
“Perasaan ku kok gak enak ya Fin?” Tanya ku selepas bimbingan belajar yang di adakan sekolah untuk mempersiapkan tes Olimpiade Sains. Aku menjadi salah satu perserta Olimpiade bidang Fisika yang mendapat bimbingan belajar. Itu mengapa hampir setiap hari aku hanya menghabiskan waktu sore bersama Terfin, sekedar untuk mengikuti bimbingan belajar.
“Mau BAB kali...hahahha.” Jawabnya bercanda sambil membereskan buku-bukunya untuk segera pulang.
“Yeeeee…. Serius nih…”
“Udah ah… jangan dipikiran lagi. Itu sugesti, kalau di pikirkan terus bakalan jadi pikiran yang aneh-aneh.” Aku mengangguk mengerti.
Sesampainya di halte didepan sekolah.
“Eky mana sih… selalu aja telat ngejemputnya!” Kesal ku yang dari tadi mondar-mandir di depan halte memantau kendaraan yang lewat di depan kami.
“Telepon lah….”
“Deeeeh, ngolok nih….”
“Emmm, pake hape ku aja.” Tawarnya.
Dua menit setelah menelepon.
“Bentar katanya...huuuh! Selalu saja ketiduran kalau mau jemput aku.”
“Kalau gak di jemput, sama aku aja.” Tawar Terfin.
“Umm… Lihat aja entar.”
__ADS_1
Aku dan Terfin mengedarkan pandang sambil berdendang, melepas kebosanan menunggu. Namun, tiba-tiba saja mataku terkunci. Suatu sosok mengunci pandanganku.
Segerombolan anak laki-laki bermotor melintasi jalanan tepat di depan kami. Satu persatu motor melintas dan membuat suasana menjadi riuh dengan dengungan suara mesin motor yang aneh. Dasar geng motor! Tapi mataku tidak bisa berbohong—aku melihat dengan jelas— tidak ada yang direkayasa dari penglihatan ini. Meskipun aku bermata minus, aku bisa mengetahui siapa yang barusan saja mengusik pemandangan ku.
Anak yang memakai kaos oblong hijau tua itu. Dia duduk dibelakang tepatnya dibonceng seseorang yang tidak dikenal oleh ku dan Terfin. Kami berdua dibuat shock. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut kami. Mungkin salah liat. Aku berusaha mengelak dalam hati. Merasa menjadi suatu objek yang di perhatikan, membuat orang itu menyadari dan membalas tatapan kami dengan sinis lalu membuang mukanya kelain arah—Rombongan itu berlalu begitu saja dari hadapan kami.
Tidak bisa ditampikkan, ini kenyataan. Hati ku luluh, hatiku menangis. Aku membuang pikiran aneh itu jauh-jauh. Aku salah liat, itu bukan dia… bukan dia! Mencoba menguatkan diri.
Kami saling bertukar pandang “Itu Kenzie kan? Atau aku salah liat?” Terfin masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Umm…” Aku bergumam datar. Pikiranku kosong. Aku tidak yakin dengan apa yang barusan ku lihat.
“Mukanya Vi’…” ujar Terfin tidak melanjutkan percakapannya. Dia masih shock dengan barusan ia lihat. Aku hanya mengangguk mengiyakan, bahwa pikiran kami kali ini sejalan.
Kami berdua menyaksikan wajah itu, wajah yang dulunya bersih, putih bagaikan porselin yang terpahat rapi oleh seniman profesional. Tapi kenapa seperti itu? Seperti apa yang kami lihat barusan. Wajah itu tidak menunjukan ketampanan lagi, tidak menunjukkan senyum manis, tidak ada tatapan harapan itu lagi. Wajah itu….tatapan itu...kosong.
Terfin berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, ayahnya sudah datang menjemput. Aku memberikan senyum perpisahan. Hanya tinggal aku sendiri dihalte itu. Tidak beberapa lama anak-anak bermotor itu melitas lagi didepanku. Tapi Kenzie tidak lagi memalingkan wajahnya ke arahku, hingga mereka menjauh. Aku masih melihat punggung itu menjauh dan menghilang.
Aku tak bisa berkata-kata. Wajahku mendingin. Air mataku jatuh.
Tanpa dipaksa lagi air mata itu jatuh sendiri.
Keesokkan harinya…
Aku dan Terfin berjalan keluar kelas terburu-buru menuju toilet. Tapi… Langkah itu terhenti—langkah ku yang terhenti. Muka yang tadi panik menahan kencing kini berubah datar. Aku memutuskan untuk kembali kekelas—Memutuskan menjauh, sebelum aku berubah pikiran.
__ADS_1
“Ada apa Vi’? Tadi buru-buru ke toilet.” Kesal Terfin yang sudah ditengah jalan. Aku memberi isyarat "*Lihat itu!" —*Dua orang laki-laki yang akan menuju toilet juga. Satu orang laki-laki itu menggunakan jaket hijau tua menutupi kepalanya\, menutup mukanya sampai sebatas hidungnya.
Aku mengenal orang itu, mengenal matanya.
Terfin sangat mengerti apa maksudku. Sebelum orang yang ku maksud melihat kami—kami terlebih dahulu memutuskan untuk kembali kekelas.
Kenzie. Lagi-lagi dia...
Aku menghawatirkan mu… menghawatirkan kondisi dan juga hubungan mu… bagaimana jadinya dengan kondisi mu yang seperti itu—aku harap hubungan kalian akan bertahan. Ya, aku berharap doa ku terkabul. Tapi kenapa aku menghawatirkannya?
Rasa penasaranku akhirnya terobati. Tanpa diminta, ternyata sahabat-sahabatku dengan cekatan mencari tahu mengenai insiden yang menimpa Kenzie beberapa hari lalu. Mereka menceritakan bahwa Kenzie mengalami kecelakaan di persimpangan yang tidak jauh dari rumah ku. Wajahnya yang menakutkan seperti monster itu di karenakan dia terseret di aspal jalanan membuat wajahnya berselimut luka, bopeng karena luka goresan.
Hari berganti hari. Kini beda lagi ceritanya—Desas-desus terdengar dikuping ku— Astya dan Kenzie putus. Kabar itu seakan mengoyak hati ku. Dugaan ku tepat!
Hei! ada apa denganku sebenarnya?
Tapi kabar itu, kabar yang datang lagi justru membuatku kembali berpikir positif. Kabar itu menyatakan bahwa Kenzie yang memutuskan hubungan dengan Astya. Gadis cantik berambut panjang. Dia adalah teman kecil ku, teman dekat ku sewaktu SD. Itu mengapa aku selalu menghindar ketika bertemu dengan Astya akhir-akhir ini. Itu karena hatiku yang sedang meradang melihat orang yang ku sukai berpacaran dengan sahabat terdekatku.
Suatu hari juga aku pernah berpikiran sangat konyol. Saat aku mengetahui bahwa wajah Kenzie penuh luka, aku bersumpah, jika saja Astya dan Kenzie putus karena masalah itu. Demi tuhan aku akan membencinya. Untung saja perkiraan itu tidak tepat, mereka putus dikarenakan Kenzie akan menempuh ujian akhir sekolahnya. Jadi dia memutuskan hubungannya dengan Astya karena dia ingin fokus dengan belajarnya.
Meskipun aku sudah tahu apa yang membuat keduanya putus, tetap saja aku enggan bertemu dengan Astya lagi. Aku hanya ingin semuanya baik-baik saja. Aku tidak ingin masalah hati ini membuatku membeci sahabat kecil ku. Lebih baik aku menghindar, daripada aku bertemu terus dan membuat hati ku semakin meradang menimbulkan penyakit hati yang tidak akan pernah sembuh.
***
Hari demi hari, kepala ku selalu di penuhi dengan bayangan wajah Kenzie. Bahkan setiap aku bermimpi dia tidak penah absen untuk hadir di sekenario yang aku rasa telah ku tulis sendiri di kehidupan nyataku. Laki-laki bodoh, berwajah tampan, kulit yang terawat, super modern itu, incaran para gadis-gadis, terutama gadis-gadis cantik, dan juga terkenal. Ah, kenapa aku juga jadi korbanyanya, bisakah dia di hapus dari memori otak ku!
__ADS_1
Beberapa minggu kemudian wajah Kenzie telah pulih seperti sebelumnya. Wajah bak pangeran itu kini hadir lagi di dunia nyataku. Bagaimana tidak, aku selalu memantaunya setiap hari. Setiap hari aku selalu melihatnya, aku tidak peduli dia seperti monster atau menjadi seorang pangeran dia tetap Kenzie yang bisa membuat ku tersenyum—aku kira, aku bisa cepat melupakannya karena wajahnya menjadi buruk rupa, tapi tetap saja aku semakin dalam menyukainya. Aku tidak tahu mengapa. Aku hanya takut, jika suatu hari aku benar-benar kehilangannya dan aku tidak lagi menyukainya (mencintainya). Bagaimana perasaan ku setelah hal itu terjadi. Sayangnya aku tidak pernah menemukan mesin waktu, andai saja. Mungkin aku tahu bagaimana cara melupakannya lebih cepat.
***