
beda dengan ku memiliki sifat yang kalem dan ga pernah banyak nuntut apalagi saat yuli masih kecil saja saat ia terjatuh dulu akulah yang sering disalahkan olehnya beda sama Yuli yang selalu dimanja oleh ibu apa-apa selalu yuli terus yg dipreiotaskan dan selalu kepenuhannya terpenuhi dan tercukupi secara yuli lebih pintar dari ku.
Dan dari dulu sampai sekarang ia sering dikasih uang yang paling banyak dibandingkan aku yang nggak dikasih uang kost kuliah dulu sampai aku ngemis-ngemis ke paman pada akhirnya paman memberikan uang kepada ku baik sekali Paman Budi padaku saat dulu aku belum menjadi apa-apa.
dan kadang-kadang aku sering hutang ke temenku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk menbayar uang kas pas kuliah terus juga uang tugas buat kas, dan juga kebutuhan makanan sehari-hari kadang aku selalu pakai baju itu-itu saja waktu aku masih ngampusku apalagi Yuli yang selalu dimanja semua keperluan make up baju sepatu semua dibelikan oleh ibu dan kadang-kadang diajak jalan-jalan sama-sama temen-temannya dibandingkan aku anaknya.
setidaknya si Yuli lebih beruntung daripada aku karena bisa menghasilannya lebih banyak Bayangkan saja sebulan saja ia sudah kumpulkan Uang sudah hampir 1 juta Karena dari dulu ia ikut model kontes kencantikan ditempat kuliah nya dan sekarang ia pun bikin bisnis salon kecantikan dan kadang make up buat wisuda buat wisuda kaka kelasnya apalagi dibantu teman-temannya yang setia membantunya, tentu bagusnya penjualan nya kalo produk masker dan lain-lainnya habis pasti dibantu oleh pacarnya nya siapa lagi kalo denny dari awal semester 1 aja udah kenal dan sekarang sudah menjadi pacar sampai mereka sudah bertahan disemester 4 bersama-sama.
sampai sekarang usahanya masih jalan dengan mulus dan lancar berkat doa-doa ibu beda dengan ku sampai -sampai ibu yang ngelarang aku buat ikut lomba puisi pasti aku akan mendapatkan uang sama seperti Yuli.
namun tidak di izin ibu lalu aku disuruh fokus belajar buat sekolah dan kuliah saja biar bisa dapat beasiswa agar tidak menyusahkan nya lagi selalu itu dan itu saja tanpa ia memikirkan perasaan ku lagi.
....
pokoknya macam-macam hinaan dari nya aku terima apalagi waktu aku pulang larut malam sempat aku bilang ke ibu kalo aku ada tugas sama temen-temen maupun laporan freelance Project Propetty cuman ibu selalu saja bilang begini.
" Ga usah sok2an deh kerja udah begitu pulang sampai larut malah mau bikin malu kamu kalo tetangga nanti lihat piye entar disangka kamu perempuan yang ga bener gimana hah mau bikin malu lagi."timpalnya ibu dengan emosi sambil ia berdecak pingggang.
"Tapi bu."jawabku yang belum menyelesaikan kata.
" mau ditaruh mana muka ibu gara-gara kelakuan kamu sampai sampai Kamu hamil diomongin temen ibu tau nggak hah ."timpal nya yang meneriaki ku sambil mencewerku.
"AHkkk .... Sakit bu tapi ... marini juga perlu kerja bu buat bayar kost sama keperluan lainnya soalne banyak bu." jawabku dengan pelan.
" Ibu bilang nggak nggak ya."timpal nya yang memaki ku.
" ya ... marini tau bu tapi marini butuh duit buat biaya2 lainnya."ujarnya ku yang berusaha menenangkan ipikiran ibu yg negative kepadaku.
" beasiswa Itu buat apa hah sampai pakai acara dibayarin orang tua segala dasar anak asu kamu biasa nya nyusahin orang tua aja."timpalnya yang meneriaki ku lagi kemudian ibu menamparku lagi.
"Plakkk."
sampai-sampai aku dimaki-maki mulai dari kata binatang seperti ini mulai nama binatang inisial A,B,M aku terima saja karena semakin aku menjawab pertanyaan nya maka ibu akan semakin ganas padaku mulai dari ia akan melemparkan vas bunga dan akan memukulku dengan menggunakan kemoceng seperti aku bukan anak nya saja dan macam-macam penghinaan yang ibu lakukan kepadaku seperti ini apalagi saat waktu aku masih sd.
" dasar anak bodoh nilai PKN 80 terus Matematika 75 apa nggak bisa dapat nilai seratus Kamu Hah ... bikin malu saja nilai segini nilai itu 100 bukan di bawah 100." ujarnya yang noel kepalaku waktu aku masih 9 tahun.
" Ahkk ... Ampun marini sudah berusaha ibu ampun bu."lirihku yg memohon kepadanya sambil ibu mulai menguyeng-nguyeng rambutku lagi.
"Tapi kamu bodoh nggak bisa belajar dengan benar belajar dong jangan main-main terus sama teman-temanmu."timpalnya yang menoel kepalaku sehingga ku menangis sejadi-jadinya
"Ahkk... tapi Bu marini mau ikut main apa salahnya Bu."timpalku yang mulai menangis sejadi-jadinya.
" Alahh .. Gitu aja nangis contoh tuh si Yuli paling pintar sekolah bisa dapet juara 1-3 lagi ga kayak kamu bodoh bisanya belajar tapi dapet ranking besar 5 mulu 5 mulu gak naik-naik pula ."sambung nya ia yg mengomelin ku.
"Iya bu ....maaf tapi marini akan berusaha ." jawabku dengan ketakutan.
" Awass kamu ga bener belajar nya kalo ga ibu hukum kamu." ujarnya yang mengancamku sampai ia melepaskan jeweran nya.
****************
sampai-sampai Makian yang ibu lakukan tidak pernah berhenti setelah aku lulus sma.
" Nilaii benerin ini kurangg." ujarnya ibu yang tidak bersyukur kepadaku.
Padahal aku mati-matian belajar hingga larut malam untuk mendapatkan nilai a‐ malah ia tidak bersyukur sampai saat ini Ibu masih saja membanding-bandingkanku dan ia pun berkata seperti ini saat usiaku masih 22 tahun dan kuliah di NY Di semester 7 dulu.
" lihat tuh sii anak tetangga sekarang dia sudah sukses jadi dokter ga kaya kamu masih saja terusaan kuliah sampai mau menjelang umur 23 ngerepotin aja." ujar ia menghinaku
"Sudahh bu... Sudahh."teriak bapak dengan lantang.
__ADS_1
"Biarin aja pak orang kaya dia itu wajib dihina-hina biar mikir dia cari uang sekarang gimana ." timpal nya mulai menjambakku sampai aku menagis.
"AHhkkkkl."
"Ampun bu ampun."
apalagi setelah lulus kuliah eh malah dibentak-bentak oleh ibu dan menyuruhku untuk menikahi jortomo sih Playboy itu padahal aku tidak mau diminang oleh nya karena aku tau sifatnya dan latar belakang keluarganya sampai Ibu tidak peduli Yang penting dia kaya bisa ngasilin uang yang banyak begitu timpalnya sampai-sampai ia membanding-bandingkan ku seperti ini.
" Liat itu ...si Indah temen mu beruntung bisa menikah sama TNI berkat dengarin apa kata orang tuanya ga kaya kamu mau dicumbuinn udah begitu sampai bunting hehehe." ledeknya dia menghinaku setahun yang lalu.
"oh Ibu betapa terlukanya aku disakiti oleh dirimu bu."gumamku dalam hati saat aku mengigatnya kejadian-kejadian yang lalu sampai ku mengelus dadaku sendiri.
Sudah sering aku terima lontar dan hina dari ibuku sendiri dan masih saja dianggap anak tak guna bisanya cuman ngabisin duit orang tua saja untung bapak selalu sayang dan membela ku apalagi saat bapak menasehatiku untuk tetap sabar agar tetap berusaha mengerti untuk tetap sayang sama ibu dan yuli Meskipun mereka tak bisa menjaga perasaanku apalagi menyayangiku lagi ku apalagi yuli jaga jarak kepada ku dari dulu pas setelah ia lulus SMA dia selalu dingin kepadaku itu semua berkat hasutan ibu.
Bab 6
apalagi ditahun di era 66 susah sekali mencari pekerjaan lebih tepatnya meyakinkan Ibu/bapak agar aku bisa memulai hidup baru untuk disiplin akan tetapi beliau tidak setuju dengan berbagai alesan jauh dari rumahlah kalo keluar kota dianggap liar apalah dan mimpiku untuk menjadi orang sukses gagal total tiba-tiba saja ibu membangunkan ku lagi seperti biasaa menyuruh membersihkan rumah.
" marini ... marini cepat-cepat bangun bangun cepattan bersihin semuanya cepatt." ujarnya secara keras sambil menarik selimut
" Ya Allah Bu ini masih pagi baru jam setengah 5 bu." jawabku dengan memelas.
" Hah jam setengah 5 pagi itu kesiangan buat kamu dasar jadi anak males banget cepat kamu bantuin ibu nyiapin sarapan setelah itu beres-beres rumah semuanya kek mumpung lagi weekend sih biar kamu dapet jodoh cepetan."Cercanya yg terus meneriaki ku hingga air liurnya mencepat ke mukaku.
"Astaghfirullahaladzim Ibu kalau ngomong tuh jangan sampe muncrat begitu bu."ujar aku yang memperingati ibu untuk tidak ngomong keras-keras, apalagi didengar oleh para tetangga sehingga air muncratan ludahnya mengenai wajahku.
"malu dong ...bu nggak enak didengerin Tetangga." jawabku yang mulai lancang karena muak dengan perilaku ibuku.
" alah ... Alesan saja biar ga disuruh-suruh kan gak bisa diandelin banget sih kamu harusnya kamu tuh kerja keluar cari pendamping baru malah tidur-tiduran begini kalo begini terus hidup kamu nggak bakal kaya tau ga." carca Ibuku lagi menasehatiku sambil menoel palaku sehingga Ulu hatiku sakit.
" masyallah CUKUP bu ... CUKUP." teriakku kepada ibu akrena aku muak sekali dengan perkataan ibu sehingga mulut ibu mulai menganga.
"Apakah seorang ibu bicara seperti itu kepada anak kandungnya ampe noel-noel kepala ku segala ha."jawab ku yang keras kepad ibu sampai diriku memegang bekas toelan kepala sebelah kiriku.
Plakkk
"Akkkh."
"Dasarr anak ga tau diri,goblok .... asu kamu ya sudah Ibu rawat kamu segede ini tapi kamu ga berguna dan gak bisa ngebahagiain ibu asuu bajingan kamu." cercanya sambil mencambak dan kemudian menamparku lagi.
"plakk"
sampai di tamparan kedua itu mendarat ke pipiku Tapi Aku muak dan terus berteriak kencang kepada Ibu bahwa aku sudah muak dan tidak mau terima dengan perilakunya yang terus terus saja memerintahku seperti ini kan ada yuli kenapa ga nyuruh dia saja padahal kan dia anak kesayangan nya.
dan terus terusan saja inu mengungkit kesalahan ku yang tak ada habis-habisnya menurut dia.
Apakah ia tidak melihat perjuanganku di rumah saat aku beres-beres rumah paling banyak beres-beress sembari bantu bapak diladang apalagi saat aku cari kerja ia malah tidak menyetujuinya.
Padahal orang seperti ibu harus memberi contoh yang baik mendukung anaknya bukan malah menyalahkan dan mengekang. Mentang-mentang aku anak adopsi seenaknya ia padaku.
apalagi waktu aku sudah dapet pekerjaan di koperasi itu semua berkat koneksi Bapak yang sudah bersusah payah mencari kerjaan buat aku eh malah ditolak mentah-mentah dengan alesan gaji kecillah terus ga ada basic akutan sama sekali.
Terus dia pengen aku jadi apa apa kerja di BUMN lah sudah ku coba gagal dan PNS pun juga malah ga susah karena susah pakaii orang dalam Emang dikira aku adalah robot yang harus menerima perintah-perintahnya itu sampai-sampai Ibu marah-marah kepadaku.
" kamu nggak lebih baik dari Yuli aku nyesel ngeadopsi dan ngebesarin kamu sampao gedenya kaya gini dasar malu-maluin aja km ."
" percuma kamu punya gelar, malah tidak punya otak dan gak bisa nyari kerjaan sendiri
" Terus -terus saja Ibu nyalahin marini, Dan marini juga ga ngerti sama jalan pikiran ibu, ibu pengen aku kerja di BUMN okey aku turutin."
"Teruss PNS lah cuman marini ga lolos di koperasi aja ibu nggak setujui aneh."
__ADS_1
"Dan memangnya kamu lulusan apa hah ekonomi hahaha ."timpalnya yg berteriak sambil meledek ku.
"Dan terus Kamu mampu gitu ... kerja dibagian koperasi hah kalahhh kamu sama diah."tanya nya yg meremehi ku.
sampai pada akhirnya percocokan perkelahian antara kami didengar oleh bapak dan yuli.
sampai-sampai Yuli shock melihatnya dan akhirnya bapak menghentikan kami tetapi emosi ibu yang tetap meluap-luap hingga dia menyumpahiku bahwa aku tidak akan sukses didunia maupun diakhirat lalu ia pun malu sembari ia menunjuk ku karena aku tidak punya kerjaan dan tidak nikah sama seperti anak-anak teman-temen nya dan anak-anak tetangga lainnya pada akhirnya mereka nikah.
Dan pilihan ibu selalu membuat aku merasa bodoh sampai Ibu menyampari Yuli dan berkata seperti.
" yaudah ayok yul temenin Ibu ke kondangan anaknya pak erdi."
"ya bu Aku ikut dan aku juga muak deh liat mukanya marini." ujarnya yang tidak seperti itu tanpa memanggilku kakak.
" Ya Allah Yul,nggak boleh gitu sama marini bagaimana pun juga marini tetap kaka kamu."ujar bapak yang memberi nasehat kepada mereka..
" alah pak emang dia kaka ga perguna males aku ngeliatnya ayuk bu kita pergi dari sini."
"Yuk .. Yul."
dan mereka berdua selalu saja seperti itu apalagi Mereka pergi ke kondangan tanpa mengajakku lagi seperti dulu dan disini juga aku muak saat para tetangga menanyakan apakah aku sudah bekerja Apakah aku sudah punya calon untuk dinikahkan dan tgl berapa aku menikah dan lain sebagainya tapi akhirnya aku menangis sejadi-jadinya sampai Bapak menghiburku.
" sabar sih sabar."
"Tapi ... marini capek pak sabar mulu sama kelakuan ibu selalu diilarang ini itu sama ibu tapi ibu tuh nggak ngerti sama perasaan aku toh pak sampe aku kerja ga bisa gara-gara dia pak." ujarku yang tiba-tiba curhat kepada bapak.
"Astagfirullahaladzim sabar sih sabar namanya juga orang tua."
"Ya tapi marini cape injak-injak terus sama apalagi ibu selalu ngejelekin aku belakang Tetangga."ujar ku yg meneriaki wajahnya bapak.
"Ya nak sabar... sabar memang watak Ibu seperti itu Kamu harus maklumin nak."
sampai aku muak sekali lalu aku memaki Bapak karena tekanan emosinoal yang aku alami ini dan sekarang males aku mengerjakan pekerjaan rumah di pagi ini karena terus dimarahi ibu dan Ibu Terus yang dibela oleh Bapak tak ada satupun yang mengerti dgn perasaan diriku dan sepertinya aku mengalami selft dignossa depresionn dan sebentar lagi akan menuju kegilaan ingin memaki Tuhan saat aku pergi keladangg saat itu juga.
" Ahkkk Tuhan kenapa Kau membuat hidupku seperti ini Apa Salahku dan kenapa aku selalu gagal dalam memilih hidup yang ku mau."gerutuku tinggal ladang itu sepi jadi aku bebas ekspresi mungkin.
" ahkkkkl ... Bangsattttttttt."gerutu ku yang teriak kembali.
sampe pada akhirnya kedengaran oleh tetangga dan seandainya saja aku tidak dilahirkan dari keluarga kolot ini pasti hidupku makmur dan bahagia dan juga punya penghasilan tetap dan juga bisa menemukan jodoh yg ku inginkan dan aku juga males beribadah da kadang ku kesel suka marsturbasi karena Ibu berkata kasar suka mendoakan aku yang tidak-tidak dan terlebih lagi bapak sering menyuruhku sabar olehnya tapi ku muak bisa-bisa ku tambah gila dan malah ku yang kena imbasnya.
sampai pada akhirnya ada seorang pemuda yang datang menghampiriku dan langsung saja meneriaki Namaku dan aku tidak tahu siapa memanggilku dan ternyata itu mas Ari seorang petani Tetangga Sebelah depan rumah ku yang mulai memanggilku.
" Hei ... kamu kenapa ni."
"nda apa-apa."jawab ku mengusapkan air mata ku.
" Aku tahu kamu punya masalah toh."
" Aku tahu kamu pasti diomelin Ibu karena kamu nda kerja."tanya sih mas ari duga duga tebakan yang benar lalu aku menjawabnya dengan angkuh.
" Kenapa sih kamu ikut campur banget sama urusa ku mas ri."ujaarnya ku dengan wajah yang masam kepadanya.
"Ya ... maaf ni tadi Ku denger para tetangga ngomongin kamu jadi aku sangat prihatin yang sabar ya." ujarnya dia yang sok perhatian kepadaku.
"udahlah Mas ri ... jangan sok-sokan prihatin sama aku deh."ujarnya sih ku yang mulai pergi.
"Pergi sana pergi."usirku secara kasar kepadanya.
"Tapi Mas belum selesai ngomong."timpalnya yang mulai memegang kedua tanganku lalu aku mulai menaparnya.
"Plakk."
__ADS_1
Next Cerita berikutnya