Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Muslihat Buruk Orang Asing


__ADS_3

#Kenzie


Aku mengangguk yakin. “Sungguh, aku sangat yakin. Tapi?” Aku mengganti nada bicaraku tidak seformal pertama kali. Ini karena aku tersapu oleh keadaan yang sulit ku mengerti. Seperti ada yang tidak beres. Aku teringat kembali perkataan Terfin, sahabat Olivia.


 “Mungkin dia akan membenci mu, atau segaja tidak mengingat mu. Ini sudah terlalu lama untuk menunggu keajaiban. Kalau kau tidak memiliki rasa yang sama, tolong jangan kau berikan harapan semu itu, jikalau kau bertemu dengannya lagi. Itu sangat menyiksanya.”


“Tampaknya, dia tidak mengenal mu?” kata Arum lagi, seakan dia tidak percaya dengan ku. “Tidak seperti biasanya Olivia seperti itu, setiap ada tamu yang berwajah asia apalagi orang Indonesia sepertimu, biasanya dia akan bergabung untuk mengobrol. Tapi, kenapa dia seperti itu kepada mu?”


Aku berdengus pelan, mengusir resah. “Kami tidak pernah bertemu secara langsung. Dan kami memang tidak pernah berbicara sebelumnya. Aku takut kalau dia memang membenci ku.”


“Memangnya masalah seperti apa? Sampai-sampai dia harus membenci mu. Aku rasa Olivia bukan seperti itu”


“Aku juga tidak mengerti.” Aku masih menatap jejak Olivia di depan mata ku, sungguh aku tidak percaya.


“Tunggu…akan ku panggil dia.”


Arum menyusul Olivia kelantai atas.


#Olivia


Beijing sepertinya membeku. Aku memutuskan pulang cepat. Masih saja aku belum terbiasa dengan iklim yang seperti ini. Rasanya leherku tidak bisa berlama-lama tegak. Aku ingin segera memeluk guling, dan bersemayam di balik selimut. Sepertinya itu akan terasa lebih indah.


Jam masih menunjukan pukul sebelas siang ketika aku sampai dirumah. Ketika aku meletakan sepatuku, seperti ada yang aneh—Dua pasang mata menatapku seakan ingin menyantap ku. Aku tidak mengerti mengapa Bi Arum menatap kepulangan ku seperti itu. Terlebih lagi seorang pria yang tidak ku kenal tidak lepas-lepasnya memandang ku.


“Ah… Nǐ hǎo ma?” Sapaku kepada tamu asing itu. Tapi dia tidak membalas. Jadi aku putuskan untuk segera ke kamar. Tidak lama kemudian bi Arum mengetuk pintu kamarku. Aku semakin bertambah was-was karena tadi dia memandang ku seperti itu.


“Tumben kamu pulang cepat. Oh ya, Seorang ingin bertemu denganmu?” ujar bi Arum setelah aku membukakan pintu kamar.


“Oh, hari ini dingin sekali. Jadi aku memperpendek waktu kerja ku—ah, siapa?” kataku sambil membersihkan muka dengan toner.


“Seorang yang barusan kamu temui di bawah.”


“Sebentar, akan ku bereskan yang satu ini. By the way, apakah dia ingin melamar ke perusahan ku?”


“Tidak, dia memang dari Indonesia. Tapi tidak ada hubungannya dengan perkerjaan atau kantor mu. Sepertinya ada hal yang lebih penting. Lebih baik kau temui saja dia dulu.”


“Oh, ya? Aku tidak mengerti hal penting seperti apa. Padahal aku tidak mengenalnya. Aku kira dia itu klien bibi….”


“Sudahlah, lebih baik segera kamu temui.” Katanya, lalu keluar kamar.


“Oke… aku akan segera menyusul.”


Ada hal penting? Tapi tidak berkaitan dengan pekerjaan. Sebenarnya ada apa? Ah, membuat ku penasaran saja. Pantasan saja dia memandangku seperti ingin melahapku. Aku harap bukan dari pihak kepolisian saja. Hanya khawatir jika teman kuliah ku melaporkan kejahilan ku, meretas komputernya semasa kuliah. Ya, aku harap bukan hal itu.

__ADS_1


#Kenzie


Tidak lama kemudian Olivia turun— menemuiku. Dia sangat cantik dengan pakaian berlenggan panjang yang tidak begitu tebal, warna lembut dari pakaian itu membuatnya tampak lebih feminim. Rambutnya terurai rapi menutupi pundak. Dia tersenyum kekearahku dan begitu juga denganku membalas senyumannya.


Hati ku sudah tidak sabar untuk menanyakan kabarnya. Kabar seorang adik kelas yang sudah lama tidak pernah ku tahu bahkan aku tidak ingin ketahui, karena suatu hal.


“Saya Olivia, ada yang bisa saya bantu?” sapa Olivia ramah memperkenalkan diri, dia menyodorkan tangan, aku bersyukur dia tidak menggunakan bahasa Mandarin—


    Deg!!


Ini sapaan yang bukan membuat hatiku senang, justru sebaliknya. Ini aneh, ada apa ini? Bahkan pertanyaan yang ingin ku lontarkan luntur. Hati ku seakan terkoyak bahkan hancur lebur. Cerita yang selama ini aku terima dari sahabatnya seakan hanya bualan semata, bahkan orang yang menjadi tokoh utama cerita itu justru tidak mengenal sama sekali lawan mainya. Seakan sebuah dongeng fiksi yang penuh dengan drama.


“Kau tidak mengenal ku?” Aku sungguh tidak percaya dengan sambutannya seperti itu. Dia menurukan tangannya dengan canggung.


“Maaf, saya tidak mengenal anda. Kalau boleh tahu ada perlu apa, ya?” Walau kata-katanya sangat ramah dan tampak tidak seperti direkayasa, namun…dia sungguh membuat ku frustrasi. Kami semua saling terdiam tidak mengerti. Seakan sekenario ini berhasil membuat ku tertipu.


“Sungguh kau tidak mengenal ku?” tanyaku lagi. Olivia hanya mengangguk ragu seakan benar-benar tidak mengerti. “Sebegitu salahnya kah aku hingga kau membenciku? Ku mohon jangan bercanda seperti ini…”


“Benci, aku tidak membenci mu? Kita bahkan baru ketemu. Bagaimana bisa aku begitu cepat membenci mu? Aku juga sedang tidak ingin bercanda.” Dia tersenyum pahit, membuatku ragu akan langkahku yang sudah sejauh ini.


“Aku Kenzie, kau tidak ingat? Aku sering kerumah mu, dulu. Kau masih SMP waktu itu. Aku temannya abang mu...” jelasku meyakinkan.


Dia menatapku seakan aku telihat aneh. Dia melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala.


“Kamu ingat…. Umm…Arrgh!” Ah! kenapa sulit sekali menggingat kenangan bersama dia. Tapi, kenangan apa yang sudah kami buat? Sampai detik ini, kami tidak pernah membuat kenangan untuk dikenang. Karena jelas, baru saat ini kami bertemu secara langsung.


“Sudahlah, kamar dirumah ini sudah penuh. Mungkin disana ada penginapan yang lebih murah. Jika uang mu tidak cukup. Kirimkan saja nomor rekening mu, akan segera ku kirimkan uang untuk menambah uang penginapan mu.” Nada dari suaranya lebut tapi tegas—bahkan dari kata-katanya sudah mulai terdengar kurang formal dari sebelumnya.Seketika dia membuatku menyerah. Aku tidak tahu mengapa dia seperti ini. Aku rasa, dia mengira bahwa aku akan memanfaatkan dia selama di Beijing.


“Maksud mu?” Sungguh aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Sejenak aku melihat kearah Arum, berharap dia dapat mengerti apa maksudku. Namun, Arum hanya menaikkan pundaknya tidak mau ikut campur.


“Kau tidak perlu berbasa-basi. Aku mengerti. Oh ya satu lagi! Jangan terlalu berlama-lama di negara ini tanpa tujuan yang jelas. Jika butuh bantuan, atau tiket untuk pulang, akan ku pesankan sekarang juga.”


“Aku tidak membutuhkan itu. Tapi sungguh kau tidak mengenal ku?”


“Ah, sudahlah! Itu lagi. Aku kan sudah katakan aku tidak menggenal mu. Kenapa tidak katakan dengan jelas apa tujuan mu?” Tiba-tiba dia berlalu begitu saja meninggalkan kami berdua di ruang tamu ini. Aku semakin binggung dengannya. Apa benar dia memang membenci ku. Lalu kenapa?


“Sudahlah nak, lebih baik kau pulang saja dulu. Tinggalkan saja nomor telepon mu.” Sambung Arum menenangkan suasana, ia mengambil bolpoin dan post-it yang berada di sebelah telepon rumah. Ia segera mencatat nomor telepon rumahnya dan aku memberikan nomor teleponku. Ia tampak baik dengan ku, tanpa kecurigaan lagi seperti pertama kalinya. “Ini nomor telepon rumah ini. Kalau kau ada perlu hubungi saja aku. Aku akan mencoba berbicara dengannya.” Ia menepuk bahu ku, mencoba menenangkan perasaan ku yang kacau.


Aku tidak mengerti dengan sikap Olivia yang seperti ini kepada ku. Aneh, sungguh aneh. Dia berbeda dengan yang ku kenal. Apa hanya aku yang tidak tahu sikapnya yang seperti ini?


Lagi, Aku sangat bodoh! Kenal? Sejak kapan aku kenal dia.


Ribuan mil jarak yang ku lalui terasa sia-sia. Ku putuskan kembali ke hotel, pikiran ku kacau saat ini. Aku frustrasi mendapatinya kenyataan seperti ini.

__ADS_1


#Olivia


Aku tidak tahu mengapa bumi seakan mengutukku. Dengan iklim yang ekstrim begini, ditambah kedatangan orang asing yang membuatku kesal. Ada apa sebenarnya? Seakan mereka bersekongkol saja.


Setelah mendapat pesan dari Bi Arum untuk menemui orang asing di ruang tamu. Entah mengapa perasaan ku terasa aneh—ketika mengetahui kunjungan orang itu. Dari tatapannya saja membuatku resah. Ditambah lagi, dia memaksaku untuk mencoba mengingatnya. Siapa dia? Bertemu saja tidak pernah, bagaimana aku bisa mengenalnya. Aku memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tampilannya seperti backpaker yang mungkin kehilangan arah. Lalu mencari seseorang yang berkewarganegaraan sama untuk meminta pertolongan. Jika dia tidak berperilaku seperti itu dan berkata sejujurnya mungkin saja aku bisa menolongnya. Tapi dengan sikapnya yang seperti itu, justru membuat ku jengkel saja. Aku berharap dia tidak kembali kerumah ini lagi.


Aku tidak tahu kenapa Bi Arum antusias mencari tahu titik permasalahan ini. Bi Arum menyelidikiku. Membawa pertanyaan yang mengesalkan. Tidak seperti biasanya juga aku bertidak kasar kepada orang seperti ini. Bagaimana tidak, dia membuatku kesal. Sudah pasti aku berpikiran negatif tentangnya. Biasanya orang yang berkunjung ke rumah dengan tujuan bertemu dengan ku memang orang-orang yang berasal dari Indonesia, dengan tujuan mereka yang tidak lain untuk mencari perkerjaan, ataupun orang-orang yang mecari rekan perjalanan selama di Beijing—itupun mereka sudah berkordinasi jauh-jauh hari sebelum ke Beijing. Mereka juga akan berkata jujur jika mereka mempunyai masalah. Apapun itu, jika aku bisa, aku akan membantu mereka.


Bi Arum memandangku dengan penuh tatapan menyelidiki. Dia berdiri di depan pintu kamarku. Membuat ku bertambah resah. Aku tidak senang jika dia menatapku seperti itu. Bi Arum juga tidak seperti biasanya menyelidiku lebih dalam. Terkadang, hanya sepatah dua kata ketika aku menjawab pertanyaanya, dia pun akan mengerti. Tapi tidak seperti hari ini.


“Udah bi jangan percaya deh sama orang yang baru dikenal. Apalagi cowok gitu. Kita ini cewek bi, perlu waspada.” Sergah ku sebelum Bi Arum angkat bicara.


“Apa kamu yakin tidak mengenalnya?” Tanyanya.


“Sungguh bi’ aku tidak berbohong.”


“Tapi dia ingin sekali bertemu dengan mu. Dia baru semalam disini. Dia tidak punya siapa-siapa. Apa kamu tidak kasihan?” lihatlah bi Arum memang orang yang sangat peduli tanpa memandang apapun.


“Kasihan sih kasihan. Tapi bibi gak liat tampangnya seperti itu, tidak meyakinkan ku. Siapa tahu aja dia kehabisan uang terus mencari warga Indonesia yang bisa dimanfaatkan. Buktinya saja, kita yang tidak kenal di paksa untuk mengenalnya—Mungkin dia juga mengharapkan kepedulian kita untuk membiayainya pulang.” tukasku.


“Kamu itu kok berpikiran gitu sih nak…”


“Jelas bi’, aku gak kenal siapa dia. Mungkin aja dia mencari tahu tentang kehidupan orang Indonesia yang menetap di Beijing. Lalu, menemukan daftar nama keluarga dan alamat kita, entah dari siapa. Itu mengapa dia malah kemari. Ah, kenapa juga tidak langsung ke KBRI saja sih!”


“Olivia kamu kok begitu sih nak. Kamu gak pernah-pernahnya loh begini sama orang lain. Kamu gak pernah menilai orang seperti itu… bahkan kamu gak mikir kondisi kamu kalau mau bantu orang. ”


“Entahlah, kenapa sewaktu aku melihatnya, aku punya perasaan aneh sama dia bi. Dadaku serasa sesak sekali saat dia maksa aku untuk ingat siapa dia, rasanya aku ingin marah-marah saja dengannya. Huh! Kenapa dia tidak berkata jujur saja kalau dia ingin meminta bantuan kepada kita. Dia benar-benar membuatku sakit kepala saja.”


“Huss... kamu! Bibi gak pernah liat perilaku kamu yang negatif seperti ini dengan orang lain.”


Aku berjalan ke meja rias. Lalu duduk di atas meja sejenak menunggu respon dari bi Arum. “Entahlah, aku merasa aneh aja ketika melihatnya.” Aku menghela nafas.


“Bibi yakin dia anak yang baik. Bahkan dia dengan sabar menunggu kepulangan mu. Untung saja kamu pulang cepat hari ini.”


“Mungkin itu firasat, dan pertanda ada hal buruk seperti ini. Tidak seperti biasanya aku ingin pulang secepat ini, walau hari sangat dingin. Hummm… dia menunggu bukan berarti dia anak baik… bisa jadi dia memang terpaksa menunggu.”


“Sungguh, kamu tidak mengenalnya?” Dan lagi bi Arum membuatku bertambah kesal.


“Sumpah bi’…. Olivia tidak sama sekali mengenalnya. Mungkin saja dia tahu namaku dari papan nama didepan itu. Humm…Ingin rasanya aku mencabut papan nama itu—sepertinya ide menaruh papan nama di depan rumah adalah suatu kesalahan besar.”


“Yah, mau diapa. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Mungkin kamu lelah. Lebih baik kamu istirahat sana.” Ujarnya mengalihkan.


***

__ADS_1


__ADS_2