
#Kenzie
Dia berbalik pada akhirnya, menatap ku sesaat. Matanya memerah saat itu. Ku kuatkan diriku. “Aku tahu ini sangat terlambat. Aku mencintai mu saat pertama kali kita bertemu. Hanya saja waktu kita saat itu berbeda. Aku tidak sanggup berkata hal ini kepada mu...saat itu. Maafkan aku.”
Dia hanya terdiam dan berlalu dari hadapan ku.
“Bisakah kau ucapkan selamat tinggal. Itu akan lebih baik.” Ucapku lagi saat dia tepat berada di sampingku. Namun dia benar-benar tidak berkata apa-apapun. Dia terus melanjutkan langkahnya. Hingga dari jauh aku melihatnya menghampiri... Adrian.
Adrian melingkarkan lengannya di tubuh Olivia dengan erat. Tidak lama kemudian ku lihat mereka berdua masuk kedalam mobil. Dan meninggalkanku sendiri.
Aku tidak bisa mencegahmu. Sama seperti saat kau pergi dahulu. Kau memang mengingikan itu. Seharusnya aku mengerti.
Aku menenangkan diri. Ini adalah jawab sebenarnya. Seandainya kau memberikan kesempatan, aku pasti akan menjelaskan bagaimana aku bisa membuat ini layak untuk waktu mu. Aku benar pergi kali ini, tidak akan kembali. Dan begitu juga dengan mu. Aku harap kau bahagia. Kau memang pantas mendapatkan itu.
Aku menarik nafas dan menguatkan untuk melangkah, namun aku tertatih. Air mataku tumpah.
Ini berakhir.
***
#Olivia
Dulu aku menaruh kepercayaan yang begitu besar padamu, tepat di dalam hatiku. Ini membuatku begitu percaya diri. Itu mengapa aku begitu mencintaimu. Tanpa sedikit pun meminta sekeping cinta darimu. Sampai hari dimana aku begitu benar-benar lelah dan harus mengakhiri segalanya. Hati ku hampa didetik itu, hampa oleh kekecewaan. Kekecewaan kepada mu... kepada mu yang mestinya aku ku cintai, tak peduli apa yang terjadi. Telah lama ku pendam rasa itu. Aku telah menunggu, menunggu hati mu menyambut diriku. Berharap kau memikirkanku, dan berharap rasa ini abadi untuk selamanya. Namun yang terjadi, aku tidak bisa mempertahankan cintaku. Aku juga bukan seorang pengemis cinta, itu sebabnya aku tidak butuh di kasihani dengan kehadiran mu saat ini. Dengan tujuan mu datang untuk mencintaiku yang hina ini. Aku selalu percaya bahwa hati ku ini benar. Kau memang mencintaiku.
Namun, aku berhenti. Aku bukannya berhenti mencintai mu... aku hanya memberhentikan kemampuanku, sampai mana aku bisa berhenti menunjukan bahwa aku mencintaimu.
Jika kau memang mencintaiku pada pandangan pertama mu. Kenapa kau abaikan rasa mu? Membiarkan ku berharap dengan kehampaan cinta yang kau torehkan. Aku juga ingin di cintai.
__ADS_1
Tak ada bahasa hati yang mampu mengatakan, tak ada bahasa yang mampu di mengerti, kecuali satu... bahasa saat kau bisa berhadapan langsung kepadanya. Di saat kau tak bisa bersuara ketika kau ingin memberitahu kau mencintainya. Dan lagi, bahasa itu hanya diam....
Aku percaya aku tidak hanya jatuh cinta sekali... dan itu mengapa aku belajar untuk itu. Aku belajar mencitai orang lain...
Aku sangat senang mengenal mu. Karena ada peluang terus bertemu dengan mu, memikirkan mu, dan mencintaimu. Tak pernah aku sesali. Sudah cukup untuk ku bisa mencintai mu. Sudah cukup untuk ku selalu memikirkanmu, menyebut nama mu. Sudah cukup bayang mu yang selalu hadir mengikuti ku dimana pun aku pergi, dimana pun aku berpijak.
Hari kemarin, dan hari ini kau telah membuktikannya. Aku senang. Mulutku yang telah terbungkam berapa belas tahun lamanya menahan rasa yang ada untuk di ungkapkan, akhirnya mengerti bahwa mulut ini memang tidak seharusnya terbuka. Cinta ku ini, rasa ku ini bukanlah hal yang tertinggal di masa itu.
Memang benar kata mereka. Di saat kau benar-benar lelah, kau baru melihat dan mendengar kata hati mu yang awalnya sudah memberi tujuan yang sesungguhnya. Tujuan yang pernah kau abaikan. Dan memang, hanya ada dua kemungkinan jika terlambat kau menyadarinya. Apa kau akan bahagiah atau terluka.
Seandainya...tidak ada Seandainya... Aku hanya berharap aku tidak ingin keajaiban seperti ini.
Apa kau sudah lelah, dan baru menyadari kehadiran ku?
Aku ingin kau tahu, bahkan hanya berharap saat itu kau merasakannya. Merasakan perasaan ku ini. Namun, pada kenyataannya kau hanya mengabaikannya. Dan aku memutuskan ini hanya perasaan ku saja.
Mudah.
Ternyata sangat mudah sekali untuk bisa menjadi bahagia. Dengan orang tertentu, segalanya terlihat lebih baik saat menghabiskan waktu bersamanya.
“Bisakah kau ucapkan selamat tinggal. Itu akan lebih baik.” Ujar Kenzie ketika aku berjalan tepat di sampingnya.
Itu kenapa aku tidak pernah mengucapkan kata "Hello" terlebih dahulu. Karena suatu hari akan berat rasanya mengucapkan kata "selamat tinggal". Sama seperti hari ini. Meskipun aku tidak pernah mengucapkannya, ini sangat berat untuk ku. Dan aku berharap kau bisa mengerti dan bahagia setelah hari ini.
Maafkan aku...
Tiang-tiang jalanan, pohon-pohon tampak kabur bagaikan lautan hitam yang mengambang di sekelilingku. Aku belum terbiasa berjalan dalam keadaan seperti ini, kepala ku terasa berat, tapi aku tidak ingin menghentikan langkah ku.
__ADS_1
Aku bisa merasakan kesakitan yang mendalam, atau, lagi ini hanya perasaanku. Inilah yang paling ku benci—Sebuah suara mengema di kepalaku… Aku seorang pencudang yang memulai permainan dan tak mengakhir dengan sempurna.
Kepala ku begitu sesak dengan harapan-harapan itu. Seandainya aku bisa berhenti mendengar, berhenti melihat apa yang aku inginkan. Mula-mula satu, kemudian kesadaran kedua memudar menjadi keheningan. Kenzie tertinggal di belakang ku. Tubuhku bergetar.
Air mata ku jatuh dengan deras ketika wajahku tak terlihat lagi olehnya. Ku coba menahan tangisan ku yang membuatku sedikit terisak. Aku tetap berjalan meninggalkannya. Meninggalkan Kenzie yang berada di belakangku. Aku berjalan ke arah Adrian yang baru saja selesai menelepon. Dia sudah sangat mengerti dengan keadaan ku yang menangis menghampirinya saat ini. Dia memelukku, meredakan tangisan ku. Aku terisak di dadanya.
Sekarang aku merasa jauh lebih baik. Bila harapan terus mendesak di kepalaku tentang dia, mungkin saja aku tak pernah kembali. Aku bukan orang pertama hidup kembali karena keajaiban setelah di vonis tidak akan bisa berhasil melawan penyakitku. Dan aku tahu mengapa, alasan yang tepat aku kembali, bertahan. Mungkin, kalau aku berhenti, menyerah, dan memilih untuk pergi, aku tidak akan pernah tahu bahwa aku mencintai orang yang selama ini mencintaiku juga…
“Maafkan aku. Aku tidak bisa mencegah tangis mu.” Bisik Adrian.
“Terima kasih. Terima kasih yang sudah mencintaiku. Aku akan belajar mencintaimu secara lebih... Maafkan aku karena menangiskan laki-laki lain di pelukan suamiku. Maafkan aku...” Aku sudah menikah dengan Adrian dua minggu setelah kedatanganku kembali ke Beijing.
Ku tatap sorot matanya yang mencoba tegar akan kondisiku yang seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa membohongi siapa pun lagi. Aku tahu dia sangat kecewa, aku berjanji tidak akan mengecewakannya lagi setelah hari ini. Sudah waktunya. Ku yakin kan diriku ku untuk bisa mencintai laki-laki yang berdiri di hadapanku. Untuk nafas baru dalam waktu yang sedikit...
***
Sembilan tahun lalu…
“Ini sudah lima tahun. Kenapa tidak kau ungkapkan saja?” Ujar Reisa, saat aku memberitahunya, aku masih menyukai Kenzie selama ini.
“Aku cewek, bukan takdirku untuk menghampirinya. Namun, jika memang aku menyukainya selama empat belas tahun. Aku akan mencoba mengungkapkan perasaan ku ini kepadanya.” Ujarku kepada Reisa di dermaga.
“Itu memerlukan waktu yang lama untuk menunggu, Vi… Bagaimana jika nanti, saat empat belas tahun dia sudah menikah?”
“Aku tidak menginginkan lebih darinya. Aku menyukainya, mungkin cukup untuk itu. Walau sangat menyakitkan. Setidaknya aku tahu apa yang harus ku lakukan selanjutnya, setelah aku mengungkapkan perasaanku kepadanya. Aku yakin, tuhan tidak akan mengerakkan satu hati saja. Jika memang kami berjodoh. Bagaimana pun juga aku harus tetap berjalan melanjutkan hidupku, meskipun tanpanya. Tuhan punya sekenario yang sangat indah, bukan?”
TAMAT
__ADS_1