
next cerita selanjutnya
tamparan itu mengenai wajahnya karena aku tidak suka dengan cara bicaranya yang ikut campur apalagi sok-sokan perhatian padaku karena ibunya suka meledekku bahwa aku adalah sarjana pengangguran yang tak berguna dan tidak merid-merid sampai sekarang.
seperti itu yang ku rasakan nya apalagi orang satu kampung dan juga ibunya yang terus-terusan mengomentari hidupku bahwa Mereka bilang Kapan aku akan menikah ,atau kapan kerja nya dan juga kapan nyusulnya itulah yang membuatku kesal Lalu ia bertanya.
"Kenapa kamu tampar aku sih ni." sahutnya yang memegang pipinya.
" Lagian kamu jangan sok perhatian sama aku bila pasti kamu akan meledek aku kan sama dengan orang-orang desa disini."ujarnya mulai ketus dengan nya.
"Ga sih ... Maaf .... Bukan maksud ku seperti ini Aku hanya."ujarnya ia yg tetap menunduk.
" Hanya ... Apaa hanyaa apaa hah !!! "teriakku yang memotong pembicaraaan nya sambil aku menarik kerah bajunya itu.
" Sabar ... istighfar ni istighfar." hujannya berusaha menenangkanku namun aku tidak peduli lalu ku berkata seperti ini.
"alah ... jangan sok baik deh kamu mas.."imbuh ku yang tegas kepadanya.
"Hah ... kenapa ia berbicara seperti itu ya."gumamnya mas ari dalam hati.
"Ga ni... Maksudku."jawab nya dengen panik
"Ahkk..."teriakku seperti orang gila
di situ aku mulai melangkah untuk meninggalkan dia buat apa aku bicara dengan orang seperti itu apalagi Itu membuat hatiku sesak saat diriku ingin bekerja di luar kota dan aku ingin Merantau ke Jakarta untuk mencari kerja sesuai harapan malah tidak bisa menggapai impian ku dijelek-jelekkin tentangga bahwa aku wanita tak berguna yang kerja menghabis uang orang tua setelah lulus wisuda.
Eh bukannya empati dengan diriku yang sedang sulit malah dikatakan oleh ibu-ibu sebelah dan mereka berkata seperti inii.
..
" Ya .. Bener Kayak aku nih punya anak dua suamiku kerja dong di luar kota Emang kamu ngurus diri saja ga becus."ledeknya linda teman sekolahku yang membullyku dulu.
" Hahaha kasihan juga ya dari dulu sampai sekarang ada perubahan setelah kita bully terus-terusan aja kau begitu ni hahaha." ledeknya yang menghinaku.
di situlah aku tidak bisa menjawab dan mengungkap perkataannya bahwa benar aku adalah sarjana pengangguran yang dianggap tidak becus dalam mengurus diriku sendiri terlebih mereka sudah pengalaman.
Kalo misalnya aku menerima tawaran pekerjaan di kampus sana pasti ibu-ibu mingkem dan pada sungkam kepadaku.
"Tungguh ni !!! ... Tunggu."sahutnya yang menghalangiku jalan.
"Apa."jawabnya ku melingkar kedua bola mataku dengan malas melihatnya.
" Ehm sebenarnya."
"Apa."jawab ku dengan ketus.
"Ih ga jadi deh kalo begitu aku pergi ya."ujarnya ia yg pergi meninggalkan ku.
"Ih ...Ga jelass."Gumamku kesal dalam hati.
di situ aku juga tidak peduli dengan hidupnya dan dia mau tahu masalah yang ia lalui tapi masalah aku juga lebih berat gimana aku tidak pernah dipercaya oleh ibu itu untuk memilih Jalan takdir sendiri.
sampai akhirnya aku pulang ke rumah para tetangga tersebut mulai mencibirku lagi yang tidak-tidak dan dikatain anak paling pemalas sedunia,ga guna, dan selalu disepelehkan oleh mereka berkat ibuku yg ngomongin aku tidak-tidak saat aku melewatnya mereka saat mereka belanja diwarungnya bu hesti.
"Bu ... Buu ternyata sih marini pernah hamil bu."ujarnya sih indah temen yang sering membullyku.
" ih masa sih ... ?"tanya bu hesti.
__ADS_1
" Iya benar ... Bu saya denger dari ibunya marini bahwa marini hamil gara-gara pergaulan bebass sih bu hesti." timpalnya sih reni mencibirku di depan wajahku sampai bu hesti berkata seperti ini.
" padahal si Marsi polos Loh kok bisa ya ngelakuin itu ?." jawab nya penasaraan.
" iya Bisa aja Bu namanya juga kebutuhan cewek-cewek liar seperti itu pasti adalah." Timpal si Indah yang tukang julid yang menas- manasi suasana.
"Dih ... Amitt ... Amitt ... bukannya Bikin bangga orang tuanya malah ngerusak moral keluarganya kasian banget pak tatang sama bu endah."jawab bu hesti dengan ketus.
"oh ... Iyaa-iyaaa."
"ehe ... Nda habis pikir deh."ledek nya ia yang menghinaku secara terang-terangan.
sampai ku males melanin mereka buat apa ngeladenin orang yang kurang kerjaan tidak level jika berususan dengan mereka kini aku tidak peduli lagi dengan hinaan mereka yang bertubi-tubi membullyku sehingga hati ini sudah mati rasa hingga aku sudah sampai di rumah datang dengan hati yang kosong sampai aku males untuk berbicara dengan siapapun karena muak dengan kehidupan ini termasuk orang-orang kampung yang menghina Harga Diriku mereka merasa paling benar saja seperti dewa pada akhirnya Bapak langsung saja menanyakan ini padaku.
"Hei marini kamu dari mana saja toh." tanyanya dia dengan ada emosi.
" habis keluar tadi Pak."
" keluar ke mana." tanyanya lagi sehingga aku sih males Jawab pertanyaan Bapak dan mengerakan kedua kedua bola mata ku.
" Sudahlah Pak mending bapak diem aja marini cape mau istirahat." jawabku dengan Ketus lalu Bapak dengan emosi mulai menamparku.
"Plakk."
" terus aja bapak sakitin marini ini nih sekalian tamparan pipi berikutnya."jawab ku dengan sedih sambil.mengeluarkan air mata.
"Lagian ... Kamu bikin bapak emosi." timpalnya ya yang membuat hatiku menangis lalu ku melongos begitu saja di depan Bapak.
"ni... ni bapak belum selesai ngomon ni." ujar bapak dengan marah-marah lalu aku membandingkan pintu di depan muka bapak.
sampai ku muak dengan semua ini aku mengutukku kenapa Tuhan yang telah mempermainkan hidupku yang selalu membuat hidupku jadi lebih menderita sampai-sampai harapanku tidak ada sampai aku menjadi lebih sensian karena kejadian tadi yang begitu menyiksa.
kini aku tidak mau usaha lagi pasti sia-sia juga dan benar kata ibu bahwa hidupku sial untuk selama-lamanya.
hingga pada akhirnya hujan mulai deras dan petir menyambar ke seluruh ruangan di dalam kamarku sampe aku mulai ketakutan dan ingin berteriak cuman aku tidak boleh teriak karena akam didengaran oleh tetangga dan juga rumah kita berdempetan.
jadi aku harus menjaga image ku biar aku tidak dikatain gila sampai berapa jam kemudian aku mulai tertidur dan tidak makan berhari-hari.
Lalu aku pun mengurung diri dikamar selama berhari-hari dan tidak ngapa-ngapain karena males juga sama ibu dan pada akhirnya ibu berteriak seperti ini.
" Pak Pak lihat tuh anakmu."
"Opo... Sih bu ojo teriak-teriak malu bu didengar tetangga."timpal bapak yang berusaha menenangkan ibu.
" Gimana ibu nda bisa tenang kalo anak mu kesayanganmu itu tiu tuh ndak pernah beres-beres, rumah ini."
" selama ini dia.tuh ngapain saja berhari-hari dia nda mau ngurus rumah,terus juga nda ngapa-ngapain emang dia nda pernah becusss akhirnya ibu yang beres-beres."jelas nya dengan keluh kesahnya itu.
" sudahlah Bu ojo jangan diperpanjang Masalahnya Biar nanti bapak ngomong sama dia ya. tim tahunnya bapak untuk menenangkan Ibu sejenak agar ibu tidak marah-marah lagi.
"Ya ... Tapi." jawab ibu yang belum menyelesaikan karena Bapak memulai percakapan yang berkata seperti ini.
" Yowess .... bapak anterin kamu kerja yo.
"yo."jawab ibu dengan ketus.
hingga pada akhirnya aku pun ingin mengakhiri hidup karena buat apa aku hidup selalu dihina oleh ibu kan sambil mencari silet ternyata dikamarku ga ada .
__ADS_1
dan pada akhirnya Bapak pulang dan terus saja menggedor-gedor pintu karena dia khawatir dengan kesehatan jiwaku yang rusak ini karena ulah ibu semena-mena dan berbicara kasar padaku apalagi ia tidak mau mengerti dengan perasaan ku.
bahwa di matanya aku selalu salah aku dianggap anak pemalas, dan tak mau menurutinya untuk menikah.
" Tock Tock Tock."
" buka pintunya sih Bapak belum selesai ngomong sama kamu."
"Tock... tolong sih buka pintunya." ujarnya sambil mengetuk pintu ku.
"Hikss ..... Hiksss hiksss".lirih ku yang mulai nangis dengan lemas.
"Ni ... Bapak tahu kamu sudah lelah dengan cobaan ini tapi setidaknya kamu bisa kan ndo berjuang Seperti Dulu." ujarnya si bapak yang berusaha merayuku agar aku bisa keluar lalu aku menjawab seperti ini.
" tapi Ibu nggak bangga sama aku pak di matanya terlebih-lebih aku sering diledekin dan aku selalu kurang dan bikin malu matanya itu yang membuat marini malu apalagi tadi pagi diteriakin sampai didengar para tetangga akhirnya semua orang ngomongin aku gimana ga dijelekin pak." jawab diriku dengan emosi.
" Ya Allah nak Bapak atau Ibu minta maaf jika Bapak/ibu banyak salah tapi kamu harus salat ya nak." ujarnya bapak yang memberi semangat kepadaku meskipun hatiku sangat rapuh saat ibu mengomentari hal jelek kepadaku didepan para Tetangga.
" entar aja Pak marini mau istirahat dulu."
" Oke Bapak tinggal dulu ya kalau ada apa-apa nanti kamu panggil bapak ya." ujarnya si bapak sambil meninggalkan depan kamarku.
"Ehm Ya ... pak."
saat ini Aku muak dengan semua yang orang-orang mengatakan tentang diriku dianggap aku pribadi malas dianggap wanita sembarangan hingga para tetangga mulai mencibirku bahwa aku tidak perawan karena beberapa hari yang lalu ibu selalu berteriak dan menghina aku sampai kedengeran orang apalagi mereka sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya.
Dibanding dengan anak kesayangannya itu selalu dimanja karena dia lebih berkelas dan lebih kaya dari padaku sampai Ibu membantu salonnya dan akhirnya dia tidak menghargaiku sebagai kakaknya.
sampai aku tertidur lagi dan ingin melakukan hasrat Terpendam dalam hidup cuman aku harus menghentikan kebiasaan ini takutnya akan mendapat hal yang buruk jika Tuhan melihatnya bisa-bisa Melarat hidupku ini sehingga pada akhirnya Aku memberanikan diri untuk salat zuhur meskipun hampir 2 jam aku terlambat melaksanakan salat.
saat iitulah Bapak tersenyum melihat aku melaksanakan salat johor Meskipun aku ogah-ogahan melaksanakan salat dalam hati karena Percuma saja selalu saja di mata ibu dan adikku bahwa aku adalah orang yang paling gagal orang yang paling pemalas dan bodoh sedunia dikeluarga ini.
Sampai akhirnya aku liat-liat beberapa majalah ternyata ada loker PNS di bagian guru PKN disudut kamar ku.
Kebetulan sekali aku ingin sekali masuk jadi guru biar ada penghasilan sendiri lalu aku tulis alamat tersebut sambil Aku menyiapkan berkas-berkas untuk melamar kerja sebelum pagi hari ini tiba.
____________________
****************
dan pada akhirnya Ibu pulang juga bersama dengan yuli lalu bapak menyuruh yuli unntuk masuk kedalam kamar dulu.
"Enjee pak."jawab yuli dengan pelan dan akhirnya ia masuk ke dalam kamar.
disitulah Bapak menasehati ibu untuk tidak berbicara kasar kepadaku dan berteriak-teriak seperti itu lagi karena itu adalah aib yang harus dijawab Namun Ibu masih saja gerutu dan tidak peduli dengan nasehat balak dan langsung saja ia masuk ke dalam kamar dengan wajah yang masam itu.
sampai -sampai mereka membelanjakan sesuatu yaitu baju kaosnya yang Yuli beli dengan uangnya sendiri berbeda dengan Aku wanita pengangguran yang tidak punya apa-apa apalagi kalo ada harganya ingin rasanya aku membelinya untuk mereka cuman sayang aku tidak ada uang sehingga pada akhirnya Ibu memanggilku.
" marini .. marini."
"Hah." ujarku yang terkejut.
" tumben ia memanggilku Ada apa ya pasti ada maunya."gumamnya ia dalam hati.
__ADS_1