Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Bagaimana Aku Selepas Kau Pergi?


__ADS_3

Hari ini adalah hari pelepasan para senior SMP. Acara perpisahan dengan kegiatan pensi menjadi tema hari ini. Sana-sini para siswa yang mengikuti acara, sibuk dibalik panggung. Sibuk dengan persiapan pentas mereka dan sebagainya.


Aku dan Terfin tidak kalah ketinggalan. Meskipun kami tidak punya selera bermusik dan sibuk-sibuk di balik panggung untuk persiapan menjadi pengisi acara. Namun kami berdua tidak kalah sibuknya dengan mereka yang menjadi pengisi acara. Kali ini kami berdua ditugaskan sebagai penyambut para tamu undangan, termasuk Astya. Dari subuh kami sudah persiapan dengan kostum dan makeup. Meskipun aku sempat aneh melihat diri ku sendiri setelah wajahku di poles alat makeup dan memakai baju adat. Pada akhirnya aku suka melihat diriku seperti ini. Awalnya aku sempat kewalahan untuk memilih kostum. Mama sempat menyaranku untuk memakai baju adat Jawa, namun aku menolak karena terlalu membentuk badan ku. Jadi ku putuskan pilihan ku menggunakan pakaian adat Dayak. Bajunya yang simpel dan aksesoris yang tidak mencolok.


“Cantik kamu Nis’… Jawa banget.” Puji ku ketika sedang beristirahat bersama Astya, setelah menyambut para tamu undangan yang hadir dalam acara pensi ini. Sebagian besar dari tamu undangan ini adalah orang tua senior kelas tiga.


“Kamu juga, biar dandan ataupun gak tetep aja cantik” Tersenyum. Aku tidak tahu apakah dia meledek atau ini benar pujian.


“Ah, kau pinter aja ngeledek aku dari dulu. Haha.”


“Serius Vi’…Aku juga baru kali ini ngeliat kamu berdandan. Jadi tambah cantik.” Meskipun aku cantik tetap aja, Kenzie akan melihat mu.

__ADS_1


“Ah… sudah lah jangan ngolok terus, entar aku bisa melayang lagi… Ya sudah, aku harus membagi makanan dulu ke anak-anak yang mau pentas.” Ujarku berlalu.


Reisa dan Dila saat ini memang tidak bersama ku dan Terfin, ini karena mereka sedang mempersiapkan diri untuk persiapan paduan suara. Kami juga kesulitan untuk bertemu dengan mereka. Jadi untuk mengisi waktu aku dan Terfin dari tadi hanya mondar-mandir mencari sesuatu—


“Oh ya Vi’ udah tau gak?” Tanya Terfin sambil berjalan keluar ruangan.


“Belum, kan kau belum kasi tahu.”


“Ah, serius?!” Ujarku kaget.


“Iya beneran, aku dengernya gitu.” Seru Terfin masih melanjutkan laju jalannya.

__ADS_1


“Ah, kau buat aku gak semangat nih...”


“Iya, aku juga gak tahu dia mau pindah kemana. Mungkin keluar daerah, keluar Kalimantan mungkin?”


“Ah, Terfin…” Aku terhenti. Melirik kearah dalam ruangan. “Noh, idola mu tampil.” Muka ku berubah menjadi murung setelah mendengar penjelasan Terfin.


“Astaga! dia bisa main gitar. Ya ampun!” Seru Terfin heboh saat melihat pujaan rahasianya mengisi acara di pensi. Sedangkan aku, nihil menemukan pujaan rahasia ku.


Dua jam berlalu... Acara Pensi selesai.


Siapa yang tidak senang jika berjabat tangan, bertatapan, tersenyum dengan orang yang selama ini kita idolakan. Aku juga merasakan hal itu, aku sangat senang bahkan berlebihan jika bisa menyentuh tangan idolaku, walau itu hanya sekedar senior di sekolah. Justru ketika kesempatan inilah aku menghilang menyembunyikan diri. Lagi, dan lagi aku tidak bisa mengontrol diriku. Mengapa selalu saja timbul perasaan panik jika melihat dirinya? Ketika aku mulai menghilang dari deretan pagar ayu, Terfin malah kebinggungan melihat aku yang tiba-tiba seperti itu. Ini tepatnya ketika rombongan Angga dan kawan-kawannya mulai keluar dan saling berjabat tangan sebagai tanda perpisahan dengan adik-adik kelasnya. Sedangkan aku hanya melihat dari jauh dan memegang tangan Reisa yang dari tadi ketawa melihat tingkahku yang aneh.

__ADS_1


***


__ADS_2