Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Epilog


__ADS_3

Duhai Cinta tataplah aku disini,


Tetap menatap mu.


Walau perih, terus kau sakiti aku,


Tetap mengharapmu…


►Thito Cilapop-Ku benci kau dengan cintaku.


***


Tahun 2015,


#Kenzie


Aku masih menatap punggungnya dari belakang tanpa bergerak sedikitpun. Tak lama kemudian, jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak tahu harus seperti apa menghadapi gejolak hatiku yang tidak menentu ini—Terkadang aku menjadi sangat marah—terkadang pula aku merindukannya.


Ku sadari semuanya ketika kaki ini membawaku beribu-ribu mil jauhnya meninggalkan tanah air lalu kembali ke daratan yang pernah membawaku dalam peperangan batin. Aku datang lagi setelah sepuluh bulan lamanya, ke Beijing.


Aku mundur beberapa langkah dan ingin berbalik arah. Tapi jika ku lakukan hal itu pasti aku akan kehilangan kesempatan lagi. Aku yakin hari ini aku tidak sedang bermimpi.


Dia masih berdiri di depan ku, sendiri. Aku masih mengenalnya walaupun dia berdiri membelakangi ku. Dia menatap ke arah laut. Kedua tangannya berpegangan pada pagar yang setinggi piggangnya. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin saja dia sedang menikmati pemandangan senja di dermaga ini.


“Aku yakin kau masih disini. Aku tahu kalian semua membohongi ku. Kenapa kalian membuat sekenario seperti itu?”


Dia hanya diam terpaku di tempatnya.


***

__ADS_1


#Olivia


Sepuluh bulan lalu. Aku tidak menghilang. Sebenarnya tidak ada yang dibohongi. Hanya saja...


***


Hari itu, di taman.


Detik disaat dia memelukku. Aku merasakan sesuatu yang lama ini menghilang kini hadir kembali….


“Benarkah ini kamu? Apa aku masih bermimpi?” Tanya ku dalam hati ketika memegang wajah Kenzie. “Aku masih bermimpi. Bangunkan aku!” Ujarku terus menerus dalam hati. Mulut seakan terkunci tidak bisa untuk di buka.


De javu, tapi itu jelas berbeda. Begitu kuatnya, kah? hingga itu seakan nyata. Membutakan ku...Aku sangat ingin memeluk mu. Tapi aku tidak bisa... Maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu.


“Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan?” Ujar ku datar dan melepaskan pelukan itu aku berjalan meninggalkan Kenzie tanpa menatapnya lagi.


Rintik hujan menemani langkahku pulang kerumah.


“Akankah kau mencintaiku lagi?” Teriaknya.


Air mata ku terjatuh.


Malam itu aku mengurung diri dikamar. Saat itu, suara samar-samar timbul dalam kepalaku. “Kau bodoh apa Fi’! Apa arti semua ini? Kau bilang kau mencintainya. Lalu kenapa kau menghianati cinta suci mu itu.” Aku memegang kepala sangat erat. Menutup kuping dengan kuat, mencoba menghindari suara-suara yang terbentuk dengan sendiri. Suara itu berasal dari memori masa lalu ku.


“…Bukan dengan itu caranya Olivia! Kita masih punya masa depan. Mereka itu ujian kita untuk menghadapi masa depan. Olivia, aku tidak tahu harus berkata apa. Segera bertobat. Jika dia memang laki-laki. Suruh dia menunggu! Dan ketika dia sudah siap. Aku yakin dia akan menikahi mu. Jika memang tidak, aku tidak tahu harus berkata apa lagi dengan mu. Berhenti sekarang juga. Bukankah kah kau berjanji tidak akan mengecewakan orang tua mu. Jangan mengulang kesalahan lagi Olivia!”


Aku tersadar dari pikiran masa laluku. Aku menangis sejadi-jadinya, menyesali perbuatan kelam ku itu. Sayang tidak ada Terfin sekarang yang bisa memelukku.


Aku tidak tahu, apakah orang yang pernah membuat kesalahan akan selalunya salah. Tidak ada ruang untuknya lagi. Dan apakah orang yang selalu benar akan selalu benar. Lalu jika aku sudah melakukan kesalahan itu. Untuk apa lagi aku hidup. Sudah pasti orang akan menjauhi ku, bahkan tuhan sudah melaknatku. Buat apa aku berlama-lama disini. Untuk apa semuanya? Apakah tidak ada tempat untuk ku lagi? apakah aku tidak boleh berbuat kebaikan lagi?

__ADS_1


Di rumah sakit...


Malam itu, aku rasa aku akan bertemu dengan tuhan. Pandangan ku saat itu sudah tidak berfungsi lagi. Aku hanya melihat kegelapan. Badanku juga sudah semakin dingin. Seakan malaikat sudah memelukku untuk menuntunku menuju alam baka. Malam itu aku hanya bisa mendengar para dokter dan perawat yang mulai sibuk di sekelilingku. Detektor yang berada di samping ku juga sudah mulai berbunyi tak beraturan lalu perlahan...datar. Aku sangat yakin sekali bahwa malam itu aku akan berjumpa dengan tuhanku.


Dan, ternyata aku salah. Tuhan berkata lain. Aku berhasil melewati masa kritis ku selama lima jam. Setelah bisa berkomunikasi dengan baik lagi. Aku membuat kesepakatan dengan Adrian, Bi Arum, orang tuaku dan juga Azira. Mungkin jika detik itu aku benar-benar di panggil untuk bertemu tuhan ku, mungkin saat itu juga aku akan diseret masuk kedalam nerakanya tanpa ampun lagi—Kesepakatan itu langsung di bantah oleh orang-orang yang berada di ruangan itu.


Kesepakatan itu ialah untuk memalsukan kematian ku, walau tidak tahu kapan sebenarnya ajal akan menjemputku—Namun, dokter yang menangani ku menyarankan suatu hal. Dokter Yi Fan yang menanganiku, menyarankan agar aku meninggalkan rutinitas yang akan membuatku despresi. Bahkan jika tekanan darahku naik sedikit saja itu bisa berakibat fatal. Oleh karena itu aku di sarankan untuk menenangkan diri di sebuah desa. Desa itu adalah kampung halaman sang dokter. Dia juga sengaja tidak memberi tahu alamat bahkan daerah dimana aku tinggal kepada siapa pun termasuk Bi Arum dan juga Adrian. Di temani kedua orang tua dan juga Azira aku menetap di rumah pribadi dokter Yi Fan di desa yang sangat indah.


Bi Arum juga tidak ingin membohongi Kenzie dengan memalsukan kematianku. Ternyata saat itu bi Arum sebenarnya ingin mengatakan sebenarnya. Dan berharap saat itu Kenzie melupakan ku dan tidak lagi mengangguku. Namun, ternyata karena saat itu Kenzie dalam kondisi yang tidak baik juga, dia menganggap perkataan bi Arum itu adalah peryataan tentang kematianku. Itu mengapa terjadi salah paham—Aku tidak tahu dengan niat buruk ku itu apa aku bisa membuat diri ku di maafkan tuhan atau tidak.


Dalam fase terbilang masih sangat lemah, aku di bawa menuju kekampung halaman dokter Yi Fan, termasuk sang dokter juga ikut serta bersama kami. Dan selama sepuluh bulan itu juga dokter Yi Fan menangani aku. Dia juga pindah tugas sementara di kampung halamannya sembari merawat ku—Tanpa apa-apa, tanpa membawa alat komunikasi. Tanpa membawa baju ganti aku pergi saat itu. Hanya orang tua, adik, dokter dan alat medis yang menemaniku.


Sepuluh bulan ku lewati dengan baik. Meskipun aku melewati tiga bulan dengan kelumpuhan. Aku senang, bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. Dimana juga aku kembali teringat dengan kakak-kakak ku yang tidak pernah kedengaran kabarnya. Mereka juga begitu panik mendengar kondisiku. Aku baru teringat ternyata mereka sudah memiliki keluarga masing-masing. Termasuk Eky. Mengenai sahabat-sahabat ku... aku rasa mereka telah hidup masing-masing dengan bahagia. Terakhir kali ku ingat sebagian dari mereka sempat marah dengan ku karena aku memlih menjauh dari mereka dan memutuskan semua hubungan ku dengan mereka. Aku rasa aku sangat jahat, ini karena aku ingin menghindari trauma ku di masa lalu. Aku berharap mereka baik-baik saja di sana. Aku berharap mereka mau memaafkan ku sebelum ajal menjemput.


Namun aku tidak tahu kapan akan di jemput untuk bertemu dengan tuhanku, karena banyak para pasien yang sama seperti ku tidak mempunyai waktu yang sangat panjang.


Kondisiku perlahan membaik, aku beryukur.... dan memutuskan kembali ke Beijing.


Dan dua minggu setelahnya....


***


“Aku yakin kau masih disini. Aku tahu kalian semua membohongi ku. Kenapa kalian membuat sekenario seperti itu?” Ku dengar Suara Kenzie di belakangku.


Aku hanya berdiam. Aku tidak tahu apa tujuannya kemari lagi bertemu dengan ku—aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan informasi tentang kehadiran ku—Aku berbalik arah. Aku hanya menatapnya sedetik. Aku tidak sanggup menatapnya lagi. Aku sudah lama melupakannya.


Aku melangkah maju. Berlalu dari hadapannya tanpa menoleh.


Rahang ku bergetar...

__ADS_1


“Aku mencintai mu.” Ujarnya membuat jantungku berhenti berdetak.


***


__ADS_2