
Hari yang begitu cerah, secerah perasaan kedua makhluk Tuhan yang sempurna ini. Kedua sahabat yang saling mengisi, berbagi, dan saling menguatkan.
Kini keduanya adalah mahasiswa tingkat akhir yang senantiasa sibuk dengan urusan masing-masing.
Hari ini adalah hari dimana keduanya dapat bernapas lega setelah melewati proses panjang untuk mencapai titik puncak yang sebentar lagi mereka raih bersama.
"Hah…rasanya bebanku sedikit berkurang setelah melewati proses yang begitu menguras emosi dan tenagaku" ungkap Juliana di sela-sela menyeruput ice mocca di bangku halaman kampus Fakultas Ekonomi
"Oh iya…aku coba hubungi Riri dulu deh" gumam Juliana lalu mengeluarkan handphonenya. Juliana segera menghubungi
orang yang dimaksud
"Tuut…tuut…"sambungan telepon berbunyi di seberang sana
"Loh kok gak di angkat sih, apa belum kelar ya" lirih Juliana
"Ah yaudah deh, nunggu 15 menit lagi dah nanti kalau gak nongol juga baru aku telepon lagi" sambung Juliana lalu kembali menyeruput ice mocca-nya
**Ruangan Pak Dewo**
"Ya ampun, pasti dia udah nungguin aku deh" ujar Riri saat melihat handphone-nya, ada panggilan masuk sebanyak tujuh kali.
"Emmp…apa aku izin sebentar ya, buat hubungi tuh anak. Nanti kalau lama, pasti ngambekan tuh" lirih Riri terlihat sedikit khawatir, namun lamunannya tersadar saat suara seseorang memanggilnya
"Riri.." panggil Heru menghampiri Riri yang
sedari tadi belum keluar dari ruangan Pak Dewo
"Ah syukur, semoga aja kali ini aku bisa pergi. Ya tuhan kabulkanlah" batin Riri
"Ah iya Pak Heru" jawab Riri
"Oh iya, maaf Pak Dewo, kebetulan anda di panggil oleh Pak Farid, kata beliau sudah menunggu 10 menit yang lalu" ujar Heru
"Oh astaga. Saya sampai kelupaan" jawab Pak Dewo melihat kearah jam tangannya
"Umpp…ya sudah, Riri minggu depan kamu sudah bisa seminar hasil, selamat ya" ucap Pak Dewo seraya menjabat tangan kepada Riri
"Terima kasih banyak atas bimbinganya Pak" ujar Riri tersenyum ramah. "Kalau begitu, saya permisi Pak" sambung Riri, namun langkahnya terhenti saat Heru memanggilnya
"Riri…tunggu sebentar" panggil Heru
"Ah iya Pak Heru, ada apa" tanya Riri
"Mari ke ruangan saya sebentar" seru Heru kemudian meminta izin beranjak pergi dari ruangan Pak Dewo.
"Permisi Pak, kalau begitu saya balik ke
ruangan saya dulu" ujar Heru berlalu dari pandangan Pak Dewo kemudian di ikuti oleh Riri dari arah belakang
** Ruang Dosen**
"Mari…silahkan duduk dulu" ujar Heru
"Ah iya Pak, terima kasih“ jawab Riri
"Ini, ambillah sebagai acuan untuk kamu pelajari nanti saat seminar hasil" seru Heru menyodorkan beberapa jurnal dan buku cetak terbaru.
Dengan rasa haru, Riri tersenyum sumringah. Kemudian menerima pemberian dari sang Dosen bimbingannya itu.
"Terima kasih banyak Pak, saya akan pelajari
dengan baik nanti" ujar Riri
"Emp…kalau begitu saya permisi Pak" ucap Riri beranjak dari tempat duduknya
__ADS_1
"Ya…silahkan" balas Heru tersenyum
"Umpp…Ri" panggil Heru
"Iya Pak, ada apa" tanya Riri was-was saat melihat seperti ada guratan yang terselubung di wajah tampan Heru
"Saya cuman mau ucapin selamat atas kerja keras kamu" ujar Heru yang dibalas oleh senyuman manis nan ramah dari Riri. Kemudian melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Heru.
**** Office Pratama Grup****
"Des, siang ini tolong kamu kosongkan jadwal saya" pinta Maldeva
"Baik Pak" jawab Desi seadanya
"Oh ya, apa laporan yang saya minta sudah dibuat" tanya Maldeva
"Emmp…maaf Pak" jawab Desi gugup melihat keanehan dari sikap sekretarisnya hari ini, Maldeva mengerutkan keningnya, pasalnya tidak biasanya sekretarisnya seperti ini
"Ya sudah tidak masalah, tapi sore nanti
segeralah kirim ke email saya" ujar Maldeva
"Baik Pak, terima kasih" jawab Desi
_
_
_
Di lain sisi waktu telah menunjukan pukul 12.00 siang. Juliana yang sedari tadi menunggu Riri sampai di buat kesal olehnya.
Tau gak guys kenapa??
"Iih... lama banget sih, ini pasti masih jumpa pers sama tu Pak Dewo. Secara orangnya kan, suka ember kek emak-emak yang haters gitu" gerutu Juliana. Tiba-tiba kekesalannya terbayarkan saat orang yang sedari tadi membuatnya kesemutan akibat menunggu
"Tau ah, kebiasaan kalo udah ketemu tuh tukang ember, pasti bawaanya lama" jawab Juliana lalu meninggalkan Riri menuju parkiran mobil
"Kok jadi heran sih sama juliana lagi d*pet kali ya" gumam Riri lalu mengikuti Juliana masuk ke dalam mobil
Dalam perjalanan menuju Resto & Café yang dimaksud. Tak sepatah katapun terucap dari keduanya yang larut pada fikiran masing-masing. Seketika mereka berdua saling menyapa memangil nama masing-masing
"Ri....Juls..." serempak bersamaan. Seketika keduanya terdiam. Riri mengutarakan maksudnya agar Juliana yang duluan berbicara
"Eump, kamu duluan gih yang ngomong" ucap Riri
"Ri…aku minta maaf kalau udah berlebihan, tolong maafin aku" ungkap Juliana menoleh menatap Riri
"Mmm.." balas Riri
"Aku tu kesel aja sama Pak Dewo, beliau itu kalau udah ketemu kamu suka lupa waktunya orang, keq gak mikir apa, orang lain juga punya kesibukan lain" keluh Juliana. Mendengarkan keluh sang sahabat Riri hanya terkekeh
"Udah, bawa mobilnya hati-hati nanti udah pulang ke rumah baru aku ceritain kenapa aku bisa lama" ujar Riri. Melihat keseriusan Riri. Juliana pun, luluh dan focus menyetir
Selang menempuh waktu, satu jam perjalanan akhirnya keduanya tiba di salah satu Resto & Café yang terkenal
populer di daerah tersebut.
"Eeh…Juls, Aku ke toilet bentar ya udah kebelet nih" ujar Riri berlalu pergi ke toilet
"Yah..Aku ik……kut "ucap Juliana terhenti saat merasa ada seseorang menyapanya dari arah samping. Juliana pun menoleh melihat sosok laki-laki yang berpenampilan formal. Ya, siapa lagi kalau bukan seorang CEO Pratama Jaya Group
"Hai…kamu bukannya temannya Riri ya" tanya Maldeva memastikan
"Ah…i..iya Pak" jawab Juliana sedikit gagap. Pasalnya iya begitu terkesima dengan aura sang CEO tersebut
__ADS_1
"Lalu, dimana temanmu itu" tanya Maldeva sambil celingak-celinguk mencari sosok yang iya maksud . Melihat sosok lelaki itu seperti
gelisah akhirnya Juliana menjelaskan padanya
"Ah itu Pak, Riri sedang ke toilet" jawab Juliana. Tiba-tiba dari arah belakang, Riri menyapa keduanya
"Eh, Tuan maaf tadi saya ada... " ujar Riri terpotong saat Juliana menekan lengannya. Melihat kejahilan sang sahabatnya itu, Maldeva hanya terkekeh
"Oh iya tidak masalah, mmp…silahkan" jawab Maldeva seraya mempersilahkan keduanya untuk mengambil tempat
Selang beberapa belas menit kemudian. Menu pesananpun di hidangkan. Para pelayanan memberikan pelayanan terbaik. Sebab mereka tahu, bahwa ini kali keduanya sang pengusaha muda nan tampan itu
berkunjung lagi dan saat ini, mereka telah mengetahui siapa sang maldeva tersebut
"Permisi tuan" ujar salah satu pelayan sambil menata hidangan di atas meja
"Ah iya silahkan" jawab Maldeva seraya memberi izin pada para pelayan untuk menata hidangan tersebut
"Umpp…ayo tidak usah sungkan kalian boleh
menghabiskan semuanya" ujar Maldeva tersenyum sambil menatap lekat kearah Riri. Riri yang merasa risih pun memulai untuk menyantap makan siang tersebut. Namun belum juga sesuap guys udah ada hama yang menghampiri mereka.
"Duh..bikin ilfil aja deh" gerutu Juliana😏
"Hai brother" sapa Akbar tersenyum sumringah dengan membawa nampan berisi sepiring makanan dan minumannya
"Apa aku boleh gabung bareng kalian" tanya Akbar. Maldeva yang sedari tadi sadar bahwa Akbar sengaja mengganggu acara mereka pun hanya tersenyum simpul
Akbar yang seraya mendapatkan lampu ijo tersenyum penuh kemenangan. Lalu menyuruh Juliana bergeser menggantikan
posisinya agar iya leluasa dekat di samping Riri.
Juliana yang merasa kesal pun pasrah dan berpindah tempat. Melihat gerakan Juliana demikian Maldeva menantap bingung.
Makan siang pun berjalan lancar walau banyak keusilan dan kejahilan Akbar yang selalu menggoda Riri. Namun Riri yang merasa harus bersikap sewajarnya tidak menanggapi hal tersebut dan untunglah Akbar dengan sendirinya lengah.
"Haha rasain tuh, emang enak ngomong sendiri" lirih batin Juliana
Setelah menghadiri jamuan makan siang satu jam yang lalu akhirnya Riri dan Juliana memutuskan untuk segera kembali.
"Ah iya Tuan terima kasih atas jamuannya" ungkap Riri
"It’s OK! Ya sudah saya duluan ya" jawab Maldeva berlalu meninggalkan ketiganya
Keduanya tersenyum seraya menundukkan
sedikit kepala untuk memberi kesan hormat. Seketika senyuman Juliana lenyap bersama kekesalannya yang melihat keberadaan Akbar tak kunjung pergi
"Lah kamu ngapain masih di sini" tanya Juliana menoleh ke arah Akbar
"Aku….emmp apa ya" jawab Akbar sembari menggaruk tengkuk yang tak gatal
"Aku mau minjem temen kamu ini bentar" sambung Akbar lalu menarik tangan Riri dan menuntunnya segera masuk ke dalam mobilnya
"Yah…hei dasar orang sinting, balikin sahabatku itu, mau kau bawa kemana dia" teriak Juliana di halaman parkiran café
Namun teriakannya tak digubris oleh Akbar dan meninggalkan dirinya seorang diri dengan tatapan yang penuh cemohan, Juliana benar-benar merutuki lelaki gila itu😂
"Issh…orang itu benar-benar buat aku kesal padanya" gerutu Juliana
"Awas saja, aku akan membalas perbuatanmu itu" ujar Juliana menyunggingkan senyum sinisnya, kemudian berlalu pergi dengan kegundahan di dalam fikirannya
Sepertinya akan ada peperangan ini orang ya, seenaknya saja dia pikir dia siapa, huh 😠
Ya ampun si nyai Koja kalau udah marah² bisa berabe nih urusannya😄
__ADS_1
Haha...salam hangat dari Author 😍🤗