Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Zero


__ADS_3

#Olivia


 


 


Badan ku serasa di bekukan. Seluruh tubuhku terasa begitu pegal karena tidur terlalu lama. Ketika aku membuka mata ku pertama kali, Aku sadar aku berada dimana— Kulihat kedua orang tua ku yang terlelap di sofa. Teryata Azira juga datang ke Beijing hanya untuk menjengukku. Dan satu lagi. Adrian berdiri di samping ku dengan senyum bahagianya.


 


 


Dia tersenyum, tapi kali ini dia tidak bisa meneyembunyikan tubuh lemahnya itu. Adrian mengelus rambutku pelan.


 


 


“Apa kau tidak merindukanku? Kenapa kau tidur lama sekali sih.” Ujar Adrian lembut.


 


 


“Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau membohongi dirimu?” Air mataku jatuh. Suaraku parau dan lemah. Aku yakin suara ku tidak didengar oleh mereka bertiga. Ku jaga suara ku. Aku tidak ingin membangunkan mereka terlebih dahulu.


 


 


Adrian menghela nafasnya lalu memegang tangan ku yang masih terhubung selang infus. “Aku tidak pernah membohongi diriku—Jangan seperti ini lagi. Aku tidak ingin melihat mu tidur sangat lama dan meninggalkanku sendirian.”


 


 


“Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku.”


 


 


“Karena aku tidak ingin hal ini terjadi. Tapi bagaimanapun caranya semuanya telah terjadi.” Jelasnya yang sudah mengerti maksudku.


 


 


Aku terisak. Mencoba mengontrol suara ku. “Masa laluku sangat suram, kotor. Kenapa kau mempertahankannya, kenapa kau menyembunyikannya. Hubungan seperti ini tidak akan baik nantinya. Seharusnya kau tidak hidup dengan ku yang kotor ini.”


 


 


“Kau tahu berapa lama aku memikirkan perkataan untuk menjawab kenyataan itu?” Aku mengeleng setengah terisak. “Aku tidak pernah memikirkan satu perkataan pun mengenai hal ini.” Dia terdiam memegang tangan ku erat dan lembut.


 


 


 


 


#Kenzie


 


 


“Aku memimpikannya semalam sebelum aku mengetahui dia menjalani operasi dan koma.” Kataku kepada Angga yang barusan saja menghirup teh hangatnya. Kami sedang menenangkan diri di sebuah cafe tidak jauh dari rumah Olivia.


 


 


Angga mengunci tatapannya kearahku. Dia siap mendengarkan apa yang akan ku katakan.


 


 


“Aku bermimpi dia datang dan mengatakan dia harus pergi. Yang aku tidak mengerti kenapa dia mengatakan dia juga akan kembali. Dia berkata seharusnya semuanya tidak terjadi dan kami seharusnya tidak bertemu lagi. Aku juga tidak tahu apa maksudnya— Apalagi Bi Arum, menyalahkan ku begitu juga Adrian.”


 


 

__ADS_1


“Itu hanya bunga tidur. Kau tidak seharusnya memikirkan mimpi mu. Lebih baik kau makan. Wajah mu pucat sekali.”


 


 


 


 


#Olivia


 


 


Adrian kembali menatap ku. “Masalah di masa lalu mu adalah urusan mu. Maaf aku telah membacanya. Membaca diary mu. Humm… Aku berjalan untuk masa depan. Bukan kembali ke masa lalu. Sekotor apa yang kau pikirkan, lihat lah. Masa depan mu masih suci. Masalah masa depan mu... itu hak ku—Aku ingin menikahi bukan karena hal...” Dia terdiam. “Aku akan menikahi mu Olivia, dengan alasan yang sulit ku jelaskan. Meskipun bibirku menjelaskan kepada mu, itu tak sesuai dengan apa yang ada di hati dan di otakku. Aku mencintaimu.”


 


 


Air mataku jatuh semakin deras. “Tuhan saja membenci ku.”


 


 


“Tuhan akan sangat membeci ku juga, jika aku membiarkan mu terpenjara dengan rasa terpurukmu. Dan tuhan akan sangat marah jika aku melanggar janjiku. Aku sudah berjanji dengan diriku. Keluarga mu dan dirimu. Aku tidak menuntut apa pun dari mu. Aku merasa sempurna jika kau bahagia. Aku tidak ingin kau terjebak seperti dulu. Ku mohon bertahan lah. Aku akan berusaha keras membuat mu bahagia. Aku akan menuntun mu menemukan jalan ke surga, bersama ku.”


 


 


Tidak ada kata-kata lagi yang bisa aku balas dari ucapannya. Aku hanya menangis di atas tempat tidur ku. Aku bersyukur dia mau menghapus air mataku.


 


 


“Maafkan aku...”


 


 


“Stt...!!! Bukan kah kau tidak ingin membiarkan keluarga mu terbangun apalagi di saat kau menangis seperti ini.” Ujarnya tersenyum. Dia mencoba menyemangatiku.


 


 


 


 


Siang ini keadaan kamar rawat inap ku sangat sepi. Adrian sedang memeriksa laporan perkembangan ku di laboraturium rumah sakit. Sedangkan bi Arum kembali kerumah untuk menyiapkan perbekalan. Aku juga sempat berbincang-bincang dengan Papa, Mama dan Azira. Aku menyuruh mereka membeli beberapa baju. Karena aku tahu mereka sama sekali tidak membawa baju ketika ke Beijing. Sedangkan Kenzie dan Angga sedang berada di bangku taman rumah sakit sedang termenung. Terlihat Angga yang sedang memegang ponselnya—Ketika aku berjalan menuju jendela, dari sinilah aku melihat mereka.


 


 


Aku juga belum berbicara dengan mereka. Aku sengaja berpura-pura tertidur ketika mereka datang ke kamarku. Aku tidak ingin terlibat banyak dengan mereka, terutama Kenzie.


 


 


Aku sangat menyesal mengetahui dengan pasti dia datang kemari. Seharusnya dia tidak kemari dan berada disini. Aku tahu, dia tidak bisa mengatakan apa yang ingin aku dengar. Begitupun aku, aku tak bisa mengatakan apa yang ingin ku katakan kepadanya. Aku sudah melewatinya, aku sudah melewati kehidupanku.


 


 


Titik kritis itu.


 


 


Terkadang diam itu bahasa cinta. Dan sekarang, diam itu telah menghilangkan cinta ku...


 


 


 

__ADS_1


 


Tepat pukul tujuh malam pagi ku rasakan badan ku sangat dingin. Ku dengar monitor di samping ku bersuara tidak seperti biasanya. Ada beberapa dokter termasuk Adrian mengelilingi ku di tempat tidur. Sebagian mengecek monitor dan sebagian lagi memeriksa kondisi tubuhku. Ku rasakan jantungku berdetak tidak beraturan. Saat itupula ku lihat Mama menangis sambil memeluk Azira di luar, tepat di depan pintu kamar. Ku lihat wajah Papa yang sangat cemas sambil melipat tangannya melihatku yang sedang di periksa oleh beberapa dokter. Aku tidak melihat Bi Arum, Kenzie dan Angga.


 


 


Pandanganku semakin gelap.


 


 


Kurasakan kantuk yang sangat luar biasa. Tidak banyak yang bisa ku lakukan. Aku hanya bisa mendengar suara-suara dokter yang semakin panik di sekelilingku. Perlahan, aku tidak bisa melihat apa-apa.


 


 


“Gege...” Panggilku. Aku tidak tahu Adrian berada dimana sekarang. Sesaat kurasakan tanganku ada yang mengengam.


 


 


“Aku disini...” jawab Adrian dengan suara khasnya. Dari suaranya aku bisa merasakan kekhawatiran. Dan dari itu juga lah aku merasakan dia mengengam tanganku.


 


 


“Pandanganku gelap. Aku tahu ini belum jam malam. Tapi kenapa aku sangat ngantuk?”


 


 


“Jangan tidur ya sayang...Tahanlah... Ku mohon jangan tidur.” Bisiknya. Suaranya bergetar di samping kupingku. Dia menggengam tangan ku semakin erat.


 


 


“Kenapa aku tidak boleh tidur. Aku sangat ngantuk sekali.”


 


 


“Jika kau tidur...” dia menarik nafas. “Kau tidak akan bangun lagi...” ujarnya. Tidak lama kemudian ku dengar suara dengungan panjang yang sangat nyaring di telingaku. Suara-suara yang semakin samar ku dengar. Pandanganku masih saja gelap. Bahkan aku tidak tahu apa aku masih terjaga atau sudah terlelap. Ku usahan diriku agar bisa terjaga. Namun rasa ngantuk semakin lama semakin menekan bola mataku.


 


 


 


 


#Kenzie


 


 


Aku tidur lebih lama dari biasanya. Tiga puluh dua jam ku habiskan waktu hanya untuk tidur. Tertidur dirumah sakit yang sama dimana Olivia dirawat. Hanya saja ruangan kami berbeda.


 


 


Tiga puluh dua jam itu berlalu, aku baru mengetahui bahwa tubuhku sedang di peluk dengan penyakit. Ini di karenakan aku tidak tidur selama berhari-hari dan juga tidak mengisi perutku. Setelah menyadari darah mengalir dari hidungku. Aku jatuh pingsan dan ternyata membuatku tidur selama tiga puluh dua jam ditambah lagi infus yang menancap di punggung tanganku. Dan membiarkan Angga menjaga ku seharian penuh.


 


 


Sebangunku dari tidur yang cukup lama ini, ku sadari bahwa ada dua orang yang sedang menjaga ku. Dia juga memberitahu kodisiku yang sangat buruk kemarin. Bi Arum dan Angga masih mengunci tatapannya kepada ku. Wajah sedih Angga sangat jelas terpancar dari wajahnya.


 


 


Aku tidak bisa melakukan apa-apa daripada merespon pembicaraan Angga dengan gumaman “iya”. Kepalaku masih terasa sangat sakit jadi ku putuskan untuk berbaring. Aku juga belum mendengar tentang kondisi Olivia. Bi Arum tidak mengatakan apa-apa tentangnya, begitu pun Angga.


 

__ADS_1


 


__ADS_2