
February 2004,
Mata ku baru terpejam, aku benci suara gaduh. Ingin aku marah. Tapi wajah itu membuat hati yang panas menjadi dingin. Mencair ...
Aku tidak mengerti dengan sikap mu. Kenapa aku yang harus mengeluh? Kenapa aku yang merasakan keanehan ini? Keanehan ini meninggalkan seribu pertanyaan yang tidak terjawab. Meninggalkan kegelisahan, keraguan.
Mengapa kau tersenyum? Oh ini kah senyum kebecian, menggejek? Kenapa kau salah tingkah di hadapan ku? Apa karena wajahku yang begitu menakutkan mu? Ada apa sebenarnya? Aku bukan siapa-siapa mu, kan? Bahkan kita tidak saling mengenal. Bersikaplah biasa. Aku juga akan seperti itu, aku bukan siapa-siapa mu. Jadi akan ku coba untuk biasa saja. Aku tidak tahu sebenarnya yang mana dirimu. Itu tatapan kebencian, atau kau memang membalas kisah ku. Sungguh aku tidak mengerti.
Apa aku terlalu menakutkan? Sehingga kau berlebihan seperti itu? Kenapa kau terlalu jujur dengan sikap mu? Bisakah kau berbohong? Buat hati ku menjadi baik. Ku mohon jangan seperti ini dengan ku. Ini menyakitkan. Kenapa tak kau katakan saja kalau aku harus menjaga jarak dengan mu! Setidaknya itu lebih baik, daripada kau bersikap seperti ini dengan ku.
Aku bukan monster!
***
Aku baru saja memejamkan mata. Sakit kepalaku datang lagi. Aku ingin tidur siang sebentar saja, merehatkan kepala yang terasa berat dari tadi. Apalagi nanti sore aku akan ada rapat kegiatan untuk besok hari.
Baru lima belas menit aku terlelap, suara gaduh terdengar di samping kamarku. Mataku terbuka. Hati mulai memanas ingin memarahi siapa yang berada di samping kamarku dan membuat kegaduhan. Hendak aku berdiri dan menyibak tirai kamar. Namun gerakanku itu terhenti ketika ku lihat seorang yang berdiri tepat didepan jendela kamarku. Orang itu sedang mengawasi kawan-kawannya yang sedang memanjat pohon rambutan yang tertanam disamping rumah tepat berada disamping kamar ku.
Aku kembali terduduk, memandangi orang yang berdiri itu. Entah kenapa kepala yang tadi berat kini tidak ku rasakan lagi.
“Adek mu mana Ki’?” Tanya Kiki berjalan mendekat ke posisi orang yang berdiri disamping kamar ku itu. Kiki mencoba mengintip di jendela ku yang terlihat gelap karena kacanya terbuat dari kaca gelap.
“Biasa, tidur siang. Jangan ribut!” Ujar Eky mengingatkan. Belum lama diingatkan, Kiki justru menempelkan tangannya ke jendelaku, mencoba mengintip kedalam kamar lagi. Eky melemparkan buah rambutan yang dipegangnya dan mengenai kepala Kiki. “Mau ku potong tuh leher. Awas nyoba-nyoba ngintip!”
Dia mengelus kepalanya yang terasa sakit karena lemparan yang tepat sasaran. “Sorry, kan pengen tahu.”
Sedangkan aku sudah bersembunyi di bawah selimut. Aku takut jika Kiki memang ingin mengintip. Sedangkan orang yang dari tadi berdiri itu memalingkan wajahnya ke arah jendela kamar ku.
Kenzie.
Aku tidak tahu mengapa dia hobi sekali bermain di dalam kepalaku. Dan sekarang dia malah muncul di depan mata ku. Cukup lama, bahkan dia tidak beranjak pergi dari posisinya. Aku menyempatkan untuk memfoto Kenzie saat itu. Aku tersenyum dan menyimpan foto itu di memori kamera ku. Kali ini aku kembali melanjutkan tidur dengan perasasaan bahagia sambil mengarah ke Kenzie yang masih berdiri di posisi semula.
Tepat pukul empat aku bergegas menuju ke sekolahan. Sebelumnya aku menyambar ponsel mama yang mangkir di meja ruang keluarga.
“Aku bawa hape!” teriakku ke mama yang sedang menyiapkan camilan untuk teman-teman Eky yang sedang bermain playstastion dikamarnya. Sejenak ku buka menu pesan, ingin meng-SMS Terfin. Namun ada yang aneh, tema dari ponsel ini agak berbeda dari biasanya. Tidak biasanya juga Mama senang menganti tema ponselnya.
“Hey!” tegur Eky yang barusan keluar dari kamarnya. “Itu bukan hapenya Mama.” menarik hape yang barusan ku gengam.
“Lalu?”
“Hapenya temanku. Entar telepon pakai hapenya Terfin aja kalau mau minta jemput. Hape mama aku pegang. Hape ku rusak.”
“Selalu….” eluhku, segera meninggalkan Eky.
Dua jam berlalu. Aku pulang kerumah bersama Terfin tanpa dijemput Eky. Aku melihat beberapa teman-teman Eky yang sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk keluar masuk, mengeledah disisi-sisi ruangan. Tapi, hanya satu saja yang sibuk bermain dengan ponselnya. Hanya Kenzie yang duduk di pagar rendah tetangga ku. Aku mengamati dengan jelas ponsel yang dipegangnya.
“Astaga… Itu hapenya? Hampir aja.” Gumam ku yang kebetulan terdengar oleh Terfin.
“Kenapa Vi’?”
__ADS_1
“Tadi salah ambil hape. Tahu-taunya hape tuh orang.” Memberi kode kearah Kenzie yang sedang duduk di samping rumah.
“Caiile… jadi senang nih?”
“Idih ogah.”
Malam menjelang, kawan-kawan Eky sudah pada pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap bermalam mingguan. Tapi ada sesuatu yang menganjal dipikiranku.
“Itu motor kok masih disini?” Tanyaku ketika melihat motor Kenzie yang masih berada di garasi rumah.
“Ah, kau gak tahu?” tanya Terfin balik. Aku hanya menaikan bahu. “Ternyata dari tadi mereka sibuk mondar-mandir itu, pada sibuk pada nyari kunci motor Kenzie yang hilang. Tadi si Bony yang kasih tahu aku. Kebetulan nanya juga sih… hehehe.” Jelas Terfin.
“Oh…” Tidak lama kemudian. Dua orang teman Eky datang.
“Vi’ bisa minta tolong gak?” Ujar salah satu rekan Eky.
“Umm...” aku mengiyakan.
“Ambil kunci motor dong di kamar Eky, di ventilasi kamarnya.” Orang itu tersenyum sumerigah. Dan aku hanya menuruti saja perintahnya dan kembali menemui dan memberikan apa yang orang ini inginkan.
“Akhirnya…. Untung aja itu anak gak ngambek.” Ujarnya dan menaiki motor Kenzie yang terpakir. Ternyata ulah anak-anak itu yang menjahili Kenzie.
Malam semakin larut. Keadaan rumah semakin sepi. Eky juga belum pulang, seperti biasa dia sedang nongkrong disalah satu camp geng motornya. Apalagi malam ini malam minggu. Hanya Aku dan Terfin yang masih terjaga dirumah. Hari ini Terfin sengaja menginap di rumah ku, karena besok hari kami akan melaksanakan jelajah dalam kegiatan Pramuka yang akan di mulai pagi hari dihari minggu. Malam ini kami habiskan untuk bergadang menghabiskan film yang baru saja kami beli.
Bel rumah berbunyi.
Ternyata kawan-kawan Eky datang terlebih dahulu kerumah. Sudah menjadi biasa anak-anak itu berkunjung dirumahku, bahkan rumah ku sudah menjadi rumah mereka—orang tuaku terlalu baik dengan mereka. Ternyata Eky pulang terlambat, karena sedang mengurus kawannya yang hari ini mengalami kecelakaan, selalu dan selalu, pasti ada dari mereka yang ikut balapan liar.
“Fin kamu udah tutup pintu kamar, belum?” tanya ku dengan suara yang sedikit meninggi, menegur secara halus orang berada tepat didepan pintu kamar. Aku memberi kode ke Terfin yang berada di samping ku, memberitahu ada seseorang yang sedang berada tepat di depan kamar ku.
Kenzie ternyata menyadari. Dia sempat menoleh ke arah suara ku lalu mundur dari posisinya.
Seorang masuk ke ruangan keluarga, menuju kamar Eky yang sudah menjadi tempat favorit mereka di rumah ini. Apalagi ditambah fasilitas yang lengkap dikamarnya. Tujuan mereka apalagi kalau bukan bermain playstasion. Disusul Kenzie yang berjalan sendiri ke kamar Eky. Sedangkan ada beberapa orang yang masih duduk-duduk di ruang tamu. Kini keadaan rumah kembali stabil tanpa keributan yang akan di timbulkan oleh mereka.
“Olivia, stop kontaknya dimana?” Tanya laki-laki bertubuh besar berdiri di depan pintu kamar Eky yang berhadapan langsung dengan ruang keluarga.
“Ada di situ, di dekat pintu…” jawab ku cuek, enggan berdiri untuk menunjukkan dimana letak stop kontak untuk menyambungkan steker dari kamar Eky.
“Dimana?” tanyanya lagi dengan riuh ia mengeser beberapa kabel dan membuat ku risih melihat tingkahnya. Mau tidak mau aku berdiri dan mendekati lalu mengambil steker yang diserahkan cowok bertubuh besar ini.
Lalu…. Sebuah tangan muncul dan hendak mengabil kendali steker yang akan ku pengang. Tangan kami hampir bersentuhan, mata kami saling bertemu, hanya sekilas. Aku terdiam ditempat sedangkan orang yang baru saja berdiri ingin meraih kabel yang akan disodorkan orang bertubuh besar ini, malah salah tingkah dan kembali duduk di depan televisi yang berada dikamar Eky, dia langsung mengambil stick PS dan mencari permainan yang akan dia mainkan. Dia menantap kaku ke televisi. Untung saja orang bertubuh besar ini acuh akan sikap kami berdua. Dengan buru-buru, aku menghubungkan steker ini ke penghubungnya dan segera kembali ke samping Terfin. Seperti biasa Terfin hanya tersenyum-senyum menahan kekonyolan yang terjadi didepan matanya. Sedangkan aku, lagi-lagi mencoba mengontrol detak jantungku yang tidak beraturan. Untung saja panik ku tidak menganggu. Satu sisi aku mencoba berpikiran positif dengan sikap Kenzie seperti itu, wajar saja dia langsung tanggap mencari dimana stop kontak, bagaimana dia tidak tahu dia selalu bermain di rumah ku, jadi wajar dia tau dimana letak stop kontak itu.
Jam sudah menunjukan jam tiga dini hari. Sebenarnya aku sudah kembali ke kamarku dua jam lalu. Karena haus mencekik ku di pagi ini. Aku segera keluar kamar menuju dapur. Sejenak menoleh kearah jam dinding. Ku dengar suara pintu kamar Eky terbuka.
Aku tidak pernah-pernahnya berani menatapnya seperti ini. Entah mengapa nyali ku begitu besar. Di dini hari aku menatap benci orang yang sedang menatap ku tepat di depan kamar Eky. Dia hanya berdiri di depan pintu. Aktivitas di kamar Eky sudah tidak ada lagi. Membuat ku takut akan terjadi apa-apa dengan ku di dini hari. Kenzie sedang berdiri di depan pintu kamar Eky, tangannya masih memegang gangang pintu, pintu juga tidak tertutup rapat. Kali ini aku tidak bisa membaca wajahnya yang datar itu. Mata yang seakan-akan membuat ku terpaku di tempat. Aku tidak peduli apa yang ku lihat di depan mata ku. Karena aku sudah terbiasa dengan kehadiran teman-teman Eky seperti ini. Hanya saja, aku belum terbiasa di tatap seperti itu. Kini aku berjalan saja menuju dapur, kembali ke tujuan ku, mengambil air minum. Kembalinya aku dari dapur, aku bersyukur bahwa Kenzie sudah tidak ada lagi disana.
Ketika pagi menjelang semuanya kembali seperti keadaan normal. Aku mencomoti roti gandum di meja makan sebelum berangkat untuk melaksanakan kegiatannya di sekolah. Satu persatu kawan Eky yang melintas di depanku karena buru-buru mengambil jatah makan paginya yang sudah disiapkan oleh mama. Aku juga senang ketika mereka sempat menegurku dan berbincang-bincang ketika aku sedang bersiap-siap. Namun hanya satu orang saja yang tidak menegurku di hari ini. Kenzie. Dia hanya berlalu saja di hadapan ku, tanpa sedetik pun menoleh. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi. Padahal baru beberapa jam saja dia menatap ku. Sungguh aku tidak mengerti, dan aku tidak tahu pertanyaan apa yang tepat untuk ku pertanyakan dengan keadaan seperti ini. Wajah itu sangat dingin, tidak ada tanda kehidupan dimatanya untuk ku. Dia tidak mengikuti langkah temannya menuju ke dapur melainkan ke garasi untuk memanaskan motornya.
Pantulan dimata ku, takakan pernah menjadi kenyataan. Hanya pantulan fatamorgana yang membuatku tak menemukan ujung dari tujuan yang sebenarnya ku inginkan.
__ADS_1
***
Waktu bergulir begitu saja, dan Kenzie pun sering bertandang kerumah ku, bahkan sering menginap bersama teman-temannya yang lain ketika orang tua ku sedang keluar daerah, Eky selalu mengajak teman-temannya untuk menginap di rumah. Rasa ingin bertemu selalu saja ada timbul di kepala ku. Namun, tetap saja ada perasaan malu, segan dan canggung yang bercampur aduk ketika aku berapasan dengannya. Aku tidak bisa menepis perasaan itu, walau dalam hati ingin menegur secara langsung orang yang selama ini membuatku terhipnotis dan mengalihkan duniaku. Walau terkadang ada saja wajah dingin dan benci yang dia hadapkan ke aku.
Aku berharap kau seperti mereka. Tidak bisakah kau menunjukan wajahmu yang ramah itu.
Mungkin itu sikap kebenciannya, karena aku yang sudah lancang menyukainya. Itu terakhir kalinya aku melihatnya. Dimana saat itu aku sangat mengharapkan hal ini. Kita di pertemukan kembali. Hanya saja, atmosfir kali ini sangat berbeda. Saat itu aku telah menduduki bangku SMA…
Kedaan SMA ini mulai riuh dengan suara siswa-siswa disegala penjuru di setiap kegiatan yang diadakan. Dimana saat ini adalah persiapan menjelang hari Proklamasi. Lomba-lomba menjamur disepanjang sekolah.
Dari kegiatan marching band, lomba olahraga, puisi, pawai busana dan berbagai macam ada disini. Untuk kali ini, aku tidak turut serta mengikuti lomba-lomba yang di adakan. Aku hanya menjadi penonton setia.
Bulan di tahun ini yang sangat membinggungkan sekaligus menjengkelkan bagiku. Untuk pertama kalinya aku menjadi bahan perebutan bagi cowok-cowok. “Mungkin mereka buta? Kenapa mereka bisa menyukai ku? Ada apa dengan mereka?” Pikirku kesal.
Dua orang cowok yang seangkatan dengan ku terang-terangan ingin merebut hati ku, dan salah satunya adalah teman dekat Kenzie.
Dia Ikhsan, teman Kenzie sekaligus teman sepermainan Eky, dia juga sering main kerumah ku. Aku rasa kau juga yang menyuruhnya, untuk bisa menutup rasa yang selama ini mengeluti dihatiku menggunakan dia. Entahlah… kenapa aku berpikiran seperti itu. Satu hal jika itu benar, aku sangat membencimu…
Saat acara di sekolahan sedang berangsung, para guru sibuk memperingati pelajar yang bandel karena memarkir motornya di luar sekolahan. Saat itu, aku memang yang membawa motor, karena terlambat datang kesekolah aku memutuskan memarkir motor ku di samping sekolahan. Ternyata, itu malah menimbulkan masalah. Dengan spontan ketika mendengar peringatan itu, aku bergegas menuju motor yang terparkir di luar area sekolahan. Jika tidak, kami yang tidak melaksanakan peraturan akan dikenakan hukuman. Dengan sigap Rifal, teman sekelas sekaligus ketua kelas sedang menjalin pendekatan secara terang-terangan dengan ku menawarkan diri untuk memarkirkan motor yang ku bawa. Pada awalnya dia harus mencari dulu dimana aku berada dan akhirnya kami bertemu ketika aku hendak menuju posisi dimana motorku terparkir.
“Kunci motor mu mana? Biar aku aja yang parkirkan.” Ujar Rifal menawarkan diri.
“Ah, gak usah. Aku bisa kok bawa sendiri.” Ujarku canggung, menolak dengan halus.
Rifal dengan sigap mengambil kunci motor yang di lihat dalam gengamanku. “Ya udah, kamu masuk lagi gih. Biar aku yang ngurus.” Ujarnya ketika kunci motor sudah berpindah tangan.
Dengan rasa canggung aku mengiyakan dan berjalan kembali ke dalam lingkungan sekolah. Syukurlah… jadi gak perlu capek-capek.
Ketika menuju kedalam area sekolah, tanpa disangka-sangka aku berpasan dengan Ikhsan dan Kenzie. Astaga…Pekikku dalam hati mencoba menghindari mereka berdua. Entah kenapa setiap kali aku bertemu atau hanya berpapasan dengan Kenzie, dadaku begitu berat, seakan oksigen seketika menghilang dari permukaan bumi. Ikhsan dengan langkah yang cepat menghampiri ku yang berada tepat didepannya lalu meninggalkan begitu saja Kenzie. Kenzie yang berada di belakang Ikhsan tersenyum kearahku, dengan segera aku mencoba mengalihkan pandangan kembali ke Ikhsan, walau sesekali aku mencuri pandang untuk melihat Kenzie.
“Kamu gak pergi sekolah bareng Eky, kan? Pasti motornya ditaruh di luar.” tanyanya ramah.
“Umm… Iya. Eky kan ada pertandingan di luar daerah. Jadi gak bareng.”
“Mana kunci motornya, biar aku aja yang parkirkan kedalam.”
“Eh…” aku seketika melihat kearah Kenzie yang menunggu Ikhsan berbicara denganku. Dia tidak sedingin sebelumnya, mukanya terlihat polos dan ramah. Ada sedikit cahaya yang terpancarkan ke padaku. Aneh… Dia tampak hangat. “Motornya udah di urus sama Rifal….” Sambungku ramah.
Oh, ya udah kalau gitu. Sampai ketemu nanti ya. Aku kesana dulu, sekalian mau bawa masuk motor Kenzie…”
“Oh… Iya…”
Ikhsan berjalan meninggalkan Kenzie sendiri yang berjalan membuntuti. Tapi ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi...Lagi.
Tuhan kenapa ini terulang lagi, aku terlanjur membencinya….
Ku mohon berhentilah, dan pergilah dengan cepat. Berhentilah tersenyum….
Kami saling menatap, Kenzie berjalan santai dan tersenyum penuh…penuh. Aku mengharapkan senyum itu, tapi mengapa aku menjadi sangat benci. Dia benar-benar tersenyum kearahku, dia begitu hangat. Dia memang pintar sekali dalam urusan meluluhkan hatiku. Disaat dimana tidak ada orang lain diantara kami. Kenapa selalu seperti ini, ada apa sebenarnya dengan mu? Hanya saja, aku menatapnya dingin dan tertunduk canggung berlalu begitu saja di sampingnya. Hingga Kenzie tepat jauh di belakangku.
__ADS_1
Maaf, aku tidak seperti harapan ku dulu. Aku ingin membalas senyum itu. Namun, aku tidak sanggup… Maafkan aku.