Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Cappucino


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Tahun 2002,


Sekarang aku sudah duduk dibangku kelas tiga. Tinggal menghitung bulan aku akan keluar menjadi alumni di sekolah ini. Saat ini aku hanya terfokus dengan pelajaran, sahabat dan kelulusan. Walau sesekali pikiran dan perasaan itu kembali mengusik hariku.


Sudah jarang pula aku tidak bertemu dengan Kenzie. Hanya beberapa kali kami bertemu. Ketika pencarian bakat, dan ketika Kenzie dan sahabatnya bertandang ke sekolahan kami lagi, hanya untuk sekedar bersilahturahmi dengan para guru, atau mungkin sedang mencari gebetan baru. Awalnya aku mengira Kenzie jadi meneruskan sekolah keluar daerah. Namun aku bersyukur, bahagia, kabar itu hanya berita palsu.


Sesekali aku kembali bernostalgia, kadang-kadang pula aku tersenyum sendiri mengingat kenangan beberapa bulan bahkan tahun lalu. Kenangan itu tidak lama setelah kelulusan Kenzie dan kawan-kawannya. Saat itu ada sebuah event yang di selengarakan oleh pihak agensi musik yaitu ajang pencarian bakat untuk para anak muda dalam kategori band.


Awalnya aku hanya ingin menonton Eky yang ikut dalam audisi event tersebut bersama personil bandnya yang tidak lain adalah teman-teman yang sangat ku kenal. Saat itu Eky memegang posisi drummer di bandnya. Hari itu cukup lama untuk menunggu penampilan Eky. Aku bersama Terfin datang untuk menonton. Banyak kejadian yang tak terduga. Sayangnya, Terfin tertinggal satu langkah, diantaranya dia tidak bisa melihat pujaannya ikut serta dalam audisi. Dan untung saja hari itu aku membawa handycam untuk merekam Eky. Karena saat itu, Eky tampil di urutan belakang, jadi aku memutuskan untuk merekam pertunjukan idola Terfin terlebih dahulu.


Jam sudah menunujukkan pukul sebelas malam. Aku sudah lelah menunggu Eky tampil. Berkali-kali Eky berusaha membujuk ku untuk menunggunya dan melihat penampilannya. “Tunggu lah. Selesai band ini, band kami yang akan tampil. Sabar lah..” pinta Eky dan akhirnya dengan terpaksa aku memenuhi permintaan itu.


Riuh tepuk tangan di ruangan audisi membuat ku bertambah menggantuk. Sebenarnya aku tidak suka dengan keramaian, hanya saja aku tidak ingin mengecewakan abangku. Karenanyalah aku rela-rela untuk meghadiri acara yang menurutku tidak penting ini. Saatnya MC memanggil band selanjutnya. Samar-samar ku lihat, ketika personil band dengan nomor urut yang terpanggil masuk ke atas panggung. Mataku yang tadinya mulai terpejam, berubah drastis ketika personil band satu ini mengambil posisi. Aku membelalakkan mata, mencoba meyakinkan apa yang mataku lihat didepan sana. Ku perbaiki dudukku yang tadinya sudah luruh di bangku. Mata pun dengan cekatan memaku kearah orang yang sudah siap di posisinya, posisi drummer sama seperti Eky.


Wajah itu… Membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan ku—Dia benar-benar sangat tampan—Mataku terbuka lebar memandangi maha karya tuhan yang berada di depan ku saat ini. Bagaikan seorang malaikat dengan artribut serba putihnya ketika berhadapan dengan manusia. Dia tampil dengan jaket berwarna putih, dengan lengan yang di gulung keatas. Dia semakin membuatku terpesona apalagi dia memakai kostum yang senada dengan pikiranku— warna dari pakaiannya adalah warna kesukaan ku. Tanpa ku sadari saat itu aku juga memakai baju berwarna putih. Sunguh-sungguh tidak terduga. Atau aku sedang mendapatkan jackpot di hari ini. Di mulai dengan mengecek drum dan lagu mulai di nyanyikan. Aku tidak pernah-pernah menatapnya selama ini. Dua lagu habis dan aku masih tetap menatapnya. Aku terpesona dan malu ketika dia sesekali melihat ke arah ku. Mungkin dia sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Atau aku yang terlalu percaya diri merasa di lihat olehnya. Namun aku yakin, dia memang melihatku. Karena saat itu aku berada di pojok ruangan bersama teman-temanku yang semuanya adalah laki-laki. Mungkin karena itulah aku menjadi pusat perhatian. Aku tidak peduli yang mana yang benar. Setidaknya hari itu aku sangat bahagia. Bahkan aku sampai lupa untuk merekamnya, biar sajalah. Cukup otakku saja yang merekam adegan ini. Aku sangat bahagia ketika melihatnya dengan semangat menaburkan drumnya. Sepertinya aku akan menudukungnya. Tapi... Ah— aku melupakan Eky.


Aku menghayal yang bukan-bukan lagi hari ini…


***


Saat itu, para guru-guru sedang rapat. Saat itu pula aku baru duduk dibangku kelas dua. Di siang hari yang terik, dan saat kelas tidak ada guru. Saat aku sedang membaca buku di mejaku yang berada di urutan depan. Dari jauh mataku menangkap ada tiga pemuda berpakaian seragam SMA dengan narsis memberikan senyumannya kepada orang-orang yang lewat di hadapannya, terutama para perempuan-perempuan. Aku menyadari siapa saja pemuda itu, namun aku hanya mengawasi dari jauh, dari balik jendela sambil membaca buku. Ternyata mereka juga melintas didepan kelas ku. Beberapa jam berselang. Disaat istirahat tiba, aku dan sahabatku sedang duduk-duduk di anak tangga yang berhadapan dengan kelas satu. Tiba-tiba saja adik Dony yang juga bersekolah ditempat yang sama sekaligus junior ku dengan iseng menghampiri ku yang sedang bersama ketiga sahabatku ditambah Tomo dan Haikal, dua sahabat baruku.


“Olivia, tadi kamu liat gak alumni lewat. Yang pakai baju SMA?” ujar Dede, adik Dony yang berbicara non-formal kepadaku.


Aku dan sahabat-sahabatku malah memandang aneh anak ini yang datang bersama dua kawannya. Aku hanya menaikan bahu tidak mengerti.


“Kau suka kan sama Kenzie?!” katanya, lalu tertawa kencang.


“Hah?” Aku terbelalak kaget. Reisa, Terfin dan Dila menoleh bersamaan kearah aku yang terlihat canggung.


“Kau gila ya! Jangan ngawur kalau ngomong! Pergi sana!” usir Terfin.


“Alah… gak usah deh bohong. Iya kan? Dia juga kok yang kasih tahu aku….”


“Apa???!!!” lagi-lagi aku terbelalak kaget melihat kearah Dede. Buru-buru kusembunyikan kecangungan ku. “Apaan sih?! Idih kegeeran amat itu orang. Kagak lah aku suka. Haduh... Suruh koreksi lagi tuh ucapannya.” Telakku yang membuat para sahabatku ingin mengakak hebat, untung saja mereka menahannya.


“Alah, bilang aja suka. Hahaha. Suka sama Kenzie!” Dengan sengaja dia mengeraskan volume suaranya membuat ku ingin memanggangnya hidup-hidup.


“Huuh! nih bocah ya! Sana gak!” yang langsung disambut tatapan mengancam dari Haikal dan Tomo, mau gak mau anak itu pergi sambil tertawa, meledek.


Kejadian itu memang sudah lama. Aku juga sempat bertanya-tanya mengapa semua itu terjadi kepada ku. Aku berusaha untuk memudarkan semua kenangan itu. Namun sikapnya membuatku tidak sedikitpun bisa memudarkan semua kenangan yang pernah ku lalui. Apa arti dari semua ini? Terkadang aku menangkap tatapan yang membuatku luluh, namun di satu sisi aku merasa dia seakan mengejek ku karena aku menyukainya.


Aku rasa ini membuncah, bahkan telah tumbuh dan berakar. Ah… Aku segera akan menebangnya. Tidak akan…Tidak akan!!! Ah… kenapa semakin aneh saja. Pergilah dari kehidupanku.


***


Agustus 2002,


“Sudah lama ya gak pernah dengar kabarnya…” ujar ku saat duduk di pinggir dermaga bersama Reisa. Kami sedang menikmati senja hari ini. Angin bertiup sendu. Menenangkan pikiran ku. Hampir setiap menjelang malam aku selalu membawa salah satu sahabatku ke duduk di tepi dermaga. Sekedar menikmati kehangatan pelukan senja.


Reisa memasang wajah tidak percaya mendengar kata-kata dariku. Sebenarnya sudah lama aku tidak membicarakan atau memancing pembicaraan seperti ini. Pembicaraan yang sudah dapat di pahami oleh sahabat-sahabatku. “Aku kira kau sudah melupakannya.”

__ADS_1


“Entahlah… sulit sekali untuk membuang pikiran ini.”


“Emm… sudahlah Vi’. Kenapa gak di ungkapkan aja.”


“Ahh…Kau gila apa, engga lah… mau ditaruh dimana mukaku ini.”


“Hahaha… cari tempat yang aman lah untuk di taruh. Oh iya, sudah lama aku ingin memberi tahu mu. Aku kira kau sudah melupakannya, jadi aku tidak memberi tahu mu.”


“ …??”


“Kau kan sudah lama ingin tau kapan tanggal lahirnya.”


“Umm… terus?”


“Dia lahir bulan agustus loh, nanti tanggal 28 dia akan berulang tahun.”


Aku menatap kurang yakin ke sahabatku ini. “Kau serius?” menatap Reisa tajam dan penasaran.


“Ya ile… gak usah segitunya kali. Yup... beberapa minggu lagi bukan?”


Aku mengangguk mengerti.


“Ah… nanti sms kan dia ya… ucapkan Happy birthday sama dia. Dari aku…” ujarku tertawa sekaligus berharap.


“Serius?”


“Ah, gila. Kagak lah! Yang benar aja.” Elak ku terkekeh walau dalam hati menaruh harapan.


“Awas kamu, jangan ikut-ikutan Terfin lah… awas aja kamu ya!” ancamku sambil memukul lengan Reisa dengan gemas.


***


Sebulan ini akan diselengarakan pensi dan pasar malam peringatan kemerdekaan RI. Acara yang diadakan di daerah ini pun sudah di selengarakan beberapa minggu sebelumnya. Walaupun dengan terpaksa, akhirnya aku menuruti bujukkan untuk menemani Terfin menonton pensi, ya sekedar membuang kejenuhan ku di rumah malam ini.


Setelah berkeliling-keliling menikmati suasana malam. Akhirnya langkah kaki kami berhenti disalah satu stand penjual perlengkapan couple. Awalnya kami berhenti sejenak untuk melihat-lihat. Namun Terfin membuatku bertanya-tanya akan tingkahnya yang tidak biasa.


“Pesan ya mas, ukir dengan nama Terfin dan yang satu lagi Kharis.” ujarnya memesan dua cincin couple yang bisa di ukir dengan nama. Dia tidak seperti biasanya, bahkan jarang sekali untuk mengungkapkan perasaannya kepada Reisa dan Dila, atau sekedar menulis nama idolanya. Namun malam ini aku menyadari bahwa Terfin masih memendam perasaannya sampai detik ini sama seperti ku.


Sembari menunggu pesanan Terfin, aku mencoba-coba mengukur cincin-cincin ke jari, tanpa memesan. Lalu berkeliling mengitari stand ini untuk melihat perlengkapan couple lainnya. Setelah pesanan cincin Terfin selesai, tiba-tiba saja aku tergoda untuk membeli. Membeli dua cincin sepasang yang ku beri nama Olivia dan Kenzie. Terfin hanya mengelenggeleng melihat ku yang dirasanya telat dalam berpikir.


Sekarang cincin-cincin itu telah ku sematkan di telunjuku dan satunya ku buat sebagai mata kalung ku.


Beberapa hari kemudian, tepat tanggal 28 Agustus. Seperti biasanya aku selalu menulis kegiatan harian ku di buku yang ku sebut diary. Namun ketika aku membuka kembali di lembaran pertama. Aku menemukan sesuatu yang membuatku kehilangan udara di detik itu juga. Aku sangat terkejut ketika sedang membaca halaman pertama buku harianku.


28 Agustus waktu yang tertera disini. Dimana pertama kali—Ahhhrrrggg…! kenapa terjadi seperti ini?


Nada dering ponsel mama ku berdering. Sebuah pesan masuk. “Sudah ku sampaikan salam mu, aku bilang ‘Olivia titip salam. untuk mu, selamat ulang tahun…’” pesan singkat dari Reisa yang langsung membuat tulang-tulang ku terasa ngilu. Ponsel mama memang aku yang pegang. Itu mengapa Reisa tak ragu mengirim pesan seperti ini.


“Kau gila!” ujar ku membalas pesan dari Reisa.


“Katanya terima kasih… salam balik…. ^_^” Jawabnya.


Lagi-lagi pesan itu membuat ku ingin terjatuh lemas. Tidak ada pesan lagi yang ingin ku balas terkecuali aku ingin cepat-cepat tidur dan segera melupakannya, walau terselip perasaan bahagia yang memuncak.

__ADS_1


Aku tidak tahu bagaimana perasaannya setelah menerima pesan dari Reisa tentang ucapan ulang tahun dari ku. Mungkin dia bergidik geli karena aku masih mengharapkannya selama ini.


***


Aku tampil dengan gaya baru. Aku baru saja memotong rambut panjangku. Kata ketiga sahabatku aku terlihat imut dan aura kekanak-kanakan ku terpancar dengan jelas. Sepertinya pujian yang terakhir membuatku sedikit—emm...lupakan. Cuaca hari ini sangat tidak mendukung karena hujan turun di sore hari. Tapi apa boleh buat, daripada harus sendiri di rumah lebih baik aku berjalan-jalan merefreshkan otak. Lagi-lagi di pasar malam, untung saja hujan sudah reda ketika aku sampai di lokasi. Dengan ditemani Terfin, aku menikmati malam panjang ini.


Kami memasuki pintu gerbang pasar malam ini. Dari awal perasaan ku sudah tidak enak. Dan malas untuk pergi ditempat seperti ini.


Aku memandang sinis kearah pria berswiter biru langit yang berjalan disampingku. Pria itu masih menggunakan helmnya berwarna merah. Orang itu sungguh mengusik jalanku. Begitu juga Terfin yang sudah sekian kali menarik tangan ku untuk mengalah. Tapi tetap saja aku dan orang ini tidak ada yang mau mengalah. Kami berjalan beriringan, tepat hanya bersebelahan. Kami seperti orang yang memang datang bersamaan dan tidak ingin berpisah di jalur yang sama. Terfin berkali-kali membujuk ku yang keras kepala ini untuk mengalah.


“Apaan sih orang ini!” kesal ku dalam hati, tepat sesaat orang ini agak merapat ke dekat ku. Badannya tinggi membuatku segan. Aku rasa dia adalah orang tua yang sangat egois. Medan di pasar malam sangatlah buruk, karena hujan yang turun di sore hari. Untuk menutup genangan air yang menganggu jalanan. Para penyelenggara pasar malam memasang papan sebagai jalur agar pengunjung mudah berjalan tanpa berbasahan dengan genangan air. Papan hanya berukuran selebar empat telapak tangan orang dewasa namun papan itu sangat panjang. Karena lebar papan yang sangat kecil membuatku kesulitan untuk berjalan, terlebih lagi orang tua disamping ku ini sangat egois tidak mau mengalah.


“Biar aja dia duluan Fi’…” ujar Terfin mengingatkan sambil menahan tanganku agar segera menepi ke pinggir, kearah genangan air.


“Becek tau, ogah ah! Dia cowok seharusnya ngalah!” Bisik ku. Tapi tetap saja pria yang lebih tinggi dariku ini tidak mau mengalah. Bahkan aku hampir memarahi orang yang berada disebelahku ini, karena membuat ku terkena cipratan becek yang mengotori kaki dan celanaku. Geram, hanya bisa ku tahan. Aku masih pelajar tidak mungkin dan tidak seharusnya membuat keributan disini. Tidak lama kemudian aku dan orang ini mulai menunjukan rasa yang sama-sama risih.


Terfin membuatku bertanya-tanya. “Kenapa senyum-senyum?” tanyaku penasaran, belum lagi orang di sebelahku masih membuatku merasa geram. Sehingga aku binggung dengan emosiku, yang awalnya ingin memarahi orang di sebelah ku. Namun karena memerogoki Terfin yang sepanjang jalan hanya tersenyum-senyum menjengkelkan membuatku beralih untuk memarahinya.


“Ah… enggak… lanjutkan gih jalannya...” ujarnya menyembunyian sesuatu.


Karena sama-sama terusik dengan jalanan yang sempit, becek dan tidak ada yang mau mengalah—Aku sudah siap dengan kata-kata untuk memarahi orang di sebelah ku ini. Aku rasa orang ini juga menyimpan rasa dongkol kepadaku.


Aku mendongak kearah wajah pria itu bersamaan dengan pria itu menoleh setengah menunduk kearah ku— Akhirnya Terfin tertawa lepas.


Aku segera menarik tangan Terfin menjauh dari pria itu. Aku tidak peduli lagi dengan kaki ku yang tenggelam dalam genangan becek. Tidak lagi memperdulikan sepatuku yang basah. Setelah cukup jauh, aku kembali menoleh kearah pria itu. Kami sama-sama bertukar pandang. Dia melihatku, lalu terlihat salah tingkah dari kejauhan. Aku tidak tahu apa yang di rasakannya sekarang.


Sebenarnya tadi adalah bentuk salah tingkah kami berdua, aku dan pria itu. Kami tidak tahu akan berakhir seperti ini. Amarah yang ku simpan, akhirnya hilang entah kemana. Aku mencoba menahan malu dan gerogiku.


Ketika kami saling menatap ingin memarahi satu sama lain. Aku bisa melihat perubahan dari wajah kami berdua. Yang awalnya sangat dingin dan jutek dengan sekejap berubah seperti anak kucing yang polos. Karena tatapan itu juga membuat kami saling mengalah dan menjauh dari jalanan setapak yang terbuat dari papan itu. Huuh! Kenapa tidak dari awal menyadarinya...


Terfin masih tertawa puas mengingat ekspresiku dan pria itu. Aku memukuli pundak Terfin yang masih saja tertawa. “Ini ketawa mulu! Aaaah… Terfin!” Aku tidak tahu bagaimana mengambarkan rasa malu, gugup serta ada teriakan yang tertahan seperti biasanya.


“Siapa suruh gak mau ngalah satu sama lain. Tadi kan aku udah kasih tahu. Akhirnya ketahuan kan perasaan kalian berdua seperti apa.” Dia melanjutkan tawanya.


“Ah, Terfin gak lucu ah! Kenapa gak kasih tahu dari awal kalau itu dia! Kalau gak, udah dari tadi aku jauh dan gak bakal ketemu sama orang itu lagi.” mencoba berjalan menjauh.


“Aku sudah berusaha kasih tahu, tapi kau malah sibuk sama beceknya. Tau gak ekspresinya Kenzie itu seperti apa? Hahaha…” mencoba menahan tertawanya tapi tetap kelepasan. Sebenarnya pria yang berswiter biru dan berhelm merah yang berada di samping ku adalah Kenzie. Aku masih tidak menyangka kalau pria yang di sampingku itu adalah Kenzie. Dia juga lebih tinggi dari sebelumnya. Badannya juga sangat bidang tidak seperti aku lihat sewaktu SMP dahulu. Dia benar-benar mengecohkan ku. Dia benar-benar laki-laki remaja sungguhan sekarang.


“Ah… Terfin nah…” masih dengan muka malu dan panik.


“Kalau saja Kenzie gak pakai helm, bisa jadi tuh kening mu kecium sama dia. Ah… gak ngebayangi deh gimana ekspresi Kenzie salting tadi.”


Aku hanya cemberut malu. Tapi tidak sampai disitu saja. Di hari yang sama ada satu moment lagi yang membuat hati ku binggung dengan sikap Kenzie yang misterius itu.


Setelah lelah berkeliling-keling ria mencuci mata di malam hari, aku memutuskan untuk kembali ke mobil Papaku di parkiran. Namun di tengah jalan menuju parkiran, ada grombolan pemuda yang sedang duduk-duduk diatas motor membuatku dan Terfin takut melewati gerombolan pemuda itu. Awalnya gerombolan pemuda itu hanya bercanda gurau sebelum aku dan Terfin melintas di depan mereka, tetapi setelah itu…


Aku dan Terfin semakin takut dan berjalan cepat segera menjauh dari grombolan pemuda yang mulai mengoda. Tidak berselang lama godaan itu terdengar senyap. Ku dengar ada suara yang samar-samar menyuruh mereka untuk tidak meneruskan candaan mereka. Aku dan Terfin menoleh bersamaan kearah sumber suara yang terdengar samar-samar penuh penasaran. Orang itu terlihat cuek, bahkan tidak melihat sedikitpun kearah kami. Dia membuang jauh pandangannya.


Aku sangat mengenali wajah itu. Ya wajah mu, Kenzie. Kenapa kau seperti itu? Belum berapa lama kau menatapku dengan wajah polosmu, canggung dan malumu. Tapi kini telah berubah. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa karena aku terlalu mengaharap sesuatu yang berlebihan kepada mu? Aku juga tidak mengatahui apa yang sebenarnya aku harapkan dari mu. Hingga aku berhayal tentang tingkah laku mu yang aneh itu. Apa kau menatap ku canggung sebelumnya karena kau takut berhadapan dengan orang yang berani menyukaimu? Apa sebenarnya kau tidak menyukai ku, sehingga kau menatap ku seperti itu?


           Kau bertingkah seperti ini. Membuatku bertanya-tanya. Aku tidak mengerti. Sungguh aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepadaku. Kenapa perasaan itu semakin kuat. Simpul tali apa yang kau gunakan untuk mengikat jiwaku. Mungkinkah kau…. Ahh… kau akan selamanya hadir di hidupku... Dan membuatku selalu bertanya akan sikap mu. Kau sungguh misterius. Aku harus bagaimana?


***

__ADS_1


__ADS_2