
#Diary Olivia
Dunia ini sempurna, hanya saja kita tidak bisa merasakan kesempurnaannya. Dan kita juga lah yang meruntuhkan istana kempurnaan itu.
28 Agustus 2000,
Ku hirup segarnya udara pagi. Lagi-lagi aku hanya melamun di tempat tidur menunggu sang mama berteriak membangunkan ku. Seperti pagi biasa, dingin memeluk tanah kelahiran ku karena hujan selalu turun setiap malam. Aku tinggal di desa, di sebuah pesisir, tepatnya di sebuah kepulauan. Musim juga tidak tentu. Kadang hujan, kadang juga terik. Kalau sudah terik, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya rupa kehidupan orang-orang yang menetap di pulau ini. Mungkin pulau ini bisa memproduksi air keringat dalam satu galon penuh untuk lima orang dalam beberapa jam. Karena tinggal di pesisir juga membuat kulit orang-orang disini menjadi cokelat. Karena terpapar sinar matahari.
Tahun 2000, umurku masih dua belas tahun. Disaat aroma semangat siswa baru masih tercium. Tepat dua bulan yang lalu aku menghuni kelas terbaruku. Bukan hanya kelas, melainkan status pelajarku juga baru. Setelah berjuang mati-matian akhirnya aku bisa memperbaharui status ku menjadi salah satu pelajar SMP yang terletak di ujung Kalimantan, disini lah aku mulai menempuh pendidikan tingkat menengah pertama. Dengan seragam baru dan celotehan baru ku juga.
Inilah awal dari perjalanan hidupku. Disaat Demokarasi dan hak asasi manusia mulai ditegakkan. Disaat presiden baru berganti. Disaat lagu di era sembilan puluhan masih berdendang di telingamu. Apalagi ketika lagu Dewa sembilan belas, Padi, Sheila on 7 masih bergumam di Televisi. Mungkin dimasa depan nanti lagu ini yang akan membuat mesin waktu untuk mengenang hari ini. Untuk itu, Akan ku ingat tanggal ini sebagai awal sejarahku.
***
Desah rintik hujan yang belum berhenti semenjak semalam. Ku gengam tangkai payung berwarna biru toska, menembus hujan di pagi hari. Hujan. Ya, begitu memuakkan, aku tidak suka dengan suara hujan. Dari jauh ku lihat teman-teman SMP ku berlarian memasuki gerbang sekolah, terlihat pula motor-motor yang menumpuk sembarangan diparkiran. Aku tahu bahwa bel sudah berdentang. Tetap saja ku abaikan. Sekolah tidak dijaga oleh penjaga yang akan menutup pintu gerbang ketika bel masuk berdentang, itu mengapa aku masih berjalan santai. Namun, jika guru-guru mengetahui keterlambatanku, pasti aku segera dikenakan hukuman.
“Vi’ cepatan! sudah masuk nih.” Teriak Terfin dari samping laboratorium bertepatan didepan kelas satu-A. Seperti biasa teman-teman ku selalu memanggil nama bagian tengahku yaitu ‘Vi’ ini untuk mempersingkat aja sih.
“Sudah masuk?” tanyaku gamblang menghampiri Terfin.
“Ih, ini anak kebiasaan!” Ujar Terfin langsung menarik ku saat Guru Bahasa Indonesia terlihat keluar dari kantor guru.
Seperti biasanya diawal pekan, pelajaran Bahasa Indonesia menyambut kami siswa-siswi di kelas satu-A dengan antusias.
Kepala ku tidak naik-naik dari tadi, hanya menempelkan kepala di atas meja. Perlahan-perlahan mata ku pun mulai mengatup, menahan kantuk karena faktor cuaca. Tapi tidak halnya dengan Terfin, anak yang berotak encer ini, dia masih fokus dengan mata pelajaran yang berlangsung. Tanpa ada godaan sedikit pun ia masih asik mencatat materi yang diberikan.
“Erni…. Biasa…” ujar ku menyodorkan buku catatan ku kemeja belakang, tempat Erni teman sekelasku duduk.
“Oke siip…” ujarnya mengerti.
Semenjak duduk dibangku SMP aku selalu digeluti dengan rasa malas untuk mencatat materi, ini dikarenakan tulisan ku yang amburadul kayak tulisan yang kena ****** beliung. Tidak pas dengan garis buku alias tulisan ku jelek. Erni yang baik hati selalu mencatatkan materi-materi yang diberikan guru untuk ku. Tidak perlu di traktir atau dibayar dengan apapun deh, Erni dengan ikhlas membantu ku yang rada pemalas ini. Bukan hanya faktor tulisan saja, melainkan mata ku yang minus merupakan faktor utama tidak mau menggunakan kaca mata dan memperhatikan ke papan tulis. Belum lagi tangan ku yang pernah cedera membuat ku tidak bisa berlama-lama memegang sesuatu. Jadi pada intinya, aku memang anak pemalas.
Kembali kecerita. Masih dengan diguyur hujan. Dimana kelas pun menjadi riuh. Disatu sisi para siswa pada sibuk dengan acara gosipnya, ada pula yang asik main ular tangga, ada juga yang nyanyi gak jelas, ada yang tidur, ada yang bolak-balik ke toilet, siapa lagi kalau bukan aku yang sibuk dengan pipis ku. Setelah dua jam berlalu. Waktu istirahat tiba. Aku dan Terfin bergegas kekantin yang tidak jauh dari kelasku.
Dengan tiga lollipop di tangan kiri dan satu donat di tangan kanan, aku menikmati waktu istirahat bersama Terfin.
“Nak’ mau pesan Foto kegiatan tujuh belasan kemaren gak?” Ujar ibu kantin saat aku hendak membayar belanjaan ku. Kebetulan juga anak si ibu kantin ini adalah photografer disaat ada kegiatan di sekolah.
“Foto kegiatan?” Tanya ku tidak mengerti sambil menyambut album foto yang disodorkannya.
“Itu loh yang seminggu kemaren kita ikut gerak jalan.” jelas Terfin mengingatkan, sembari membuka lembaran Album Foto.
“Oh… eh, mana foto tim ku?” ujar ku riuh mencari foto tim ku. “Asiiik, keren aku kan?” Ujarku heboh setelah menemukan foto timku.
“Deeeh, lebih keren lagi foto ku.” sambar Terfin yang langsung membuka halaman selanjutnya.
__ADS_1
“Yee… Ini mah fotonya dari samping, liat kami. Kerenkan?” Tampak dalam foto tersebut Terfin memakai pakaian khas ala Paskibra. Sedangkan aku yang hanya memakai seragam sekolah.
Sejenak melihat-lihat foto, akhirnya pelajar lain berdatangan dan berebutan ingin melihat foto-foto tersebut. Dorong-dorongan pun terjadi, untung saja Terfin badannya kokoh jadi bisa membentengi ku saat aku mempertahankan Album foto. Aku dan Terfin akhirnya berhasil menyelamatkan Album foto itu dan membawanya ke meja makan. Namun, tidak lama kemudian, Sasa yang terkenal dengan gaya centil, dan modisnya, datang menghampiri kami berdua. Anak-anak yang tadinya masih mengejar ku kini perlahan menepi dan membiarkan Sasa lewat.
Ya, tuhan. Aku tidak tahu kenapa abang ku memilihnya untuk menjadi pacar. Awas saja, tunggu tanggal mainnya, akan ku laporkan dia ke Mama, karena berani pacaran sebelum waktunya.
“Apaan nih?” ujarnya sok bersahabat dengan ku saat sampai di meja makan.
“Foto! gak lihat!” jawab ku ketus. Aku memang tidak suka dengan gadis satu ini dikarenakan sifatnya yang kecentilan. Sasa satu angkatan dengan ku hanya saja kami berbeda kelas.
“Iiih, Eky keren ya?” tunjuknya kearah foto abangku, dengan gaya centil nan heboh.
“Ehem, ya lah tuh…”
Terfin hanya menaikan sebelah alisnya.
Belum berapa lama membahas foto abang ku— “Ya ampun cakepnya nih cowok..” tunjuknya kearah foto seorang yang berada diujung, dimana satu grup dengan abangku, seorang yang sedang tersenyum dan menaruh tangannya kebelakang. Sontak aku dan Terfin langsung melihat kearah orang yang dimaksud. “Kalau besar mungkin bisa nih diajakin nikah, hahaha”
“Astaga! Kacau nih cewek.” gumam ku lalu menarik tangan Terfin, berjalan meninggalkan Sasa sendiri memegang Album Foto.
“Haha, salah pilih abang mu Vi’.” Telak Terfin.
“Dasar! Pikirannya udah jauh aja.” terseyum sinis. “Bu, pesan satu fotonya.” Pesan ku ketika hendak pergi meninggalkan kantin.
Dalam perjalanan kekelas, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran ku. Sesuatu yang sulit untuk ku tebak. Aku berusaha mencari sesuatu yang menganggu dalam benak ku. “Kenapa Fi’? tumben diam.” tegur Terfin.
“Ah…itu,” aku terdiam, memikirkan sesuatu yang tidak ku mengerti juga. “Apa ya?” binggung.
“Udah minum obat belum?”
“Deh... mulai. Kau kira aku kenapa? Umm...itu nah…”
“Apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Itu…” masih tetap bingung.
“Itu…Apa?”
“Foto tadi?”
“Iya kenapa Fotonya?”
“Itu masalahnya, aku juga gak tahu?!”
“Huhh…Olivia, Olivia! bisanya itu nah pake acara gak tahu.” Ujarnya jengkel memukul lengan ku.
__ADS_1
***
“Reeeen…dii….” Goda kakak kelas seangkatan Eky abangku, ketika aku hendak bertemu dengan Eky dikelasnya.
Aku menatap tajam cowok yang barusan mengangguku. Lalu meninggalkannya sendiri dengan godaan yang tidak mengenakkan dikupingku.
Terfin memasang muka penasaran ke arahku. “Rendy siapa Vi’?” Tanya Terfin penasaran.
Lagi-lagi aku memasang muka kesal atas pertannyaan Terfin.
“Oke…Oke… gak usah dijawab.” Ujar Terfin mengerti.
Setelah aku bertemu dengan Eky, aku menggajak Terfin untuk beristirahat sejenak di bukit sekolahan. Dimana bukit yang menjadi salah satu ikon di sekolahanku. Aku memandang dari atas, mengamati lalu lalang para pelajar yang sedang menikmati waktu istirahatnya. Sebenarnya aku hanya ingin melihat suatu hal yang membuatku—
“Rendy itu kakak kelas mu di SD dulu, kau gak kenal?” Ujar ku membuka percakapan.
Rendy adalah seniorku, seangkatan dengan Eky. Awalnya aku mengenalnya semenjak duduk di kelas lima SD. Hampir setiap hari dia selalu berkunjung ke rumah ku. Awalnya aku tidak mengerti dari kelakuannya selama ini jika dia berkunjung kerumah ku, terutama saat kami berpapasan. Namun, ketika Gilang tetangga jauh sekaligus teman Eky, memberi tahu sesuatu hal tentang dia. Aku justru malah ingin menyembunyikan diri di dalam kamar. Hanya saja, itu semua terlambat ketika aku mengetahui dari Gilang bahwa Rendy telah pindah keluar daerah. Gilang memberitahukan bahwa Rendy ternyata menyukai ku. Saat itu aku tidak mengerti dan tidak ingin mengetahui tetang hal itu. Aku tidak ingin mengenal cinta saat masih muda seperti ini. Rasanya konyol sekali. Ketika kau masih berseragam putih-merah mengenal cinta kepada lawan jenis.
Hampir setiap hari, setiap Gilang bertemu denganku dia selalu memanggilku dengan sebutan Rendy. Aku tidak tahu kenapa dia begitu berambius ingin memberi tahuku, bahwa Rendy menyukaiku. Rasanya itu menganggu sekali.
Tentang Rendy? Sebenarnya dia adalah cowok tinggi, dan manis dia juga pintar memainkan gitar. Aku selalu melihatnya memainkan gitar di ruang tamu ku, jika aku bertemu dengannya di rumah. Aku tidak tahu dia sengaja atau tidak bertingkah manis setiap aku memergokinya di ruang tamu.
Awal pertemuan bermula ketika aku sedang menolong anak anjing tetangga yang terjatuh di parit depan rumah. Randy juga ikut-ikutan membatuku menolong anak anjing itu hingga membantu aku mengembalikannya ke rumah tentangga. Semenjak kejadian itulah, aku merasa ada yang aneh dengan Rendy. Dia juga sering tersenyum kepada ku, malu, lalu salah tingkah, entah mengapa dia seperti itu. Padahal aku hanya melihatnya dengan ekspresi datar. Terutama dia selalu terbata-bata jika ingin meminta tolong kepada ku. Yang aku tahu juga, dia adalah senior yang sangat popular di SDnya saat itu, mungkin sampai sekarang. Itu yang aku tahu dari Gilang, dan beberapa teman ku yang pernah satu alumni dengannya, di sekolah dasar dulu.
Tak jarang juga dia sering memainkan gitar dan menyanyikan lagu-lagu Romantis, menurut selera orang dewasa. Patut ku akui suaranya memang bagus. Meskipun begitu, itu sangat menggangu. Dan ada sesuatu yang paling ku ingat, yaitu ketika aku menemukan sebuah catatan yang terselip di salah satu majalah ku yang pernah bermalam di kamar Eky. Aku tidak tahu di sengaja atau tidak.
“Woooah Romantisnya….” Pekik Terfin yang hampir memekakkan kupingku. Ketika aku menceritakan aku menemukan catatan lagu dari Padi-Mahadewi yang terselip di majalah ku. Catatan yang bertanda tangan nama Rendy. Dan ini lah lagu yang sering mengganggu tidur siang ku, karena dia sering menyanyikan lagu ini setiap aku pulang sekolah, dulu.
Namun, entah mengapa semenjak kepergiannya dan sikap dinginku yang selalu tidak ingin tahu, jika Gilang menceritakan kehidupannya, menjadi suatu masalah besar bagi ku. Hingga kini aku serasa terkena karma akan tindakan ku kepadanya. Lalu mengapa aku harus merasakan itu ketika aku berumur belasan tahun seperti ini. Dan seharusnya aku belum mengerti tentang hal yang sering orang sebut itu... Cinta. Ini menyulitkan ketika aku masih terlalu muda untuk mengenalnya. Dan ketika aku merasa— Ahh… apa benar aku jatuh cinta? Konyol!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
#Kenzie
Aku tersenyum membaca beberapa lembaran yang sudah terlihat usang ini. Namun, mataku tidak bisa berbohong. Bahwa catatan harian ini bermula dari tanggal 28 Agustus. Ya, ini adalah tanggal lahir ku. Aku tidak tahu bagaimana bisa catatan ini bermula di hari ulang tahun ku yang ke empat belas tahun.
Di belakang lebaran ini terdapat foto kusam yang—foto yang sangat familiar di mataku. Foto ini...
Badan ku luruh. Aku tidak pernah membanyangkan ada orang yang selama ini bertahan hanya untuk mencintaiku.
Bukan kah ini foto kegiatan itu. Sudah lama sekali. Aku tidak menyangka kau menyimpannya.
Aku memandangi diriku sendiri di foto itu.
Disinikah cinta pertama mu berawal?
__ADS_1