. Aku puas. Aku ingin melanjutkan hidupku.
…………………………………………………………………………………………………
Dia hanya menuliskan beberapa kata dan melanjutkan ke halaman selanjutnya. Namun tidak ada tahun, bulan bahkan tanggal yang tertera.
&………………..………………………………Diary…………………………………….&
Aku membenci mendengar suara hujan, tapi sesorang membuat suara itu menjadi indah.
Adrian. Ada apa dengan orang itu? Kenapa beberapa hari ini aku memikirkannyanya. Apa mungkin karena kami tinggal serumah. Ah…Seharusnya ini dihentikan.
Lembar berikutnya...
Perusahaan ku berjalan dengan baik, investor sudah banyak mempercai kinerja kami. Indonesia, jadi lah Suami ku. Aku mencintai mu……
…………………………………………………………………………………………………
Aku tersenyum.
Bahkan dia malah ingin menikahi Indonesia. Kau terlalu gila dan berlebihan untuk mencintai.
&………………..………………………………Diary…………………………………….&
Lembar berikutnya...
Tatapan itu. Lembut… tapi aku tidak ingin terperangkap lagi. Jujur, aku bahagia berdekatan dengan mu. Tapi... Ah, kenapa selalu kamu yang menghalangi! Aku tahu aku sudah terjatuh. Tapi apa salah jika aku berdiri dan berlari lagi...?
Lembar berikutnya...
Kami melewati beberapa musim bersama (orang yang baru), tapi aku belum bisa melupaka’nya’. Apakah dia sudah menikah? Emm, umurku belum dua puluh lima, masih menunggu beberapa tahun lagi. Aku sangat takut sekarang.
Lembar berikutnya...
Richi, bagaimana dengan mu? Kau masih menunggu ku? Kenapa kau menghilang akhir-akhir ini. Aku mengkhawatirkanmu.
Lembar berikutnya...
Aku tidak mungkin mengharapkannya, aku hanya perlu Richi.
…………………………………………………………………………………………………
Terlalu sedikit tulisannya membuatku sedikit resah. Ini benar-benar aneh.
&………………..………………………………Diary…………………………………….&
Lembar berikutnya...
Ah, perasaanku semakin aneh. Aku semakin gugup. Entah mengapa aku merasakan hal ini lagi dengan orang lain. Adrian, orang itu sangat dingin. Namun, ada sesuatu yang membuatku penasaran dengan sikapnya. Dia terlalu baik, dan sedikit dingin. Tapi aku senang bersamanya setiap sore ke tepi sungai. Namun…
Richi, bagaimana dengan mu? Kau semakin membuat ku bertanya-tanya. Email ku jarang kau balas. Apakah kau bosan?
Lembar berikutnya...
Apakah kau sudah menikah? Kapan waktu yang tepat untuk ku mengatakan? Apa aku tidak pernah memiliki kesempatan dengan mu?
Aku binggung sekarang, ada apa ini. Kau, dia dan yang satu ini. Tuhan… Apa aku tidak boleh untuk berlari dan menerima penghargaan dari kesuksesan ku, mencapai garis finish?
………………………………………………………………………………………………………………
Tulisan ini berakhir begitu saja.
Meninggalkan seribu pertanyaan di kepalaku yang tidak terjawab. Dia memang tidak menyebutkan nama ku di catatan hariannya. Banyak kekhawatirannya terhadap Richi. Mereka sudah berakhir. Kenapa dia terlalu memikirkan orang itu? Aku tidak tahu siapa yang jadi pelampiasan di sini. Aku atau Richi? Kata Terfin dia mencintaiku. Tapi, di diary ini, dia begitu mengkhawatirkan Richi. Lalu, ketika dia mengetahui Richi sudah menikah, dia datang mencari ku. Dan kini hadir Adrian... Ah... ini benar-benar menyulitkan ku.
Ada apa sebenarnya?
Perempuan ini benar-benar membuatku serba salah dengan langkah ini. Karena dia melihat laki-laki yang tampan dia malah melupakan ku. Aku rasa dia berbohong kalau dia tidak mengingatku—Aaaaargh! Aku bisa gila karena perempuan ini.
Apa benar aku mencintainya?
Dan dia juga mencintaiku?
__ADS_1
***