
Andai hujan berhenti di hari itu…
Mungkin, aku sudah pasti berjalan melewatimu…
Aku mungkin tidak bertemu denganmu…
***
Tahun 2008,
Senyuman itu begitu hangat. Hingga saat ini aku memikirkan apa arti semuanya. Entah apakah itu sapaan, meremehkan atau apalah... aku selalu menerimanya. Dadaku selalu berdebar keras, hingga mengusik ku, aku rasa jantungku tidak kuat akan hal itu. Sampai berapa lama aku menyukai senyuman itu?
Aku tidak sanggup menahan air mata yang selalu memaksa keluar dari pelupuk mataku. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa hanya berlaku disaat yang tertentu dan waktu yang terbatas—Ini sangat menyiksaku.
Aku tidak tahu perasaan apa ini. Kata mereka ini akan menyakitkan. Benar, ini sangat menyakitkan, aku hampir terbunuh karenanya. Karena terus merindukan sesuatu yang tidak harus ku rindukan.
Wahai sang pemilik senyum, jika kita bertemu, aku ingin mengungkapkan sebuah perasaanku. Dan tidak ada kata lain yang bisa mengungkapkan perasaanku kecuali “Aku Merindukanmu…”
Aku tidak ingin menuntut apa yang ku rasakan tentangmu. Itu terlalu gila. Biarkan rasa ini mengalir seperti seharusnya. Biar hanya kita sendiri yang tahu tentang perasaan ini. Jangan umbarkan. Aku hanya ingin tenang, tidak ada yang mengusikku dengan hal itu.
Sepanjang hari aku menunggu, menunggu dipantai yang sama. Angin yang sama, dan suara deburan ombak yang sama. Hanya saja ada yang berbeda, kau tidak ada disana. Dan kau tidak tersenyum seperti dahulu kala. Menyelimutiku ketika angin menerpaku.
Haruskah aku katakan jika kau cinta abadiku? Aku pikir…
__ADS_1
Aku tidak tahu seperti apa mengapaimu. Kau datang dan pergi seperti angin. Mengubah perasaan ku seperti cuaca. Masih ku rasa hangatnya senyuman itu. Dipantai itu, aku masih menunggu. Jika aku merindukan mu, aku tidak tahu apa yang harus ku perbuat. Terkadang aku menangis dalam keheningan, mencoba menahan perih yang kurasa di dadaku. Air mata itu jatuh sendiri tanpa ku paksa. Aku tidak menangisimu, hanya saja aku menahan sakit yang ku rasa di dada ini. Menangisi kebodohnku, kehinaan ku, yang berani menaruh perasaan ini, sejauh ini, tepat untukmu.
Aku ingin bertemu dengan mu, menatap lebih lama senyuman itu. Berada lebih lama disisimu. Tapi itu hanya khayalanku, khayalan yang tidak pernah menjadi kenyataan.
Ketika aku melangkah menjauh, kau tidak bisa hilang dari pikiranku. Dan ketika telah ku berikan seluruh hidupku kepada yang lain, aku sadar aku bodoh telah salah menempatkannya. Bahkan itu tidak bisa menghapus mu dari memori ku. Kau tidak pernah hilang dari hidupku, membuat semuanya tak berwarna dan tak berasa. Andai kau tahu, aku tidak bisa berhenti mencintaimu.
Ajarin aku tuk lepaskan rasa ini. Aku takut jika yang dikatakan mereka menjadi kenyataan. Aku takut cinta ini menjadi obsesiku… Terkadang aku bertanya, sekali lagi… apa takdir pertemuan itu salah mempertemukan kita?
Sekarang kita berjalan di jalur masing-masing. Entah disimpangan mana kita akan bertemu. Entah apa saling menyapa, atau tetap fokus dengan langkah masing-masing.
Ketika tangan ini telah ada yang mengengam, dan bibir ini telah tersentuh. Kau tetap saja berada di depan mataku, untuk apa kau hadir? Aku tidak pernah sedetik pun memanggilmu di memoriku. Kau datang dengan sendirinya, seakan kau benci melihat ini semua. Itu bukan inginku. Hey, “K” tak kau lihatkah aku, tak kau dengarkah hatiku memanggil nama mu. Jika kau menatap mataku sekali lagi, lihatlah! Aku masih menunggu keajaiban yang pada dasarnya adalah harapan itu. Ingin rasanya aku kembali kemasa lalu, hanya ingin menghapus hal itu dari kisah ku.
Mungkin benar apa yang tuhan berikan kepada ku. Aku lebih membutuhkan dia. Tuhan tidak memberikan mu, apa yang ku mau untukku. Doa itu terjawab. Tuhan memberikan dia yang lebih baik dari mu. Setelah penantian tujuh tahun ini. Aku menyadarinya.
Rasanya aku ingin tidur lebih lama, karena hanya dalam mimpi aku bisa bahagia. Aku bahagia bertemu dengan mu. Aku ingin itu abadi seperti kita berada di dalam surga. Aku memikirkan surga, karena hanya itulah keabadian. Setiap saat aku memikirkannya. Karena aku harap kita akan saling tahu tentang perasaan kita, disana... disurga nanti. Kaulah surgaku, Mencintaimu, keabadianku.
***
Pantai ini sudah lama tidak terawat. Bahkan wahana permainan sudah banyak yang berkarat, rumput-rumput telah memanjang. Bahkan lubang tempat dimana Terfin pernah terjatuh masih ada disana. Karang-karang tinggi membentengi sisi-sisi pantai masih tampak kokoh disana.
Angin bertiup lembut, menenangkan pikiran orang yang berada disini tapi deburan ombak yang halus memecah keheningan. Aku beranjak dari tempat ku lalu berjalan menyusuri pesisir dengan kaki telanjang.
Kenangan itu seakan terputar kembali. Masih sama seperti tujuh tahun yang lalu. Aku masih terlalu muda saat itu, masih belum mengerti mengenai perasaan yang selalu menuntutku kemana pun aku pergi.
__ADS_1
Aku tersenyum memandangi pohon kelapa yang badannya memiring akibat abrasi pantai. Itu mengingatkanku sewaktu melukis di pantai ini, tujuh tahun lalu. Tidak ada tema yang akan terukir di dalam kepalaku saat itu. Aku ingin menggenangnya sekali lagi dan menghilanglah.
Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentangku suatu hari kelak. Aku mencintaimu. Aku tidak berhak untuk itu. Biarkan rasa ini ku pendam. Bahagialah, aku senang bisa mencintaimu. Akhirnya, aku menyadari apa arti cinta itu. Ini membuatku berpikir luas, bukan sekedar mencintai mu karena obsesiku. Bukan hanya menerima rasa sakit akan kerinduanmu, tapi aku belajar untuk menghargai rasa itu hadir dan membuktikan apakah rasa itu memang milik mu. Tapi sayangnya, aku menghianatinya karena aku tidak ingin kau yang ada dalam hatiku. Aku membodohi diriku sendiri, menyakiti diriku sendiri, karena aku tidak berterima kasih selama ini telah diberikan rasa yang sangat indah, yaitu bisa mencintaimu.
Ah… Yang aku tidak percaya itu lah akhir dari pertemuan kita…Karena saat itu…
Maafkan aku…
***
Tahun 2009,
Kini jarak benar-benar menghadang kami, terhalang dengan lautan yang luas. Tahun-tahun yang menyulitkan. Kini tidak ada hanya bisa ku lakukan selain memantaunya dari sosial media—media penyelamat untuk mengetahui keadaannya. Hampir semua social media aku buat. Aku sengaja membuat akun sosial media hanya untuk mencari tahu keberadaannya. Beberapa social media yang gagal, aku tidak menemukannya disana. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa kepadanya. Hingga suatu munculah sebuah sosial media terbaru…ketika aku membuat akun ini. Email akun ku ku beri nama dengan “Kenoliv” gabungan dari Kenzie dan Olivia. Dan aku beryukur, aku menemukan akunnya berkat Haikal.
Ku buat akun ini untuk menggungkapkan perasaan ku kepadanya. Banyak isi timeline ku hanya sekedar untuk mencurahkan isi hatiku. Aku tidak tahu bagaimana bisa membuatnya menyukai ku. Terlebih lagi ketika dia pernah berpacaran dengan sahabat kecil ku. Aku tidak menginginkan itu, aku takut sahabat kecilku akan pergi meninggalkan aku hanya karena aku menyukai orang yang pernah mengisi relung hatinya. Aku tidak habis pikir dengan pikiran orang-orang yang berkata bahwa jika kita menyukai mantan atau kekasih mereka adalah sampah. Padahal kita saja tidak tahu siapa jodoh kita kelak. Aku sudah megambil banyak peluang, bahkan membuat ribuan alasan agar bisa bertemu secara langsung denganya. Tapi itu tidak berhasil. Jadi ku putuskan untuk mengambil peluang terakhir. Sebagai teman baik di sosial media.
Aku menghabiskan waktu yang banyak untuk berpikir agar bisa menjadi temannya. Aku masih belum punya nyali untuk itu. Karena jengkel melihat kelakuan ku seperti itu Haikal lah yang mengklik tombol permintaan pertemanan di akunku kepada Kenzie. Butuh berhari-hari untuk bisa di konfrimasi olehnya. Mungkin karena nama ku yang tidak di kenal di lingkup pertemanannya dan juga foto profil yang bergambar anime Jepang berambut pendek sama seperti ku, hanya saja anime tersebut lebih cantik dari pada aku.
Setelah dia mengkonfrimasi pertemanan ku, aku mulai mengubah nama di akun ku menjadi nama panggilan ku. Dan mulai saat itu aku mulai mengisi timeline ku dengan celotehan curhatanku. Aku tidak peduli apapun yang terjadi. Menjadi teman baik di sosial media sudah cukup untuk ku. Timeline ku kebanyakan hanyalah sebuah petikan dari lagu, tidak banyak juga dari kata-kata yang ku buat sendiri. Yang paling berkesan untuku ialah ketika dia pertama kali meng-Like timeline ku. Karena saat itu aku merasakan, aku benar hadir di hidupnya. Walau hanya sekedar menjadi orang yang lewat di depannya saja.
Aku dengan selamat mendarat di lapangan udara Soekarno Hatta. Aku sengaja pergi ke Bandung menggunakan mobil travel yang sudah dipesan jauh-jauh hari. Hanya sekedar ingin menikmati perjalanan kali ini.
Menikmati kesejukkan dari setiap sisi kota Bandung dari balik kaca mobil.
__ADS_1
Akan ku mulai langkah Nol ku disini…
****