
Kenzie
Kata-kata itu mengakhiri seluruh cerita di buku ini.
Aku jadi teringat dengan buku pertama yang aku baca. Dan buku itulah sambungan dari cerita ini. Banyak lembaran kosong yang masih tersisa di buku yang pertama ku baca, tidak seperti di buku ini yang hampir habis. Aku menutup dan memasukkannya kembali kedalam tas. Berdiri dan merenggangkan setiap persendian ku yang kaku karena kelamaan membaca. Lalu menlanjutkan perjalanan menuju hotel.
Aku masih belum mengerti apa maksud dari ceritamu ini Olivia. Ini terlalu membuatku bertanya-tanya. Banyak kata-kata yang membuatku tidak mengerti dari jalan certia ini.
Sesampainya di kamar.
Mata ku tertuju dengan koper-koper yang sudah markir disudut ruangan. Ruangan yang sudah aku bersihkan. Dari hari kemarin aku sudah berencana untuk kembali ke Indonesia. Ketika aku selesai membaca buku ini, entah mengapa pikiranku memerintahkan untuk tetap bertahan.
Aku menjatuhkan diri ke tempat tidur. Memandang kosong kelangit-langit kamar yang gelap. Hanya ada cahaya bulan yang menjadi penerang kamar.
Rasa penasaranku belum terbayar…
Seperti ada kata-kata yang membisik ke kupingku agar tidak pulang lebih cepat. Ada apa sebenarnya? Sepertinya Adrian masih menyembunyikan sesuatu dariku. Aku memejamkan mata. Dalam ruang kosong, wajah itu muncul dengan senyuman manis. Aku tersadar bahwa aku telah jauh melangkah. Aku kembali membuka mata. Mencoba menenangkan pikiran ku yang semakin menekan ku untuk melepaskan amarah yang selama ini aku pendam.
Haruskah kau menikah dengan pria itu?
Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur. Aku hanya memikirkan Olivia. Hanya itu.
Ingin segera aku bertemu dengan Olivia lebih cepat, memulai awal yang pasti dan menggubah pilihan, keputusannya menikah dengan Adrian. Dada ini terasa sesak setiap memikirkannya. Menahan perasaan yang sama selama ini. Akankah ini berakhir dengan bahagia? Dipihak siapa?
Aku berjalan tertatih menuju westafel kamar mandi untuk membasuh wajahku yang lelah, menatap lama kecermin. Melihat setiap air yang jatuh dari sisi wajahku.
Ku tundukan kepala ku. Ku tutup mukaku dengan kedua telapak tangan. Lalu jatuh terduduk. Memori di otak ku kembali memutarkan semua masa lalu ku.
***
Tahun 1998, itu adalah tahun pertama aku menginjakan kaki ku di tempat yang sama dengannya, Olivia. Aku seorang murid pindahan. Tidak banyak yang bisa ku lakukan ditempat baruku. Terkadang aku hanya mengikuti kemauan teman-teman baruku, hanya sekedar melepas kejenuhanku mengenal tempat yang sangat-sangat baru.
Saat itu hanya ada cahaya remang-remang, karena saat itu ada acara peresmian sebuah tempat wisata dan acara terselengara sampai malam. Lampu juga tidak begitu banyak. Acara itu juga adalah pesta rakyat yang diselengarakan beberapa hari. Dan selama acara itu juga aku tidak pernah ketinggalan sedikit pun untuk menikmati acara dan juga setiap tempat. Malam itu aku melihatnya sendiri menonton pertunjukan band. Aku berada di lima meter darinya. Selama acara itu berlangsung, aku hanya memandanginya dari cahaya remang-remang hingga akhirnya dia pergi entah kemana.
Dua tahun berlalu. Aku bahkan sudah melupakannya. Aku juga tidak pernah mencarinya. Dan tidak ku sangka kami dipertemukan kembali. Saat itu, baru saja selesai kegiatan acara tujuh belasan. Kegiatan itu adalah kegiatan baris-berbaris. Aku satu tim bersama Eky dalam kegiatan itu. Saat itu hujan turun deras sekali menunda kami untuk pulang kerumah. Bahkan jemputan ku juga tidak kunjung datang. Untung saja Papa Eky datang dengan mobilnya dan mengantarkan kami pulang ke rumah. Namun selama di perjalanan pulang aku baru menyadari, bahwa bukan hanya aku, Eky dan beberapa rekan ku yang berada di dalam mobil bersama Papa Eky, melainkan ada seorang anak perempuan berseragam SMP yang duduk di sebelah bangku kemudi, dia tersenyum memandangi keluar jendela. Aku melihatnya dari kaca spion mobil yang berada tepat di depannya. Hari itu, aku senang karena aku di pertemukan kembali dengan orang yang pernah membuatku terseyum sendiri jikalau aku mengingatnya. Karena bergulirnya waktu dan rutinitas band aku melupakannya, lagi.
Tiga bulan kemudian. Kami bertemu di sebuah perkuburan. Aku tidak tahu mengapa aku di pertemukan di tengah-tengah perkuburan seperti ini. Aku berjalan mendekatinya. Tapi sial, teman-teman ku datang di saat yang bersamaan. Jadi aku tidak bisa melakukan apa-apa selain tersenyum kepadanya. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan namanya. Namun nyali ku ciut ketika berhadapan dengannya. Sebenarnya aku bisa saja menanyakannya dengan Eky, tetap saja aku terlalu pencundang untuk hal seperti ini. Hari itu dia membuatku binggung karena matanya yang sembab. Tapi karena ke usilan teman ku, aku mengetahui bahwa sepertinya dia sedang takut berada sendiri di perkuburan.
Sebulan berlalu. Ketika acara di akhir tahun kami bertemu lagi. Dari jauh aku sudah melihatnya di dekat sebuah arena tempat melukis yang di adakan di sebuah pantai wisata. Karena rasa senang mengetahui kehadirannya aku mengajak Dony untuk mendekati arena itu. Untung saja ada rekan sekelas ku yang berada di sana, tepat di belakang anak perempuan itu. Jadi ada alasan bisa berdekatan dengannya. Beberapa jam berselang. Aku mendengar seseorang memanggil ke arahku. Dia menyebutkan motif dan warna baju ku. Aku sempat binggung kenapa dia memanggilku seperti itu. Teryata dia memang tidak tahu nama ku. Tiba-tiba dia memberitahukan bahwa temannya menyukai ku. Aku sempat kaget mendengarnya. Aku tidak tahu siapa yang dia maksud. Setelah dia menjelaskan, dan aku melihat secara langsung siapa orangnya. Aku bahagia. Ternyata teman yang dia maksud adalah orang yang selama ini menarik perhatian ku.
Saat itu, hanya Dony yang menjawab. Aku hanya tersenyum menahan rasa gembira ku karena perasaan yang selama ini pernah terkubur, kini tergali lagi dan menarik ku untuk bermain dengan harapku. Tidak lama kemudian Dony penasaran dan membawaku masuk kedalam arena lomba melukis. Aku sempat gugup. Dan aku hanya berlalu begitu saja dari hadapannya. Tersenyum sendiri dengan perasaan bahagia ku tanpa di ketahui Dony.
Saat itulah, permainan ini di mulai. Dari dia mengirimkan surat yang membuatnya aku tidak bisa tidur semalaman karena kata-kata konyol yang di buatnya. Dia juga yang membuatku termotivasi untuk belajar. Saat itu temannya memberi tahu dia menyukai pelajaran Fisika. Pelajaran yang sebenarnya membuat ku mual.
__ADS_1
Hari-hari aku memikirkannya, memantaunya, bahkan memimpikannya. Hingga akhirnya aku menceritakan kisah ini kepada sahabat-sahabatku. Terutama aku sering menceritakan setiap detil kepada Angga, sahabat terdekat ku. Dia juga menyarankan ku untuk meminta nomor teleponnya. Angga sangat nekad saat itu, aku tidak habis pikir dia akan berbuat seperti itu. Sayangnya hari itu dia tidak berhasil mendapatkannya.
Beberapa waktu berikutnya, aku menyadari bahwa dia bukan seperti anak perempuan seperti biasanya. Gayanya yang tomboy membuat ku mundur perlahan. Namun bukan itu saja, dia adik dari sahabat ku. Aku sangat mengetahui kenyataan itu, seorang sahabat tidak akan menyetujui hubungan keluarganya terlebih adiknya dengan seorang sahabat yang sudah dia ketahui karakternya seperti apa. Ya, Eky sudah sangat mengetahui karakterku, sudah banyak perempuan yang ku dekati bahkan ku pacari, aku juga dikenal sebagai seorang playboy, gaya ku yang hedon, bahkan sering balapan liar, hingga kesaharianku yang tidak sehat seperti halnya merokok dan terkadang sering minum-minum walaupun aku tak terlalu menyukai minuman alcohol. Setidaknya Eky pernah melihatku mencoba minum-minuman itu, walau aku hanya mencobanya beberapa kali karena tawaran teman-temanku. Berbeda dengan Eky, meskipun dia sering menjuarai balapan liar, dia sama sekali tidak merokok atau pernah mencoba minuman alcohol. Terkadang aku malu. Dan aku mencoba berbenah.
Tapi, tetap saja aku tidak bisa jauh dari bayang-bayangnya. Bahkan ketika aku sudah berpacaran dengan gadis yang lain, dia sungguh membuatku takut, aku takut menyakiti perasaannya. Itu sebabnya aku tidak pernah lagi bertemu dengannya ketika aku sedang berduaan dengan pacar ku. Cukup saat itu, ketika pertama kali aku pacaran. Dan saat aku bertemu dengannya ketika bersama Astya. Hari itu aku galau dengan perasaan ku. Rasanya aku ingin mencabik-cabik diriku sendiri.
Waktu bergulir begitu cepat. Banyak moment yang sama seperti yang di ceritakan, ketika aku melihatnya menonton pertunjukan band ku, ketika aku sedang berkunjung kerumahnya, salah tingkah terang-terangan, disaat aku ingin bicara dengannya ketika aku menanti-nanti kehadirannya di dini hari—dimalam ketika kami bertemu di pasar malam, ketika aku bertemunya di stand baju. Itu semua murni perasaan ku, aku memang salah tingkah, malu dan senang. Sebenarnya aku selalu mencarinya, walau secara diam-diam aku cukup lega saat melihatnya lagi. Tak pernah sedetik pun aku berpikir untuk membencinya. Justru aku sangat membenci diriku sendiri saat di depan mataku teman-temanku mengodanya, dan aku tidak melakukan apa-apa. Aku terlalu pengecut, pecundang hingga membuatnya pergi dari hidupku.
Hal menyakitkan selanjutnya ialah, ketika aku mendengar dari mulut Ikhsan. Ikhsan yang sudah ku anggap adik ku sendiri. Dia menyampaikan isi hatinya bahwa dia menyukai seseorang bernama Olivia. Perempuan yang telah menuliskan kisah cinta pertama ku di masa lalu. Aku sangat binggung dengan perasaan ku ketika dia menyampaikan hal ini. Saat itu aku hanya menyemangatinya dan memberikan saran-saran yang baik. Namun beberapa minggu kemudian dia patah hati. Aku sangat tahu apa penyebab dari hal itu. Aku merasa sangat yakin bahwa Olivia akan menolaknya, karena dia tahu Ikhsan adalah orang yang sangat dekat dengan ku. Beberapa bulan berikutnya giliran aku yang patah hati. Padahal aku baru saja kembali pacaran dengan Astya. Tapi aku merasakan hatiku benar-benar hancur ketika aku mengetahui Olivia sedang pacaran di belakang sekolah bersama Richi, teman masa kecil ku. Yang pada kenyataannya kami tidak menyadari bahwa hati kami berdua saat itu memang sangat hancur. Aku menghabiskan malam ku saat itu dengan rasa patah hati.
Ini adalah kisah yang sangat lucu. Kenapa kami di pertemukan seperti ini. Dengan perasaan seperti ini. Yang pada akhirnya kami memiliki perasaan yang sama dan menghancurkan harapan kami. Sebenarnya aku lah yang menghancurkan. Aku menyesal tentang ini.
Dan tanpa ku sadari itu adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan Olivia. Di hari Reuni sekolah. Awalnya aku sempat kucing-kucingan karena ingin menghindarinya. Tapi tetap saja aku tertangkap lagi. Aku senang melihatnya hari itu. Karena hari itu dia benar-benar sangat cantik. Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku telah menatapnya lebih lama hari itu. Hari dimana semuanya berakhir dan bermula kembali beberapa minggu itu. Setelah beberapa tahun aku benar-benar melupakannya dan kini aku hanya bisa menjilati rasa penyesalan ku yang datang terlambat.
Aku masih menutup muka dengan kedua tanganku. Aku benar-benar cenggeng. Aku menangisi kebodohan ku.
Aku mencintaimu.
Kenapa susah sekali mengungkapkannya kepada mu. Bahkan semuanya sudah seperti ini! Apa memang ini takdir kita? Atau mungkin takdir itu memang salah mempertemukan kita?
***
#Olivia
Aku tidak tenang dalam tidurku. Lalu terbangun karena mimpi buruk. Adrian ternyata sudah berada di dalam kamar ku. Aku duduk lemas di tempat tidur dengan keringat yang sudah bercucuran.
“Maaf aku masuk kekamar mu tanpa ijin. Aku dengar kau meracau. Jadi aku putuskan untuk membuka kamar mu. Bibi juga setuju. Dia lagi di bawah sedang membuatkan mu teh hangat.” Jelasnya. Aku melirik jam weker di samping tempat tidurku. Jam sudah menunjukan jam setegah empat dini hari.
“Kau tidak ke rumah sakit?” tanyaku sambil memeluk kedua kaki yang ku tekuk di depan dadaku.
“Bagaimana aku tenang di rumah sakit jika calon istriku saja tidak tenang di rumah.” Dia tersenyum lalu melilitkan alat pemeriksa tensi darah ke lengganku. “Darah mu tinggi.” Selesainya mengukur tensi ku.
“Umm...” Aku hanya bergumam. Tidak lama kemudian bi Arum masuk kedalam kamar membawakan ku secangkir air hangat.
“Aku sudah bilang. Jangan terlalu kerja keras. Kau kan punya asisten.” Ujar bi Arum sambil menyuruhku untuk minum.
“Aku bahkan tidak bekerja akhir-akhir ini. Jadi kenapa aku bisa drop begini.”
“Lalu selama ini kamu ngapain aja? Itu yang aku tidak habis pikir. Kenapa kau bisa jadi drop begini.” Sambungnya.
“Sudahlah bi... Bibi lanjut tidur saja. Biar aku saja yang menemaninya malam ini.” Ujar Adrian.
“Ah... ya sudah kalau begitu. Ingat! kalian belum sah menjadi suami-istri.” Ingatnya.
__ADS_1
“Iya bi. Aku pegang janji ku. Aku tidak akan macam-macam”
Tidak lama kemudian setelah kepergian bi Arum dari kamar ku. Adrian mulai menodongku dengan pertanyaannya.
“Mimpi apa? Sekali-sekali kamu cerita, jadi kamu gak memendam sendiri mimpi itu. Ujung-ujungnya gini kan.” Ujarnya membuatku termanggu.
“Ah… Mimpinya aneh. Aku tidak ingin meningatnya. Ku mohon jangan jauh-jauh dari aku.” pintaku.
“Iya, aku tidak akan jauh lagi dari kamu. Ya udah lanjutkan tidurnya. Jangan lupa berdoa.” Membetulkan selimutku lalu berajak pergi. Tapi aku mencegahnya. Aku memegang tangannya.
“Mimpinya selalu berulang.” Adrian seketika langsung menoleh kearahku. Menatapku penuh pertanyaan. Dia duduk di samping tempat tidur ku.
“Umm?”
“Aku selalu mimpi seseorang yang berencana menodai ku.”
Adrian menelan liurnya. “Itu hanya mimpi sayang. Aku tidak akan melakukannya kepadamu, sampai kita menikah nanti dan kau ikhlas untukku”
“Gege, aku melihat teman mu di mimpiku.”
“Temanku?”
“Iya. Kenzie….”
“Mungkin karena dia selalu mengikutimu akhir-akhir ini, jadinya kamu terbawa mimpi. Apakah dalam mimpimu dia yang akan menodaimu?”
“Bukan, ada orang lain. Aku tidak mengenalnya. Tapi entah kenapa aku tidak melakukan hal-hal untuk mencegah hal itu. …Aku takut…”
Adrian mengelus rambutku dengan lembut. “Berdoalah, semoga itu tidak akan terjadi. Lalu, Kenzie?”
“Aku menatapnya dari kejauhan, Ketika...” suaraku tercekat di tengorokan. Aku mencoba menelan liur yang tiba-tiba mengering. Air mataku tiba-tiba terjatuh. Aku sangat takut. “Ketika aku sedang memeluk orang yang tidak ku kenal itu. Aku melihatnya di depan ku, dia sangat jauh. Dia menatapku sangat tajam. Dia seakan marah ketika aku berjalan dengan orang lain, sepertinya aku juga pernah memimpikan sebelumnya. Namun, sekarang aku baru menyadari itu dia. Ketika dia sering menemui kita akhir-akhir ini. Umm…” Adrian menghapus air mataku.
“Lalu kenapa kau menangis?” dia memegang pungung tangan ku.
“Aku sangat takut.”
“Dia teman ku, dia tidak akan melakukan apa-apa dengan mu. Percaya itu. Aku akan selalu ada untuk mu. Sekarang kamu lanjutkan tidur mu. Aku akan menjaga mu malam ini.” Dia membetulkan selimutku lagi. Mendekatkan kursi dengan tepat tidur ku.
“Bukankah dia senior ku? Lalu kenapa dia bisa mengenal mu? Sedangkan aku tidak mengingatnya sama sekali. Dan apa hubungannya dengan mimpi ini?”
Ada jeda dari pembicaraan kami. “Bukan kah dia pernah menemui mu ketika di Bandung. Jelas aku mengetahui itu. Dia banyak bercerita ketika aku bertemu dengannya pertama kali.” Dia mengambil nafas. “Mungkin saja kau melupakan hal itu. Tenanglah, dia orang yang baik. Dan sekarang kau lanjutkan tidur mu ya. Jangan pikirkan itu lagi, itu hanya bunga tidur.” Aku hanya mendengarkan penjelasan itu tanpa berpikir panjang lagi dan kembali melanjutkan tidur.
Tapi… Aku rasa ada yang aneh. Pertama kali… Di Bandung? Bukan kah aku baru pertama kali bertemu Adrian disini?
__ADS_1
Ah sudahlah…