Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Timeline


__ADS_3

#Kenzie


Aku kembali ke desa ku di Kalimantan. Tidak hanya ingin mengunjungi keluarga dan sahabat-sahabatku— disini juga aku ingin menenangkan diri.


Terlalu banyak kisah disini... Sebenarnya aku tidak datang untuk menggali kisah-kisah itu. Namun entah mengapa kisah itu menyeruak kepermukaan saat kaki ku berpijak kembali disini—tempat dimana pertama kali ku ukir kisah itu, tanpa di sadari, dulu.


Malam ini ku habiskan waktu ku duduk di balkon kamar, mengecek facebook ku, sembari memandangi langit cerah malam ini. Saat angin menyapa, entah mengapa aku teringat dengan akun facebook Olivia. Tidak banyak timeline yang pernah di postingnya. Namun umur facebook ini sudah lama sekali. Aku masih ingat beberapa postingannya, namun aku tidak pernah menyadari postingan-postngan itu mempunyai makna yang dalam untukku saat ini...


Dia terlalu fiksi untukku—untuk ku kenang dalam kisah ku. Dia adalah kisah yang hampir sempurna untukku, untuk menyakitiku, untuk membuatku selalu merasa bersalah.


Waktu. Waktu yang menyadarkan aku. Waktu juga yang merasuk didalam ingatanku, menyalahkan ku dari ribuan kisah yang tak pernah ingin ku ketahui, dialah hakim dari segala masalah yang tak pernah ingin ku temui. Dia memvonisku—sungguh itu sungguh menyakitkan —terlebih saat aku telah terpenjara dalam duka.


Ku baca satu persatu postingan-postingan di timelineya yang berakhir di tahun 2013. Seperti ini postingan di timeline Olivia...:


“Tahu kah kamu? Aku tidak mengharapkan ini terjadi.


           Dalam kisah ku, aku hanya ingin mendengarkan sebuah perkataan yang tidak menyakitkan, harapan yang tidak membeku— Bukan seperti sikapmu biasanya saat berpapasan dengan ku. Aku tidak bisa mencerna semua kenyataan ini— yang mana sebenarnya dirimu. Dikala harapan itu, senyuman itu, dan tatapan itu. Harapan itu seakan membunuhku secara perlahan. Aku bisa bertahan karena aku terbiasa seperti ini, entah mengapa harapan dan bayanganmu selalu menuntutku.

__ADS_1


           Andai saja aku bisa mengungkapkan, mungkin aku tidak terperangkap seperti ini.


           Seharusnya kita tidak pernah bertemu. Entahlah, sihir apa yang kau berikan kepadaku, sehingga aku begitu mencintaimu, sehingga aku menunggu mu. Ketika cinta kita tidak akan pernah menyatu.


           Aku tidak bisa membohongi diriku. Bahwa aku sangat menanti keajaiban itu. Aku menanti mu. Aku menanti kisah itu—kisah menyatunya cinta itu.


           Jika aku harus pergi sekarang. Pasti, Aku akan kembali, mungkin bukan didunia ini. Mungkin di surga nanti, setelah perasaan yang disebut cinta ini menyatu. Aku selalu mengharap itu…. Hatiku tidak pernah berbohong jika aku mencintaimu. Aku selalu mengharapkan keajaiban untuk bisa bersatu dengan mu. Kau bisa menuntunku ke jalan mu, ke surga bersama mu. Menanti Keajaiban itu… adalah harapan ku selama ini. Seperti Hidayah cinta yang telah di tunjukan kepadaku atas nama mu…Kenzie. Hal terindah itu ketika aku masih bisa menghayal tentang mu, dan hal terburuknya aku tidak bisa melepaskan tentang mu, belajar melupakan itu menyakitkan. Aku tidak menyalahkan siapa pun.... Mungkin kita tidak bisa hidup bersama. Sudah terlalu lama bukan. Sudah cukup aku menunggu keajaiban itu. Sekarang aku mengerti....” ku tahan tangis ku dan kembali melanjutkan membaca.


           “Serasa masih berjalan ke arah mu. Aku tidak tahu sepanjang apa jalanan ini. Telah banyak waktu yang ku lalui. Ternyata ini begitu lama. Aku telah melakukan berbagai cara untuk bisa mengapai mu. Aku rasa ini bagaikan air yang mengalir di sungai menuju cinta sejatiku. Namun aku salah prediksi tak pernah ada ujung disana. Tak tahu bagaimana berhenti.


           Bisa kau beritahukan apa yang harus ku lakukan? Agar aku bisa mencobanya setiap hari. Bisa kau katakan seberapa jauh aku akan berada di dekat mu. Dan seberapa jauh kau bisa mencintaiku?


           Aku sudah mencoba berbagai cara, cara untuk sampai di dekat mu. Bahkan aku sudah melakukan cara untuk memutar arah agar bisa jauh dari mu. Namun hasilnya tetap saja, jalur itu menuju ke arah mu.


           Ku lihat kau dari jauh. Namun perjalanan ku tak kunjung sampai.


           Aku tidak mengatakan aku menyerah. Aku hanya lelah.

__ADS_1


           Terkadang aku juga bosan untuk menunggu waktu itu, kapan? Aku masih tetap menunggu. Dan tetap, aku hanya lelah. Itu saja.


           Meskipun aku bosan, aku lelah, dan aku berusaha memutar arah. Dalam hati ku. Aku masih mencintaimu. Aku masih ingin bertemu dengan mu...


Jika rasa ini bisa membantu mempercepat langkah ku agar bisa berada di dekat mu. Aku sangat senang.


           Dan jika kau tidak menginginkannya. Kenapa ini menjadikan alasan mu, kenapa kau menyembunyikan jawaban itu dalam-dalam di hati mu.”


“Akan selalu sama, tidak akan berubah dan tidak ada yang akan mengubah. Saatnya langkah ini berjalan di arah seharusnya... Melupakan. Sedikit demi sedikit apa yang tidak seharusnya digengam.... Dan hujan ini mengawali dan mengakhiri segalanya... Menghapus setiap jejak yang salah menempatkan tujuannya. Apa seperti kayu kokoh yang di lalap api? Tersapu angin, lalu terkena tetesan hujan. Perlahan memudar hilang tanpa meninggalkan jejak. Tetap, itu sama saja...”


“Jika menunggu keajaiban itu dosa. Mungkin aku harus berhenti menunggu. Itu kegiatan yang sangat melelahkan...”


“Huh... hal yang paling membodohkan ialah melihat timeline orang lain dan mengharap sapaan darinya. Kapan kau menyapa ku? Maafkan aku telah mencari tahu tentang hidup mu. Aku hanya tidak tahu caranya berhenti mencintaimu.”


“Ku lepas semua yang ku ingin kan, tak akan ku ulangi. Maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti.”


Air mataku mengalir menjadi deras.

__ADS_1


***


__ADS_2