
Aku berjalan sendiri, dalam angan bertabur sendu.
Aku menutup mata ku sejenak.
Haruskah aku berlari?
Berlari untuk menghindari ini semua
Ketika aku mengadah ke langit. Dan kembali melihat ke depan.
Ternyata aku salah melangkah.
Kini aku terjebak dalam dunia fantasi ku.
***
Tiga hari kemudian.
“Kau ingin memepermainkan ku!” Aku dengan mantap memegang kerah leher Adrian, penuh amarah. Adrian hanya menyungingkan bibir tipisnya, tersenyum sinis. Untung saja rumah ini hanya ada kami berdua. Jika tidak, mungkin aku sudah di laporkan ke polisi karena sikap kurang ajarku.
“Sudahlah, bukankah dia tidak pernah memikirkan mu. Sudah jelas siapa dia pikirkan selama ini—Hanya saja, laki-laki itu sudah menikah.” Adrian menjatuhkan diri kesofa.
Aku terperanga mendengar pernyataan itu. Dia tahu? Bagaimana bisa? “Kau tahu tentang itu?”
Aku mendengus kesal lalu mengeluarkan buku bersampul biru tua itu dari dalam tasku lalu melemparkannya ke Adrian. Pikiranku kacau saat ini. Sudah seminggu lebih aku berada di negara orang dengan tujuan yang tidak jelas. Bagaikan fatamorgana, terlalu singkat untuk berharap.
Adrian mengelus buku itu dengan lembut dan menaruhnya pelan di meja. Ia menatap tajam kearah ku. “Pertanyaan ku dari awal belum sama sekali kau jawab. Apa tujuan mu kesini?!”
Aku berdengus. “Aku sudah katakan, ada hal yang harus ku selesaikan—Aku tidak akan membiarkanya bersama mu!”
“Kembalilah ke Indonesia. Jangan berharap ada keajaiban untuk mu kali ini. Kau datang hanya merusak waktu!”
“Maksud mu?!”
“Kau akan memperburuk keadaan. Sebentar lagi kami akan menikah. Jadi lebih baik kau pulang saja…”
Semua darah naik kekepalaku, mendidih lalu perlahan meledakkan otakku. Kutarik baju Adrian dengan keras. “Pintar sekali kau memanfaatkan keadaannya seperti ini!”
“Kenzie yang terhormat, dia sudah tidak menginginkan mu. Pulanglah, aku tidak bermaksud jahat, kepada kalian berdua. Aku janji akan menjaganya.”
Rahangku mengeras. Meskipun mencoba menahan, tetap saja amarah ku meledak pada akhirnya. Aku tidak bisa menahan kepalan tangan ku yang melayang menghantam pipinya. Biar saja dia terluka. “Tak akan ku sia-siakan perjalanan ini!” ku hempaskan tubuh Adrian ke pingir sofa.
“Apa yang kau inginkan darinya?” Aku tak bersuara. “Aku meminta mu pergi. Seharusnya kau sudah puas dengan buku itu. Buku itu akhir dari segalanya. Awal dan akhir dia melupakan mu. Ku mohon jangan membuatnya menderita lagi.” Lanjutnya dengan nada sendu. Ia bangkit dari posisinya dan kembali duduk bersandar di sofa. “Orang tuanya sudah memberiku amanah, dan aku sudah mengikat janji dengan mereka. Pulanglah, kau akan memperburuk keadaan. Atas dasar apa kau kemari, lupakan lah! Lupakanlah, seperti Olivia melupakan mu. Secara perlahan.” Ia menutup matanya sejenak menahan perih lukanya.
__ADS_1
“Aku tidak ingin mencari masalah dengan mu— Aku ingin Olivia ingat kembali dengan ku. Aku ingin menggulang semuanya dari awal—Akan ku beritahu, jika aku juga mencintainya.”
“Pulanglah… Sekali lagi ku ingatkan. Aku tidak akan membiarkannya. Olivia akan tetap berada disini bersama ku.”
“Jangan gila! Kau memanfaatkan keadaannya karena dia amnesia, kan?!! Itu mengapa kau membuat skenario busuk mu itu! Aku tahu Olivia hanya mencintai dan menunggu ku. Dan saatnya dia menerima bayarannya itu semua. Sekarang kau malah merusaknya.”
“Kau terlalu naif! Kalau kau memang mengetahui. Seharusnya kau tidak berada disini. Aku tidak pernah memanfaatkan keadaanya seperti itu hanya saja….” Terdiam.
“Hanya saja kau mencintainya, dan kau akan mendepak ku, bukan?! Aku disini karena insting ku yang mengatakan kebenaran. Dia masih mencintaiku. Sahabatnya yang membenarkan kenyataan yang sama. Kau mau apa sekarang?”
“Aku yakin sahabatnya tidak memberi tahumu sesuatu yang sebenarnya—jika iya— aku yakin kau tidak akan kesini—Olivia tidak meminta mu, tidak menuntun mu kemari. Dan insting mu itu terlalu egois untuk itu.” Ia bangkit dari duduknya. Dan berjalan menuju lantai atas. Aku tidak tahu apa yang akan di lakukannya. Mungkin dia akan mengambil pistol untuk menembak kepalaku.
Tidak lama dia kembali menemui ku. Matanya sedikit memerah.
“Jika kau bermain secara fair, lakukan dari awal. Jangan mencoba mengingatkannya dengan masa lalu. Jika memang kalian jodoh, aku yakin kalian memang dipertemukan disini—Jangan gegabah Ken’, atau kau akan memperburuk keadaan. Aku tidak yakin kau akan bertahan.
“Aku juga tidak tahu hatinya yang sebenarnya, apa karena kecelakaan itu dia mencintai ku, bagaimana jika kecelakaan itu tidak terjadi, apa dia tetap bersama ku? Ku mohon… Setelah membaca buku ini. Jangan sekali-sekali kau mengungkitnya. Aku hanya ingin kau tahu bebannya mencintai mu selama ini. Setelah itu… pergilah, jangan mengganggu kami.” Ujarnya dengan kata beruntut lalu menyerahkan buku biru kepada ku.
“Kau ingin mempermainkan ku lagi!” Geramku.
“Mungkin kau tidak mengerti apa yang aku ucapkan, karena aku ingin kau mengetahui dengan sendiri semuanya, dari buku ini. Ingat jangan gegabah. Kali ini aku membiarkan mu.
“Jika kau melakukan kesalahan. Jangan harap kau akan pulang ke Indonesia dengan nyawa mu, atau kau pulang hanya nama dan jasad. Akan ku beri kau kesempatan untuk kali ini. Dan segeralah kembali ke Indonesia.” Kata beruntun itu mencoba menegaskanku.
Aku tetap dengan tujuan ku, membuatnya kembali jatuh cinta dengan ku.
“Aku tidak yakin kau bermain secara baik… akan ku hitung sampai mana kau bisa menahan ego mu. Itu alasan yang tepat untuk mu saat ini. Kau mencintai karena ego mu mengetahui dia menunggumu—bukan karena kau juga mencintainya… Aku sangat yakin itu.” Katanya lagi.
***
#Olivia
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Adrian. Apa mungkin ini adalah ketakutan calon pengantin?
Dari tadi ia memandangi ku tanpa berkedip. Di ruangan ini hanya ada kami berdua. Aku merasakanya. Meskipun aku tidak melirik kearahnya sedikitpun. Dari tadi juga aku mencoba fokus dengan tuts piano yang ku mainkan.
Tubuhku seketika mendingin ketika kehangatan dari pelukan Adrian melingkar di bahuku. Dia memelukku? Aku merasakan— Aku tidak tahu, yang aku rasakan hanyalah, aku bisa mencium aroma ketakutan darinya. Kami tidak pernah berpelukan sebelumnya. Namun, selama kehadiran orang asing itu dia sudah memeluk ku sebanyak dua kali.
“Apakah kau benar mencintaiku?” Ujar Adrian sendu.
Masih memainkan tuts piano. “Haruskah ada alasan untuk mencintai seseorang?” aku kembali bertanya, menarik jari, menghentikan permainan. Aku berbalik arah—dia melepaskan pelukkannya— berhadapan dengan laki-laki yang sudah menemani perjalanan ku selama ini.
Perasaan itu, perasaan apa yang sudah ku berikan untuknya? Senyum ini, rindu ini, benarkah untuknya?
__ADS_1
Adrian berlutut di depan ku, dia memegang kedua tangan ku dengan erat, mata kami saling bertemu. Meyakinkan satu sama lain akan kebenaran perasaan kami.
“Aku hanya takut, aku tidak pernah setakut ini sebelumnya.”
Aku memegang pipi Adrian lembut, tepatnya aku memegang luka kecil dan memar di pipinya. “Kau habis berkelahi?”
“Tidak, aku terpeleset tadi di kamar mandi.” Elaknya, dia memang pembohong yang bodoh. “Apa kau benar ingin hidup bersamaku lebih lama? Apa benar kau mencintaiku? Aku takut aku akan kehilangan mu.” Sambungnya. Nadanya begitu lirih. Membuatku semakin takut. Apalagi ketika aku diam-diam melihatnya sedang memandang kotak yang berisi dua cincin dengan perasaan kalut, seakan ada kekhawatiran saat salah satu cincin itu disematkan di jari manisku—saat aku mengunjunginya di tempat prakteknya.
“Kenapa tiba-tiba seperti ini?” Aku memegang lagi luka itu. Aku semakin khawatir dengannya. Namun, dia hanya menatapku. “Setiap perasaan manusia tidak akan bisa terungkap hanya dengan perkataan saja. Kau mengajarkan ku untuk percaya kepada tuhan, aku percaya dia memberikan yang terbaik. Itu sebabnya aku tidak pernah meminta penjelasan mendalam mengapa kau mencintai ku. Hanya hati kita sendiri yang tahu. Kita manusia hanya berjalan sesuai dengan garis ditentukan. Kita dipertemukan bukan saling mencintai. Aku mencintai mu, karena aku menemukan cinta ku. Dan aku akan mencoba untuk mencintai mu secara lebih.”
“Olivia…” lirihnya. “Suatu saat nanti. Jika ada sesorang yang lebih mencintai mu daripada aku, apakah kau akan memilihnya?”
“Tuhan yang akan memperlihatkanya. Tenanglah, bukan kah kau yang mengajariku tidak berpikir macam-macam. Ah, kau ini, kenapa kau berubah seperti anak kecil begini.”
Tatapan itu... Aku tidak bisa berkata-kata dibuatnya. Wajah Adrian semakin mendekat di wajah ku. Tatapan matanya membuat jantungku berdebar keras..dap..dap..dapp… Aku memejamkan mataku. Wajah itu semakin dekat. Sangat dekat. Adrian memegang tangan ku sangat lembut. Dadaku berdebar sangat hebat. Perasaan ini—mengusikku. Aku bisa saja menamparnya. Tapi…
“Aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana aku mencintaimu Olivia.” Bisiknya.
Hembusan nafas hangat itu mengembus di wajahku. Perasaan itu membuat dada ku terus berdebar. Aku sangat takut. “Selamat malam…” Ujarnya mengacak-ngacak rambutku.
Aku membuka kedua mataku. Menatap kebingungan. “Hanya itu saja kau harus menutup mata mu.” Godanya, tertawa.
“Ah, kau membuat ku jantungan.” Muka ku bersemu merah, bergegas berdiri menahan malu.
“Kau gugup? Benarkah…?” tertawa. “Untunglah, berarti pernikahan kita nanti tidak sia-sia. Mencintai seseorang tidak harus diungkapkan dengan ***** untuk membuktikannya. Aku akan menjaga cintamu. Tenanglah.” Membelai rambutku dengan lembut lalu memberi kode untuk segera beristirahat.
***
#Kenzie
Langit hitam pekat itu menunjukkan wajah terkelamnya. Dinginnya angin menerpa kulit para pejelajah malam. Tidak ada yang istimewa malam ini. Sama seperti malam biasanya. Hanya saja di sini sangat lebih dingin dari biasanya.
Aku menapaki jalanan kecil menuju hotel. Ku selipkan tangan ke dalam kantong jaket, mencoba menghangatkan tubuh yang terserang hawa dinginnya malam. Tampak para penjual makanan kaki lima berbaris rapi disetiap sisi-sisi jalanan, menawarkan dangangan khas mereka. Meraup nafkah dikala malam. Hanya satu tujuanku, menuju pejual kopi yang mengunakan mobil di seberang sana. Dengan bahasa seadanya ku coba membeli segelas kopi. Selanjutnya, hanya kaki dan otak ku sajalah yang bisa berkompromi untuk membawaku kesatu tempat. Entah dimana itu.
Bagaikan kapal tanpa nahkoda, terombang-ambing di tengah samudra. Berlayar tanpa tujuan. Seperti itulah perasaanku saat ini. Tidak! Jika aku tidak punya tujuan, mungkin aku tidak berjalan sejauh ini. Hanya saja aku tidak menyadari tujuan sebenarnya. Aku masih dilema dengan kata hatiku. Apa benar aku kemari hanya ingin membuktikan bahwa Olivia mencintaiku? Konyol sekali! Membuang-buang waktu saja. Apa aku mencintainya? Kalau iya, apa buktinya? Kenapa aku justru kebingungan seperti ini?
Aku berhenti di pingir sungai, dibawah jembatan layang. Tempat ini begitu sepi. Tidak ada satu pun orang yang berada disini kecuali aku. Aku duduk menaruh gelas kopi di samping tempat ku duduk. Memandang air sungai yang tenang. Menaruh kepala dikedua lutut yang ku tekukkan di depan dada. Sesekali aku menaikan kepala. Bodoh!!! Teriakku. Memeluk kedua kaki seperti seorang yang sedang sakau. Lalu menjambak rambut ku dengan gusar.
Tuhan, apa rencana mu? Kenapa perjalanan ini terasa sangat berat? Kenapa setiap saat aku melihatnya bersama orang lain selalu saja hati ini sakit. Tapi kenapa aku tidak merasakan aku benar-benar mencintainya?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang kubawa hari ini. Buku pemberian Adrian tadi siang. Ada perasaan ragu. Aku takut untuk dipermainkan lagi. Namun ku coba mengendalikan itu semua. Lalu…perlahan ku buka lembaran pertama buku ini.
***
__ADS_1