
Seperti biasanya Dila terburu-buru kekantin. Apalagi dia meninggalkan aku dan Terfin didalam kelas yang masih sibuk menyusun buku-buku tugas dan menunggu anak-anak kelas yang belum selesai mengerjakan tugas untuk diserahkan ke meja Pak Firman yang barusan saja mengajar dikelas ku. Sudah satu bulan juga aku dan Terfin pisah kelas dengan Dila dan Reisa karena rolling kelas di setiap semester, jadi kalau urusan perut Dila selalu pura-pura kelupaan meninggalkan kawan-kawanya begitu saja, apalagi sudah pisah kelas dengannya. Setelah kenyang, ingatannya langsung kembali pulih, apalagi Reisa hari ini tidak hadir kesekolah karena ikut perlombaan PMR, jadi pantas saja dia langsung kabur meninggalkan kami tanpa menyapa dulu.
Setelah buku terkumpul semua dan anak yang dari tadi kami tunggu-tunggu selesai, tanpa pikir panjang lagi aku dan Terfin langsung tancap gas menuju kantor guru namun…. “Vi’, minta nomor telepon mu dong…” Ujar Angga yang tiba-tiba muncul di samping ku. Dia datang dari koridor disamping kelas, yang berhadapan langsung dengan Lab IPA.
Spontan saja aku menoleh, bersamaan menghadap Angga yang muncul tanpa diduga-duga. Menanyakan nomor telepon ku? Aneh… Untuk apa dia meminta nomor telepon, kenal sama Angga saja hanya sebatas ketemu di jalan, itupun karena rumah kami yang terbilang tidak jauh. Di Organisasi juga kami tidak pernah punya urusan, itu pun hanya sekedar latihan rutin tiap hari Sabtu. Bukankah Angga masih berteman baik dengan Eky, lalu kenapa dia justru minta nomor teleponku? Toh paling-paling yang akan mengangkat telepon dirumah pasti kakak-kakak ku, jika dia minta nomor telepon rumah.
Entah mengapa aku anti sekali dengan percakapan melalui telepon. Beda dengan Eky dan kakak ku yang punya ponsel pribadi karena mereka sering keluar daerah, mau tidak mau Papa membelikan mereka agar komunikasi mereka tetap terjaga, meskipun itu besarnya bagaikan batu gosok dengan layar berwarna kuning kunyit. Terlebih lagi ponsel juga merupakan hal yang menganggu bagi ku. Ini karena kakak ku yang sewaktu pacaran sering ber-smsan ria dengan pacarnya. Keypad dari ponselnya juga sering menganggu tidur malam ku. Terlebih lagi aku tidak suka mengengam ponsel karena begitu membuat tanganku keram karena body ponsel yang gemuk. Eh satu lagi, getarannya membuatku seakan kesetrum. Tidak lagi-lagi aku mengengamnya.
“Gak punya.” Jawabku singkat.
“Kalau kau Fin?”
“Emm, aku lupa. Nanti deh kalau ingat lagi ya.” ujar Terfin, aku tahu dia sengaja berbohong. Sebenarnya Terfin paling jago untuk menghapal nomor ponselnya. Aku tidak pernah meminta nomor teleponnya, tapi tiba-tiba saja di setiap buku catatanku sudah ada nomornya dan bertuliskan ‘jangan lupa hubungi aku’. Atau tidak, jika pulang dari kegiatan bimbingan belajar dia selalu menghapal nomor telepon setiap orang di rumahku. Benar-benar dia anak gaul. Tapi setahuku, aku tidak pernah menemukan nomor lain di ponselnya kecuali nomor orang rumahnya dan nomor orang tua dan kakak-kakak ku. Bearti dia tidak gaul. Hahaha...lupakan.
“Kalau ingat, aku minta ya?”
“Emm….” Ujarnya Terfin, cuek. Lalu kami meninggalkannya.
Tapi ada suatu yang aneh dari tangkapan dimata kami. Ketika kami berbalik arah melihat kearah koridor tepat di depan majalah dinding. Tampak tiga orang yang sangat familiar dimata kami. Dony, Kenzie, dan Kemal. Kemal juga sahabat mereka, sama seperti kami berempat. Hanya saja dia jarang untuk berkumpul dengan mereka bertiga, karena dia sering berada di UKS, dia juga salah satu tim PMR di sekolah kami—Lanjut ke cerita. Sesekali kami mengamati tingkah-laku senior-senior kami itu. Mereka tampak aneh. Mereka seperti berpura-pura membaca majalah dinding. Sesekali kami mempergokinya sedang melihat kearah kami. Dan itu masih terjadi ketika kami memutuskan pergi. Mereka sangat konyol, terlebih lagi koridor saat itu sedang sepi karena waktu ibadah telah tiba.
“Ini jelas aneh…” Lanjut ku setibanya di Mussolah dan melupakan Dila yang masih mangkir di kantin.
“Iya yah… ngapain mereka bertiga ya?”
“Kau gak liat ekspresi mereka?” Ujarku setengah tertawa.
“Wah, aku curiga ada hubungannya dengan Kenzie. Kenapa Angga tiba-tiba minta nomor hape mu? Cie…cieee…” godanya membuat ku menahan malu.
__ADS_1
“Ah, ngawur kamu. Udah ah… wudhu..wudhu…” cuekku. Walau tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia ini.
***
Hari berganti hari, begitupun pekan.
“Sa’, Aku kok sering liatin Kenzie bolak-balik di kelas mu?” Tanya ku penasaran. “Loh, kau belum tau Fi’?” Tanya Reisa balik.
“Apaan…? Gak mungkin juga kalau aku tahu. Itu sebabnya aku tanya.”
“Yeeee, kamu ketinggalan berita. Kenzie tuh pacaran sama Astya.” Jelas Dila langsung ke inti.
Terfin yang dari tadi tidak ngomong akhirnya angkat bicara. “Serius kamu La’?” Tanyanya kaget.
Air muka ku berubah, kini hanya diam, dan diam. Ada gelombang panas yang seketika naik ke kepalaku, seakan ada jarum suntik yang menusuk tepat di jantungku. Mungkinkah aku cemburu?
***
Hari ini hari sabtu, istirahat dijam terakhir pun sangat cepat. Hanya menunggu ba’da zuhur sesudahnya, pulang. Aku lebih banyak melamun hari ini. Tapi Terfin tidak pernah meninggalkan sahabatnya ini sedetik pun.
Langit cerah menghiasi akhir pekan. Suasana hiruk-pikuk sekolahan tidak lepasnya dari suasana para anak-anak yang menuju pubertas. Kenakalan menjadi ciri khas remaja. Setiap siang hari menuju zuhur selalu saja ada siswa-siswi yang dibariskan di tengah lapangan, lalu di suruh berjalan jongkok mengelilingi lapangan. Belum lagi siswa-siswi yang berlari dikejar-kejar guru hanya untuk disuruh melaksanakan ibadah, apapun agamanya. Di satu sisi banyak siswa-siswi yang menunggu antrian untuk segera berwudhu atau bercanda riang di depan kelas.
Begitu pula aku dan Terfin masih menunggu antrian berwudhu. Sembari menunggu kami menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan dan membereskan perlengkapan sekolah agar tidak repot ketika bel pulangan nantinya.
Aku dan Terfin berjalan menuju kelas kami, sebelumnya kami akan melintas depan ruangan kelas Reisa dan Dila. Asik bersenda gurau, mata ku berhenti pada satu objek. Objek yang sangat tidak asing. Mata ku terpaku, tanpa ku sadari aku menyungingkan ujung bibirku, tersenyum—menyakitkan. Aku tertunduk. Aku bersyukur kaki ku masih mau di ajak untuk melangkah dan berjalan menuju tujuanku. Beberapa menit lalu, mata ku tak lepas memandangi wajah seseorang yang barusan berpapasan disamping ku, seorang remaja laki-laki yang hanya sesenti dari lengan ku, dia berjalan berlainan arah denganku.
Disaat aku berjalan beriringan dengan Terfin\, dan cowok itu dengan sahabat kecil ku\, Astya. Saat itu\, aku tidak tahu mengapa aku terlalu percaya diri\, bahwa…Seakan aku bisa membaca setiap sisi dari mimik wajah itu. Seakan wajah itu menjelaskan maksud hatinya. Saat ia membalas tatapan ku—ada sesuatu yang bisa ku definisikan\, dia menyangkal maksud dari pikiran ku saat melihatnya ***“Yang kau lihat bukan seperti kau pikirkan.”***Mata itu seakan berkata demikian. Jika itu mungkin. Tapi\, aku sadar\, itu tidaklah mungkin. Aku lebih percaya\, aku hanya berangan dia akan berkata seperti itu. Dan pasti aku hanya salah lihat daripada mendefiniskan itu adalah pikiran dari khayalan ku. Tatapan itu tidak berlangsung lama\, aku segera mengalihkan pandangan kelain arah mencoba mengontrol perasan yang tiba-tiba menjadi sangat kesal\, dan begitu juga dengan orang yang aku lihat\, dia kembali memfokuskan langkahnya. Aku tertunduk menahan sakit yang seketika menyerang dadaku. Lagi\, aku seakan melihat dia langsung menjaga jarak dengan sahabat kecilku itu. Dia Kenzie\, remaja laki-laki yang tampan\, baru saja berpapasan denganku. Aku juga tidak pernah melihatnya menatapku seperti itu. Dia seakan menghipnotisku. Menghipnotisku agar tidak berpikir yang bukan-bukan. Tapi aku mencoba menyadarkan diriku sekali lagi\, Jangan terlalu berharap…
__ADS_1
Terfin yang sadar, tanpa diperintah langsung merangkul pundak ku, lalu tersenyum. “Everything’s gonna be oke, honey.”
Bel pulangan berdentang. Aku dan Terfin hanya menunggu para teman-teman yang lain menyepikan lingkup ini. Itu adalah kebiasaan kami setiap harinya. Menunggu sekolahan sepi, lalu kami akan pulang.
Aku mulai angkat bicara.“Kau lihat, kan? Huh!” Mengadahkan kepala kelangit. Mata ku... memaksa airmataku untuk keluar.
“Kau benaran suka sama dia?”
Berusaha keras untuk membuat diriku cemburu, itu menyakitkan. Hal yang bodoh untuk dipaksakan. Hari itu, aku bagaikan terbang tinggi ke angkasa, bebas melayang kemana pun aku inginkan, tapi seketika aku di tarik lalu dihempas ke tanah, kau tau apa jadinya aku… hancur. Aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini. Mungkin kah aku terperangkap?
Aku memutuskan untuk melupakan. Mencoba menghindar dan itu memang ahli ku. Walau sebenarnya di sekolah aku sering mengikutinya setiap dia hendak ke toilet. Aku bukanlah maniak. Namun, aku tahu apa yang sebenarnya dilakukannya setiap dia terlihat berjalan ke toilet. Sudah pasti untuk memperbaiki penampilan, berkaca, membersihkan sepatu atau sekedar duduk karena merasa bosan berada di kelas. Itu kenapa aku sering membuat seribu alasan untuk bisa bertemu denganya. Terfin juga dengan senang hati menemani ku ijin ke toilet ketika kami sedang belajar di kelas. Setidaknya kami tidak pernah untuk bolos sekolah. Maklum saja dia orang yang terkenal. Begitu pula dengan gadis-gadis di sekolah, pasti dia tidak akan tampil semerawutan di sekolah, dengan muka berminyak dan lusuh. Terlebih lagi, dia mahluk yang sulit ditemui di daerah ku. Karena pada awalnya dia adalah anak kota yang ikut merantau orang tuanya ke daerah ku. Tubuhnya yang tinggi, potongan rambut yang keren, kulit yang putih bersih dan wajahnya yang tampan membuatnya terkesan berbeda dan sempurna dari anak asli disini.
Akhir-akhir ini juga aku sering melihatnya berduaan dengan Astya di kelas Reisa dan Dila ketika istirahat tiba. Tempat pacarannya seperti biasa, di bangku pojok kelas. Huh! pacaran kok disekolahan. Mengenai tentang pacaran—Sepertinya itu adalah pekerjaan orang yang meyebalkan. Atau memang ini karena aku yang cemburu. Cemburu? Umur berapa aku untuk mengenal istilah itu.
Hari berganti. Aku sudah melupakan kegiatan cemburuku itu. Kini aku tengah berbahagia dengan sahabat-sahabat ku di bandingkan memikirkan perasaan ku dengan senior dan selalu mengharapkannya lebih.
Suatu hari, aku ditinggal sendiri dikelas. Terfin berpamitan untuk belanja dikantin. aku memutuskan tidak ikut. Sakit kepalaku kambuh, jadi aku memutuskan untuk berdiam diri sejenak karena kepalaku yang terasa semakin berat tuk di angkat.
Beberapa anak laki-laki sedang asik bermain bola didalam kelas, membuat kegaduhan dan membuat kepalaku bertambah sakit. Aku hanya bisa pasrah, diam di tempat duduk sambil menonton teman-teman ku yang kurang kerjaan bermain bola di dalam kelas. Samar-samar ku dengar, salah satu teman ku memanggil Jery, karena ada seseorang yang mencarinya. Tidak lama kemudian seorang kakak kelas masuk, dan menghampiri Jery. Tidak lama bercakap-cakap, kakak kelas itu duduk di dibangku guru, didepan kelas. Sejak saat itu aku merasa terusik, seperti ada sesuatu yang memantauku dari jauh. Aku masih menempelkan kepalaku di meja. Dan memperhatikan anak-anak yang masih bermain. Aku mendongakkan kepala, mencari sesuatu yang menganjal dipikiranku.
Mata kami bertemu di satu titik, dan itu sangat memalukan. Dengan seketika kami saling membuang muka. Aku salah tingkah setengah mati. Lalu langsung menutup kepalaku mengunakan sweater yang ku selimutkan dibadan sebelumnya.
Mata kami bertemu, akankah itu nyata atau hanya pikiran ku yang mulai ngawur lagi dan lagi?
Bagaimana aku bisa melupakanmu. Kau masih ada dan tidak menghilang dipikiranku. Benarkah itu kau… Kenzie? Kau membuatku gila! Aku benar-benar membenci mu.
***
__ADS_1