
#Olivia
Jepang.
Masih ku hayati setiap senti maha karya tuhan yang tercipta di depan ku. Garis wajahnya yang kokoh, sorot mata yang membuatku teduh, namun tajam menusukku. Masih menikmatinya, walau setiap garis itu menyimpan sebuah teka-teki yang tak pernah terkuak oleh ku.
Hadirnya dingin, membuatku beku tak bisa berkutik, hanya bisa merasakan kedinginan yang mematikan di pikiran ku. Sorot matanya bagaikan sakura di musim cherry, diam-diam menghipnotisku, membuatku tenang di sisinya. Sengaja membiarkan ku berlama-lama menatap keindahan dirinya dari sorot matanya.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Adrian menyadari aku sedang memandanginya. Tapi dia tidak menoleh ataupun melirik ke arahku. Aku hanya menelan rasa malu sambil mengatur langkah kakiku. Ku eratkan pegangan di lengannya.
Hari ini udara sangat menenangkan. Setenang hatiku saat bersama Adrian. Aku tahu bahwa Adrian dari tadi tersenyum saat aku memegang lengannya. Namun, tetap saja, Adrian orang yang payah untuk berekspresi.
Kami memasuki kawasan seni. Di pinggir-pinggir jalan kau akan melihat beberapa pengamen pemain pantomim, musikal drama, pelukis, pesulap dan sebagainya. Tapi mata ku tertuju ke dua orang remaja bermata sipit dengan rambut yang hampir menutupi matanya. Pengunjung di tempatnya sangat sepi. Dia anak perempuan pemain biola dan anak laki-laki memainkan gitar akustik.
Aku menatap Adrian. Memberi kode untuk menghampiri penggamen itu.
Hanya dua orang yang berdiri disana menunggu permainan musik mereka. Lalu aku dan Adrian ikut bergabung mengunjungi kedua remaja itu. Untung saja mereka baru memulainya.
“Kami akan membawakan sebuah lagu, kami berharap kalian bisa menikmatinya.” Ujarnya mengunakan bahasa Jepang. Aku tidak terlalu kesulitan dalam mengerti bahasa Jepang. Karena semasa kuliah, aku senang mempelajari bahasa-bahasa asia. Sebenarnya aku tidak terlalu susah belajar bahasa ini. Aku bisa karena terbiasa menonton anime. Haha, aku sangat suka anime. Namun aku sudah tidak menonton karena terlalu sibuk memikirkan pekerjaan.
(i’m singing my blues) paran nun-mu-re paran seulpeume gildeulyeojyeo
(i’m singing my blues) tteunkureume nallyeobonaen sarang.
Seakan dipukul dengan palu lima kilo. Aku terpaku ke tanah. Mataku tidak lepas melihat kedua pengamen itu. Jantung ku seakan berhenti berdetak. Aku merasakan air mataku berkumpul di pelupuk mata.
Apa yang terpikirkan setelah melihat pertunjukan ini? Suaranya? Lagunya? Segalanya… Hingga membuat jantungku mau pecah karena kesakitan—Sesuatu yang tiba-tiba saja membuatku kembali teringat sesuatu—aku tidak bisa memutar kembali ingatan itu, hanya sekali dia menampakan suatu cerita—Menyakitkan. Apa karena aku mengerti arti lagu ini? Yang tidak ku mengerti mengapa aku malah mau menangis? Sesedih itu kah?
Seluruh anggota tubuhku gemetar.
Para penonton bertepuk tangan termasuk Adrian, selesainya lagu ini dinyanyikan. Aku memberikan beberapa uang kertas dengan tangan yang berkedut.
Mulanya Adrian tersenyum, perlahan wajahnya berubah karena melihat sesuatu yang tidak wajar dari ku.
“Kau menikmati lagu itu?” Kata Adrian, kali ini bukan aku yang memegang lengannya. Melainkan Adrian duluan yang menggengam tangan ku.
Aku tersenyum mengiyakan. “Aku seperti ingat sesuatu. Bukan kah itu lagu lama?” Ku lepaskan tangan ku dari tangan Adrian, aku tidak ingin dia berpikir macam-macam setelah dia menyentuh tangan ku yang berkedut. Ku masukan kedua telapak tangan ku kedalam saku jaket.
“Umm… Kau mengingatnya?”
__ADS_1
“Ah, kau kira aku lupa karena kecelakaan itu? Umm, Aku ingat lah. BigBang, itu penyanyinya kan? aku sangat menyukai boyband itu. Apa lagi G-Dragon mengingatkan ku tentang masa-masa kuliahku.” Tertawa.
Adrian berhenti dan berbalik kearahku. Kami berhadapan dan dia tiba-tiba memegang kedua sisi bahuku dengan ekspresi tidak percaya. “Kau tahu banyak, benarkah kau masih ingat semuanya?” matanya memancarkan rasa ingin tahu.
Aku mengangguk. “Hanya sedikit yang ku ingat. Aku teringat penyanyi itu, aku malah ingat sama Michio, sahabatku waktu di Indonesia. Dia dari Korea juga.” Ujarku tertawa pahit mengingatnya. Michio meninggal karena kecelakaan. Aku tidak bisa bercerita mengenai Michio kepadanya. Michio orang yang sangat berarti bagi ku saat itu. Mengingat itu aku menjadi sangat sedih, dia sangat baik kepadaku. “Kau lihat anak-anak itu, fasih sekali berbicara bahasa Korea. Padahal mereka besar disini kan?” Sambungku.
Adrian menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Tidak jauh, kami melihat sebuah kursi panjang yang menghadap ke taman. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak disana.
Tidak banyak yang kami lakukan. Hanya menikmati pemandangan di sekitar. Menikmati hembusan angin yang membelai kulit.
Aku merebahkan kepala ke lengan Adrian. “Kau tahu kenapa aku suka menunggu malam tiba?” ujar ku memulai pembicaraan.
“Emm, tidak. Kenapa?”
“Aku merasa damai saat bertemu dengannya, terutama saat angin senja mulai membelai ku mesra.” Aku tertawa saat aku sok puitis menjelaskan kepadanya. “Dia mempunyai perbedaan yang jauh berbeda dengan Malam, fajar bahkan siang Hari.” Adrian hanya menatap ku menunggu kata-kata selanjutnya. “Kita sudah banyak berusaha dan melewatkan sesuatu dalam hidup. Namun, jika kau melihat matahari itu dia tidak pernah melewatkan sesuatu dari hidup kita. Meskipun kita selalu beranggapan bahwa matahari itu akan melewatkan malam yang indah. Padahal, kita tidak pernah menyadari bahwa dia selalu hadir dan sedang bersembunyi di balik bulan yang selalu kita puji keindahannya. Yang ternyata keindahannya itu adalah pancaran sinar dari matahari yang selalu kita anggap mengusik hidup kita.—Mungkin karena teriknya.”
Adrian memiringkan badannya kearahku membuatku menaikan kepala, lalu duduk dengan normal.
Sebenarnya, aku mengambarkan dirinya. Mengambarkan dirinya sebagai matahari menjelang fajar—yang selalu ku tunggu.
“Apa kau tahu? Aku sangat takut sekarang.” Ia menangkupkan kedua tangannya memegang kedua tanganku.
“Aku takut kehilangan mu…”
“Aaah, aku tidak akan menghilang. Hanya ajal saja yang membuat kita berpisah, dan membuat fisikku akan menghilang.” Tiba-tiba dia memelukku sangat erat. “Ada apa sebenarnya?” Dia hanya diam. “Tenanglah… Aku tidak akan meninggakan mu. Bukankah beberapa bulan lagi kita akan menikah? Kenapa kau seperti ini?” Aku mencoba menenangkannya. Aku masih belum mengerti dengan perubahan-perubahan Adrian yang semakin menjadi-jadi seperti ini.
“Apa kau yakin akan menikah dengan ku?” Terdengar nada kecemasan dari suaranya. Aku merasa ada yang tidak baik dengannya. Dia menarik tubuh dari pelukannya, membuatku canggung. Wajahku memerah.
Aku tersenyum, berusaha membuatnya tidak terlihat aneh. “Seorang belum melamarku dengan romantis. Bagaimana aku bisa menikah.” Tertawa. Memegang kembali tangan Adrian. “Aku sudah memutuskan untuk disini. Bersamamu. Aku bukan orang yang gampang untuk jatuh cinta lagi. Jadi, jangan paksa aku untuk mencoba mencintai sesorang selain kamu. ”
***
#Kenzie
Ini lelucon!
Apa yang sebenarnya di sembunyikan dariku.
Aku berbaring kembali ketempat tidur. Kepalaku seperti akan meledak. Sudah beberapa hari aku di Bejing tapi belum ada lampu kuning yang menyala. Perjalanan kali ini terasa sia-sia. Ternyata aku di permainkan seperti ini. Aku hanya berjalan di tempat.
__ADS_1
Aku bangkit, berjalan menuju lemari. Mengeluarkan semua bajuku dari dalam, lalu melemparkannya di sisi koper. Aku akan kembali ke Indonesia!
Tiiiing….
Sebuah pesan masuk. aku membuka segera pesan itu.
“Datang kerumah, kita makan malam bersama.”
***
“Ada apa sebenarnya dengan mu, Olivia dan Adrian?” Ujar Arum membuka topik pembicaraan di tengah-tengah makan malam.
“Umm?” Aku menghentikan jari ku dari aktifitasnya memotong dan menyendok.
“Olivia tampak aneh beberapa hari semenjak kehadiranmu. Adrian juga.”
“Maaf?”
“Olivia seperti orang yang ling-lung, lebih banyak melamunnya. Aku tidak yakin apa dia memang lupa denganmu, semenjak kecelakaan itu—Dia bisa mengingat semuanya dengan cepat jika dijelaskan. Tapi kenapa dia begitu sulit mengingat mu?”
“Itu yang aku tidak tahu.”
“Kalau kamu berkenan, Ceritakanlah... Mungkin aku bisa membantu.”
“Umm… tidak ada apa-apa. Hanya masalah pribadi saja… dulu.”
“Apa kamu menyukainya?”
“Hmm…” aku tidak tahu apa ini jawaban iya atau kembali untuk bertanya. Aku hanya bisa bergumam.
“Adrian akan menikah dengannya. Tapi aku belum tahu pasti—Sebelum kejadian itu, dia selalu berharap apa yang dinantinya. Itu mengapa aku memberi tahu mu saat itu. Aku belum tahu keputusan pasti Olivia, karena saat itu dia masih amnesia jadinya aku tidak terlalu yakin— kedua keluarga setuju tentang pernikahan itu. Aku tidak tahu dengan kehadiramu. Apakah semuanya akan baik-baik saja atau keterbalikannya. Terlebih lagi, keponakan ku terlihat aneh akhir-akhir ini. Dia lebih banyak di rumah. Karena selama ini sebenarnya dia jarang pulang kerumah.”
“Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Mungkin aku terlalu posesif dengan hal ini. Dia begitu berarti untukku, aku tidak tahu bagaimana sekarang. Aku datang terlambat untuk hal ini.”
“Apa yang selama ini di nanti Olivia, apa itu kamu?” Terlihat wajah kecemasan dari Arum. Aku tidak tahu apa dia menyukai kehadiran ku juga. “Masalah ini… bisa segera kamu selesaikan? Aku tidak ingin melihat sesuatu yang tidak aku ingin lihat terjadi disini.”
“Aku akan menyelesaikannya segera. Tenanglah semua akan baik-baik saja.”
“Ya sudah kalau begitu. Lanjutkan makanmu.”
__ADS_1