Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Masalah Baru


__ADS_3

Dan selamanya, aku mengakui. Itu nyata.


Kita tak’kan pernah tahu, kapan ini hadir.


Kita tak’kan pernah tau, kapan ini berakhir.


Walau ini menyakitkan, aku masih menginginkan mu.


***


#Kenzie


Keadaan rumah ini sangat tenang. Tidak ada Arum dan begitu juga Olivia. Hanya tinggal Adrian yang duduk di sofa sedang menatapku dengan tatapan dingin dari balik kacamatanya. Kami duduk berhadapan. Aku tidak mengerti apa maksud dari tatapan dan undangan untuk menemuinya hari ini.


Asap dari panasnya teh yang tersuguh di depan kami layaknya wasit tinju yang sedang menghitung pertandingan yang akan segera di mulai. Disamping cangkir teh milik Adrian terlihat buku tebal berjudul Ah— aku tidak tahu apa artinya. Itu bertuliskan kaligrafi mandarin. Hanya buku itu yang membantuku mencairkan suasana, aku hanya menatap buku itu agar suasana tidak terasa canggung.


Dia masih menatapku lalu berdeham dan mencoba mencairkan suasana ruangan yang dari tadi layaknya seperti perkuburan. “Sebenarnya apa tujuan mu ke Beijing?” Tanyanya. Aku hanya berdiam. Aku sengaja tak menjawabnya.


Ku dengar suara dehaman kecil lagi. Aku rasa dia kesal. “Apa tujuan mu, ingin bertemu dengannya?” Tanyanya lagi.


“Ah... Ya.” Kenapa orang ini begitu ingin tahu dengan kedatangan ku kesini. “Ada sesuatu yang harus ku selesaikan.” Lanjutku dengan nada datar.


“Apa menurutmu itu akan selesai. Atau berakhir dengan keegoisan mu datang kemari.” ujarnya. Aku tidak mengerti kenapa orang ini sepertinya benci sekali dengan kehadiran ku.


“Maksudmu?” Aku terkesiap.


Adrian berdiri, dan memberi kode kepada ku untuk mengikuti arahnya. Ia berjalan ke arah belakang rumah—Kami berjalan ke sebuah taman. Namun sebuah objek yang terletak di sudut halaman mengacaukan nalarku. Kami berjalan menuju objek yang membuatku merinding.


“Dia mengalami kecelakan setahun yang lalu?” Adrian memegang pintu mobil yang mana hampir sebagian badan mobil itu peyot karena kecelakaan.


Aku menelan liur, cemas. Mataku tak lepas memandangi dengan saksama mobil berwarna putih yang rusak itu. Tidak ada keindahannya. Hampir sebagian sisinya peyot, dan juga banyak bekas gesekan panjang di berbagai sisi. Aku mengamati lebih jelas lagi. Di dalamnya ada dekorasian yang unik. Di dalamnya telah di perbaharui, namun tetap mempertahankan keadaan luar yang tidak enak untuk di pandang. “Iya, dia meminta ku tidak membuang mobil rongsokkan ini. Entahlah, justru dia meminta dalamnya untuk di perbaiki. Hampir setiap malam, setiap perasaan anehnya itu muncul, dia selalu untuk meminta ku menemaninya disini. Walau hanya sekedar menonton film dari mobil ini.”


“Hummh?” Aku menatapnya dengan tidak percaya.


“Dia dua hari terperangkap didalamnya di bawah jurang yang sangat sulit terjangkau.” Setetes air mata keluar begitu saja di ujung matanya. Ia menyeka segera, dan melanjutkan kembali ceritanya. “Aku kira dia tidak akan selamat hari itu. Itu tepat sehari dari kepulangannya dari Indonesia.”


“Setahun yang lalu? Tapi kenapa Terfin tidak memberitahuku tentang kecelakaan itu?” aku semakin tidak mengerti dengan penjelasan Adrian.


“Terfin juga tidak tahu tentang hal ini. Bahkan keluarganya tidak ingin dia mengingat semuanya mengenai dirinya dan kisahnya di Indonesia.”


Tidak ada yang ku mengerti dari pembicaraan ini. Sesuatu pertanyaan yang tidak terjawab. Seakan, dia juga mengenal Terfin.


“Lebih baik kita masuk kembali saja.” Ia memegang pundak ku. “Aku tidak megharapkan kedatangan mu. Begitu juga dengan Olivia.” Aku mendongakkan kepala. Menatap aneh sosok misterius orang yang mencoba mengakrabkan dirinya denganku. Merangkulku. “Aku tidak bermaksud menyalahkan mu… Tapi kau ada di balik alasan kejadian ini. ” Kami kembali masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu lagi. Namun, Adrian berbelok ke dapur untuk mengambil kudapan.


“Aku pulang.” Sesorang yang barusan meletakkan sepatunya ke sudut didekat pintu masuk. Ia termagu kaget dengan keberadaanku. Aku menatapnya. “Oh. Kau datang lagi.”


Aku tersenyum mengiyakan.“Loh, Adrian mana? Kok dia ninggalin kamu sendiri?” Tanyanya peduli dan menghampiri ku.


“Dia lagi di dapur.” Singkatku, Aku menatapnya. Aku masih belum percaya kalau dia benar-benar tidak mengingatku.


“Emm, bukannya kamu temannya Rian? Gak enak kalau ngobrolnya disini. Kenapa gak ngobrol diruang keluarga?” Ujarnya menyarankan.


Ternyata dia canggung dengan tatapanku. Aku tersenyum melihat gelagatnya yang seperti itu. “Ayo…” ajak Olivia menuju ruangan keluarga. “Setiap ada tamu keluarga, kami jarang mengajak mereka untuk mengobrol di ruangan tamu. Ruangan keluarga lebih hangat dan lebih santai untuk mengobrol.” Jelasnya yang membuatku menggangguk.


“Maaf kalau kemarin aku membuat mu takut. Dan memaksa mu untuk mengenalku.” Kataku. Olivia tertegun mendengar permintaan maaf itu, lalu tersenyum.


“It’s ok... Rian juga sih gak kasih tahu kalau kamu temannya. Maaf juga kalau aku bertindak tidak sopan kepada mu.” Dia membuka pintu ruangan keluarga yang bernuansa klasik itu. “Masuklah…” tawarnya lagi.


Aku menatap ke depan seketika pintu di buka. Mataku membesar, tidak percaya dengan apa yang kutatap. Ruangan ini sungguh rapi, bahkan ada sebuah perapian kecil di tengah ruangan. Ada juga rak buku yang terisi penuh. Ada sebuah piano dan juga— Bukan, bukan interior. Melainkan foto berukuran besar terpampang di depan sana, tepat sejurusan dengan pintu masuk ini, menarik perhatianku. Foto itu, membuatku sungguh tidak percaya. Seakan kedatangan ini tidak ada artinya. Ingin rasanya aku memutar langkah kaki ku. Tapi langkah itu tidak bisa di gerakan ketika Olivia memulai percakapan lagi.


“Maaf kalau Foto itu menganggu mu.” Ujarnya tersenyum malu—hampir tertawa.


Mudah saja bagi dia tersenyum, tapi bagaimana dengan ku? Aku binggung, seakan memutar waktu hanya menemukan dia yang kini bahagia dengan apa yang di rasakannya sekarang, bukan karena ku. “Ah, tidak. Aku menyukai foto itu. Kalian terlihat serasi sekali.” Aku membohongi diri. “Kalian pacaran?”


“Haha… Kau bisa saja. Kami tidak pernah pacaran. Dan syukurlah kami berdua mempunyai tujuan yang sama.”


“Umm?”


“Aku sudah merencanakan untuk menikah di umurku yang berusia dua puluh enam tahun ini.” Tersenyum memandangi fotonya. Aku tidak berkedip menatap wanita yang berada di sampingku, aku penasaran dengan kelanjutan ceritanya—Seorang yang membuat hatiku tertuju ke negara ini—kini aku menyadari, aku benar-benar mengunjunginya karena aku mencintainya. “Kami memutuskan untuk bertunangan bulan ini. Dan akan menikah dua bulan setelahnya. Yah, terhambat karena urusan pekerjaan—keinginan ku terkabul.” Dia tersenyum menatapku.


Aku tersedak, batuk, dan kaget—Matanya seakan menyentuh jiwaku dengan rasa bahagianya. Perasaan ini sulit sekali untuk ku sembunyikan—tapi aku tidak menyukai kebahagian itu.


“Ada apa? Apa kau perlu minum?” Tanya Olivia polos.


“Tidak, aku kemasukan debu.” Kembali fokus dengan pembicaraannya.


Olivia memandangi sekelilingnya. “Maaf, beberapa hari ini aku tidak membersihkannya. Mungkin kita lebih baik ngobrol diluar saja.”


Aku menggeleng. “Ah, tidak apa-apa aku ingin mendengarkan ceritamu lagi. Umm, Adrian tidak memberi tahu ku tentang itu.” aku kembali berbohong untuk mengetahui lebih lanjut ceritanya.


“Oh, ya? haha. Aku rasa kau orang yang pertama tahu…Maklum lah, kau tau sendiri Adrian seperti apa…” Seperti apa? Bahkan aku baru saja bertemu dia. Kepalaku semakin mau pecah saja bertemu dengan orang-orang seperti mereka. Seakan bermain ala detektif, aku harus menebak teka-teki seperti ini. Gila, aku bisa gila jika terus-terusan terbawa arus bersama mereka, tapi aku harus lebih dulu menyelamatkan Olivia. Olivia, kenapa dia senang bermain arus seperti ini?


“Oh, iya… dia sangat menjaga rahasianya, bukan?” Ujarku sok tahu.

__ADS_1


“Umm… begitulah. Awalnya sih… Aku tidak mengerti dengan perasaan ku. Semenjak tiga tahun belakangan, semenjak aku tinggal dirumah ini.” Ia mengajak ku berkeliling ruangan ini. “Ya, saat itu aku disuruh bibi membersihkan kamarnya. Dan menemukan buku hariannya. Dan disitulah aku mengetahui isi hatinya. Aku tidak menyangka kalau dia memendam perasaannya selama tujuh tahun ini.” Ujarnya tersenyum. Aku kaget dan hampir menjatuhkan boneka lilin kecil yang ku pegang dari rak.


“Hati-hati, kau akan mematahkan badannya.” Ujar Olivia mengingatkan.


Aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Rasanya aku ingin marah. Terutama aku sangat marah dengan diriku sendiri. Pantas saja Adrian menatapku dengan penuh kebencian. “Tujuh tahun?”


“Sttt…diam-diam saja, jangan katakan kepadanya bahwa aku menceritakan ini kepada mu. Sungguh, aku tidak berminat membuka buku itu. Tapi rasa penasaranku menggangguku.”


“Tujuh tahun ya… cukup lama untuk menunggu. Lalu kenapa kalian tidak pacaran? Apa kau tidak takut jika dia memiliki status hubungan dengan orang lain.” Pancingku.


Olivia tertawa. “Hahaha… status ya? Aku mencintainya karena aku mengenal tuhan dari dia. Setahun kemarin aku rasa hari itu aku akan mati. Tapi karena kehadirannya aku rasa hidup ku akan bertahan—Aku hanya meyerahkannya saja kepada tuhanku apapun hasilnya. Dan kami hanya berusaha mempertahankan hubungan ini.”


“Tapi bukankah itu menyakitkan jika suatu saat kau mengatahui dia bersama perempuan lain.”


“Sakit pasti ada. Kau pasti tahu, hati manusia, kan? Meskipun kau mencintainya. Kau juga tidak berhak memaksanya untuk mencintai mu juga. Berarti hati itu bukan milik ku. Meskipun kau menangis darah, bahkan mengancam diri mu untuk melakukan hal gila sekali pun, kau salah besar! Karena ada satu hal yang belum kau tahu. Dan perlu kau pahami. Apa kah kau memang mencintainya atau sekedar obsesi dan nafsu semata? Hidup itu simple kalau kau berpikir secara dewasa. Tuhan sudah menggaturnya.”


“Ya. Aku baru menyadari itu sekarang. Aku tidak pernah berpikir seperti itu.” Ujarku sok.


“Haha, masa? Yah, Aku salut dengan penantian itu. Awalnya dia marah sekali ketika tahu aku masuk ke dalam kamarnya. Tapi tidak ku sangka di saat itu juga dia memutuskan untuk menikah denganku. Itu sebabnya ku beranikan diriku. Aku menerima lamarannya. Haha… aku malu. Andai aku bisa sepertinya, yah.”


Kau bahkan lebih darinya, Olivia. Gumamku lirih dalam hati. “Ah, kau beruntung mendapatkannya. Kalian sangat cocok.” Lagi dan lagi aku membohongi diri. Aku benar-benar sangat marah. Aku benci dengan diriku—dan kenyataan ini.


“Oh ya… benarkah? Aku juga berharap seperti itu.” Tertawa. Tapi kenapa bibi mu justru tidak menceritakan hal ini kepada ku saat itu?


Tiba-tiba Adrian muncul dan memegang tangan Olivia erat. Ia menatap wanitanya itu dalam-dalam, untuk pertama kalinya aku terlibat hal seperti ini. “Kenapa kau pulang di jam seperti ini?” tanyanya dengan wajah dinginnya mentap Olivia.


“Aku sedang tidak enak badan.” Jawab Olivia tersenyum.


“Aku ingin berbicara berdua saja. Bisakah kau meninggalkan kami berdua? Dan lebih baik kau istirahat.” Ujarnya lembut, berjaga tidak menyakitkan perasaan orang yang dia sayangi. Ya, aku rasa seperti itu.


“Baiklah…” Tersenyum lalu meninggalkan kami berdua didalam dan menutup pintu dengan rapat.


#Olivia


Semenjak kehadiran orang itu, Adrian menjadi aneh. Dia banyak berdiam diri dengan tatapan yang kosong. Aku menjadi khawatir dengan perubahannya yang mendadak seperti itu. Karena perasaan tidak tenang seperti ini. Aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Dan anehnya lagi, yang aku tahu dia akan segera mengunjungi rumah sakit di pagi hari lebih awal. Namun hari ini dia memutuskan untuk tidak pergi. Di satu sisi aku berpikir dia masih khawatir dengan keadaanku yang kembali drop karena penyakitku.


Dia juga makan lebih sedikit dari biasanya, tidak ikutan mengobrol dengan ku dan bi Arum. Aneh, matanya menampakan sesuatu—apa yang dipendamnya?


Sebenarnya dia tidak tinggal serumah dengan ku dan bi Arum. Dia memilih tinggal di tempat prakteknya yang berdekatan dengan rumah sakit tempat dia bekerja. Dia memilih pilihan itu, karena dia sering di butuhkan dirumah sakit. Rumah sakit yang begitu besar membuatnya sibuk dengan rutinitas harian yang tidak henti-hentinya bahkan tidak mengenal waktu untuk memanggilnya. Ya, aku menyadari hal itu. Ketika dia memutuskan untuk menginap di rumah, keputusan itu membuat ku semakin mencemaskannya.


Hari ini aku hanya bertahan dua jam di kantor. Sesampainya dirumah, aku kaget dengan seseorang yang lagi-lagi membuatku mencemaskan Adrian. Kami sempat berbincang-bincang dan aku membawanya masuk kedalam ruang keluarga. Karena Adrian masuk saat itu, membuat perbincangan kami terhenti begitu saja. Adrian menatapku tidak seperti biasa. Sorotan matanya menegaskan ku suatu hal. Aku tidak mengerti.


Aku menceritakan hubungan ku dengan orang asing itu, menceritakan awal pertemuan ku. Menceritakan perasaan Adrian kepada ku… Aku teringat kembali saat pertemuan pertama ku dengan Adrian, terutama mengetahui perasaaan Adrian kepada ku pertama kali. Hanya saja aku tidak menjelaskan bagaimana detail cerita itu kepada orang asing itu, kedatangan Adrian mencegah ku untuk menceritakan hal itu. Aku tidak tahu kenapa aku begitu santai menceritakan privasiku ini kepada orang yang baru aku ketemui bahkan ku tolak diawal.


***


Suatu hari, saat menunggu kepulangan pamannya. Adrian mendengar suara tawa yang mengiringi kepulangan pamannya kerumah. Tawa itu—dia mencari tahu siapa yang pulang dengan pamannya. Ya, seorang perempuan muda dengan senyuman manis mengiringi langkah kaki yang akan memasuki pintu masuk rumah yang dia tinggali. Di balik tirai di ruang keluarga, Adrian memantau gerak-gerik perempuan itu. Seribu pertanyaan muncul, hingga pertanyaan itu terjawab. Dia bukan orang yang akan mendampingi ku. Justru aku sangat senang jika dia mendampingi mu. Ujar pamannya saat dia mencari tahu siapa perempuan itu kepadanya.


Hari demi hari dipantaunya perempuan itu, namun tak sedikitpun di tunjukkannya dirinya kepada perempuan itu sampai akhirnya dia kembali lagi ke Beijing.


Satu foto yang di dapatkannya secara diam-diam. Kabar yang tak pernah ditanyakan yang selalu saja datang membuatnya kembali semangat. Dan penantian yang tidak tahu akankah terbayarkan. Dia menggelak kenyataan itu di dunia nyata. Namun, fantasinya masih mengembara jelas tentang perempuan itu. Tentang senyuman, semangat dan sorot mata itu. Dia jatuh cinta, atau hanya sekedar menyukai. Tak satupun yang mengetahui tentang ini kecuali buku harian yang disimpannya dalam suatu tempat yang tak akan dicari orang lain. Dia dingin, disembunyikan seluruh rahasiannya. Dia hanya membekukan perasaan itu, di tempat yang paling aman.


Beberapa tahun kemudian. Perempuan itu benar-benar hadir dikehidupannya. Masih disembunyikkannya semua rahasia yang dia miliki tentang perasaannya kepada perempuan itu. Perempuan itu berbentuk nyata di kehidupannya—setelah mendapat kabar jika perempuan itu akan datang mengunjungi bibinya di Beijing. Menemani, bekerja serta melanjutkan kuliahnya di Beijing—Adrian hanya diam, tak mau tahu atau mempermasalahkan. Hanya kata ‘iya’, antara iya terpaksa dan iya bahagia akan kehadiran perempuan itu.


Setahun, dua tahun bahkan tahun-tahun berikutnya… Mereka masih tetap sama, saling dingin sejak kedatangan perempuan itu pertama kali—Masih tetap menjadi orang asing, walau diam-diam mencoba untuk mengakrabkan diri, yang terasa aneh—Penyesalan selalu saja timbul di kepala Adrian. Tapi tak berani diungkapkannya. Toh, dia juga tidak pernah bertemu dirumah karena rutinitas hariannya. Hingga suatu hari…


Tujuh tahun, tepat saat kecelakaan itu. Semua berubah….


Ternyata perempuan yang di maksud itu adalah aku. Dia juga menuliskan bahwa aku telah membuat hidupnya berwarna. Aku sangat senang dengan hal itu. Aku mengira dia tidak menyukai kehadiran ku dirumah ini. Namun karena buku harian itu, aku lebih banyak tahu sekarang mengenai hidupnya yang misterius itu.


Dan karena kecelakaan yang menimpa ku itu juga lah yang membuat hubungan kami menjadi lebih akrab. Tanpa ku sadari, kedua orang tua ku sudah menyetujui hubungan kami. Hari-hari yang sangat indah untuk diingat. Dimana ada canda-tawa. Bahkan di setiap pergantian musim kami tidak kehilangan satu momen pun untuk mengabadikannya. Disaat musim semi, musim salju, bahkan musim gugur. Dan ternyata selama itu lah dia secara diam-diam memendam perasaannya untukku. Dia sangat senang ketika pertama kali aku menyentuh salju. Karena saat itulah aku pertama kali tersenyum dan mulai berkomunikasi dengannya. Walau tetap saja kami tetap dingin hingga kecelakaan itu terjadi.


***


#Kenzie


“Seharusnya kau tidak memasuki ruangan ini. Tapi, apa boleh buat kau sudah berada diruangan ini.” Ia menyodorkan segelas cappuccino hangat kepada ku. “Kau pasti kaget dengan Foto itu, kan? Aku juga tak percaya bisa berpose seperti itu.” akunya memandangi Foto mereka berdua berlatarkan taman sakura. Dimana Adrian sedang berada di depan Olivia, pose itu sangat dekat. Bahkan hanya menghitung berapa senti saja. Foto itu menunjukan keromantisan mereka. Pose yang sangat-sangat—badan mereka hanya berjarak berapa senti saja. Membuat orang yang melihat akan iri dengan pose itu. Dimana mata Rian tertuju pada Olivia, menatapnya sangat dalam. Sedangkan Olivia menatap kelain arah di depan sana, Adrian memegang pinggangnya Olivia—Tapi itu hanya sebuah pose dalam foto.


“Kami sering kali membuat keisengan, hingga iseng-iseng membuat foto seperti itu—Tak pernah ku sangka kau akhirnya akan datang—sebenarnya kami memutuskan untuk segera menikah. Tapi aku mempunyai firasat, kau akan datang dan merusaknya. Itu mengapa aku memberikan jeda untuk tunanggan kami. Aku ingin lihat apa firasat dan permainan itu akan terjadi. Permainan apa yang akan kita mainkan? Ternyata firasatku tepat, bukan? Kau datang…”


Aku hanya memandangnya, menunggu penjelasan selanjutnya. Dengan penuh penasaran. Dan aku sungguh tak mengerti dengan cara berpikir orang ini.


“Kau datang, akan memperburuk keadaan.” Sambungnya.


Arrrgggh...Kenapa kau membuatku penasaran dengan hal semacam itu. Apa lagi maksud orang ini. Membuatku binggung saja. Desahku kesal dalam hati.


“Bagaimana menjadi orang yang penasaran? Sakit bukan? Seperti itulah Olivia—Aku harap kau segera pulang untuk mengakhiri semuanya.”


Kau bisa membaca pikiranku? Ah, orang ini!


“Sudahlah, aku bukan seperti mu. Yang selalu memberikan harapan dan membuat orang akan penasaran dengan diriku.” Ia menatap ku dalam-dalam. “Aku memutuskan menikah, secara baik-baik dengan dia. Tanpa ada pemaksaan.” Berjalan menuju arah jendela.


Aku mengamati isi ruangan ini. Dan selalu saja tatapanku mengarah ke Foto itu, Foto mereka berdua. Aaah… begitu meyesakkan dada ini. “Apa tujuan mu kesini?” Dia hampir membuatku jantungan saat mataku masih membeku kearah foto itu.

__ADS_1


Sejenak aku menoleh kearahnya, tersenyum. Membayangkan sesuatu yang sudah lama. “Secara fisik dia sangat jauh berbeda dengan sekarang. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa berubah.” kataku pelan. Tiba-tiba saja bayangan masa lalu ku terajut kembali…


Aku menyadarkan diri dari lamunan.


Ku lihat Adrian menatap keluar jendela. Wajahnya yang teduh, tapi menyimpan kebencian kepadaku. Salah satu tangannya masuk kedalam saku celananya.


Ruangan ini semakin sunyi, hanya ada kami berdua didalamnya—Menghayati suasana keheningan, tanpa ada yang menganggu satu sama lain. Tidak ada angin yang mengusik, tidak ada suara yang mengacaukan pikiran kami.


“Aku harap kau tidak mengacaukan segalanya alih-alih masa lalu.” Ujar Adrian datar penuh harap dari posisinya, dia belum menoleh kearah ku.


“Aku kesini, bukan ingin mengacaukan rencana mu. Tapi aku akan mencegah rencana licik mu itu. Jika aku ikhlas dengan kenyataan ini—Aku tidak akan ada disini sekarang.” Aku mengembungkan pipi dan membuang nafas kesal lewat mulut. “Dia sudah lama ku kenal sebelum kau mengenalnya. Dan aku tahu, apa yang membuatnya pergi saat itu.”


“Kau terlalu percaya diri. Dia tidak pergi. Dia hanya ingin tenang, terutama dia ingin menghapus ilusinya tentang mu...” Adrian berjalan kearahku, tersenyum menyunggingkan bibirnya. “Sekarang aku tanya, sekali lagi. Apa tujuan mu kesini menemuinya?” berhenti di depan ku.


“Bukankah dia mencintai ku?”


Adrian tertawa. Sepertinya dia mengolok-ngolok ku. “Itu sudah lama, sebelum dia melupakan mu. Jauh sebelum dia mulai memutuskan—Jauh, ketika harapan itu kosong. Keajaiban itu tidak datang. Dan kenapa kau membiarkannya? Terlalu naif untuk tahu? Bukankah kau sudah lama tahu tentang perasaanya?” Suasana ruangan ini menjadi kurang nyaman. “Apa kau mau menyeretnya, dan mengingatkan semua masa lalunya. Sudahlah, hilangkan harapan kosong mu itu.”


“Aku ingin menyelesaikan masalah itu. Masalah ku dengannya. Jangan ikut campur.” Aku menghela nafas. “Aku tak menyadari jika dia menunggu selama itu. Aku tidak tahu jika itu adalah kebenaran.” Aku bergumam pelan.


“Sudahlah, kau seharusnya percaya dengan ku. Dia sudah melupakan mu. Jauh, sebelum dia mengalami kecelakaan itu.”


“Atas dasar apa kau berkata seperti itu!” Aku menatap mata orang itu penuh amarah.


Dia memegang pundak ku, sorotan matanya berubah. Sangat teduh. Dia menarik nafas, mencoba untuk tenang. “Apa kau mencintainya?” tanyanya membuatku tertegun mendengarnya. Dia menundukkan kepala sejenak. Dan kembali mendongakkan. “Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. Tidak ada maksudku untuk memusuhimu. Ini demi kebaikkannya. Ku mohon menjauhlah. Kau tahu sendiri, semua orang pasti mempunyai harapan. Tapi itu bukan berarti untuk menjebak dirinya sendiri kedalam kerangkeng harapan yang tak akan pernah terbuka, jika bukan dengan orang lain yang membantu mu, bukan? Dan aku akan menjadi orang yang akan membuka kerangkeng itu demi Olivia.” Suaranya lemah.


Aku tertawa, melepaskan peganggan itu. Ini benar-benar seperti lelucon. “Aku sudah membiarkannya selama ini, tak akan ku biarkan dia lepas lagi. Tak mudah untuk saat ini, tak mudah saat ku tahu jika itu dia... Aku akan membuatnya mengingat kembali!”


“Kau sangat egois… Tidak banyak yang harus ku katakan kepadamu. Dia sudah melupakan mu. Jangan buat dia terpuruk lagi. Biarkan itu menjadi masa lalunya. Dia sudah berjalan menuju masa depannya. Cinta itu bertepuk sebelah tangan. Mungkin saat itu dia terlalu percaya diri dan merasa kau juga mencintai, hingga dia menunggu mu selama itu—Kau seperti anak kecil saja. Lupakan lah.” Ujarnya masih tetap tenang.


“Aku egois?” tersenyum simpul. “Bukannya kau! Bukannya kau ingin menikah dengannya? Dan membuatku menjauh darinya, orang yang selama ini dia nanti. Itu aku! Masa depannya sudah jelas.”


“Karena kehadiranmulah yang akan membuatnya terpuruk lagi. Kau mengacuhkannya? —Semuanya terlambat. Ini demi kebaikannya. Huh! Sebentar…” Ujarnya meninggalkan ku sejenak. Sendiri dalam keheningan ruangan ini.


#Olivia


Aku penasaran dengan kedua orang ini. Setelah berganti pakaian aku mencoba mengguping pembicaraan mereka. Karena pintu ruangan keluarga yang begitu tebal membuatku kesulitan untuk mendengar percakapan mereka. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar.


Tidak berapa lama, ku dengar suara pintu ruangan keluarga terbuka. Aku bergegas masuk ke dalam kamarku. Agar tidak dicurigai.


Derap langkah Adrian dengan cepat menyusuri anak tangga membuatku bertanya-tanya. Jarak kamar kami tidak jauh. Namun pintu kamarnya terbuka agak kasar membuat pertanyaan di kepalaku semakin bertambah. Aku berjalan perlahan-lahan menuju kamarnya. Mengintipnya dari pintu yang tidak tertutup. Aku melihatnya membuka lemari pakaian dan mengeluarkan pakaian yang terlipat di rak baju bagian bawah. Lalu mengambil sebuah pengaris besi tebal. Aku melihat dia mencongkel sisi lantai rak dan mengeluarkan papan. Eh? Tunggu! Dia mengambil dua buku bersampul biru tua dari dalam. Aku baru tahu kalau dia menyembunyikan sesuatu di dalam sana.


Ia membuka buku itu sejenak. Mengecek dengan pasti. Hanya satu yang dibawanya. Satunya dibiarkanya di atas tempat tidur.


Ia keluar kamar dengan buru-buru—Aku bergegas masuk kedalam kamarku kembali sebelum dia memergoki ku sedang mengintipnya. Ah, dia benar-benar membuatku penasaran. Setelah merasa aman. Aku kembali turun mengecek keadaan di bawah.


#Kenzie


Tidak lama kemudian dia kembali menemuiku. Ia menatap sangat dalam, melangkah dengan pasti mendekati ku. “Kau mau tahu kenapa ia menjauhi mu, melupakan mu. Aku harap kau sadar, dan menjauhlah. Dia sudah lama tidak mengharapkanmu. Dan dia juga yang sudah memilih jalannya untuk melupakanmu.” Memberikan buku bersampul biru tua itu, dia mendengus kesal. “Ini alasan ku menyuruhmu datang kesini. Walau hanya sehari kau akhirnya mengetahui seperti apa perasaanya tentang mu, bukankan itu sudah membayar perasaanya? Aku mewakilkannya, terima kasih untuk kehadiranmu yang hanya sebentar. Jangan datang kesini lagi. Kumohon. Demi dia. Semoga ini bisa membayar perjalanan mu. Pergilah…jangan meninggalkan jejak. Jangan merasa bersalah. Tidak ada yang bersalah… sudah waktunya kau pergi.”


“Apa ini!” Aku mengamati sampul buku itu.


Adrian terdiam sebentar. Dia tersenyum. “Pergilah, sudah saatnya dia tenang. Tidak seharusnya dia memikirkan mu selamanya. Kau akan tahu semuanya disini. Dan ku harap kau akan puas. Terima kasih kau sudah mau menyadari bahwa dia mencintai mu. Akan ku sampaikan kepadanya suatu hari nanti…Atau tidak akan pernah.” Menepuk buku yang kupegang.


Aku menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Aku tidak bisa melupakannya, dan aku tidak akan melepaskannya.” Ancamku, melangkah keluar ruangan. “Aku akan kembali setelah membaca buku ini.”


Aku berpapasan dengan Olivia ketika keluar dari ruangan, aku mencoba tersenyum dibalik kekelutan perasaan yang tidak dapat ku mengerti ini. Aku mengangkat buku yang Adrian berikan, memberikan sapaan, lalu tersenyum. Aku langsung meninggalkan kediaman itu. Kaki ini sebenarnya ingin berada lama dirumah itu, tapi sambutan sang pemilik sepertinya tidak membuatku berada lama disana. Aku berjalan pulang menuju hotel, membuat jejak di hamparan salju yang menutupi jalanan. Pikiran ku goyah, seakan ada yang disembunyikan pria itu.


***


Aku mengosok-gosok kedua tanggan, mencoba mendapatkan kehangatan dari itu. Aku duduk di balkon kamar hotel. Hotel yang tidak telalu mewah. Namun aku menyukai interior dari hotel ini.


Suhu, mulai beranjak turun lagi, aku membungkus diri dengan selimut tebal yang di sediakan oleh hotel. Aku megambil ponselku dan mengetikan sesuatu.


š………………………………………………………………………………………………


Aku: Aku sudah bertemunya beberapa hari ini. Terima kasih, infomu mendukung. Ada hal yang penting yang harus kau tahu.


………………………………………………………………………………………………………………


Aku mengirim pesan ke Terfin. Butuh beberapa menit menunggu balasan darinya. Nada dering ponselku berbunyi, ada pesan masuk.


š………………………………………………………………………………………………


Terfin: Bagaimana keadaannya, apakah kau berbicara banyak dengannya?


Aku: Sambutan yang cukup berkesan.


Terfin: Oh, ya? Aku penasaran mendengarkan cerita mu.


Aku: ……


…………………………………………………………………………………………………

__ADS_1


Aku binggung untuk berkata lagi. Dan hanya megirimkan pesan kosong.


***


__ADS_2