Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
In Heaven


__ADS_3

#Kenzie


Aku berdiri di tempat yang sangat asing. Tidak seorang pun yang berada di tempat ini, kecuali aku. Daun-daun bertembangan melawan arah jalanku. Taburan kelopak-kelopak bunga berwana putih berjatuhan dari atas kepala ku. Hawa sejuk menyapa di kulitku. Aku berlari, frustrasi mencari tahu tempat apa yang ku datangi. Aku mengedarkan pandangan kesegala penjuru, tempat ini tak berwarna. Bahkan mentari bersembunyi dibalik awan. Membuat suasana disini semakin menakutkan. Seperti alam yang kosong.


Mencoba mencari jalan keluar, berharap aku akan bertemu dengan seseorang yang bisa menolongku yang tersesat. Di suatu jalan aku melihat sesosok perempuan berambut panjang yang sedang membelakangiku. Perempuan itu mengadahkan wajahnya kelangit. Perlahan aku mendekatinya. Ketika aku mendekatinya, langkah ku membeku, saat ku lihat wajah perempuan itu dengan jelas. Perempuan itu tersenyum sambil memejamkan mata. Aku mengenal sosok itu. Perlahan, senyum menghilang dari wajahnya. Aku mengernyitkan dahi melihat perempuan yang berada dihadapanku. Memastikan apa benar perempuan itu adalah orang yang sangat ku kenal.


Hatiku kacau ketika ku lihat air matanya terjatuh.


“Aku harus pergi sekarang.” Ujarnya dengan wajah tanpa ekspresi, lalu menurunkan kepalanya yang tadi mengadah kelangit-langit. Aku tidak percaya dengan apa yang ku hadapai sekarang.


“Kumohon jangan pergi….” Suaraku bergetar. Aku sendiri tidak mengerti dengan keadaan diriku yang seperti ini. Tiba-tiba saja rasa itu mengoyak hulu hatiku. Aku sangat merindukan Olivia saat ini. Aku tidak percaya, bagaimana mungkin dia berada di hadapan ku sekarang.


“Aku akan kembali.”


“Bohong, kau bohong!” Aku memotong perkataanya.


“Aku tidak berbohong, aku sangat mencintaimu.” Ia menatapku dengan senyuman di wajahnya.


“Bisa kau tunjukkan, padaku sekarang?”


“Aku mencintaimu.”


“Lalu kenapa kau melupakanku?”


“Seharusnya ini tidak pernah terjadi, dan kita seharusnya tidak bertemu lagi.”


“Apa maksud mu? Apa ini buktinya kau mencintaiku.”


Dia hanya tersenyum. “Begini lah caraku Mencintaimu. Aku tidak ingin menyakiti mu dengan kata-kata ini.”


“Tidak bisakah kita saling mencintai lagi?”


Aku terbangun dari tidurku. Aku berdengus pelan karena mimpi yang barusan menemani tidurku. Aku mengatur nafasku yang berat dan tidak beraturan. Dahiku masih mengeryit. Aku beranjak dari tempat tidur lalu menuju kulkas. Mengambil sebuah botol air mineral dan meneguknya.


Aku membaca catatan yang sengaja aku tempelkan di pintu kulkas itu. Dimana masih ada agenda untuk jalan-jalan bersama Olivia. Jika memang ini sebagai kenangan terakhir ku. Aku akan membuat hari ini lebih bermakna dari hari kemarin.


Besok aku akan kembali ke Indonesia. Aku sudah menyiapkan segala upaya untuk mengungkapkan itu semua. Hanya saja kemarin aku terlalu bodoh karena perasaan itu.


Perlahan aku mulai melupakan masa lalu itu. Aku harap aku bisa melupakannya. Aku pasti bisa, walau sangat berat.


Kemarin adalah hariku yang paling tolol. Aku tidak berpikir panjang mengenai kejadian kemarin apalagi resiko yang akan ku hadapi nantinya. Hari itu egoku sedang memuncak.


Kini aku sangat merindukannya—Tiba-tiba saja, tangan ku menyenggol botol air. Lalu tersadar bahwa Angga belum juga mengabarkan kedatangannya, padahal dia memberi tahu bahwa dia akan terbang ke Beijing beberapa hari yang lalu. Diwaktu yang sama sebuah pesan masuk. Pesan yang bertuliskan nama sang pengirim—Terfin memberi tahu bahwa suaminya akan sampai malam ini. Semoga dia baik-baik saja dalam perjalanan.


Aku terseyum melihat kehadiran Olivia yang melintas di benak ku. Aku bergegas mempersiapkan diri untuk bertemu sesorang yang sangat istimewa. Sesorang yang aku biarkan pergi beberapa tahun lalu.


Sebenarnya, semenjak kemarin aku tidak berkomunikasi dengan Olivia selama dua hari. Aku hanya mengurung diri di kamar tanpa melakukan kegiatan apa-apa selain melamun dengan perasaaan yang kacau balau.


***


Aku berdendang kecil dengan riang menyusuri trotoar menuju kediaman bi Arum, dimana Olivia juga menempati rumah itu. Aku sudah tenang dan ikhlas semenjak kejadian kemarin, mencoba menerima dan melupakan kenyataan yang telah terjadi.


Dari kejauhan mataku menangkap Bi Arum keluar dari rumahnya dengan tergesah-gesah sambil membawa tas yang cukup besar. Aku berlari menghampirinya.


“Bi’, anda mau kemana? Kelihatannya buru-buru sekali. Dirumah ada Olivia?” Sapaku, walau batin ku sangat penasaran. Aku memberikan senyuman untuk membuat obrolan ini tetap hangat. Tapi Bi Arum mengacuhkan ku. Ia justru bergegas menuju mobilnya menyalakan alaram untuk membuka kunci pengaman mobil. Aku mengeryitkan dahi tidak mengerti dengan sifat Bi Arum yang seperti ini kepada ku. Tidak seperti biasanya dia tampak dingin menyambutku, sebenarnya dia tidak menyambutku. Aku tetap mengikuti wanita paruh baya itu. Bertanya, namun tetap saja dia seakan tidak menganggap kehadiran ku. “Kenapa anda bersikap seperti ini kepadaku?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu aku harus berkata apa lagi kepadamu!” Bi Arum meninggikan suaranya membuat ku kaget dan mundur satu langkah.


“Ada apa?”


Bi Arum menatapku tajam. “Aku kira kau anak baik-baik.” Suaranya bergetar, tiba-tiba saja dia terduduk lemas di depan pintu masuk kemudi mobil. Aku membantunya untuk berdiri.


“Mohon maafkan aku. Beritahu apa salahku? Jujur aku tidak tahu apa salahku.”


Bi Arum menampar ku sangat kuat. Dan menyisakan perih di pipiku. “Maafkan aku.” Ujarnya kaget atas tindakannya yang spontan. Suaranya bergetar seiring dengan tangisnya yang pecah. “Aku sanggat kacau sekarang.”


“Tidak apa, jika kau ingin menamparku ku lagi. Tampar saja aku jika aku memang melakukan kesalahan. Yang membuat kau begitu marah kepada ku.”


Bi Arum mencoba menahan isakkannya. Dia berdiri dan membuka pintu mobilnya. “Masuklah, aku akan membawakan mu kesuatu tepat. Agar kau tahu apa kesalahanmu.” Aku menuruti perkataan wanita itu.


Selama perjalanan kami tidak mengeluarkan sepatah katapun. Bi Arum hanya fokus dengan jalanan yang dia lalui, dan kemudi yang dia kendalikan. Begitu juga denganku yang sesekali melirik keadaannya. Namun dia hanya diam tanpa memandang ku.


Kami memasuki gerbang... Oh tidak. Ini rumah sakit! Aku mengetahui karena aku melihat lambang ular yang melilit pada tongkat, itu adalah lambang dari rumah sakit. Beberapa ambulan dan pakaian perawat meyakinkan ku bahwa benar kami tiba di rumah sakit. Aku menoleh kearah Bi Arum, mencoba meyakinkan, untuk apa dia membawa ku kesini.


Kami memasuki rumah sakit itu, setelah melalui beberapa lantai mengunakan lift kami sampai disalah satu koridor. Diujung koridor ku lihat seorang laki-laki terduduk dilantai, ia terlihat sangat lemas. Dia menaruh kepalanya di atas kedua lututnya dan kedua tangannya memeluk kaki. Bi Arum menghampiri laki-laki itu, berjongkok dihadapannya. Bisikan itu terdengar ditelingaku, sangat jelas. “Istirahatlah dulu. Kau sangat berantakan sekarang. Aku membawa pakaianmu. Bersihkanlah dirimu dulu.” Seketika bi Arum membantunya berdiri, terlihat muka sembab, dagunya yang belum tercukur rapi membuatnya terkesan benar-benar lelah. Dia seperti tidak ada harapan hidup. Tidak ada pancaran kehidupan didalam dirinya. Bahkan matanya sudah terlihat lelah sekali, ada garis hitam dibawah matanya. Kepalanya tertunduk lemas, sudah tidak ada lagi energi untuk menggangkat kepalanya. Perlahan dia membuka matanya—menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia bergerak cepat, maju kearah ku dengan geram. Menarik baju ku dan tiba-tiba saja menumbuk rahang ku.


“Argh!!” rintihku menahan sakit. Aku terjatuh karena tumbukannya yang sangat keras.


Dua kali aku mendapatkan tindakan kekerasan di hari yang sama. Oh tidak ini bertubi-tubi. Dia menumbuk rahangku berkali-kali. Bibirku terasa pecah karena hantaman yang mengenai bibirku. Ku rasakan darah menyentuh lidahku.


Bi Arum tidak bisa berbuat apa-apa dia menangis terisak melihat perkelahian di depannya. Aku juga tidak membalas sama sekali tumbukan yang berulang-ulang di rahangku.


Keadaan dilorong ini sangat sepi. Tidak ada yang berada disini selain kami bertiga. Sebagian lagi tengah berada di ruangan operasi, dibalik pintu tebal di depanku. Setelah puas, Adrian menarik badannya mundur dan menghantukan kepalanya kedinding berulang-ulang.


“Aku sudah katakan berapa kali hah!” bentaknya berbalik kearaku. Sepertinya orang-orang hari ini bersekongkol untuk membuatku jantungan karena kaget. Perih masih ku rasakan di rahang dan di bibir ku. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat bingung dengan keadaan yang seperti ini. “Kau liat apa yang kau lakukan! Aku tidak akan membiarkan kau pulang dengan nyawa mu!” dia mendorongku ke belakang sangat kuat, saat aku baru saja berdiri.


Dipikiran ku saat ini hanyalah Olivia. Karena sampai saat ini tujuanku hanya untuk bertemu dengannya. Namun sampai kini aku tak melihatnya. Suatu pertanyaan besar ditengah kebingungan seperti ini. Apa maksud dengan tamparan, hantaman yang dilontarkan Adrian bertubi-tubi kepadaku dan juga tujuan kerumah sakit ini?


           Astaga!


***


Kini hanya ada sosok perempuan yang terbujur lemah dengan selang-selang dan juga kabel yang menempel ditubuhnya. Pernafasannya juga di bantu. Disamping tempat tidurnya terdapat monitor yang mengawasi setiap detak jantungnya. Hanya monitor itu harapan kami untuk mengetahui kondisinya. Perempuan itu adalah Olivia, dia tampak pucat diterangi cahaya matahari yang menembus dijendela kamar diruangan tempatnya terbaring.


Disamping tepat tidurnya Adrian menjaga penuh Olivia yang terbaring lemah tak berdaya itu. Kini dia tertidur memegang tangan perempuan yang sangat dicintainya. Begitu juga dengan Bi Arum yang tertidur pulas di sofa. Hanya aku yang terjaga memandangi perempuan itu. Perempuan yang sedang tertidur itu dalam masa kritisnya, dia mengalami koma. Entah sampai kapan itu.


Langit mulai gelap. Segelap hatiku, tak terarah. Aku masih binggung dengan apa yang terjadi. Tidak ada penjelasan yang aku dapat, kecuali rasa sakit yang aku dapat dari tamparan bi Arum, pukulan Adrian dan melihat orang yang ku cintai terbaring lemah di ruangan ini.


Ketika semuanya terjaga, tidak ada yang saling bertegur sapa. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Begitupun ketika kehadiran Angga. Aku lebih banyak berdiam diri tanpa berbicara sepatah katapun dengannya. Sebenarnya aku merasa bersalah karena tindakan ku yang seperti ini kepada Angga. Mau bagaimana lagi. Aku binggung apa yang harus ku bicarakan kepadanya.


Begitu pun ketika hari telah berganti. Hanya bi Arum saja yang jarang terlihat di rumah sakit. Sepanjang hari hanya Adrian dan beberapa rekan kedokterannya hilir mudik bergantian mengecek keadaan Olivia yang tidak menunjukan perubahan sama sekali.


***


Ini sudah tiga hari Olivia belum membuka matanya. Akhirnya Keluarganya juga datang. Kehadiran keluarganya di sambut isak tangis. Hanya ada tiga orang yang datang. Papa, mama dan adik Olivia.


Aku masih tidak menyangka harus melihat Olivia dalam keadaan koma. Sampai hari ini juga tidak ada yang memberi tahuku kenapa Olivia koma. Kini hanya ada perasaan bersalah didalam diriku, ketika aku melihat Adrian yang berlutut meminta maaf kepada kedua orang tua Olivia. Dengan tegar kedua orang tuanya berusaha keras untuk membantu Adrian berdiri dan tidak membuat dirinya merasa bersalah dengan keadaan putrinya yang koma.


Aku memutuskan pulang ke hotel setelah melihat pertunjukan yang sangat membuat diriku tak bisa berbuat apa-apa. Kepalaku rasanya ingin meledak.


Di temani Angga, kami berdua menuju hotel. Seharusnya aku sudah pulang kemarin ke Indonesia. Namun aku menundanya karena hal seperti ini.

__ADS_1


Tepat pukul 03.30 pagi kami tiba di hotel. Angga sudah tidak bisa menahan kantuknya, semenjak kedatangannya dia tidak tidur karena menemani ku yang selalu terjaga.


Ketika Angga sudah memasuki kamar, aku justru beralih ke balkon kamar. Pikiranku kacau. Aku sudah tidak bisa mengontrol diri. Aku menaiki pagar pembatas, lalu berdiri diatasnya, menatap kebawah sejenak. Dan kembali memandang lurus kedepan sana.


Langit masih gelap, dingin masih memeluk ku pagi ini. Hanya suara sayup-sayup angin yang membelai daun-daun yang menemaniku.


Angga tersadar bahwa aku belum masuk.


Ku dengar suara kakinya dan suara badannya yang terhantak menerobos pintu, berlari menuju ke arah ku. Aku yang sudah siap di posisi ku diatas sebuah pagar yang tingginya setengah meter. Aku sudah siap menjatuhkan diriku ke bawah.


Dengan sekuat tenaga Angga menarik badan ku hingga terjungkang kebelakang. Mulutku kaku. Aku diam seribu bahasa menatap kosong kelain arah. Tangganku bergetar. Aku menagis dalam pelukan Angga.


“Hei… sadarlah… ada apa dengan mu!” bentak Angga. Aku tidak menjawab pertanyaan itu, kepalaku tertunduk lemah. “Kenapa kau seperti ini? Apa karena Olivia yang berada dirumah sakit? sadarlah Ken’, kau tidak seharusnya berpikiran seperti ini!”


Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan Angga. “Ini semua salahku Ga’…. Ini semua salahku, aku yang membuatnya seperti itu. Bukan hanya Olivia saja yang sakit karena ku. Adrian juga. Kau tahu betapa jahatnya aku?” Angga mencoba membopoh badanku untuk berdiri dan masuk kedalam kamar. Tak bisa ku kontrol air mataku yang mengalir begitu deras.


Angga tercegang. “Apa yang kau lakukan terhadapnya?”


“Aku tidak tahu. Seharusnya aku tidak berada disini. Aku yang salah Ga’… aku yang membiarkannya pergi.”


“Oke… kita masuk, tenangkan dirimu. Jangan terus menyalahkan dirimu seperti ini…”


Angga membopoh badan lemah ku masuk kedalam kamar. “Ada apa sebenarnya Ken’?”


Aku hanya menggelengkan kepala.


***


Semalam ini kami berdua tidak bisa tidur. Walau aku tahu Angga sangat lelah sekali, dia berupaya agar bisa terjaga. Pagi-pagi sekali Angga mengajak ku bertemu Bi Arum. Aku memang sudah menceritakan siapa-siapa saja yang ku temui. Dan bi Arum sajalah kunci dari semuanya.


Tepat jam setengah tujuh pagi kami sudah bergegas meninggalkan hotel. Pertanyaan-pertayaan itu sudah tidak tertahankan lagi untuk di keluarkan dari kepala ku. Tujuan kami tidak lain adalah mengunjugi bi Arum.


Untung saja bi Arum saat ini sudah terbangun. Kini dia menyiapkan makanan untuk dibawanya kerumah sakit. Dia menyambut kami dengan raut wajah yang lelah.


“Aku juga tidak habis pikir. Aku pernah menceritakan kepada mu bahwa Olivia pernah mengalami kecelakaan, kan? Saat aku tahu Olivia mengalami Amnesia. Setelah kecelakaan setahun silam. Saat itu aku sedang berada di Canbera—Aku segera pulang mendengar kabar itu. Singkatnya, awalnya Olivia sangat menjaga jarak dengan Adrian. Walaupun dia tampak dekat di foto pertama kali kau lihat itu, tapi disatu sisi dia menyimpan sesuatu yang tidak terungkap sebelum kecelakaan itu...


“Dia terperangkap didalam mobil selama dua hari—Adrian saat itu sedang tugas ke Taiwan—Kami sangat terpukul sekali mendengar mobil yang Olivia bawa itu mengalami tabrakan beruntun dan masuk kedalam jurang berbatu. Kami tidak yakin bahwa Olivia akan selamat. Evakuasi itu berjalan lambat. Banyak korban yang terperangkap dibawah sana. Dan semuanya tidak terselamatkan. Di hari kedua, Olivia belum terevakuasi. Karena sangat resah Adrian juga membantu dalam penyelamatan itu. Dia sudah putus asa dengan kejadian itu. Untuk kedua kalinya, dari sekian lamanya aku melihat Adrian begitu terpukul. Setelah itu tim penyelamat berhasil menemukannya. Untung saja dia masih bernyawa...hmm... namun, dia koma—Selama perawatan Olivia di masa komanya... Aku tidak mengetahui kalau Adrian mempunyai janji dengan kedua orang tuanya—Aku juga mengira bahwa Olivia sudah mengingat seperti dahulu kala ketika dia pulih.


“Itu mengapa aku begitu penasaran ketika kau datang kesini dan mengetahui Olivia tidak mengingatmu— dan cara Rian melihat mu dengan sangat dingin, kini aku mengerti.” Jelas Bi Arum menjelaskan ceritanya. Aku dan Angga menyimaki setiap perkataannya. “Setelah disinyalir, penyebab dari kecelakaan itu…” Bi Arum terisak.


“Kenapa???” Tanyaku menedekati Bi Arum, sejenak menenangkannya.


Bi Arum menantapku. “Dia mengalami Aneurisma Cerebral. Adrian sudah tahu tentang penyakit itu, sebelum Olivia mengalami kecelakaan. Itu mengapa dia sangat menjaga Olivia selama disini. Ada benjolan yang terdapat pada pembuluh darah di otaknya, dan itu sudah pecah, itu mengapa dia mengalami kecelakaan itu. Olivia juga yang menyebabkan kecelakaan beruntun itu—Olivia tidak bisa berpikir begitu keras. Itu akan membuatnya terpuruk karena penyakitnya. Benjolan itu akan pecah kapan saja. Dan operasi tidak bisa menjaminnya untuk sembuh. Olivia juga sudah tahu akan penyakit ini. Dan ini lah pecahnya kedua kali benjolan itu. Dalam ilmu medis. Itu sangat berbahaya dia bisa mengalami koma dan bahkan meninggal kapan saja. Setelah aku mendengar penjelasan Adrian. Aku mengerti—Dia sudah memperingatimu berkali-kali untuk tidak mengungkit masa lalunya, bukan? Tapi kenapa kau mengungkitnya?” Bi Arum menguncang tubuh ku.


“ …..” Aku tertunduk.


“Malam sebelum dia koma, dia mengurung dirinya di kamar. Aku mendengarnya menangis. Aku berusaha keras membujuknya keluar kamar. Tapi setelah Adrian mendobrak pintu kamarnya. Kami sudah menemukannya dalam keadaan pingsan di kamar mandi. Dia sangat basah kuyub.” Jelas Bi arum mengakhiri ceritanya.


***


“Aneurisma otak adalah kelainan pada dinding pembuluh darah. Ya, itu seperti tipisnya pembuluh darah. Jika itu terjadi di kaki bisa mengakibatkan kelumpuhan— Nyeri kepala yang berat, mendadak, dan kronis bisa menjadi pertanda aneurisma atau kelainan pembuluh darah otak yang dapat menyebabkan kematian. Kalau nyeri kepala itu terjadi berulang-ulang seperti migran itu berarti aneurisma, benjolan itu sudah pecah dan merembes, sehingga terasa sakit dan menyebabkan pingsan atau langsung meninggal—


“Ada dua kemungkinan setelah di lakukannya operasi, antara kematian atau dia akan sadar dengan keadaan cacat.” Jelas Terfin menjawab pertanyaan yang dilontarkan Suaminya lewat email balasannya. Terfin merupakan ahli kesehatan. Jadi dia dengan mudah menjelaskan apa saja seputar kesehatan. “Yaa… kurang lebih seperti itu. Siapa yang mengalaminya? Segera ditangani. Itu sangat berbahaya.” Ujarnya peduli. Tapi Angga tidak memberitahukan bahwa sahabatnya sendiri yang mengalami penyakit itu.


***

__ADS_1


__ADS_2