Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Bisakah Kau Tersenyum Lagi? Agar Aku Yakin Senyum Itu Bukan atau Memang Untukku.


__ADS_3

Rembulan telah menerangi kisah ini, Dhasa Dharma dan Tri Satya menjadi saksi janji setia ini.


20 Januari 2001,


Pembagian rapor hasil semester dibagikan tepat hari ini. Dengan jadwal yang telah ditentukan, PERSAMI atau Perkemahan Sabtu-Minggu, menjadi acara selepas pembagian rapor.


Persiapan telah dilakukan, dari halnya pendirian tenda dan lain-lain. Bumi Pramuka menyelimuti halaman sekolahku. Hari ini milik Pramuka, pakaian cokelat, tenda-tenda, hasduk dan bendera-bendera regu membanjiri halaman ini. Hiruk-pikuk suasana permainan dan persiapan api unggun menjadi acara yang sangat di tunggu-tunggu.


“Katanya, senior kelas tiga gak ikut?” Tanya Terfin menghampiri ku di tenda yang berbeda.


“Setahu ku sih begitu. Mereka di suruh mempersiapkan diri untuk UAS, jadinya harus mengundurkan diri dari kegiatan. Memangnya kenapa?” Tanyaku balik ketika merapikan perlengkapan di dapur umum.


“Itu… Angga ikut.” Dia mengode ke arah para senior yang sedang sibuk di daerah tenda putra.


“Serius….???” menatap Terfin penasaran.


“Iya itu eh…ada Kenzie juga. Eiiits, jangan keburu senang ya...” godanya.


"Diih! siapa juga yang senang…” elakku pura-pura tidak peduli. Setelah Terfin tidak melihat ku, diam-diam ku buang pandangan ku ke arah tenda putra. Tidak cukup sulit menemukan keberadaan Kenzie. Dia sangat mencolok sekali dengan aktivitas dan senyumannya yang membuat ku tidak mau mengalihkan padangan.


“Awas loh, kesambet ngeliat dia mulu.” Tangkapnya.


“Kagak tenang aja….” tersenyum senang.


***


Jam menunjukan pukul 20.00, lomba pelafalan Dasa Dharma di mulai. Aku, Terfin dan Reisa menjadi perwakilan di setiap regu dalam lomba pelafalan Dhasa Dharma. Para perserta telah dikumpulkan di salah satu ruangan kelas, menanti lomba pelafalan Dhasa Dharma ini. Lomba akan di mulai sepuluh menit lagi. Aku bersyukur sudah mulai hafal poin-poin yang tertera dalam Dhasa Darma.


“Vi’, mana buku saku mu???” Tanya Terfin yang lupa dengan bait-bait yang akan di hafal.


“Sama Eky, tadi dia pinjam.” Jawabku singkat sambil menghafalkan bait yang ku ingat. “Rajin, trampil...”


“Pinjamkan gih buruan!” paksanya sambil menarik-narik lengan bajuku.


“Aaah, Terfin. Bentar...bentar! Buyar nih hapalan.” Eluh ku lalu keluar ruangan menghampiri deretan tenda para peserta putra. Sebelumnya aku harus melintasi lapangan basket untuk mencapai tenda dimana Eky berada.


“Huuuh… Kok gelap sih!” keluhku pelan. Aku berjalan ditengah lapangan basket, mataku mengarah ke lampu sorot yang belum dinyalakan. Malam ini tidak begitu gelap, ada cahaya dari bulan dan cahaya remang-remang dari lampu-lampu tenda yang berdiri di pinggir lapangan. Malam ini sangat indah. Aku tidak berharap malam ini akan turun hujan. Aku mengadahkan wajah ku ke langit melihat bintang-bintang yang sangat indah. Ya lebih baik melihat bintang disaat gelap seperti ini.


Baru saja ku turunkan wajah untuk menghadap ke depan. Seorang cowok bertubuh tinggi berjalan berlainan arah denganku... Ah, itu mungkin perasaan ku saja. Cahaya dari pantulan lampu tenda putra mengarah ke wajahnya yang terlihat samar-samar. Kenzie? Benarkah? Tetap tenang jangan panik! Aku mencoba melihat cowok itu dengan jelas. Sangat jelas—Mata kami bertemu. Seakan waktu berhenti begitu saja. Kenzie tersenyum mengarah ke pada ku. Jangan geer, mungkin ada orang dibelakang mu atau di samping mu. Lebih baik kau cek— Eh, bukankah mata ku minus? —jangan geer Olivia! Ini nyata? atau tidak? Aku mencoba menepis pikiran aneh ini. Dengan tetap berpikiran positif. Aku mengerti ini pasti harapan orang yang sedang jatuh cinta. Aku yakin khayalan ini tidak pernah terjadi. Sepertinya penglihatan ku salah. Aku pasti sedang menghayal.


Kami semakin berdekatan, bahkan Kenzie seperti berhenti sejenak. Dia tersenyum lagi, terlihat gigi yang tersusun rapi disana, itu sangat indah, mungkin senyum sapaan? Aku menjadi salah tingkah, panik. Pikiranku buyar. Mata ini masih menatap, mencoba meyakinkan siapa sebenarnya dia—mengapa dia tersenyum— kenapa?


Mataku masih terpaku dengan cowok manis dan tinggi itu, senyum itu masih mengembang di bibir cowok yang tidak terlalu jelas ku lihat karena mata minusku.

__ADS_1


“Eky...Eky!!” Teriak ku panik—salah tingkah—mencoba mempercepat langkah. “Jangan panik, Vi…Jangan panik! Dia senyum sama teman di belakang mu.” Aku mengingatkan diri ku sendiri. Sangking paniknya, aku tidak bisa mengontrol diri ku. Aku berlari sekuat tenaga, tanpa menoleh kearah Kenzie lagi. Kenapa aku seperti ini… Argh! “Eky!” Teriak ku lagi sambil berlari menaiki bukit tempat tenda regu Eky berada.


Setelah berlari cukup jauh, aku berhenti lalu membalikkan badan. “Gak ada siapa-siapa. Emm, entar dulu! Tadi aku berjalan sendiri dilapangan. Dia datang. Dan dia tersenyum. Tersenyum? Eh…eh…mungkin itu perasaan ku aja. Dia gak mungkin senyum sama aku.” Tepisku dalam hati.


Sesampainya di tenda Eky. “Eky…Pinjam buku saku ku!” ujarku lemas.


***


“Serius kamu kalau itu Kenzie?” Tanya Terfin tidak percaya dengan cerita ku. Selepas mengikuti lomba pembacaan Dhasa Darma.


Aku mengangguk. “Dia senyum, ah… mungkin perasaan ku saja.”


“Wah, peluang tuh Vi’…”


“Peluang apanya?”


“Peluang bisa dekat dan seterusnya lah bareng dia.”


“Ah…ngawur kamu Fin’… Aku malah bikin malu tadi, panik banget aku. Jadinya ku lari dan teriak-teriak panggil Eky.”


“Hahaha, benarkah? Jadi ceritanya salting nih…”


“Iya, malu banget Fin’…. Hahaha.” Menutup mukaku dengan slayer.


“Kau juga, orang senyum, malah lari. Memangnya dia hantu.”


“Kau jatuh cinta tuh Vi’…”


“Ah, gak lah. Gak mau aku jatuh-jatuh cintaan. Hanya suka aja. Mungkin?”


“Yeeee… Jangan gitu. Kalau kau memang jatuh cinta sama dia bagaimana?”


Aku hanya tersenyum. “Kita ini masih kecil. Jadi gak usah mikir gituan lah. Lihat aja entar.” Pikiranku setengah melayang. “Suatu saat nanti, jika dia tersenyum kembali. Aku janji bakalan ngebalas senyumnya. Gak bakalan lagi aku childish. Pasti!” sumpahku dalam hati lalu tersenyum.


***


Pukul 22.00, Acara api unggun.


Ada beberapa regu yang telah terpilih mempersembahkan yel-yel yang telah mereka persiapkan di acara api unggun. Temasuk regu Kenzie dan kawannya. Begitu pun dengan perwakilan dari regu Reisa yang terpilih.


Seluruh perserta Persami sudah mengelilingi tumpukan kayu yang akan dibakar selepas pelafalan Dhasa Dharma. Api unggun akan menyala di saat pelemparan obor ke sepuluh saat Dhasa Dharma terakhir dilantunkan oleh sepuluh perwakilan yang terpilih. Tepat pukul sepuluh seluruh perserta di kumpulkan untuk membuat lingkaran mengelilingi tumpukan kayu yang berbentuk piramida, yang nantinya kan menjadi api dalam ukuran besar, Api Unggun.


Api unggun sudah menyala…

__ADS_1


Api unggun sudah menyala…


Api...Api... Api, api, api…


Api unggun sudah menyala…


Seluruh perserta semangat menyanyikan lagu di saat kobaran mendayu-dayu terkena angin. Dan tepat saat cahaya keorenan itu menerangi bumi perkemahan… Menerangi dengan jelas wajahnya. Dari jauh, ku lihat wajah itu diam-diam. Aku malu. Tapi tak perlu malu berlebihan. Dia pasti tidak akan melihat ku. Aku sangat jauh dan tersembunyi.


Lingkaran peserta yang mengelilingi api unggun semakin membesar, kami berlari-lari gembira mengelilingi api unggun. Walau kaki ku berlari tetap saja mataku masih terpaku, tak berpindah melihatnya. Kenzie, objek itu membuatku lupa akan daratan yang ku pijak. “Lihat jalan Vi’…” tegur Dila di belakakang sewaktu kami berjalan cepat mengelilingi api unggun.


Beberapa menit kemudian kegiatan berganti. Satu persatu tim yang kalah undi maju ke tengah lapangan membawakan sebuah yel-yel sebagai bayaran kalah undian. Satu-persatu regu berhasil membuat kami bahagia… hingga satu regu lagi maju membuat ku semakin bahagia. Mereka regu Kenzie. Banyolan dari tim Kenzie membuat perserta tertawa terpingkal-pingkal. Namun tidak dengan ku, aku hanya menikmatinya tanpa menunjukan ekspresi. Hanya terdiam dan tersenyum dalam kekegelapan.


Seluruh lampu di bumi perkemahan dimatikan. Hanya ada cahaya dari api unggun yang berkobar, menjilat-jilat kayu-kayu yang menjadi lalapannya. Aku tidak lama dalam lingkaran, sebelum semua perserta selesai membawakan yel-yel di acara api unggun, aku sudah kembali ke tenda.


Sakit kepala kembali menyerang ku dimalam ini. Dengan sigap aku mencari obat-obat yang selalu ku bawa di tas, obat penenang penyakit ini. Aku sudah mengidap penyakit kepala dari semenjak SD, tanpa aku ketahui pasti apa jenis penyakit ini. Aku tidak tahu pasti apakah penyakit ini juga yang menyebabkan mataku menjadi minus. Di umurku yang masih terbilang muda, aku di dianogsa mengidap penyakit kepala yang kronis. Itu menyebalkan sekali.


Bintang kini mulai memudar di langit, seperti cahaya yang makin memudarkan pandangan ku untuk melihatnya. Cahaya api semakin menciut, lalapannya telah berkurang. Hanya bara yang membara. Hanya ada aroma kayu yang telah berpulang meninggalkan nama menjadi arang. Satu persatu tetes hujan bergantian turun kebumi. Suara dari pengeras menyuruh peserta menghentikan kegiatan sementara waktu, lekas membuat peserta berlarian meninggalkan lapangan menuju ke tenda masing-masing.


Terfin dan Dila ternyata menyadari ketidakhadiran ku.


“Sakit lagi Vi’??” Tanya Dila khawatir, setibanya di tenda regu ku.


“Ah, enggak. Aku kecapean. Jadi ketiduran disini.”


“Gak usah bohong ah. Itu obat kenapa belum disimpan?” Tanya Terfin ketika matanya menangkap beberapa tablet obat di samping tas ku.


Hening, tanpa ada tanggapan lagi.


Sembari menunggu hujan reda, kami asik bersenda gurau didalam tenda. Tidak berselang lama, sebagian anggota di regu ku dan beberapa regu lain sudah terlelap dalam tidur. Tidak berselang lama juga, hujan perlahan reda. Aku dan Terfin keluar dari tenda masing-masing. Reisa dan Dila sudah berada di depan api unggun untuk menghangatkan diri. Tampak beberapa anak laki-laki yang ikut berkumpul disana. Sebagian ada yang sedang bercanda, ada pula yang sedang bernyanyi dengan gitar akustik dan sebagainya. Tidak ketinggalan pula Angga, Kemal, Donny dan beberapa anggota putra lainnya yang ikut menghangatkan tubuh di area api unggun.


Kenzie??


Aku mengedarkan pandangan. Nihil… tidak ada Kenzie disini. Aku pasrah tidak bisa melihat muka seniorku itu lagi.


“Kopi…kopi…” Tawar sesorang tiba-tiba langsung bergabung bersama perserta di area api unggun. Dengan spontan aku justru melihat kesalah satu temannya, yang ikut datang bersama orang yang menawarkan kopi itu. Kenzie. Dia datang bersama dengan orang yang baru saja menawarkan kopi kepada anak-anak di area. Kenzie datang membawa tumpukan gelas plastik. Lagi-lagi aku tersenyum.


Karena merasa terusik dengan pandangan aneh ku, Terfin menyenggol bahu Reisa yang sedang berbicara dengan Angga. “Kenapa Fin’?” Bisik Reisa. Yang melihat arah kode isyarat yang di maksud Terfin. “Owalah. Matanya kalau bisa lepas, lepas tuh…” tegur Reisa menyadarkanku.


“Apaan?” Sahut ku masih tersenyum.


“Mau disalamkan?” Godanya.


“Awas, kamu! Jangan ikut-ikut Terfin. Ku bantai juga kau nanti!” Canda ku.

__ADS_1


***


Setiap pagi, aku selalu datang lebih awal. Hanya untuk bertemu dengan mu. Ada apa dengan ku? Setiap melihat mu, jantungku berdegup sungguh hebat. Aku tidak bisa menggontrol diriku. Hingga melakukan hal yang konyol. Tidak hanya di pagi itu... melainkan di waktu lainnya. Aku terus-terus mencari mu. Bahkan aku akan membuat seribu alasan agar bisa secara kebetulan bertemu dengan mu.


__ADS_2