
Bagaikan kertas, kalau sudah tidak ada pilihan di remuk, dirobek atau dibakar. Menjadi abu.
Tapi jikalau kau bisa melihat disisi yang berbeda, kau akan mengukirkan cerita, menulis dengan indah, mengambar dengan tenang, dan menaburkan warna.
Jika sudah tidak layak pakai, kertas itu akan didaur ulang dan membuatnya menjadi baru.
Membuat keindahan yang tak pasti menjadi pasti. Membuat kesempurnaan yang tak pernah di rasakan sebelumnya.
***
#Kenzie
Aku melihat dari jauh Adrian sedang berdiri lama didepan pagar, tidak lama kemudian dia membuang beberapa kertas yang d kumal-kumal menjadi bola ke dalam tong sampah. Ketika Adrian masuk kedalam rumah. Aku melanjutkan langkah ku yang tadinya terhenti karena melihat Adrian seperti itu.
Awalnya aku masa bodoh dengan apa yang barusan aku lihat. Rasa penasaran ku ternyata mengontrol diriku. Mataku tertuju dengan tong sampah yang berada di belakang ku. Di perbatasan trotoar di depan rumah ini. Aku berjalan mundur lalu membuka perlahan penutup tong itu, melihat ada gumpalan kertas yang terkoyak. Dengan cepat aku memungut dan menaruhnya dalam ransel. Dan kembali untuk memencet tombol rumah itu.
“Oh hai… aku kira kau sudah kembali ke Indonesia.” Sapa Arum, ketika pintu rumah terbuka.
Aku tersenyum manis membalas sambutannya. “Aku menundanya. Aku masih ingin melihat Olivia.” Ujarku tersipu malu.
“Umm…” Arum salah tingkah atas jawaban itu. Ia menyuruhku masuk dan mempersilahkan duduk. “Kamu mau minum apa?”
“Apa aja yang hangat. Oh ya, Adrian ada?” Aku pura-pura tidak tahu.
“Tumben kamu cari Adrian. Ada tuh barusan naik kekamarnya.”
Tertawa kecil. “Umm, ada urusan…”
“Mengenai Olivia?”
“Ah, bibi bisa aja.”
“Sebentar, akan ku panggil dia.” Seusainya menyuguhkan teh hangat.
Ada keterbalikan keadaan sekarang. Aku sedikit bersemangat, tapi tidak dengan Adrian yang sedikit dingin hari ini. Ia memberi sapaan dengan senyum tipisnya sambil menuruni anak tangga.
“Ni Hao…” sapa ku.
“Usahamu cukup bagus.”
“Terima Kasih. Kau tidak kerja?”
“Aku mengambil cuti berapa hari ini.” Duduk berhadapan dengan ku. Tatapannya cukup dingin. Membuat ku segan untuk menanyakan lagi. “Ada apa?”
“Aku ingin memulainya dari awal. Setelah itu aku akan tenang kembali ke Indonesia.”
“Apa rencana mu?”
“Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku sama seperti awal tujuan ku kemari. Aku akan membuatnya kembali mengingatku dan harapannya dahulu. Bukankah keajaiban seperti ini yang dia ingin kan?”
“Kau terlalu yakin Ken. Bagaimana jika dia tetap memilih ku?”
“Setelah itu aku akan pergi. Aku tidak akan menganggunya lagi. Mungkin aku akan mengajaknya kencan beberapa hari ini?” Peryataan itu justru membuat Adrian tertawa sinis.
“Kencan kau maksud? Kalau kau sudah mengerti dan menyerah, lebih baik kau urungkan saja rencana konyolmu itu.”
“Jaga baik-baik omongan mu… Aku bukan menyerah, hanya saja…Kenapa memangnya jika aku ingin, umm kencan?”
“Ah, kau seperti anak kecil saja. Setelah kau menggungkapkan perasaan mu. Kau pergi begitu saja. Gampang sekali kau bicara. Kau justru akan mengganggunya. Terutama jika kau mengingatkan tentang masa lalunya. Sudah ku katakan. Kau datang kesini akan memperburuk keadaan. Kau sudah terlalu jauh melangkah Ken’.”
“Aku tidak akan mengganggunya. Bahkan jika memang kau melarangku untuk tidak mengungkit ingatannya. Aku akan menuruti hal itu. Ku mohon beri aku waktu.”
“Kita baru saja bertemu. Jelas, aku tidak mungkin begitu mempercayaimu.” Ia beranjak berdiri.
“Bagaimana aku bisa meyakini mu?”
“Kau saja tidak bisa menyakinkan dirimu, bagaimana kau bisa meyakinkan aku—jika saja kau berani macam-macam….Aku tidak akan membiarkan nyawamu ikut pulang bersama tubuh mu, jika kau membuatnya kembali kemasa lalu itu.”
“I’m promise…”
“Sudahlah, kau tak perlu mengganggu dia lagi. Sudah cukup dia menderita. Jangan membuka lembaran baru tentangmu lagi dihidupnya.” Suara datarnya sedikit menegas.
Aku menatap tajam sosok itu, ada amarah yang ingin meledak. Tapi aku menahannya untuk suatu rencana. “Berikan aku tujuh hari.” Adrian menoleh tegas kearah ku, menatapku sangat tajam.
Dia tersenyum sinis lagi. “Kau ingin memberinya luka dan menginginkan dia kembali kepadamu?”
“Tidak… Biarkan aku membuat kenangan ini terakhir kali. Aku ingin membayar semua penantiannya. Biarkan kami sama-sama tenang. Dan biarkan takdir yang memutuskan.”
“Sudahlah… ini semuanya sudah berakhir. Aku tidak akan membiarkanmu!” Adrian berkeras. Sepertinya dia muak dengan ku. Tapi aku binggung dengannya. Bukankah kemarin dia megijinkan ku untuk memulainya kembali. Tapi kenapa dia berubah lagi. Dasar orang ini. Tidak jelas sekali dia. Dia memang tidak pantas untuk menjadi pendamping Olivia.
Bi Arum yang baru masuk sehabis membeli sayur-sayuran di mini market tampak heran ketika melihat Adrian yang meninggalkan ku dengan muka dinginnya.
__ADS_1
“Kau melakukan kesalahan?” Ujarnya menatap ku penuh pertanyaan. Aku hanya menaikkan bahu lalu berdiri dan tersenyum ke arah Bi Arum.
“Sampaikan salamku untuk Olivia, yah… Aku akan berkunjung lagi besok.” Dia mengangguk, dan membalas senyumku.
***
Aku kembali ke hotel, melempar ransel kesisi meja dan merebahkan badan. Aku menutup mata.
Aku tidak bisa katakan ini sekarang. Aku mengakui itu keajaiban yang kau bawa, aku bagai dalam dunia fantasi, ilusi. Gambaran terakhir darimu, semua sirna begitu saja. Aku menapaki jejakmu yang mulai memudar. Aku sadar ini sudah terlambat untuk ku. Semua kenangan indah yang kau ukir itu sudah sirna semua. Kau telah melupakannya. Tapi aku akan mengingat untukmu.
Jika kau benar berada disisiku, didunia ilusi ini, aku minta maaf… maafkan aku sekali lagi. Aku datang terlambat. Aku tidak ingin menunggu lagi, ini terlalu lama, aku sangat takut sekarang. Berikan aku waktu untuk memberikan kembali kenangan indahmu yang telah kau ukir. Dan jika aku begitu tidak pantas untuk mu. Aku akan menutup mata dan meninggalkan mu, bukan mengabaikan mu kali ini. Berbahagialah…. Aku ingin kau tersenyum lagi. Sejujurnya, aku tidak ingin menyakitimu karena kehadiranku. Dan sekarang aku yang mengembara dalam mimpiku, membayar dosa yang telah ku perbuat. Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Aku ingin mendengarkannya walau hanya sekali terucap dibibirmu didekat telingaku lebih jelas. Bisakah kau lakukannya untukku?
Sekarang aku akhiri, setelah berkelana mencarimu dan menemukanmu. Aku takut kehilanganmu lagi. Aku mencintaimu... Tak bisakah kau mencintaiku lagi?
Ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk.
………………………………………………SMS……………………………………………
***Angga:***Dua hari aku akan ke Beijing, kirimkan alamatmu.
***Kenzie:***Untuk apa kau kesini?
Angga: Perasaanku tidak enak saja.
Kenzie: Oke aku akan mengirimkannya, aku juga lagi membutuhkan mu. Cepatlah datang…
…………………………………………………………………………………………………
Aku kembali memejamkan mata, memasang earphone kekupingku. Mendengarkan sebuah lagu hingga terlelap.
***
Hari ini hari libur. Seperti perkataan ku kemarin aku akan datang kekediaman Olivia. Hari ini sangat cerah, membawa efek baik untuk ku.
“Ni Hao?” Sapaan ceriaku ketika Bi arum membukkan pintu. Aku sengaja membawakan sekantung buah-buahan untuknya, sebagai ucapan terima kasih ku untuknya karena sudah menyambutku ramah di negara orang ini.
“Ah, repot-repot sekali. Umm, masuk lah…” sambutnya menerima bingkisan itu.
Sesampainya di dalam, aku disambut dengan dentingan piano yang lembut. Aku menoleh kearah Bi Arum sembari bertanya siapa yang sedang bermain. Bi Arum hanya tersenyum dan memberi kode untuk melihatnya sendiri.
Aku memasuki ruangan itu dengan perlahan, pintu ini tidak ditutup sepenuhnya. Ada seorang yang sedang fokus memainkan jarinya di atas tuts piano dibalik pintu itu. Aku hanya bisa melihat sedikit kepala seorang yang sedang bermain itu. Aku berjalan menuju sebuah sofa, menunggu sekian lama sampai sang pianist selesai memainkan lagunya.
Aku bertepuk tangan dan berdiri mendekat, ketika pianist itu selesai memainkan nada terakhir yang dimainkannya. “Kau sangat hebat sekali.” Ujarku membuat kaget pianist tersebut.
“Aaaah, kau mengagetkan ku.” Ujarnya kaget setengah tersipu karena pujian. “Kapan kau datang?”
“Beberapa waktu yang lalu.”
“Oh… aku bahkan tidak menyadarinya. Aku kira kau pulang ke Indonesia.” Ia berdiri dari tempat duduknya.
“Emm, mungkin beberapa hari lagi.”
“Oh ya?”
“Umm... Eh...Permainan mu indah sekali.”
Dia tersenyum. “Ah, kamu bisa aja. Aku hanya berlatih saja. Sambil menghilangkan rasa bosan. Kau bisa bermain Piano?”
“Umm… Sudah lama aku tidak memainkannya. Entahlah dengan sekarang.”
“Mau mencobanya?”
“Apa kau yakin mau mendengarkannya? Aku sudah lama tidak memainkannya.”
“Tidak masalah. Cobalah… aku juga ingin melihat sesorang bermain dihadapanku. Sudah lama sekali aku tidak nonton pertunjukan.”
“Kalau itu mau mu, aku akan mencoba.” Aku memenuhi permintaan sang pianis yaitu Olivia. Kami berganti posisi.
__ADS_1
Aku duduk dengan nyaman di bangku itu. Namun aku binggung untuk memulai. Sudah lama sekali aku tidak memainkan piano.
Hampir semua alat musik bisa ku mainkan. Tapi tidak dengan kali ini aku hanya tahu memainkannya, aku tidak terlalu mahir. Aku sangat binggung. Aku mengatur nafas ku lalu menaruh jari ke tuts-tuts piano. Awalnya aku hanya memainkan beberapa tuts dengan sembarang. Dan memikirkan sebuah lagu. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Setelah lama memikirkan sebuah kunci nada yang akan di nyanyikannya, aku memainkannya dengan santai dengan menyambungnya dengan nyanyian. Aku tidak yakin bahwa suara ku bagus. Tapi Olivia terdiam tanpa protes.
Aku juga tidak begitu yakin awalnya untuk memainkan sebuah lagu yang belum pernah ku mainkan dengan piano. Entah kenapa jari-jari ku terlihat mahir menekan tuts-tuts itu dengan pas. Dentingan itu sangat indah.
Aku selesai menyanyikan satu lagu. Lagu Jauh Mimpiku yang pernah di populerkan oleh band Peterpan. Aku merasa aku sedang melayang selesai menyanyikan lagu ini. Selesainya tangan ku beradu dengan tuts, aku kembali menatap Olivia yang mengikat matanya kepada ku. Aku tersenyum kepadanya. Aku sengaja menyanyikan lagu ini. Karena aku rasa ini lah kata hatiku. Maafkan aku Olivia telah menuntun takdir mu sejauh ini.
“Kenapa kau membawakan lagu ini?” tanyanya.
Jantung ku berhenti sesaat. “Ini lagu yang sangat booming bukan di Indonesia sekitar tahun 2005 atau 2006. Aku sedikit bernostalgia. Aku sempat membawakan lagu ini bersama band ku. Hanya saja saat itu posisi ku di drumer. Jadi aku tidak terlalu mahir bermain piano. Nadanya agak mudah jadi aku pilih ini. Bagaimana menurutmu?”
“Ah... bagus. Kalau aku tadi merekam mu lalu mengupload ke youtube pasti penontonnya banyak sekali. Siapa tahu kau bisa jadi penyanyi terkenal. Haha..”
“Haha... kau bisa saja.”
“Aku serius... haha. Lagu ini sudah lama sekali bukan? Aku tidak tahu pasti kapan terakhir mendengarkannya.”
Aku senang melihat responnya seperti ini. Sebenarnya aku berbohong kepadanya. Aku sengaja membawakan lagu ini karena aku tidak tahu bagaimana lagi aku bisa membuatnya mengingatku. Membuatnya mengingat tentang rasa cinta yang pernah kami miliki bersama. Aku hanya takut jika aku benar-benar harus melepasnya.
***
Keesokan harinya….
Hari ini dia sudah berjanji dengan ku. Dia bersedia mengajakku bersepeda mengitari sungai tempat pertama kali aku bertemu Adrian. Aku sengaja memilih tempat ini. Karena aku rasa tepat ini sangat indah. Sore ini kami pergi sungai Shichahai. Ya, setelah puas dengan cerita-cerita mengenai lagu kemarin, aku sengaja meminta Olivia menemani ku selama seminggu ini berjalan-jalan mengitari Beijing.
Dengan mengunakan sepeda, kami berdua menyusuri jalanan di tepi sungai.
“Oh iya, di Indonesia kau kerja apa?” Tanyanya ketika kami beristirahat di sebuah bangku.
“Aku bekerja di perusahaan Farmasi.”
“Wow... Keren. Apa kau juga yang ikut serta dalam pembuatan obat atau bagaimana.”
Aku terdiam sejenak. Sebenarnya aku tidak ingin memberitahu. Aku pemiliknya. “Terkadang juga aku ikut dalam riset.” Jawab ku. Aku memang terjun di dunia yang berbau kimia. Ini karenanya. Karena dia juga lah aku terjun di dunia Sains. Dia telah banyak memmotivasiku.
Vi’…” Tegurku.
“Umm...”
“Apa sebelumnya kau pernah merasakan jatuh cinta?”
“Pertanyaan mu kenapa konyol sekali?”
“Ah… tidak. Aku hanya penasaran saja. Apakah kau mencintainya?”
“Kau ada-ada saja.”
“Aku hanya ingin tahu. Jika kau tidak ingin memberi tahunya. Tidak masalah. Itu hak mu. Haha... aku hanya tidak ada bahan untuk berbicara lagi.”
“Hahaha… Bagaimana ya. Ya...ya... baiklah. Tuhan sudah menuntun ku sejauh ini. Dan jawaban ku sama seperti yang aku pernah jelaskan kepada mu.”
“Oh… umm... Kau sungguh wanita yang sempurna.”
“Haha… akau bisa saja… Oh iya, Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Yah, tentu…”
“Waktu pertama kali kau kerumah. Kau begitu antusias untuk menyuruhku mengingatmu. Tapi entah mengapa aku susah sekali untuk mengingat mu. Kalau boleh tahu, apa tujuan mu kemari? Apa ada kaitannya dengan ku? Atau dengan Adrian?”
“Ah… um…” ujarku gelagapan. “Sebenarnya…” aku mencoba mencari kata-kata yang pas. “Aku ingin bertemu dengan seseorang yang sudah lancang mencintaiku. Itu kenapa aku kerumah kalian. Karena hanya kalian lah yang ku kenal disini.” Aku tertawa memulai mengingat dialog operaku.
“Haha… Oh ya. Lalu? Apakah kalian sudah bertemu?”
“Umm... Ya. Kita sudah bertemu. Hanya saja, ada sesuatu yang rumit. Tujuan ku kesini, untuk bertanggung jawab akan hal itu.” Naskah opera ini penuh dialog kebohongan.
“Maksud mu?”
“Yah… Karena aku lah yang sudah membuatnya lancang berani mencintai aku yang hina seperti ini. Aku tidak seperti yang dia pikirkan. Dan aku ingin memperbaiki semuanya. Untuk dia.”
“Oh, ya? wah, kau hebat sekali. Apakah kau juga mencintainya? Atau...?”
“Awalnya aku tidak yakin. Aku mencoba menghilangkannya dari hidupku. Sampai suatu hari aku menyadari, Aku sangat mencintainya. Hanya saja aku terlalu gengsi untuk mengungkapkannya. Sampai akhirnya dia pergi, membuang harapannya karenaku. Langkahku disini akan ku pertanggung jawabkan semuanya. Aku akan menjemputnya.” Hanya saja, Olivia tidak berpikir bahwa kata-kata itu dia ucapkan untuknya.
Hari ini kami menghabiskan malam dengan gembira. Dia tidak bosan-bosanya menemani ku. Tak terdengar juga kata mengeluh. Jika tidak aku yang menghentikan kegiatan hari ini mungkin saja dia tidak akan berhenti menemani ku.
__ADS_1
Aku sangat sangat senang. Kami bersama di bawah langit yang sama. Di daratan yang sama. Memandang debu bintang yang bertaburan di langit, bersama. Dia tersenyum, aku sangat senang melihatnya. Aku berharap ini bertahan lebih lama...