
Tahun 2003,
Suatu malam kami bertemu lagi. Entah secara tidak sengaja atau memang ini adalah hal yang memang di ada-ada. Tidak melalui pihak ku. Mungkin saja dia. Itu bisa saja terjadi. Aku juga tidak tahu kenapa malam itu kami bisa bertemu kembali. Dia yang menggunakan kaos oblong berwarna abu-abu bercorak abstrak—sedang memilih-milih baju tepat di depan mata ku. Jarak kami tidak jauh dari delapan atau sepuluh meter. Saat itu aku sedang menikmati secangkir cappucino hangat di sebuah kedai di salah satu pusat perbelanjaan.
Mata ku memang jeli sekali untuk mengetahui siapa dia. Aku tidak membicarakan siapa-siapa lagi dalam catatan ku ini. Hanya ada dia, Kenzie. Tidak tahu kenapa, aku tidak bosan-bosannya menanti kehadirannya. Yang aku bosan hanyalah, kenapa ada kata-kata untuk melupakannya yang selalu muncul di kepalaku. Setiap aku memunculkan kata-kata itu. Dia dengan cepat hadir di dalam kehidupan nyata ku.
__ADS_1
Malam itu aku menangkap sinyal. Aku tidak tahu mengapa dia secara terang-terangan menunjukan dirinya. Terlebih lagi terkadang dia menunjukan wajah yang menyedihkan itu. Tampang yang selalu membuat ku bertanya-tanya.
Sayangnya malam ini langit sangat cerah. Bintang-bintang menjadi penghias malam. Bulan tersenyum disana, memberikan semangat para penjelajah malam. Tidak layak jikalau aku menuduh sang malam yang membuatku menjadi sangat terpuruk seperti ini.
Aku melihat suatu sosok tanpa ekspresi yang berada searah denganku. Seakan aku bisa membaca dari setiap geriknya, terutama mata sosok itu.
__ADS_1
Oke, itu memang haknya. Tapi, yang membuatku kesal ialah, kenapa dia tidak pindah dari tempat itu? Selama itu kah? Hanya satu barang, dan menyortir barang itu begitu lama. Posisi ku saat itu juga sangat jelas sekali bahwa orang-orang yang lewat akan menyadari kehadiranku. Sungguh aku tidak mengerti dengan keadaan ini. Seperti biasanya, jika dia bersama teman-temannya dia pasti tidak akan menjebakkan dirinya untuk bertemu dengan ku. Terlebihnya, dia akan selalu menatapku dengan tatapan benci. Mungkin? Dia tersenyum, apa itu ejekan? Terkadang juga dia salah tingkah di hadapan ku, apa karena dia takut berhadapan dengan ku. Apa karena wajah ku jelek? Apa badan ku bau? Atau aku punya aura yang membuat orang menjauh?
Oh bukan itu saja. Apa kau masih ingat dengan cincin couple yang pernah ku beli atas namanya? Nah, saat itu aku muak sekali dengan hal-hal tentang dia. Saat itu sedang akhir pekan, pagi-pagi sekali dengan ditemani Terfin aku pergi ke dermaga. Sembari untuk jalan-jalan menghirup udara pagi. Pagi itu sangat indah, namun sayang sepertinya akan ada badai, ini jelas terlihat karena langit mendung dan angin bertiup sangat kencang. Kami tidak lama di sana, mungkin hanya setengah jam. Dan aku menyempatkan untuk membuang cincin yang bernama Kenzie itu. Setidaknya aku sedikit lega bisa membuang satu persatu yang bisa membuatku melupakannya.
Mungkin barang bisa saja hilang dengan mudah. Tapi tidak dengan sikap dan kenangan seseorang. Itu sangat sulit di hilangkan dari ingatan. Ketika kami pergi meninggalkan dermaga. Kami berpapasan dengan Kenzie yang datang bersama rombongannya. Aku kenal beberapa orang di rombongan itu. Sebagian besar adalah teman ku di SMP dan juga yang sering bertegur sapa jika mereka datang kerumah ku—saat datang bersama Eky. Pagi itu sama seperti biasanya, mereka masih tersenyum menyapaku dan Terfin. Tapi hanya ada satu orang yang tidak memberikan sapaan itu. Yah, selalu Kenzie. Dia hanya memandang lurus kedepan dan melewati ku begitu saja. Tatapan kebencian tersorotkan dari wajahnya. Aku tidak tahu begitu salahkah untuk menyukai seseorang? Apakah ini hukuman orang yang menyukai seseorang yang tidak mempunyai rasa yang sama? Aku rasa jatuh cinta itu memang sakit, wajar saja namanya aja ‘jatuh’.
__ADS_1
Lagi dan lagi. Sebegitu buruknya kah aku. Jika kau melihatku dengan sebelah mata mu. Kalau begitu kita impas. Aku tidak melihat mu dengan kedua mataku.
***