
Angga masih tertidur di sofa di ruangan inapku, ketika aku baru saja membuka mata. Hari ini ku putuskan aku harus sehat. Setelah bersiap-siap. Ku banggunkan Angga. Mengajaknya keluar untuk mencari makanan, selanjutnya aku harus menemani Olivia yang masih di rawat
Baru saja kami keluar dari ruangan inapku. Ku lihat dari jauh Adrian sedang duduk sambil menopang kepalanya—Dia terlihat sangat frustrasi—Kami berjalan menghampirinya. Namun belum saja aku berada didekatnya tiba-tiba saja dia langsung saja berdiri. Menatapku sebentar lalu pergi menjauh. Matanya begitu sembab. Melihat keadaannya seperti itu aku menjadi semakin mengkhawatirkan Olivia. Dengan tergesah-gesah aku berlari kecil menuju kamar tempat Olivia dirawat.
Nihil.
Hanya ruangan kosong. Aku rasa salah ruangan. Aku berlari mengecek satu persatu ruangan-ruangan di lantai ini. Namun tetap saja nihil. Hanya tatapan tidak senang dari keluarga pasien yang satu persatu kamarnya aku masuki.
Aku semakin panik. Lalu berlari meningalkan Angga begitu saja—turun ke lobi untuk menanyakan dimana keberadaan Olivia. Di lobi aku malah kebingungan karena aksen bahasa Inggris bercampur bahasa Mandarin semakin membuatku panik, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Sudah saatnya kamu ikhlaskan dia pergi.” Ujar seseorang sambil memegang bahuku dari belakang. Bi Arum dengan shal berwarna gelap yang mengait lemah di lehernya membuatku sangat curiga.
“Maaf?” saat itu Angga barus saja tiba menyusulku.
“Biarkan dia tenang. Dan pulanglah ke Indonesia.”
__ADS_1
“Apa maksud anda—Membiarkannya tenang?” sambung Angga dengan nada sedikit meninggi.
Bi Arum membuang nafas resahnya dan menatap kami dengan penuh keperihatinan. “Olivia sudah tidak berada di sini—Biarkan dia tenang sekarang— Sudah saatnya kau harus mengikhlaskannya pergi.”
“Dia dimana sekarang!”
“Dia sudah berada di tempat yang jauh...” Dia tertunduk lalu melanjutkan kembali pembicaraan “Pulanglah. Jika kau terus berada disini. Semuanya akan berjalan tidak baik. Lihatlah dirimu. Kau sudah sangat lelah sekali. Mau sampai kapan kau berada di rumah sakit dan di Beijing?”
“Kau bercanda! Iya kan! liar! Dimana dia?!” Bentak ku. “Dimana dia?!” Paksa ku menguncang-guncang tubuh bi Arum dengan tidak sopan. Air matanya terjatuh meyakinkan ku. Dia hanya menepuk bahu ku, mencoba menenangkan ku.
Aku jatuh berlutut.
“Ku mohon. Ikhlaskan dia... biarkan dia tenang. Dan lupakan dia.” Pinta Bi Arum yang ikutan berjongkok di depan ku— ikut menangis.
***
__ADS_1
Dua minggu telah berlalu. Aku bahkan tidak tahu dimana dia. Sampai saat ini aku belum bisa mengeluarkan peryataan itu... Bahwa dia benar-benar telah meninggalkan kami semua. Aku masih belum percaya—Masih tidak mengerti— Aku belum melihat dimana makamnya dan aku tidak tau dimana abu jasadnya. Aku sangat percaya mereka pasti berbohong kepada ku.
Aku sengaja menambah waktu tinggal ku di Beijing. Aku sengaja memperpanjang waktu ini hanya karena ingin memastikan tentang keberadaan Olivia. Layaknya sang detektif, aku mencari tahu dimana Olivia sekarang. Aku masih pesimis dengan peryataan yang di lontarkan Bi Arum dua pekan lalu.
“Dia sudah berada di tempat yang jauh…” Apa maksud perkataan ini? Dan tidak ada satupun yang menjelaskannya lebih terperinci.
Jauh? Dimana? Indonesia apa…surga?
Aku telah memata-matai Adrian yang pulang-pergi dari rumahnya—mencari tahu tentang keberadaan Olivia di kantornya—Memeriksa setiap rumah sakit di Beijing—Dan memantau berhari-hari keluar masuknya orang di rumah Bi Arum. Tetap saja semuanya nihil.
Tiap hari ku lihat wajah Adrian yang sendu tak bersemangat setiap pergi kerja, di rumah sakit dia juga lebih banyak melamun. Aku juga jarang melihat tempat praktek Bi Arum buka. Hanya beberapa kali dalam dua minggu ini dia membuka tempat konsultasinya—Angga juga membantuku memantau keadaan kantor Olivia, dan sempat menanyakan keberadaannya. Dan hasilnya selalu sama. Mereka tidak tau-menau dimana Olivia. Terakhir yang aku ketahui mengenai info dari kantornya ialah, untuk sementara posisi Olivia diambil kendali oleh Azira, adik kandung Olivia. Angga juga sempat memintakan nomor telepon Azira dan memastikan kabar Olivia. Namun….
“Ku mohon... Bisakah kalian tidak menanyakan kabar kakak ku? Jika kau berada di posisi ku. Aku yakin, kau tidak tahu harus berbicara apa tentangnya. Megertilah. Jangan membuat ku terpuruk seperti ini—Biarkan kami juga tenang.” Seperti inilah respon Azira sewaktu kami menghubunginya. Aku juga tidak tahu kenapa dia saat itu langsung tahu siapa yang menghubunginya.
Setelah aku mendengar perkataan Azira hari itu. Semangatku menanti Olivia luntur begitu saja. Kini aku mulai percaya akan ketiadaan Olivia yang baru ku sadari dua pekan setelah dia benar-benar tak ku temui lagi. Saat itulah ku putuskan untuk kembali ke Indonesia bersama Angga, dengan perasaan dilema.
__ADS_1
***