Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Guardian Angel


__ADS_3

#Olivia


Kurasakan sentuhan lembut mengusap kepalaku. Aku tersenyum ketika mataku mulai terbuka sepenuhnya. Ku pikir aku berada di dalam surga karena sedang menatap malaikat di hadapan ku, lalu menyadari itu adalah Adrian.


Adrian sedang duduk di sisi tempat tidurku menatapku peduli—mungkin saja dia kesal melihatku yang lagi-lagi sakit. Sejenak aku melirik jam dinding. Ternyata sudah jam setengah tujuh sore. Lagi-lagi aku tertidur cukup lama. Lampu kamar juga telah dinyalakan.


“Kapan kau datang?” Tanyaku. Aku mencoba duduk agar pembicaraan ini lebih santai.


“Kau tidur cukup lama hari ini. Dasar pemalas!” Suara khasnya membuatku terpesona, dan ingin memeluknya. Namun, itu adalah hal yang mustahil bagiku. Dia menarik tangannya. Lalu menyibukkan diri dengan mengulung lengan bajunya.


“Kau selalu mengalihkan pembicaraan ku.” Aku berusaha membuat wajahku cemberut dan terlihat sungguh-sungguh sehingga membuatnya tersenyum.


“Setelah kau mengirim pesan itu, aku mencoba menghubungi mu. Tapi kau malah tidur tidak mengangkat telepon ku. Untung bibi yang memberi tahuku.”


“Jam berapa kau tiba?”


“Jam tiga… empat mungkin? Atau lima ya?” dia terlihat sedang berpikir lalu tersenyum, pertanda aku tidak perlu memusingkan kapan waktu kedatangannya.


“Perjalanan pasti melelahkan. Kau memberi tahukan Mama dan Papa lagi kondisi ku?”


Ada jeda dari pembicaraan kami. Lalu dia kembali bersuara dengan menyunggingkan senyumnya. “Tenang saja aku tidak akan membuatnya khawatir. Aku khawatir karena obat mu tidak kau minum secara rutin. Apa sakitnya masih terasa sama?” Mengacak rambutku dengan lembut.


“Bagaimana tugas mu?”


“Ah… Kau ini. Sekarang giliran mu yang mengalihkan pembicaraan.”


“Iya pak dokter. Sakitnya masih sama. Tapi sudah agak mendingan. Aku sudah minum obatnya. Jangan terlalu mencemaskan ku.”


“Kau akan menjadi istriku. Bagaimanapun aku pasti mencemaskan mu.”


“Umm...Yah.”Aku menjawab remeh.“Lalu bagaimana tugas mu?” Tanyaku lagi.


“Aku bukan pemalas seperti mu. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat—Hey, besok ada pesta lampion. Mau mengunjunginya?” tawarnya langsung mengganti topik pembicaraan.


“Hayuuuk!” seruku menyetujui usulannya.


***


Adrian membetulkan topi kuplukku. Setelah itu, kami menyenderkan badan di pagar sungai Shichahai. Melihat keindahan air yang membeku kini pelahan mulai mencair.


Hari ini ada pertunjukan pesta musim dingin. Ada ratusan lampion dan pertunjukan seni yang akan di selenggarakan malam ini. Agar tidak tertinggal satu detik momen acara, kami memutuskan untuk datang lebih awal.


“Oh ya, bulan depan aku akan launching produk terbaru.” Ujarku bersemangat memberitahukan kabar ini.


“Benarkah? Aku harap aku bisa hadir di acara itu.” Rasanya sudah lama sekali kami tidak berbicara seperti ini. Tugasnya membuat kami berdua harus menjaga jarak dan komunikasi.

__ADS_1


“Kau memang harus datang. Sudah berapa kali kau melewatkan acaraku?!”


“Olivia!” Tiba-tiba saja seseorang berteriak memanggil namaku dari belakang dan memutuskan pembicaraan kami. Kami berdua menoleh bersamaan menuju arah suara, binggung. Orang itu membungkuk di hadapan kami. Suara nafasnya yang berat menandakan dia mencoba mengatur nafasnya yang mulai berkurang.


Aku dan Adrian saling berpandangan. Orang itu belum sempat menunjukan wajahnya.


“Olivia!” Seru orang itu lagi menaikkan sepenuhnya badannya. Aku kaget bukan kepalang. Membuat sekujur tubuhku bergidik, takut. Aku menjauhinya, dan bersembunyi di belakang badan Adrian.


“Itu orangnya!” Bisikku memberitahukan orang yang selama ini menguntitku.


Adrian memandang oang asing itu dengan saksama. “Ah?” Mencoba mengingat. “Kenzie?” Mengakrabkan diri dengan tamu asing yang dari tadi memanggil nama ku.


Aku memadang kedua pria ini, heran. Adrian mengenalnya? Astaga, apa yang ku perbuat selama ini. “Kau mengenalnya?” Tanya ku tidak percaya.


Ia mengangguk tersenyum menyakinkan ku.


“Dari kemarin dia yang mengikutiku. Ternyata kau mengenalnya?”


Adrian melemparkan pandangan anehnya kepadaku. “Zhè shì wǒ de péngyǒu. Tā jiào Kenzie (ini teman ku. Dia Kenzie). Kau tidak mengenalnya?” Ujarnya membuatku bertambah binggung. “Dia kan senior mu, bagaimana kamu ini. Senior sendiri tidak tahu.” jelasnya menggunakan bahasa Indonesia, meyakinkan ku untuk mengingat. “Iya kan?” Menepuk bahu Kenzie, dia seperti anak kucing yang polos mengangguk mengiyakan kebenaran itu. Aku benar-bernar bertambah binggung. Apa benar dia senior ku? Aaaah... Kenapa aku baru tahu sekarang. Pantas saja dia berambius sekali untuk menginggatkan dirinya kepadaku. Aku rasa, aku sedang mengalami penuaan.


“Aku tidak tahu. Aku juga baru mengenalnya. Masa iya? Ah, maaf aku tidak mengingat, aku kira kau berbohong waktu itu.” Aku segera membukuk meminta maaf kepada orang yang bernama Kenzie itu.


“Wǒ xiǎng, wǒ yào yībēi coffee, nǐ yào ma? (aku pikir, aku ingin secangkir kopi, kau mau?)” Tawar Adrian.


“Ah, Hǎo. Nǐmen děng yī děng. Wǒ mǎi le. (Baik, Kalian tunggu. Aku beli).” Ujarku berlalu begitu saja. Sebenarnya aku tidak ingin terlibat pembicaraan dengan orang asing itu. Itu mengapa aku membutuskan untuk segera memisahkan diri dan membiarkan Adrian saja yang melayani orang itu.


Lagi dan lagi, aku selalu tidak menemui Olivia di rumahnya. Untung saja malaikat keberuntungan belum berpaling dari ku. Lagi-lagi dia membantuku melalui Arum. Arum memberitahukan ku tempat dimana Olivia berada, sebuah tempat yang tidak ku mengerti—Dia hanya memberikan ku secarik kertas dengan tulisan kaligrafi mandarin—Dia juga yang mencarikan ku taksi untuk mengunjungi tempat itu.


Setibanya di tempat yang di sarankan Arum kepadaku, kini aku tidak bisa berkata-kata melihat keindahan tempat yang aku kunjungi. Kawasan ini berada di tepi sungai. Banyak toko-toko, cafe dan mini bar yang terletak disini. Jalanan di hiasi tumpukan salju, walau sebenarnya sudah di bersihkan. Tapi tetap saja, volume salju yang jatuh tidak membuat jalanan ini terlihat baik. Terlebih lagi dengan pepohonan hijau berselaput salju, lilitan lampu berukuran kecil, sulur-sulur tipis kabut putih, dan awan kelabu yang tebal di langit. Dan juga nafas ku yang keluar dari mulutku bagaikan asap rokok.


Ketika aku baru menutup pintu taksi. Mataku langsung menangkap objek yang selama ini ku cari. Dengan segera aku berlari ke arah objek itu. “Olivia...!” Teriak ku dengan nafas yang tersengal-sengal. Ah, kenapa harus berlari seperti ini. Aku membungkukkan badanku. Mencoba mengatur nafasku yang tidak beraturan. Namun ketika aku menegakkan badanku—Olivia yang berada di depanku bersama sesorang laki-laki dengan badan yang tinggi, kulitnya putih bersih, badan yang bidang dan wajah yang tampan, Olivia justru bersembunyi di balik badan laki-laki itu dengan membisikkan sesuatu dengan bahasa Madarin.


Aku tercengang mendengar pembicaraan mereka yang tidak ku mengerti. Laki-laki itu sepertinya menyebut nama ku. “Dia kan senior mu, bagaimana kamu ini. Senior sendiri tidak tahu.” Akhirnya pria itu mengganti bahasanya. “Iya kan?” Tiba-tiba saja dia menepuk bahuku. Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya.


“Aku tidak tahu. Aku juga baru mengenalnya. Masa iya? Ah, maaf aku tidak mengingat, aku kira kau berbohong waktu itu.” Ujar Olivia yang serba salah lalu melangkah maju ke posisi awal yang berada di samping laki-laki itu lalu membungkuk dengan sopan.


Aku tidak menyangka dia semakin cantik sekarang. Dia membuatku merasa malu dengan kehadiranku yang tiba-tiba seperti ini. Aku tersenyum melihat keanggunannya.


Mereka berbicara lagi, dan membuat ku frustasi dengan bahasa yang mereka gunakan. Yang aku tahu laki-laki ini menyebutkan ‘Coffee’ hanya itu yang aku mengerti dari pembicaraan ini. Tiba-tiba saja Olivia berlalu meninggalkan kami berdua. Mungkin dia yang ingin memesan kopi. Lalu aku di tinggal berdua dengan laki-laki yang tidak ku kenal ini.


Atmosfer terasa canggung.


Kini kami saling berhadapan. Dia menyunggingkan senyuman pahit. Seakan, aku merasakan dia membenci kehadiran ku. Dia memasukan salah satu tangannya ke saku celana lalu bersender ke pagar pembatas.


Ada apa lagi ini?

__ADS_1


Dia membuatku terlihat bodoh di depannya.


“Aku Adrian, panggil aja Rian.” Akhirnya dia mengenalkan diri menggunakan bahasa Indonesia.


Aku rasa dia orang yang berada bersama Olivia di foto yang ku lihat kemarin. Sebentar! Ada yang aneh. Kenapa dia bisa mengetahui nama ku? Aku mengamati wajahnya dengan saksama. Apa aku mengenalnya? Aku rasa tidak. Tapi kenapa Olivia tidak mengingatku? Dan dia justru yang tahu nama ku?


“Bagaimana kau tahu nama ku? Sedangkan, dia malah tidak tahu siapa aku.” Tanya ku penasaran.


Dia mendesah panjang. Tersenyum, lalu mengadah wajahnya ke langit. “Ya, sesuatu yang membinggungkan, mungkin aku tahu. Tidak dengan mu. Maaf, kalau aku harus mengungkapkan ini.” Ujarnya dingin, dia kembali menatapku. Orang ini berhasil membuatku takut dengan nada bicaranya. Aku berusaha untuk biasa dengan pembicaraan ini.


“Maaf?”


“Olivia sempat mengalami amnesia jangka pendek, semenjak setahun lalu. Belakangan ini dia bisa menginggat kembali. Namun, aku rasa tidak dengan mu.”


Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar peryataan itu. Terfin tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini. Jika aku tahu akan terjadi seperti ini. Mungkin aku tidak akan datang menyusulnya, hanya karena keinginanku yang mengebu-gebu dan egoku tidak jelas ini. Tapi— Mengapa aku semakin ingin menyusulnya? Ada apa sebenarnya dengan hidupku? –Aku memegang kepalaku dengan dua tanganku. Masih tidak percaya dengan kata-kata itu—Pantas saja dia terus menghidar jika bertemu denganku. Apa memang dia ingin menghapusku dari ingatannya walaupun jika benar dia sudah pulih dari amnesia itu? “Aku kira dia memang membenciku dan mencoba melupakan ku.”


“Mungkin perkiraan mu benar. Besok datanglah kerumah. Aku tahu kau mengetahui rumah ku. Kita akan mengobrol banyak disana. Setelah Olivia berangkat kerja—Dan lebih baik kau pulang, ku mohon jangan ganggu kami sore ini.” Ia menepuk bahu ku pelan, mencoba menyemangati. Aroma picik dari otaknya perlahan menguap ke udara, aku bisa mencium itu.


“Baiklah.” Batinku bergojolak. Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu sebelum Olivia kembali. Otak dan hatiku serasa—Ah! aku tidak tahu harus mengambarkan bagaimana perasaan ku ini.


Bukankah seharusnya aku tidak menuruti perintahnya?


Kenapa aku harus pergi disaat hatiku tidak menginginkannya?


#Olivia


Sebenarnya aku sudah selesai memesan tiga gelas kopi. Namun kuurungkan niatku untuk segera bergabung dengan kedua laki-laki itu. Aku hanya memantau dari jauh pembicaraan mereka. Tidak lama kemudian orang asing itu pergi meninggalkan Adrian sendiri. Bahunya menurun luruh. Wajahnya tidak mengambarkan dia dalam keadaan baik.


“Aku membelikan tiga kopi, untuk dia juga. Tapi kenapa dia pergi?” Tanyaku sesampainya menemui Adrian kembali.


“Aah…dia buru-buru pulang. Ada perlu katanya.” Aku yakin Adrian menyembunyikan sesuatu dari ku.


“Lalu kenapa tadi dia memanggilku?” selidik ku.


“Dia tidak tahu kalau kau tadi bersamaku, jadi dia memanggilmu nama mu saja.”


“Aaah, Begitu. Kalau begitu aku akan minum dua-duanya. Nih buat kamu.”


Dia tertawa melihat tingkah ku. “Dasar! Ingat kesehatan mu...” mengambil alih satu gelas kopi yang ku pegang.


Senja mulai menyapa kami. Hanya saja senja di musim seperti ini, tidak membuatku semangat. Kami berjalan-jalan menunggu gelap tiba. Satu demi satu deretan lampion yang tergantung diatas kepala kami mulai menyala. Di tambah lagi puluhan lampion dengan karekter unik menyala dengan lampu berwarna-warni di pinggir jalan.


Dimalam ini juga, ada beberapa orang yang membagikan moon cake manis kepada para pengunjung secara gratis. Ini kesempatan menarik untukku. Aku tidak tangggung-tanggungnya meminta lebih dari mereka. Adrian hanya tersenyum melihat tinggkah ku yang seperti anak kecil.


Lagu dari salah satu kafe terdengar merdu. Kami berhenti sejenak untuk mendengarkan seorang membawakan. Dia bermain piano dengan sangat indah. Aku hanyut dalam dendangan lagu yang dia bawakan. Setelah lagu selesai kami melanjutkan perjalanan, menikmati keindahan akhir musim dingin.

__ADS_1


Adrian menjadi aneh semenjak orang asing itu pergi. Dia hanya menjawab pertanyaanku sebisanya. Bahkan dia hanya mejawab dengan gumaman “emm” atau “Iya”. Aku rasa ada yang salah. Dia tidak memandangi ku ketika berbicara. Dia juga tidak menyadari jika dia meninggalkan ku ketika aku sedang asik melihat pertunjukan seni yang diadakan di pinggir jalan. Aku hanya membiarkkannya sampai dia menyadari dan mencariku kembali. Melihat tingkah anehnya, aku hanya berpura-pura tidak mengetahui jika dia meninggalkan ku. Terlebih lagi saat di dalam mobil, perjalanan menuju kerumah, jika tidak ada suara radio, mungkin di dalam mobil akan lebih sunyi. Kami hanya berdiam diri. Tak ada yang memulai pembicaraan. Hingga ku putuskan untuk tidur.


***


__ADS_2