
#Olivia
Hari ini seperti biasa, kegiatan dikantor berjalan dengan baik. Dendang melodi di lantai satu masih terdengar menyemangati seperti biasa. Aku bersyukur bisa mempertahankan karir dan kantorku yang masih terbilang baru dan kecil, selama dua tahun setengah ini. Aku berharap aku bisa mempertahankannya lebih lama lagi.
Pekerjaan berjalan mulus dengan apa yang direncanakan, bahkan persentase penghasilan tiap bulan beranjak naik sesuai yang diharapkan. Aku membangun bisnis yang bergerak di bidang Teknologi yang bekerja sama dengan bos lama ku, sekaligus menyelesaikan magister ku disini, Beijing. Awalnya aku tidak berminat untuk melanjutkan. Namun sebuah bisikan kecil seakan menusuk pendengaran ku setiap aku hendak tidur. Apa salahnya bersekolah lagi, ya seperti itulah.
Derrt..derrt.. Ponselku bergetar, aku sengaja tidak memberikan nada dering untuk panggilan masukku.
Panggilan masuk dari Adrian.
“Wèi …” Sapaku. Aku tersenyum sendiri, telepon ini sudah lama ku tunggu-tunggu. Aku tidak tahu apakah diseberang sana, seorang yang selalu menggunakan jas sneli, jas kebanggaan seorang dokter, dengan stetoskop yang dikalungkan (Mungkin seperti itu gambaran ku saat ini) Aku menerka-nerka apakah dia juga senang, seperti ku.
“Nǐ zěnme yàng, wǒ de mèimei? (Bagaimana kabar mu, adikku)” sebuah pertanyaan biasa namun membuat jantungku selalu berdebar.
“Seperti biasa baik…bagaimana dengan mu? Sudah berapa hari kau tidak pulang. Kau tidak merindukanku?” Aku masih menggunakan bahasa Mandarin dengannya, walaupun sebenarnya dia bisa menggunakan bahasa Indonesia.
“Aku masih ada tugas, mungkin tiga atau empat hari lagi aku akan pulang. Masih ada lokasi yang belum aku kunjungi dan laporan yang harus aku selesaikan. Oh iya, bagaimana dengan Bi Arum?”
“Seperti biasa, hampir setiap malam dia mengomel, tidak lain karena mu. Kamu juga sih gak pernah menghubunginya. Setiap ditelepon pasti sibuk. Huuuh!” keluhku.
“Hahaha… Maaf, aku tidak pernah memegang ponselku ku selama bertugas. Ini saja untung-untungan bisa menelepon mu. Umm…Sampaikan salam dan maafku sama bibi ya?”
“Hǎo de (baiklah)… akan ku sampaikan.”
“Hǎo (baik) … Kalau gitu nanti aku akan menelepon mu lagi, aku harus kembali bergabung bersama tim. Zàijiàn (sampai jumpa)” walau sangat berat mengakhiri telepon ini.
***
#Kenzie
“Sudah hampir empat tahun dia disini. Selepasnya dari kuliahnya di Bandung—Dia terobsesi sekali dengan China, itu sebabnya dia membangun bisnis lagi disini setelah sukses dengan bisnis konsultanya disana.” Jelasnya.
__ADS_1
Aku menyimaki penjelasannya, pada dasarnya aku memang tidak tahu-menau, sungguh menyedihkannya diriku. “Sungguh, aku bahkan tidak mengetahuinya.” Aku mengakuinya dia hebat sekali. Betapa bodohnya aku tidak mengetahuinya. Sebentar, “Maksudmu di Indonesia? Bandung?”
“Kamu tidak tahu? Bukankah kamu temannya?”
“Ah… tidak. Saya cuma seniornya sewaktu di SMP dan di SMA. Itupun hanya sekedar tahu. Kami juga tidak begitu dekat—saya masih binggung apa yang membuat saya menyusulnya kesini.” Sial! Aku kelepasan.
“Lalu…?” dia menatapku penuh pertanyaan yang mencurigakan. “Ah, sudah lah…itu urusanmu dengannya. Jika masih ingin menunggunya. Tunggulah, aku akan menyiapkan makan siang dulu.” Ujarnya teringat dengan masakannya.
Aku mengangguk. “Baiklah.”
Waktu pasti bergulir, tidak ada yang cepat atau diperlambat. Dia akan berputar tepat di porosnya tanpa melenceng sedetik pun, sesuai dengan seharusnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sudah hampir dua jam setengah aku menunggu di rumah ini. Wanita paruh baya itu pun sudah menawarkan ku untuk makan bersama. Namun, dengan halus aku menolak, dengan alasan sudah makan di hotel sebelum kesini—padahal, aku memang sama sekali tidak ada ***** untuk makan. Mungkin, karena aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Aku sangat benci menunggu, tapi, tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain menunggu. Disela menunggu, aku menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Dari halnya membaca majalah bertulisan mandarin—walau sekedar melihat gambarnya saja—menonton televisi yang seluruh siarannya berbahasa mandarin—dan lagi-lagi hanya melihat gambar— tertidur di sofa, bermain catur sendirian, mendengarkan lagu, bermain gadget, bahkan melamun. Wanita paruh baya yang mengenalkan diri dengan nama Arum itu untuk sementara tidak bisa menemani ku. Setelah selesai menyiapkan makan siang kini dia sibuk melayani para kliennya. Itu sebabnya aku seperti orang frustrasi karena tidak ada hal lain yang bisa ku kerjakan selain menunggu.
Arum ternyata seorang psikolog, dia juga membuka kantor konsultasi di sebelah rumahnya, bekas garasi mobil. Katanya, sekedar untuk mengusir kebosanan dan memanfaatkan ilmu dan pengalamannya yang dia dapat selama bersekolah. Dan seperti biasanya di jam seperti ini dia tidak pernah absen melayani para kliennya, yang dari tadi ku lihat tidak habis-habisnya berkunjung. Dengan berat hati juga dia mengatakan dia harus meninggalkan ku sendiri di dalam rumahnya—Mungkin ‘berat hati’ yang dimaksudnya, karena dia takut aku akan mencuri barang-barangnya.
Karena tidak ada hal yang lain selain menunggu, aku banyak menghabiskan waktu hanya untuk melamun. Hingga akhirnya mataku tertuju ke salah satu frame foto di samping tangga—yang pertama kali ku lihat saat masuk kerumah ini. Karena penasaran aku beranjak dari tempat duduk, dan berjalan ke sana. Ada beberapa frame yang berbaris rapi di atasnya dan setumpuk album foto yang tidak jauh dari aku berdiri.
Hampir semua frame-frame yang berada di atas lemari itu memasang wajah Olivia, wajah seorang wanita cantik dengan senyum yang indah. Ada beberapa foto memperlihatkan Olivia sedang merangkul seorang laki-laki. Aku tidak tahu siapa laki-laki berwajah oriental bersama Olivia di foto itu. Rasanya mereka sangat bahagia—Senyum mereka membuat ku… frustasi. Dada ku terasa seperti terlilit tali tambang, sesak dibuatnya. Begitu juga foto lainnya, dimana Olivia menyenderkan kepalanya di pundak laki-laki yang sama, laki-laki itu hanya melipatkan kedua tangannya, lagi-lagi senyum itu... Mungkin kah ini cemburu? entahlah. Foto-foto itu jepretan dari pihak ketiga. Aku tidak bisa menepis rasa penasaranku. Aku bergeser sedikit ke sisi meja, ada setumpuk album foto disana. Aku mengambil album foto yang bertumpuk rapi itu lalu membawanya ketempat duduk semula.
“Bagaimana menurut mu, Olivia yang kamu kenal dulu dan sekarang?” Aku terperanjat kaget mendengar suara seseorang dari balik punggung ku, aku salah tingkah.
“Maaf saya lancang. Mengambilnya tanpa seijin mu.” Menutup album foto itu perlahan.
“Ah, tidak masalah. Kalau mau lihat, lihat saja. Tidak mungkin juga aku menaruhnya di tempat terbuka jika tak boleh dilihat.” tersenyum dan kembali membuka album foto itu. “Bagaimana Olivia menurut mu?” Kata Arum sesaat setelah duduk di depan ku
“Maksud anda?” Aku menatapnya.
“Dulu dan sekarang.”
“Oh... Dia sama seperti dulu tidak ada yang berubah.” Ingatan dimasa laluku terpanggil kembali. Aku tersenyum.
__ADS_1
“Lihat ini… ini pertama kalinya dia menyentuh salju. Dia senang sekali saat itu. Aku yang memfotonya.” Memperlihatkan foto Olivia di halaman selanjutnya, lagi-lagi selalu ada laki-laki yang sama bersamanya. “Nah, kalau ini Rian yang mengambil fotonya secara diam-diam. Disaat musim semi. Olivia sangat menyukai musim itu dari seluruh musim. Dan hampir setiap sore dia selalu meminta ku atau Rian menemaninya jalan-jalan. Dan inilah hasilnya. Aku dan Rian sangat menyukai foto ini. Dia tampak manis disini, bukan?”
“Umm…ya. Eh…Rian?” Gumamku setelah mendengar nama itu.
“Iya, dia keponakan ku. Mungkin kau mengiranya, orang China asli, kan? Ibunya hanya keturunan China-Indonesia. Ayahnya Indonesia, seperti kita.”
Aku menatap Arum penasaran. “Lalu hubungan anda dengan Olivia?”
“Mantan suamiku sangat menyayanginya, itu mengapa dia memutuskan untuk mengangkatnya. Aku setuju dengan keputusannya. Kami berdua tidak memiliki anak sampai kami memutuskan untuk berpisah. Itu mengapa aku bersamanya disini. Dia sudah menjadi anak ku—Sekaligus menemaniku dan juga Adrian. Emm, Rian sebenarnya susah untuk mencari teman, dia sangat individualis. Kamu tahu? Aku sempat sedih dengan keponakan ku satu itu. Semenjak orang tuanya meninggal, satu teman dekatnya saja tidak ada. Tapi semenjak kehadiran Olivia, dia lebih banyak bicara sekarang.”
“Umm… Iya. Kalau saya perhatikan, mereka cocok sekali. Mungkin mereka jodoh.” Aku tidak tau kenapa kata-kata ini keluar begitu saja dari mulutku.
“Entahlah…Yang ku tahu Olivia sudah punya pasangan.”
“Oh, ya?” aku mendelik, penasaran.
“Aku juga sempat berpikir mereka berdua sangat serasi—Tapi setelah ku cari tahu tentang mereka—Olivia justru mengelak, dia masih menanti dan setia dengan apa yang di harapkannya. Di Indonesia. Aku rasa pasangannya berada disana. Ya sudah aku tidak bertanya balik lagi—Begitu juga dengan Rian, anak itu sulit untukku tebak. Aku seorang psikolog begini saja susah sekali membaca jalan pikirannya. Tapi itu dulu. Setahunan ini aku lihat keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Ya, Olivia lebih dekat dengan Rian, sekarang. Beda dengan pertama kali mereka bertemu bahkan sesudahnya—Butuh tahunan untuk menyesuaikan diri. Aku berharap mereka memang bisa bersama.”
Aku kembali memandangi foto-foto itu. Ada sesuatu yang sulit ku tebak. Perasaan apa yang menggeluti dadaku ini? Rasanya aneh sekali. Aku teringat kembali wajah cerianya saat itu—Saat aku diam-diam melihatnya—Sudah lama sekali. Mungkin sudah sepuluh tahun lalu, atau lebih. “Emm…ya mereka memang serasi. Walau harus menunggu dalam waktu lama untuk menyesuaikan.” Sungguh sangat kesal, kenapa aku mengutarakan kata-kata aneh ini lagi.
“Kau menyukai Olivia?”
Lagi-lagi aku terpenjat kaget dengan pertanyan-pertanyaan singkatnya.“Aaaah… Mak…sud anda?” aku rasa dia memancingku. Dasar psikolog!
Ting…
Suara sensor pintu berbunyi. Aku bersyukur suara itu menyelamatkan ku dari pertanyaannya. Suara itu menjelaskan bahwa seorang baru masuk. Aku dan Arum berpaling bersamaan melihat kearah seseorang yang sedang menyingkirkan sepatu yang baru saja dikenakanya. Orang itu mengosok-gosok tangannya yang terselimuti dingin dari luar sana. Lalu berjalan tergesah-gesah menuju anak tangga dimana Aku dan Arum berada didekatnya.
Deg..deg…. Jantung ini tidak bisa membohongi keadaan. Spontan aku berdiri dari tempat duduk. “Olivia...” gumamku pelan tidak percaya, kebinggungan menghampiriku. Aku hanya terdiam diposisi sambil menatap sosok itu, masih belum percaya.
“Ah… Nǐ hǎo ma?” Olivia hanya menunduk hormat memberikan senyum simpul dan kembali fokus dengan langkahnya menaiki anak tangga. Aku dan Arum saling bertatapan tidak mengerti.
__ADS_1
Mataku masih mengikuti gerakan Olivia hingga menghilang. “Kamu yakin tidak salah orang?” Tanya Arum dengan tatapan menyelidiki ketika aku kembali melihatnya.
***