Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Masa Lalu yang Tak ku Ketahui


__ADS_3

Jejak itu, tidak akan pernah terhapus.


Dan tidak akan pernah ku hapus.


Aku tidak menyadari, itu akan membekas.


Menumbuhkan jamur dan menjadi penyakit.


***


#Kenzie


Sepanjang hari aku hanya melamun di balkon kamar, tidak ada yang bisa ku lakukan selain menggali masa laluku. Malam semakin larut hingga akhirnya aku teringat dengan sesuatu yang ku bawa siang tadi.


Aku membuka lembaran pertama, lalu mengambil nafas yang panjang. Menguatkan diri sambil memejamkan mata sejenak, ku buka mataku perlahan lalu memulai membaca lembaran pertama.


&………………..………………………………Diary…………………………………….&


Juli, 2007


Semua akan berjalan seperti seharusnya.


Kelak kita akan menempuh jalan masing-masing.


Satu atau dua aku tak bisa memilih semuanya.


Cinta atau Cita-cita…


Itu sangat berarti bagiku


Sama seperti


Kau, dan Dia…


Jika ini sajak terakhirku, izinkan aku melupakan semuanya.


……..……………………………………………………………………………………………


Aku melanjutkan ke lembar kedua.


&………………..………………………………Diary…………………………………….&


Lebih susah mengingat tanggal sekarang, mungkin itu tidak terlalu penting lagi. Disinilah ku mulai langkah Nol ku… Bandung.


Lembar ke-3


Tidak terasa waktu terlalu cepat berlalu, ini sudah hari ke-7 ku Di Bandung. Masih berjalan lancar. Semoga selamaya akan begini.


Aku merindukan mu…


……..……………………………………………………………………………………………


Apa yang kau rindukan itu adalah aku?

__ADS_1


Aku tersenyum dalam kesendirian. Dan melanjutkan membaca ke halaman selanjutnya. Dengan serius…


&………………..………………………………Diary…………………………………….&


Januari, 2008


Tugas, Bisnis… tidur, makan dan cek keuangan. Adikku akan kuliah sebentar lagi. harus kerja ekstra keras… Belajar, belajar.


***Lembar selanjutnya…***.


Aku menemukan keluarga baru ku. Seorang dosen pembimbing. Prof. Abraham Mohammad. Kami sudah saling mengenal, semenjak aku mahasiswa baru tepatnya aku adalah mahasiswa pindahan, kami mempunyai ketertarikan sendiri.


**           Aku menyukainya\, dan dia menyukaiku. Anak dan ayah. Dia seorang Duda. Aku pikir dia mendekatiku karena dia akan menikahiku... ^_^ tapi aku salah.**


**           Dia ayah yang baik\, hanya saja karena kerja kerasnya sekarang dia sakit-sakitan—Aku selalu mengunjungi rumahnya dan menyiapkan makan malam. Dia membalasnya dengan mengajariku beberapa pelajaran dan praktikum yang belum pernah aku pelajari.**


**           Dia juga\, ingin menggangkat ku sebagai anak. Lama-kelamaan aku terbiasa\, aku sudah mengganggapnya sebagai ayah ku disini\, walau tak tergantikan untuk Papa kandungku. Prof. Abraham Mohammad\, dia sering bercerita tentang mantan istrinya yang cantik\, dan keponakan yang tampan. Mantan Istrinya seorang Psikolog sedangkan keponakannya seorang dokter. Dia selalu menceritakannya kepadaku. Bahkan ketika keponakannya datang kerumahnya\, dia sengaja tidak memberi tahuku di hari itu. Dia juga berencana untuk menjodohkanku dengan keponakannya\, dan dengan halus aku selalu menolaknya. Karena sesuatu alasan. Entah lah… Aku bahkan tidak tahu bagaimana rupanya. Bagaimana aku bisa menyukainya?**


**           Lagi dan lagi dia hanya menceritakan\, tanpa melihatkan wajahnya. Adrian\, itu yang ku tahu namanya. Dia bekerja di rumah sakit dan lembaga sosial—Sebagai Dokter penyakit dalam. Setiap hari tidak pernah berhenti bercerita tentang keluarganya. Walau aku penasaran dengan wujud atau rupanya\, entahlah lama kelaman rasanya ada daya tarik sendiri….hahaha\, lupakan.**


Lembar selanjutnya...


Hari ini dia masuk rumah sakit lagi.


Ayah, cepat sembuh…… aku sangat menghawatirkan mu.


Dia begitu keras kepala bahkan sampai mantan istri, entahlah aku harus menyebutnya apa. Walaupun secara resmi mereka belum bercerai tapi mereka sudah lama berpisah. Bahkan dia tidak mau di beritahu tentang kondisinya saat ini kepada siapa pun.


…………………………………………………………………………………………………


&………………..………………………………Diary…………………………………….&


Lembaran Selanjutnya….


Aku tertawa dalam keheningan, aku gagal. Suara ku memecah keheningan. Air mataku kembali terjatuh.


**           Maaf aku tidak bisa selamanya menanti mu. Mungkin keajaiban itu hilang karena dosa ku dahulu. Siapa yang sangka cita-cita ku menuntunku untuk kembali mempertemukan mu disini.**


**           Aku masih terus mengharapkan mu. Bahkan harus bersembunyi lagi. Aku takut\, harapan itu kembali muncul. Aku tidak ingin melihat tatapan itu lagi\, aku tidak ingin melihat senyum itu lagi. Dan aku tidak ingin perasaan itu ada lagi.**


**           Huh! Aku tidak menyadarinya\, kita berada dalam satu teater yang sama\, di film yang sama. Di waktu yang sama. Aku yakin lalu menyadari kalau itu kamu. Hanya saja\, aku sendiri dan kau berdua. Dia wanita yang manis… cantik. Kami berpapasan\, dan sempat berbicara. Namun\, aku tidak suka dengannya. Maafkan aku\, kali ini.**


**           Aku bersyukur\, tadi aku mengunakan jaket yang besar. Aku berhasil menutup kepalaku. Yey! akhirnya\, aku tidak melihatmu lagi. Aku kecewa lagi\, tapi siapa aku untuk mu. Kenapa aku harus kecewa? Apa hak ku kecewa?**


**           Sepertinya aku merasa tenang. Tidak setakut sebelumnya\, ketika melihat mu. Dan jantungku berdetak normal. Aku rasa\, aku sudah berhenti mencintaimu…**


Lembaran selanjutnya……


Tahun 2008


Perjalanan ini panjang dan sangat melelahlan. Gambaran didepan sana dalam sekejap menghilang bagai asap. Aku harus benar-benar mengakhirinya. Sama seperti asap itu… pergi lah!


…………………………………………………………………………………………………

__ADS_1


Aku tidak mengerti siapa yang dimaksudnya dalam tulisan ini. Ini membuatku binggung. Aaaah! Kenapa kau membuatku penasaran Olivia!


Aku kembali membuka lembaran selanjutnya, walau aku sangat frustasi karena tercekik rasa penasaran ku....


&………………..………………………………Diary…………………………………….&


Lembaran berikutnya...


Maret, 2009


Umurku, sudah beranjak dua puluh satu tahun. Aku tua ternyata. Hahaha…


Status? belum menemukan pasangan hidup…. ^_^


Ahhh… Aku sangat senang ketika Richi mengirimkan aku email. Aku kira dia sudah lupa. Aku merindukannya…


…………………………………………………………………………………………………


Richi?? Aku berhenti membaca. Lalu tertawa. Teringat ketika Angga memberikan sesuatu yang membuatku—


Bukankah Terfin bilang dia menunggu ku. Lalu siapa yang dia temui di bioskop itu? Kau sungguh membinggungkan Olivia…


&………………..………………………………Diary…………………………………….&


Lembaran selanjutnya,


Aku tidak menyangka. Sudah selama ini. Pikiran itu masih ada, bayangan itu masih ada. Setelah dua puluh delapan musim. Apakah aku akan menambah musim itu lagi?


**           Aku\, bahkan sudah bersumpah. Tidak ada kata itu lagi. Dosa itu! Aku tak bisa melupakkannya\, bisakah kalian menghilang agar dosa itu tak menjadi cambuk selamanya untukku. Tuhan\, biarkanlah langkah kaki ini melangkah untuk cita-cita ku\, mohon bantu aku. Jangan gambarkan mereka dalam mimpi indahku lagi.**


Lembaran demi lembaran…


Aku tahu apakah ini buruk atau indah. Aku tetap akan menyingkirkan mu… jauh sebelum ku mulai langkah Nol ku. Delapan tahun lalu…


           Aku tidak mengaharapkan siapa pun. Aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku. Cukup! Richi atau pun Kenzie. Kalian masa lalu ku. Huh... ini berat.**


**           Richi\, kalau kau sabar menantiku\, tunggu aku. Sepulangku dari China\, disaat umurku beranjak 25 tahun. Aku memutuskan keinginanku\, memilih mu\, menanti keajaibanku atau tidak sama sekali. Dan seperti janjiku\, aku akan menikah di umurku 26 tahun\, atau tidak sama sekali. Aku berharap dengan mu… cukup dengan mu.**


Lembaran lainya…


Aku yakin, ada seseorang yang akan mencintaiku, tulus. Jika satu atau dari kalian berdua tidak untukku. Atau memang tidak sama sekali…


………………………………………………………………………………………………………………


Aku benar-benar frustasi.


Tiba-tiba saja aku terkoneksi dengan suatu hal. Hah! Tepat! Jika aku menghitung tahun kelahirannya. Umurnya sekarang hampir beranjak dua puluh enam tahun.


Aku bersandar sejenak di sisi tempat tidurku.


Bukankah sudah selama ini? Apakah kau akan menikah? Apa dengan laki-laki berengsek itu? Aku sudah ada disini. Ku mohon, jangan menikah dengan orang itu.


Ada yang aneh, aku sungguh tidak mengerti.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 02.45 AM. Aku tertidur pulas, buku itu masih dalam gengamanku.


__ADS_2