
Pagi hari langit begitu cerah. Matahari menampakkan sinar sengat teriknya
Suara lalu lalang di segala penjuru sudut, di sebuah mansion megah. Ya, para pelayan rumah itu. Sedang beraktivitas mulai dari menyiapkan sarapan, bersih-bersih, mencuci mobil, menyiram dan merawat bunga-bunga
yang ada di taman belakang maupun halaman depan.
Semua orang bersungguh-sungguh dengan pekerjaannya. Kini disebuah kamar yang seukuran 3 kali dari ruang kamar Riri, telah bangun dari tidurnya
"Hmpp…hoam" Riri menggeliat bangun dari tidurnya. Kemudian merenggangkan otot-ototnya. Seraya mengumpulkan kembali nyawanya yang entah gentayangan dimana😁
Seketika membuat Riri, tersentak kaget pikirnya pasti iya sedang berhalusinasi di pagi hari.
"Kenapa, kamarku terlihat besar sekali" lirih Riri. "Apakah kamarku ini telah direnovasi" gumam Riri masih tetap pada posisinya di atas king size bed milik Akbar
"Hah..sepertinya aku harus bangun dari khayalanku ini" ucap Riri seketika Riri terkejut dari lamunannya
"Hah…tidak. Aku kan sekarang nginep di rumah Juli" ucap Riri. "Tapi, kenapa kamar Juli terlihat berbeda dari biasanya" sambung Riri
Tanpa pikir panjang Riri beranjak dari king size bed dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah dua puluh lima menit membersihkan dirinya, Riri keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti.
Seketika tersentak kaget saat melihat kedatangan Akbar
"Aahh…" teriak Riri terlihat histeris
segera mengambil apapun itu untuk melemparkan kearah Akbar dan mencemohnya
"Dasar singa mesum…seenaknya main masuk kamar orang" cemoh Riri masih terlihat
melempar-lempar benda yang ada disetiap sudut ruang ganti pada Akbar
Akbar yang terlihat panik akan kelakuan Riri, segera menghentikan aksinya itu
"CUKUP!!" bentak Akbar yang memegang tangan Riri. Seketika Riri tersentak kaget dengan suara sarkas dari Akbar
"Aku bilang hentikan atau kamu akan menyesal" ucap Akbar yang masih memegang kedua tangannya
"Sekarang ambillah ini" titah Akbar menyerahkan sebuah paper bag kepada Riri
Riri yang tak mengerti dengan keadaan ini, hanya diam mematung. Melihat Riri nampak seperti kebingungan. Akbar pun, memberikan paper bag ke tangan Riri lalu beranjak pergi dari ruang gantinya.
Riri yang tersadar sesaat melihat isi dari paper bag yang diberikan Akbar padanya
"Hah…baju" lirih Riri
"Apakah aku sedang berada di rumah singa mesum itu" gumam Riri lalu memandangi kembali setiap sudut ruangan tersebut
dan betapa kagetnya Riri sehingga tak mampu dijelaskan kepanikannya.
"Ya ampun Ri, gak tahu malu banget sih kamu" lirih Riri seraya menjitak kepalanya pelan
****************
"Huh...tahan Bar" gumam Akbar menghembuskan nafasnya saat keluar dari ruang ganti. Kini, Akbar segera beranjak untuk pergi ke meja makan untuk menikmati sarapannya
Tiba-tiba di ruang tamu seperti terdengar suara gaduh. Seperti ada keributan pikir Akbar. Tapi, siapa yang berulah di pagi hari seperti ini
"Bi Meri….”panggil Akbar saat melihat pembantunya itu melewatinya saat berada di meja makan
"Ah iya Tuan Muda, ada apa ya" tanya Bi Meri
"Empp…sepertinya, aku mendengar
ada sedikit kegaduhan di mansion ku" ujar Akbar memastikan
"Maaf Tuan, itu Mang Jai sedang berdebat dengan Nona Ranti" jawab Bi Meri
"Apa!! Ranti" pekik Akbar terlihat panik
"Aduh gawat, bagaimana ini" ujar Akbar berkacak pinggang seraya frustasi.
Tiba-tiba terlintas di fikirannya, sebuah ide agar terlepas dari gangguan Ranti
"Hah…Bi, tolong cepat panggilkan Riri di kamar ku ya" pinta Akbar
"Riri…" tanya Bi Meri masih bingung atas pernyataan sang majikannya
"Aduh…Bibi kenapa masih diam aja,
udah panggilkan Riri secepatnya" ujar Akbar
"Ah…i..iya Tuan" jawab Bi Meri segera berlalu di hadapan Akbar untuk memanggilkan orang yang dimaksudkan majikannya itu.
"Tok…tok…" suara ketukan pintu
"Permisi Nona, anda sudah di tunggu oleh Tuan Muda di ruang makan" ujar Bi Meri
"Krek…." pintu terbuka. Bi Meri yang melihat nyata ada seseorang wanita cantik di kamar tuannya berdecak kagum.
"*Wah Nona ini sangat cantik sekali, pantas saja tuan membawa kemari. Apa jangan-jangan Nona ini yang dimaksudkan untuk menjadi seorang Nyonya di rumah ini*“ batin Bi Meri masih setia menatap kagum pada Riri.
Riri yang melihat Bi Meri terlihat aneh pikirnya, pasalnya setelah iya membuka
pintu kamar tiba-tiba saja Bi Meri terpaku diam mematung sambil senyum-senyum,
seperti orang gila saja pikirnya saat ini. Seketika Riri menepuk kedua tanganya
untuk membuyarkan lamunan konyol Bi Meri saat ini.
"Plukk….” tepukan kedua tangan Riri berhasil menyadarkan Bi Meri.
"Ah Nona kau terlihat cantik sekali. Dress ini, memang sangat cocok untukmu" ujar Bi Meri
__ADS_1
"Ayo…Nona cantik. Tuan Muda sudah menunggumu sedari tadi" sambung Bi Meri lalu melangkahkan kakinya mendahului Riri
"Hah….dari tadi dia menungguku" lirih Riri
segera berlari kecil mengiringi langkah kaki Bi Meri
Seketika akbar dibuat kagum dengan pandangannya saat ini betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang menciptakan makhluk sesempurna itu.
Riri yang merasa aneh dengan sikap semua orang. Merasa sedikit kaku dan risih dengan tatapan mereka. Dengan segenap hati Riri, menghampiri dan menyapa Tuan rumah tersebut
"Pagi…maaf aku sedikit terlambat" ujar Riri seraya menundukkan wajahnya. Seketika Akbar terhenyak dari lamunannya itu
"Ah iya tidak masalah, iyakan Bi" jawab Akbar
tersenyum kikuk seraya menoleh kearah pembantunya itu
"Ah benar Nona, kalau begitu saya permisi dulu Tuan" ujar Bi Meri meninggalkan keduanya
"Oh iya silahkan, sarapanmu sudah di siapkan“ ujar Akbar mempersilahkan Riri untuk mengambil tempat duduknya
"Terima kasih Tuan" jawab Riri lalu duduk
di salah satu kursi menghadap dengan Akbar
Sesaat mereka menikmati sarapan tersebut, keduanya dikejutkan oleh kedatangan ranti
"Sayang…kamu di mana“ panggil Ranti
Akbar yang mendengarkan asal suara itu pun. Segera berpindah tempat di sebelah Riri. Pikirnya ini adalah moment yang bagus untuk beraksi dengan segala sikapnya agar Ranti percaya bahwa dirinya sudah melupakanya.
Riri yang melihat sikap Akbar ikut bingung, kenapa sepertinya pagi ini semua orang di rumah ini terlihat aneh sekali.
"Sayang….kau harus makan buah melon ini, karena sangat bagus untuk kulitmu yang cantik ini" ujar Akbar lembut seraya memberikan suapan pada Riri
Riri yang bingung pun sempat menolak
dengan sikap manja dadakan dari Akbar itu.
"Aku tidak suka melon Tuan" ujar Riri menolak pemberian Akbar
Akbar yang sedari tadi yakin pasti Ranti
saat ini tengah menyaksikan kemesraannya bersama dengan Riri.
"Ah, kalau begitu minumlah jus guava ini, aku tahu ini adalah minuman kesukaanmu kan” ujar Akbar seraya membantu Riri untuk meminum jusnya
Riri yang semakin bingung saja dengan tingkah ala-ala dari Akbar seperti mengangkatkan keningnya penuh tanya
Akbar yang mengerti guratan tersebut. menolehkan sedikit wajahnya kearah Ranti dengan bermain kening dan tatapan delikan mata pada Riri
Riri yang kini mengerti maksud dan tujuan Akbar pun mengikuti permainannya.
"Hemp…baiklah ayo Ri, ikuti saja permainannya singa mesum ini. Hitung-hitung membalas budi baiknya" batin Riri
"Heh..dasar perempuan kampungan" ujar Ranti menghampiri keduanya
"Kamu di bayar berapa sama Akbar, buat jadi pelampiasan nafsunya" tanya Ranti
Riri yang kaget akan perkataan Ranti dengan cepat menoleh ke arah Akbar seraya meminta penjelasan. Akbar yang saat ini, terlihat bingung segera mengambil tindakan untuk menghentikan cemohan Ranti yang menjadi-jadi
"Ran…kamu apa-apaan sih, jaga omonganmu itu" ujar Akbar dengan penuh penekanan
"Haha…” tawa sinis Ranti
"Lalu apa Bar, kalau bukan untuk itu" jawab Ranti mengebu²
"CUKUP!!!" teriak Riri melerai keduanya
"Aku fikir kamu baik kepadaku karena kamu tulus padaku, tapi ternyata kau hanya menganggap aku budak nafsumu" ucap Riri mendramatis
"Selesaikanlah urusanmu ini dan jangan temui aku lagi" sambung Riri dengan suara yang terlihat penuh kekecewaan lalu beranjak pergi meninggalkan keduanya
"Ri…kamu salah paham, aku gak pernah berfikir seperti itu tentang kamu. Kamu itu, adalah wanita yang saat ini aku cintai" ujar Akbar terlihat sungguh-sungguh
Sejenak Riri menatapnya. Sepertinya itulah yang menggambarkan perasaan sang singa mesum itu pikir Riri.
"Kenapa mata itu terlihat sayu dan sendu menatapku, apakah iya benar bersungguh-sungguh mengatakan perasaannya padaku“ batin Riri bersua
Seketika Riri beranjak pergi dari ruang makan.
Akbar yang melihat kepergian Riri, bermaksud untuk menyusulnya, namun langkahnya di cekal oleh Ranti.
"Sayang…kenapa harus repot-repot
mengejar wanita kampungan itu" ujar Ranti
"Aku ke sini jauh-jauh dari Malaysia buat nemuin kamu loh sayang" ucap Ranti bergelayut manja di bahu Akbar. Seketika Akbar menepisnya
"Sekarang kamu pilih pergi dari sini atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari sini“ ujar Akbar penuh amarah di wajahnya
"Aku tidak mau" bantah Ranti
"Haha…sepertinya keras kepalamu itu perlu di beri sedikit guncangan" ujar Akbar kemudian membentak Ranti dengan sarkasnya
"KELUAR!!!" bentak Akbar pada Ranti yang melihat sikap dari Akbar yang terlihat berubah pikirnya langsung bergegas pergi
"Kamu akan menyesal Bar" ujar Ranti berlalu meninggalkan kediaman Akbar dengan emosi yang masih membuncah di dada dan fikirannya
"Ha…perempuan sialan itu. Awas saja, kamu
akan menyesal sudah merebut akbar dariku" gumam Ranti seperti menaruh dendam pada Riri
__ADS_1
****************
"Ahh…….” teriak Akbar frustasi
"Kenapa harus datang lagi saat aku sudah bisa membuka hatiku untuk orang lain" lirih Akbar
****Flashback Akbar dan Ranti****
"Tada….” kejut Akbar dari arah
belakang dengan membawa segenggam buket mawar merah
"Hah…sayang, kau membuatku terkejut saja“ ujar Ranti tersenyum menatap Akbar
"Ini….” ujar Akbar seraya menyerahkan buket mawar merah itu padanya
Dengan sigap dan penuh haru bahagia. Ranti menerimanya lalu mencium harum semerbak sebuket mawar merah tersebut.
"Apakah kau suka" tanya Akbar masih berjongkok di hadapan Ranti
"Ya sangat suka" jawab Ranti tersenyum manis
Segera Akbar mengambil sesuatu di dalam saku blazernya. Ya, sebuah kotak cincin
yang sesaat Akbar mampir untuk mengambil pesanannya itu di sebuah toko perhiasan.
Niatnya selama ini adalah memberikan kejutan tahun ke tiga kekasihnya yang
berulang tahun di saat usianya memasuki 23 tahun dengan hadiah melamarnya
untuk dijadikan teman hidup selamanya.
"Will you merry me" ucap Akbar masih dengan poisinya. Seketika asal suara seseorang pria dari arah belakang mengejutkannya
"No…Ranti tidak akan pernah mau menikah dengan seorang lelaki yang tidak bisa memberikannya kebahagian dan harta yang berlimpah" ujar Fardi lalu menghampiri keduanya
"Apa maksudmu" tanya Akbar memperbaiki posisinya untuk berdiri
"Hah…apakah kurang jelas ataukah pendengaranmu terganggu“ jawab Fardi
Seketika Akbar tersulut emosi dan membabi buta mengahajar Fardi sebisanya untuk meluapkan emosinya. Ternyata apa yang di katakan Heru dan sepupunya itu benar adanya, jika Ranti telah menghianatinya.
"Sudah Bar, kamu bisa membunuhnya“ bentak Ranti melerai perkelahian keduanya
"Haha…” tawa sarkas Akbar terlihat seperti frustasi tingkat akut
"Apa salahku Ran...kenapa kau menghianatiku, kenapa kau setegah itu padaku Ran" ucap Akbar menangis bersimpuh di hadapan Ranti
"Sudahlah Bar, jangan seperti ini. Apa kamu tidak mendengarkan dengan baik, apa yang sudah diucapkan Fardi" tanya Ranti
"Jangan sebut bajingan itu di hadapanku, kalian sama saja, dasar penghianat" bentak Akbar kemudian bangun dan beranjak pergi meninggalkan keduanya.
** Flashback End **
Di satu sisi, Riri yang masih bingung dan mondar-mandir. Pasalnya iya sudah,
hampir tiga kali mengitari setiap ruang sudut rumah dari Akbar itu, namun tak kunjung menemui pemiliknya
Pikirnya pasti para pekerja di sana. Mengira bahwa iya sedang berolahraga dengan mengitari setiap sudut halaman rumah sebesar itu.
"Haissh….bodoh" gumam Riri yang masih
terdengar oleh orang yang saat ini ada tepat di belakangnya
"Siapa yang kamu maksud bodoh" tanya Akbar
"Hah…”pekik Riri terhenyak kaget memegang dadanya
"Ah tidak Tuan, maksudku..aku ingin pulang, tapi aku tidak punya ongkos untuk membayar ojek” jawab Riri
"Ya sudah, ayo kita pulang" seru Akbar mendahului Riri
"Pulang! Pulang kemana Tuan" tanya Riri dari arah belakang
Seketika Akbar mengehtikan langkah kakinya
dan riri yang menuduk pun memberunduk punggung Akbar
"Ah…” pekik Riri memegang dahi nya
Akbar seketika membalikan posisi badannya menghadap Riri
"Apa kamu sekarang mencoba berpura-pura bodoh” tanya Akbar
"Ataukah kau tidak ingin pergi jauh dari sisiku“ goda Akbar melangkahkan kakinya mendekati Riri
Riri yang sempat kaget, melangkah mundur dan sedikit menudukan tubuhnya ke belakang saat Akbar lebih dekat denganya
"Ah…Tuan seseorang memanggilmu" ujar Riri
mengalihkan pandangan Akbar dan seketika, Riri berlari meninggalkanya
"Haha….dasar bocah nakal" gumam Akbar
tersenyum lalu menyusul Riri ke dalam rumahnya
"Heii…bocah nakal, segera siapkan dirimu
aku akan mengantarkanmu pulang“ ujar Akbar
"Ya…baiklah Tuan" jawab Riri segera menuruni tangga lalu melewatinya pergi ke halaman depan rumah. Melihat tingkah lucunya itu Akbar mengeleng-gelengkan kepalanya
__ADS_1
dengan seulas senyum di wajah tampannya itu. Pikirnya kenapa, iya selalu merasa sering tertawa, jika berada di dekat Riri
Benih² asmara ya gitu, udah merasa nyaman dan sedikit aneh kalo udah simpan hati, hihi😁, sarangheyo dofu-dofu 🤗