
#Kenzie
Setelah puas bersepedaan, kemarin. Hari ini kami membuat janji lagi. Aku tidak tahu hari ini kami akan kemana dan melakukan apa. Aku tidak peduli itu. Bertemu dengan Olivia saja, aku sudah cukup puas.
Sambil berjalan kaki menuju kediaman Olivia. Aku teringat dengan sesuatu yang ku bawa dalam tas ku. Gumpalan kertas yang aku ambil dari tong sampah dua hari lalu. Sampai saat ini aku belum memastikan kertas apa yang di buang Adrian saat itu, terutama yang aku pertanyakan ialah, mengapa ada wajah gundah saat membuang kertas itu?
Ku ambil kertas itu dari dalam tas sambil melanjutkan perjalanan ku. Perlahan-perlahan ku buka kertas yang ternyata adalah sobekan kertas dari diary Olivia. Mengapa kertas ini di sobek lalu di buang? Pasti ini perbuatan Adrian. Aku rasa orang itu psikopat. Dia sungguh aneh.
***
&………………………………Diary Olivia…………………………..&
28 musim hatiku membeku,
Dalam endapan angan yang tak pasti.
Tatapan, senyum, tawamu, terangkul dalam memoriku menghias khayalku.
Mimpiku, rasaku, tertatih dalam sunyi.
Kamu?
28 musim kusebrangi,
Walau ku tenggelam dalam rasa ini.
Untuk kamu yang telah menghias hariku dalam kesepian.
Balikpapan, Juli 2007
Dia hadir bagai angin, menghebuskan nafasnya, menyapuku kesuatu tempat. Tempat, yang tak seharusnya ku datangi. Aku tak menyadarinya. Dia telah banyak mengajarkan ku tentang beberapa ‘hal’, patah hati, tangisan, tersenyum, menunggu, berpetualang, hingga mengajarkan tentang suatu hal yang penting, mengambil sebuah resiko yang besar dalam hidupku. Yang tak pernah beresiko sama sekali.
Air mata ku menetes, deras dan semakin deras. Dalam keheningan malam aku menumpahkan isi hati dalam lembaran berjilid bersampul biru tua ini, Diary. Selama ini sudah tidak ada lagi tempat curhat yang pas bagiku, selain sang pencipta dan diary kesayangan ku ini. Sebenarnya aku ingin sekali keluar dari tempat ini. Aku ingin sekali merasakan kebebasan. Bebas dari segalanya, terutama trauma ku.
Ini langkah awal—untuk pertama kali merantau kekampung orang. Tanpa hati yang mantap, tanpa arah yang pasti. Buyar dan hilang.
Bandung, disanalah aku akan melangkah mengapai mimpiku. Tapi semuanya sirna, ketika aku menginjakkan kaki di Balikpapan.
Dadaku semakin sesak menahan tangisku. Aku berjalan menuju westafel, sejenak mencuci muka. Nada dering ku terputar indah di ponsel kesayanganku yang bernuansa putih, pertanda panggilan masuk.
“Halo…” Sapaku. Mengangkat telepon seseorang yang pernah menghiasi masa laluku, yang kelam.
Aku ingin melupakanmu, pergilah menjauh! Betapa bodohnya aku yang mengenalmu. Aku berusaha keras untuk bisa menaruh mu di bagian yang telah terpenuhi untuk seseorang—Aku berupaya keras melupakannya, untuk mu. Tapi apa yang aku dapat. Tidak ada satu kebahagiaan pun yang aku rasakan. Menantinya, dan diam-diam menerima mu…
Masa kelam itu selalu saja hadir di kepalaku tanpa diundang. Terlalu banyak hal yang bodoh yang pernah ku lakukan bersama Richi, hal itu sebenarnya adalah keinginaku untuk berusaha melupakan Kenzie yang selalu datang bagaikan hantu, mengganggu hidupku. Telah banyak hal bodoh bahkan ini sia-sia yang aku lakukan bersama orang ini, ya Richi. Karena dialah aku semakin takut dengan mimpiku dan semakin takut mencintai Kenzie.
__ADS_1
Ketakutan ini sudah menjelma menjadi trauma jikalau aku kembali melihat wajah Richi. Tidak ada harapan hidup lagi jika semuanya terputar kembali dikepalaku.
Masa kelam itu…
Sudah banyak yang aku lewati untuk melupakan Kenzie. Hanya untuk melupakannya aku bahkan menjerumuskan diri dalam lembah yang dalam dan gelap. Seakan tidak ada tempat untuk kembali ke jalan yang seharusnya aku lewati.
Banyak yang berkata bahwa Richi adalah orang tepat untuk hidupku—pasangan ideal—Bahkan kami sudah berjanji untuk sehidup semati— Orang bilang, dia adalah anak yang baik, sosok pemimpin yang bijaksana dalam mengambil setiap keputusan, sosok yang di idam-idamkan bagi orang banyak, dan sosok panutan dimata orang banyak—kenyataannya, itu adalah topeng yang selama ini di pakainya. Dan sekarang, petaka ini harus segera di akhiri.
Dimata ku semua hal-hal positif yang di katakan orang-orang justru memanufer pikiran dan pandangan ku seratus delapan puluh derajat. Semuanya hanya fatamorgana dimataku. Justru itu hanya kulit luar dari seorang Richi dimata orang banyak. Dia memang pintar sekali memanupulasi diri. Terutama di depan orang lain selain aku.
Kita sudah melakukan hal yang bodoh. Aku bukan gadis polos yang kau lihat selama ini. Aku bukan gadis yang tegar yang sering kau lihat. Aku bukan gadis suci yang mereka katakan. Semuanya bohong. Aku membodohi, membohongi diriku sendiri dan orang banyak. Mencintaimu, menjerumuskanku dalam jurang yang dalam. Kita tidak mungkin bersama, dan aku telah memilihnya. Memilih untuk tidak mencintaimu. Mencintaimu, menyiksaku. Biarkan aku melupkanmu. Kenzie…
Sudah banyak yang kami lalui berdua. Semuanya hanya hitam kelam. Pada dasarnya, semua hanyalah pelampiasan ku. Pelampiasan rasa sakit yang aku derita selama ini.
Aku salah untuk melangkah. Aku melangkah dengan semauku, bukan dengan hati nuraniku. Tanpa arah, tanpa tujuan yang pasti. Sekedar hanya ingin membayar semua sakit hatiku.
Semuanya pertama, dan terakhir kali untuk ku.
Bibir ini telah tersentuh, tangan ini telah tergengam, tubuh ini telah ada yang menguasai. Aku terperangkap, aku tidak bisa kemana-mana sekarang. Betapa bodohnya aku menyerahkan kehormatan, dan hidupku kepada manusia serakah, egois seperti itu. Demi untuk melupakan mu… bodohnya aku.
“Iya aku akan bertanggung jawab. Aku janji akan menikahi mu.” Ujar Richi di seberang telepon.
“Kau permainkan perasaanku. Kau kira aku apa mu hah! Seenaknya kau perlakukan aku seperti ini. Apalagi yang harus aku lakukan? Seharusnya kau sadar. Kau bukan apa-apa untuk ku!” Kata-kata itu terlontar bersama amarahku.
Perasaan ku begitu saja dipermainkan oleh Richi. Kata-kata itu masih terniang dikepalaku—Disetiap pertengakaran itu terjadi—hubungan kami pula digantung. Aku tidak mengerti dengan status hubungan kami. Dengan semaunya Richi memperlakukan ku, mempermainkan ku bagai boneka. Hampir setahun kami tanpa komunikasi. Dengan sabar aku menunggu kabar darinya. Tapi berlalu begitu saja tanpa kabar. Dan dengan seenaknya dia kembali dan meminta apa yang dia inginkan.
Aku sudah memberikan kesempatan untuk memperbaiki sikapnya, tapi, tetap saja dia berlaku seenaknya. Richi tidak pernah menempatkan dirinya yang benar untuk ku. Dia tidak pernah menjaga ku, tidak pernah ada disaat aku membutuhkannya. Hidupnya penuh *****, seperti singa yang siap menyantap ku bagai buruannya. Tatapannya memang tenang, tenang bagaikan singa yang tidak akan menunjukan wajah aslinya yang sangar itu. Jelas itu membuat ku muak. Dulu, dia menduakan ku lalu berjanji akan berubah dan memperbaiki. Pada akhirnya, kesempatakan itu di salah gunakannya, lagi.
Kini aku hanya pasrah. Menjalani hidup dengan kebohongan. Dan memutuskan diri untuk menjadi single. Tidak ada harapan lagi untuk perempuan yang sudah ternodai sepertiku, bahkan untuk hidup bersama orang yang baik-baik.
Aku akan tetap menunggu Richi berubah, dan menempatkan posisinya yang tepat untuk ku. Bukan memprilakukanku seenak yang ia mau.
Setiap mengingat kelakuan kotor kami berdua, selalu saja rasa sakit dikepalaku datang menyerang. Rasanya aku ingin berteriak, tapi apa daya aku tidak sanggup melakukannya, kecuali memegang kepalaku erat-erat dan menangis menahan rasa sakit itu.
“Sudahlah, lebih baik kita tidak berkomunikasi dulu. Aku ingin fokus untuk masa depanku. Tenang saja. Aku tidak akan kemana-mana. Aku sudah terperangkap denganmu… Jika kau sabar menantiku. Tunggu aku tujuh tahun lagi. Aku akan menghampiri mu. Dan aku akan menagih janjimu. Berjanjilah, kau tidak melakukan kesalahan lagi. Aku tidak ingin di tarik ulur. Ku mohon jangan permaikan aku lagi. Jika kau siap datanglah.” Jelas ku dengan nada marah. Aku lelah, tapi aku baik-baik saja. Jika aku tidak mendengar namanya lagi.
Bagaimana aku bisa tersenyum tenang, jika hatiku menagis. Mungkin dimata orang aku adalah sosok yang bahagia. Cobalah melihat lebih dekat, sebenarnya aku sedih.
Waktunya untuk berpikir.
Cinta muda ku berakhir seperti ini. Penyesalan tiada artinya. Air mata yang tidak berguna. Dia pasti senang. Berhentilah bersikap seperti itu. Berhenti bersikap nyaman seperti itu—Aku masih membencimu yang pernah pergi meninggalkanku. Hatiku masih dingin. Terkadang aku merindukan mu. Tapi untuk apa? Aku sebenarnya merindukan orang lain. Hati ku berkata lain bukan untuk mu, tapi untuknya. Untuknya, yang tidak tahu dimana sekarang berada.
“Aku selalu siap untuk mu. Jika kau ingin menikah denganku sekarang. Aku akan menikahi mu.” Suara lembut itu berusaha menyakinkan. Meskipun dosa terdahulunya seperti itu. Dia masih berusaha memperbaiki. Hanya saja aku mencoba untuk menghindar. Kini hatiku tidak ingin kembali merangkai hubungan itu lagi. Aku tahu Richi hanya sekedar berbicara. Aku sudah sangat mengenal karakternya, aku sangat yakin dia menghubungi ku hanya sekedar memuaskan nafsunya. Sial! Kenapa aku terperangkap dengannya.
“Ikatan pernikahan tidak semudah yang kau katakan. Pernikahan bukan untuk batas waktu. Tetapi untuk selamanya. Bagaimana kau mempertahankan ikatan itu, kalau kau saja masih seperti ini.”
__ADS_1
“Aku janji akan menepati janjiku. Ku mohon jangan seperti ini lagi. Bagaimana kita mau memperbaiki diri kalau kita harus memutuskan komunikasi lagi.”
“Baiklah. Tapi untuk saat ini aku tidak ingin ada ikatan dulu. Berjanjilah kau akan berubah.”
###
Ketika semuanya berlalu. Aku tidak ingin melihat kebelakang.
Seperti angin yang berhembus dan berlalu.
Kita bermain dalam dunia fantasi, tidak peduli siapapun yang menganggu.
Kau membuatku terdiam, bahkan tertawa dalam tangisku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
Aku bodoh, entah mengapa aku memikirkan diriku seperti itu. Bodoh, bodoh! bisa terperangap dalam dunia opera mu. Kau mainkan sesuka hatimu, begitupun aku menuruti semua perkataanmu.
Aku berbohong kepada diriku, aku mencoba menjadi wanita seperti yang kau inginkan. Tapi itu bukan aku. Aku ingin bebas, bukan seperti wanita yang kau cintai. Aku bertambah binggung memikirnya. Kau selalu membohongi ku… ah dasar kau! Aku muak, aku bertambah gila.
Aku bodoh mengenai cinta. Aku tidak ingin terperangkap dalam opera yang kau tuliskan naskahnya untukku.
I think I’m pitiful, I think I’m stubborn yah I thought…
Pergi menjauh. Aku tidak ingin terperangkap. Aku membenci mu, aku membenci mu laki-laki!
Aku bukan seperti yang kau pikirkan, aku wanita bebas, bebas melakukan apa yang aku inginkan. Sekarang aku lelah bermain dalam opera mu, naskah mu menyulitkan ku. Tak perlu kau meminta maaf, karena semuanya terlambat. Jika kita kembali dari awal, aku akan bertambah hancur bagaikan debu.
Dan kau akan tertawa puas … kembali membentuk ku menjadi pemain opera mu.
Duniaku bukan berada dalam opera mu.
Berhenti bertemu sekarang, karena aku tahu apa yang terjadi nanti.
Jangan berbohong, jangan berbohong…! Aku sudah bisa melihat siapa dirimu.
***
Tidak peduli siang, malam, ketika aku mau tidur, makan, belajar, ibadah. Semua hal menjijikan itu selalu hadir di kepala ku. Aku tidak tahu bagaimana menghilangkannya. Aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku sudah pernah melakukan hal gila untuk melenyapkan ini semua. Tangan ku pernah patah ketika aku mencoba untuk melakukan bunuh diri yang gagal. Kaki ku pun pernah terkilir dan menderita sakit selama sebulan, ketika hal yang sama ku lakukan lagi. Hingga akhirnya, aku memutuskan diriku untuk mengunjungi psikiater. Telah banyak obat penenang yang ku minum namun tetap saja trauma akan masa lalu itu masih menghantui ku.
Terkadang hal ‘seperti itu’ bagi banyak orang adalah suatu kenikmatan dan kebahgiaan ketika bisa melakukannya bersama pasangan kita. Tapi tidak seperti ku. Aku malah merasa takut dengan diri ku sendiri, setelah hari itu. Namun aku bersyukur tuhan tidak meninggalkan ku saat aku tersesat. Ku coba untuk bangkit, mencoba membakar kenangan itu dan mencoba memaafkan masa lalu ku, meskipun itu sangat sulit.
Satu kenangan kecil seakan menampar ku hari itu. Siang, malam entah berapa banyak waktu yang ku lalui. Entah berapa banyak air mata yang jatuh karena kebodohan itu. Hari itu aku bertekad untuk meneruskan mimpiku. Meneruskan cita-cita kedua orang tua ku. Hari itu ku mulai langkah kecil ku menuju masa depan. Aku belajar dengan giat. Menghabiskan waktu untuk belajar—Melakukan kegiatan sosial. Melakukan kegiatan untuk membantuku melupakan itu semua. Hingga akhirnya aku mencoba peluang untuk pindah ke salah satu Universitas di Bandung. Meneruskan cita-cita ku yang sempat tertunda. Hingga akhirnya pengumuman penerimaan ku sampai.
Aku lulus.
Akan ku mulai langkah nol ku disana. Bandung.
__ADS_1