
Sudah sekian lama semenjak kejadian itu, kami jarang bertemu. Terkadang aku sering memantaunya dari kejauhan. Dan semakin hari juga aku tidak bisa melihatnya lagi. Hingga akhirnya suatu hari, malam seakan mengutukku.
Aku mendapat kabar dari sahabat sekaligus teman sekelas ku yaitu Astya, bahwa mereka kembali berpacaran. Perasaan yang campur aduk sekaligus dengan sekejap memusnahkan pikiran ku mengenai Kenzie.
Terjerumus dalam cinta monyet itu tidak mengenakkan. Aku tidak mengerti dan aku juga harus merasakan sakit yang tidak jelas. Siapa aku? Mengapa harus aku? Aneh sekali dunia ini. Sampai-sampai dia salah memilih orang untuk urusan hal seperti ini.
Hari-hari selalu berkaitan dengan Kenzie. Aku bahkan muak mendengar nama Kenzie yang hampir setiap hari. Astya selalu bercerita mengenai hal tentangnya dan Kenzie di kelas kepada ku. Perasaan resah, bosan, jengkel harus ku telan bulat-bulat. Aku tidak mungkin menunjukkan perasaan suka ku terhadap Kenzie secara terang-terangan kepada pacarnya yang sekarang berada di depanku.
Bisakah kau berhenti bercerita kisah yang bahagia tentang mu dan dia. Andai kau tahu bagaimana perasaan ku sekarang, Astya... Ujarku dalam hati ketika Astya bercerita tentang hari-harinya bersama Kenzie. Hal yang mustahil akan ku ungkapkan atau hanya akan memperburuk keadaan.
Hingga suatu hari Rifal masih bersikeras untuk mencuri hatiku meskipun aku sudah menolaknya untuk menjadi pacarku. Suatu hari dia kembali melontarkan pertanyaan yang sama, karena muak dengan cerita Astya dengan kehidupannya. Akhirnya dengan terpaksa aku menjawab pertanyaannya… Aku menerima Rifal menjadi pacarku. Hanya dua minggu aku mempertahankan hubungan ku dengannya. Ini karena aku tidak bisa menghilangkan wajah Kenzie di mata ku.
Bulan berganti. Aku iri dengan hubungan Astya dan Kenzie yang masih bertahan. Bahkan cerita bahagia masih mewarnai hari-harinya. Sedangkan aku?
Hari ini Reisa menegur seorang senior, entah dia dari angkatan berapa. Dia tersenyum kepada Reisa, tapi rasanya ada yang aneh. Ah…tidak! Tidak! Apa kali ini aku tersangkut dengan senyum orang lagi. Ah sudah lah…lupakan, mencintai seseorang itu menyakitkan… Sungguh sangat menyakitkan.
***
Tahun 2005,
Sepertinya aku harus mengakhiri segalanya. Berhenti dengan kebiasaan ku, kebiasaan selalu menunggunya. Ya seperti kebiasaan untuk memantaunya setiap saat, bahkan yang belum bisa ku hilangkan ialah kebiasaan ku menunggunya ketika dirumah. Aku sering menunggunya lewat di depan rumah ku. Hampir setiap saat aku sering duduk di ruang tamu menatap kearah jendela hanya untuk menunggunya lewat di depan rumah ku. Konyol!
***
Hari ini aku bermain di rumah Ebi sekaligus untuk kerja kelompok. Sewaktu kami sedang mengerjakan tugas di teras rumah Ebi, mataku tidak pernah berpindah kelain arah, aku terus menatap rumah tepat disebelah sana, rumah besar itu. Aku hanya berharap di balik jendela sana, dia juga ikut menatapku. Kenzie, adakah kau disana?
__ADS_1
Tapi, seseorang membuyarkan pandangan ku…
Tuhan…. Begitu cepatnya perasaan ini.
Seorang kakak kelas yang pernah di tegur Reisa beberapa waktu lalu. Dia sangat menyentuhku, aku melihat dia berkerja di salah satu rumah yang akan di bangun, aku bisa melihat peluhnya, ketika sedang mengangkat bahan-bahan bangunan. Dia begitu berkerja keras…
Hari-hari aku terobsesi untuk mencari tahu siapa senior itu. Hingga akhirnya, Reisa menceritakan semuanya.
“Dia itu Richi, tentangga dan teman aku dari kecil…” Jelas Reisa sewaktu aku menanyakan.
“Masa? Kenapa aku gak pernah lihat dia kalau main kerumah mu?” Tanya ku penasaran.
“Ya iyalah. Dia itu jarang keluyuran. Palingan, kalo gak di kegiatan di sekolah, ya.. kerja bantuin orang tuanya.”
“Kau suka Fi sama dia?” cetus Terfin.
“Entahlah, sepertinya….” Ujarku malu-malu.
“Ya udah ungkapin aja. Gak takut kaya Kenzie lagi?” Goda Terfin.
“Ngomong suka sama orang gak semudah ngomong cinta. Butuh berhari-hari bahkan tahunan untuk memastikan, kalau kata-kata itu pantas di ungkapkan untuk orang itu.”
“Haha... Tumben ngomong mu kayak gitu...”
“Ya dong. Aku kan belajar dari Reisa. Biar bisa jadi orang yang puitis...Hahaha”
__ADS_1
“Deeeh! Oh iya, pinjam hape mu….” Sambar Reisa yang langsung mengambil ponsel yang sedang ku gunakan bermain. Kali ini aku benar-benar memiliki sebuah ponsel pribadi. Papa sengaja membelikan ku agar dia tidak kewalah untuk mengetahui keberadaan ku. Walau sebenarnya ponsel ini ku gunakan hanya untuk bermain dan memotret.
“……” Aku hanya bisa benggong melihat Reisa yang tiba-tiba menyambar ponselku.
“Sudah saatnya kau buka hati mu. Gak bosan tuh, mikirin Kenzie mulu.” Ujar Reisa yang masih mengetik pesan di ponselku. Sedangkan aku hanya menggeleng menjawab pertanyaan Reisa.
“Kenzie itu ilusi, sudahlah… sudah saatnya move on.” Sambung Terfin.
Lima menit kemudian.
“Nih, udah aku kenalin, tinggal kalian berdua lanjutkan.” Reisa semakin membuat ku kebinggungan. “Errrgh! Tadi aku kenalin kamunya sama Richi. Dia senang kok kenalan sama kamu. Siapa tahu kalian berdua bisa move on. Dia juga korban patah hati loh.”
Akhirnya perkenalan aku dengan Richi pun berlanjut. Hari demi hari bahkan bulan demi bulan hingga suatu hari Richi melontarkan peryataan cintanya. Aku sempat ingin menolaknya saat itu. Karena aku tidak ingin membunuh Kenzie dibenak ku. Pada akhirnya aku menerimanya menjadi pacarku.
Walau sudah berusaha membuka hati untuk orang lain, di satu sisi aku tidak bisa memunafikkan diri bahwa di dalam lubuk hati ku yang terdalam masih tersimpan sesorang bernama Kenzie. Aku juga sempat bertemu dengannya hanya saja saat itu sungguh tidak pas. Hari itu sungguh hari tersial dalam hidup ku. Aku tidak tahu sama sekali bahwa Richi menduakan ku. Hari itu aku benar-benar murka. Dibantu dengan Terfin dan Reisa aku bertemu dengan Richi di belakang sekolahan. Dengan niat untuk menyelesaikan masalah ku. Namun, aku tidak menyangka bahwa ada rombongan Kenzie dan teman-temannya lewat. Semuanya menyoraki ku agar tidak pacaran di belakang sekolahan. Hanya ada satu orang saja yang tidak merespon kehadiranku. Hanya Kenzie. Dia berjalan dengan dengan wajah dinginya tanpa menoleh sedikitpun kearah ku. Dengan seketika pula aku langsung menoleh kearah dua sahabatku yang ada di tempat itu juga. Mereka juga kaget akan kehadiran rombongan itu dan juga Kenzie. Aku sungguh tidak percaya. Aku melihat wajah Kenzie sampai hilang. Dia benar-benar dingin, di saat teman-temannya heboh seperti itu. Membuatku tidak bisa berpikir jernih. Hingga menjelang kelulusan, aku hanya bisa berpasrah dengan waktu dan takdir bahwa aku rasa kami tidak di pertemukan lagi. Terutama semenjak insiden itu, aku merasa dia sangat marah dengan ku. Aku tidak tahu mengapa aku selalu berpikiran seperti ini, padahal dia kan masih pacaran dengan Astya. Jika saja saja benar pikiran ini nyata. Aku justru senang. Mungkin aku segera mengakhirnya, mengahiri hubunganku dengan Richi.
Aku rasa hadirnya Richi membuatku bisa melupakannya. Walau pada dasarnya di telah membuatku kecewa. Dia juga berjanji untuk berubah. Dan aku memberinya kesempatan itu. Namun, dia tidak berhasil membuatku tidak bisa melupakan Kenzie. Di setiap mimpiku, aku selalu mendapatkan Kenzie hadir di dalam mimpiku. Biasanya Kenzie akan tersenyum di dalam mimpi ku. Namun kali ini aku menemukan dia hadir dengan jutaan misteri yang dia bawa. Dia seakan-akan ingin mengatakan kepada ku bahwa aku harus melepaskan Richi. Aku tidak tahu mengapa dia selalu bersikap seperti itu di dalam mimpi ku. Orang itu, tidak di kehidupan nyata, atau hanya di dalam mimpi selalu membuat hidup ku sulit. Aku yakin hadirnya Richi di kehidupan ku lah yang sesorang yang semakin hari membantuku untuk melupakan masa lalu, melupakan harapan yang berharap menciptakan keajaiban itu. Keajaiban untuk bisa menyatukan hati kami berdua. Pada akhirnya itu hanyalah sebuah harapan.
***
Ketika aku mulai membuka sampul mu, disaat itulah aku baru membuka mataku untuk pertama kalinya. Begitu misteriusnya suara mu disetiap lembaran yang terbuka. Dirimu begitu menarik, mebuatku penasaran membaca setiap bait kata yang terukir di dalamnya. Tak ku rasakan waktu telah banyak yang terbuang, karena rasa ingin tahuku untuk memahami setiap kata, makna, dan cerita yang terukir. Hingga akhirnya jariku telah tersentuh di sampul terakhirmu. Disaat itulah aku baru menyadari ini akan berakhir.
Kata-kata itu telah menghipnotisku. Setiap huruf yang terukir menjadi kata-kata, kalimat, paragraf, bab hingga menjadi buku yang bersampul indah ini. Setiap ukiran mu yang terangkai, kini berakhir meninggalkan ku dalam seribu pertanyaan, tanpa jawaban. Walau terangkai dengan indah, diri mu begitu membinggungkan. Atau hanya diriku lah yang tidak mengerti jalan cerita dari dirimu.
***
__ADS_1