MOMENT WITH ME

MOMENT WITH ME
#MWM 41 (KABAR DUKA BU RATIH)


__ADS_3

Kita tidak akan pernah tahu setiap waktu kejutan selalu datang tanpa batas waktu, tanpa melihat situasi dan kondisi, kejutan itu benar-benar nyata dan setiap orang pasti akan mendapatkan kejutan itu. Lalu pernahkah kalian berfikir di setiap kejutan itu selalu ada hikmah dan kebaikan yang Tuhan siapkan untuk kita?


Maka sebagian orang patut melapangkan dada nya dan selalu bersyukur atas kejutan yang sudah Tuhan berikan, mungkin dengan kejutan besar itu Tuhan sedang mengajarkan kita bahwasanya semua akan kembali ke pangkuan nya, tidakkah kita sadari, betapa berharga nya hidup ini, maka dari itu gunakan lah sebaik-baik nya waktu yang kau miliki selama masih di berikan kesempatan


Pagi ini Bu Ratih nampak segar sekali wajah nya cantik bercahaya tanpa polesan apa pun, senyum nya merekah, bibir nya yang ranum merah muda menambah kesan manis di wajah renta itu. Apakah ini yang di sebut menyambut hari terakhir sebelum kembali ke pemilik nya?


“Pagi Bu” sapa Riri yang langsung memeluk hangat Bu Ratih dari samping


“Pagi Nak, em..harum sekali, ayo sarapan dulu baru berangkat kerja nya” ujar Bu Ratih


“Hehe..iya nih Bu” balas Riri, “Oh iya Bu hari ini Ibu terlihat sangat cantik sekali” ujar Riri


“Benarkah?” tanya Bu Ratih


“Ekhem..seperti nya aku melewatkan sesuatu, apa karena hari ini Ibu sangat bahagia?” tanya Riri


“Ya kau benar Nak, ayo segera lah makan” titah Bu Ratih


Riri pun memandangi wajah Bu Ratih sekali lagi dan setelah itu melanjutkan sarapan nya. 15 menit kemudian Riri pun sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. “Bu, Riri pamit ya Bu” ujar Riri memberi salam


“Iya Nak, hati-hati ya” balas Bu Ratih


“Em..jangan lupa untuk minum obat nya Bu” pesan Riri, “Riri hari ini bakalan pulang cepat, Riri janji Bu” ujar Riri lalu mencium pipi Bu Ratih


“Sudah nggak apa-apa, hari ini Ibu nggak akan rewel lagi kok” ujar Bu Ratih dengan tawa nya


“Ih Ibu, siapa bilang Ibu rewel, emang bayi apa” balas Riri, “Ya sudah Bu, Riri pergi ya” ujar Riri


“Iya sayang semangat ya” balas Bu Ratih


Setelah Riri pergi untuk bekerja 25 menit kemudian Bu Mina datang bersama kedua anak nya


“Assalamualaikum Bu” sapa Bu Mina


“Waalaikumsalam” balas Bu Ratih


“Masya Allah Bu Ratih hari ini sangat cantik dan bercahaya sekali” gumam Bu Mina


“Bu, Ibu Ratih hari ini seperti bidadari ya Bu cantik sekali” ujar Dio sang bungsu


“Iya Nak” balas Bu Mina pada anak nya, sementara Windi tidak terlalu memperhatikan karena baru menghampiri kedua nya itu dari arah belakang


“Em..Bu hari ini Ibu nampak cantik sekali, apa Ibu akan pergi ke sesuatu acara?” tanya Bu Mina


“Benarkah Bu Mina?” tanya Bu Ratih


“Ah hari ini aku sangat bahagia, aku tidak tahu rasa nya aku akan segera menemui suami dan anak-anak ku, kau tahu Bu Mina? Aku semalam bermimpi mereka datang menjemput ku” ujar Bu Ratih


Sementara Windi dan juga adik nya sudah asyik bermain di halaman pekarangan rumah yang cukup besar itu. Kedua nya bermain ayunan serta bermain beberapa permainan yang di bawa dari rumah nya


Sementara Bu Mina dan Bu Ratih sedang asyik berbincang-bincang, “Bu ini ada sesuatu yang ingin saya berikan” ujar Bu Ratih lalu menyerahkan sebuah kotak besar


“Apa ini Bu” tanya Bu Mina menerima kotak besar itu


“Ini kebaya pengantin yang saya buat kan untuk Riri Bu, tolong berikan ini ya Bu saat Riri sudah mau menerima lamaran Tuan Maldeva” ujar Bu Ratih


“Kenapa tidak Ibu saja yang memberikan ini” balas Bu Mina


“Ah kau tahu sendiri, saya tidak ingin terlalu memaksa nya, biar lah dia yang menentukan sendiri keputusan nya” ujar Bu Ratih


“Iya Bu saya akan berikan ini kepada Riri” jawab Bu Mina


“Terima kasih ya” ujar Bu Ratih tersenyum ramah


“Bu saya minta maaf ya jika selama ini saya punya salah baik itu perkataan yang di sengaja atau pun tidak dan perbuatan yang di sengaja atau pun tidak, saya mohon dengan tulus tolong maaf kan semua kesalahan saya” ujar Bu Ratih menggenggam tangan Bu Mina


“Iya Bu, tidak apa-apa malahan yang ada saya harus minta maaf karena selalu merepotkan Ibu” balas Bu Mina


“Saya juga minta maaf Bu kalau selama saya bekerja di sini saya banyak izin nya, banyak kekurangan nya dan membuat repot Ibu” ujar Bu Mina


“Iya gapapa Bu, oh iya hari ini tutup saja ya toko nya” ujar Bu Ratih


“Kenapa Bu” tanya Bu Mina


“Em..hari ini ikut saya ke rumah tetangga ya saya mau bagi-bagi sedekah dan meminta maaf” ujar Bu Ratih


Kedua orang itu pun menutup toko dan pergi ke beberapa rumah tetangga untuk memberikan sedekah serta meminta maaf. 30 menit setelah nya Bu Ratih dan Mina pun hari ini pergi menyusuri tempat pemukiman untuk berbagi makanan pada orang-orang pinggiran dan juga anak-anak jalanan. Setelah 2 jam berlalu tepat di jam 12.15 siang kedua nya mampir di salah satu masjid untuk mampir menunaikan sholat dzuhur


Beberapa belas menit Bu Mina yang sudah selesai pun menunggu Bu Ratih untuk bangkit dari sujud nya, namun seperti nya Bu Ratih tak menunjukkan tanda-tanda untuk bangkit, apakah terlalu khusyuk? Ataukah telah terjadi sesuatu? Bu Mina pun mencoba memegang pundak Bu Ratih dan sontak saja membuat Bu Mina terkejut karena Bu Ratih jatuh dan sudah tak sadarkan diri, semua orang yang ada di masjid itu pun segera melarikan Bu Ratih ke pihak rumah sakit di mana tempat Riri bekerja


Dokter yang menangani pasien pun angkat tangan jika kehendak Tuhan sudah di tetapkan. Dokter pun segera keluar dari ruangan UGD dan memberitahukan keadaan pasien kepada anggota keluarga “Keluarga Bu Widyaratih?” tanya Dokter


“Saya Dok, bagaimana dengan Kakak saya Dok?” tanya Bu Mina


“Mohon maaf Bu, Bu Ratih sudah meninggal dunia, beliau meninggal saat dalam perjalanan kemari” ujar Dokter penuh sesal


“Ya Allah Bu Ratih” tangis Bu Mina


“Yang sabar ya Bu, mayat pasien akan segera kami pindahkan, mari Bu” ujar Dokter lalu meninggalkan Bu Mina


“Bu, ada apa dengan Bu Ratih”? tanya Windi


“Nak..Bu Ratih sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya Nak” ujar Bu Mina pada sulung nya dengan pelan lalu mendekap kedua nya


“Lalu bagaimana dengan Kak Riri Bu” ujar Windi


“Ibu akan menelpon Kak Juliana dan keluarga nya” ujar Bu Mina


Setelah Bu Mina mengabari keadaan Bu Ratih pada keluarga Juliana, Juliana pun langsung izin pulang dan segera menemui Bu Mina di rumah sakit untuk mengurus jenazah agar segera di bawa pulang ke rumah duka


Sementara itu Akbar yang baru saja balik dari perusahaan Pratama Group nampak panik saat sekretaris nya memberitahukan bahwa Juliana nampak panik dan menangis sesenggukan karena menerima kabar duka


Akbar pun langsung menyuruh orang-orang kepercayaan nya untuk mencari tahu tentang informasi tersebut, 15 menit menunggu kabar Akbar pun terkejut bukan kepalang, iya tidak menyangka jika secepat ini Bu Ratih pergi meninggalkan semua orang, Lalu bagaimana dengan Riri? Apakah Riri juga sudah mendengarkan kabar duka ini?


Tanpa pikir panjang Akbar pun segera keluar dari ruang kerja nya dengan langkah cepat dan berlari menuju lift dan segera ke lantai dasar parkiran. Dalam perjalanan Akbar pun memberitahukan kabar duka ini kepada keluarga Pratama dengan segera Sarah dan juga keluarga nya menyusul ke rumah duka.


Semua orang nampak sudah ramai berkumpul di rumah duka dan datang berbondong-bondong untuk melayat dan mengaji bersama. Semua orang nampak terlihat sedih dan terpukul karena selama yang mereka tahu Bu Ratih baik-baik saja


“Kasihan sekali ya Riri” ujar Bu Rasti dengan beberapa teman nya


“Iya, padahal baru tadi pagi beliau datang memberi sedekah dan meminta maaf, apa memang beliau sudah tahu kalau ajal nya sudah dekat ya” ujar Bu Leli


“Ya Allah semoga surga tempat nya ya Ibu..Ibu” ujar Bu Romla yang datang menimpali


“Eh Bu Romla, iya ya saya mah kasihan sama Riri nya” ujar Bu Rasti


“Iya Ibu Rasti mari kita ke dalam” titah Bu Romla pada beberapa Ibu-ibu


Sementara Sarah dan lain nya merasa sedih atas kepergian teman nya itu, Bu Mina pun hanya duduk diam tanpa bersuara, begitu sakit nya hingga menyimpan luka pada mereka yang amat menyayangi Bu Ratih, lalu bagaimana


dengan Riri jika tahu akan kabar ini?


Juliana yang berusaha tegar pun menelpon sahabat nya itu untuk segera pulang, namun tanpa di sadari Akbar sudah lebih dulu sejak mendapatkan kabar duka ini langsung segera menyusul Riri ke rumah sakit

__ADS_1


“Em..Ri hari ini kamu boleh pulang cepat” ujar kepala rumah sakit


“Ah Pak, terima kasih, kalau begitu saya pulang dulu” jawab Riri yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, padahal tadi niat nya mau minta izin tetapi ya seperti nya hari ini adalah hari yang penuh dengan sebuah kejutan


“Eh..Bar kamu..em maksud ku siapa yang sakit” tanya Riri saat berjumpa dengan Akbar di koridor rumah sakit


“Ri ayo ikut aku sekarang” ujar Akbar tanpa membalas pertanyaan Riri


“Ha..kemana, aku harus segera pulang, Bu Ratih sedang menunggu ku” ujar Riri


“Apa kamu sudah tahu” selidik Akbar menghentikan langkah nya


“Maksud kamu?” tanya balik Riri yang nampak heran dengan pertanyaan Akbar


“Em..gapapa, ya sudah ayo aku antar kamu pulang” kilah Akbar


Kedua nya pun segera kembali pulang, sesampai di pekarangan halaman rumah, Riri nampak terkejut dengan keramaian yang ada di rumah nya


“Ada apa ini kenapa rumah ku sangat ramai” gumam Riri


“Em..apa Ibu sedang membuat sesuatu acara khusus” batin Riri bersua


Riri pun segera turun dari dalam mobil dan memasuki rumah, “Eh..itu Riri dia baru pulang” ujar beberapa anak-anak muda dan juga bapak-bapak


“Maaf Pak..Bu ada apa ya ramai-ramai di rumah saya” tanya Riri


“Yang sabar ya Nak Riri” ujar Pak Hafid


“Loh maksud Bapak apa? Memang nya apa yang terjadi” tanya Riri yang mulai panik


Akbar yang sudah tahu itu pun merangkul tubuh Riri agar tetap tenang, “Bar maksud nya mereka apa sih, emang di dalam ada ramai-ramai apa?” tanya Riri


“Ri, aku mohon tenang kan diri mu ya, ayo kita masuk” ujar Akbar lalu menuntun Riri bersama nya agar masuk ke dalam rumah


Juliana yang sempat melihat kedatangan Riri pun langsung berlari kearah nya dan memeluk erat tubuh sahabat nya itu. “Juls ada apa ini kenapa kamu menangis, apa yang terjadi” tanya Riri


“Hiks..hiks, Ri..Ibu..” ujar Juliana tersendat-sendat


“Bicara yang jelas Juls” ujar Riri


“Bu Mina ada apa dengan kalian? Mengapa kalian semua pada menangis, apa yang terjadi jangan buat aku khawatir” ujar Riri saat mendekati Bu Mina


“…” Bu Mina nampak bingung harus menjawab apa


“Ah kalian menyebalkan, di mana Bu Ratih kenapa semua orang ada di sini, apakah Bu Ratih yang mengundang?” tanya Riri lalu pergi mendekat ke ruang tamu


Seketika tubuh nya terbujur kaku, mulut nampak bisu, semua nya yang di lihat nya bagaikan sebuah mimpi dan seketika itu Riri pun menjatuhkan tas kerja nya


“Ah itu..itu Bu Ratih kenapa tiduran di luar Bu Mina” tanya Riri dengan tatapan kosong terus menatap kearah jenazah Bu Ratih


“…” semua orang terdiam tak mampu bersuara apalagi membalas pertanyaan Riri


“Juls jangan bilang kamu dan Bu Ratih lagi prank aku, iya kan” ujar Riri


“…” Juliana hanya menggelengkan kepala nya dan menggenggam kedua tangan sahabat nya itu


Sedangkan Akbar dan Maldeva mencoba tetap berada di samping Riri jika sewaktu-waktu diri nya ambruk jatuh tak sadarkan diri atau semacam nya


“Haha..Juls ini enggak lucu ya, udah aku tahu kamu dan Bu Ratih pasti ngeprank aku, iya kan” ujar Riri lalu mencoba berjalan pelan mendekati jenazah Bu Ratih


“Tuan” seru Juliana pada Maldeva dan Akbar


“Tenang Juls kita akan mencoba menenangkan nya” ujar Akbar


“Nyonya Sarah kalian juga ada di sini” tanya Riri yang sudah seperti orang linglung


“Ah Nyonya kau juga rupa nya sedang bersekongkol dengan sahabat ku, haha..ini tidak lucu” balas Riri lalu duduk bersimpuh mendekati Bu Ratih yang sudah terbujur kaku


“Bu..bangun Bu” panggil Riri menggoyang-goyangkan tubuh Bu Ratih


“Nak..yang tabah dan ikhlas Nak” ujar Bu Mina yang duduk dekat dengan Riri


“Bu Mina kapan terakhir Riri di kerjain sama kalian” tanya Riri


“Tapi Nak..Bu Ratih sudah pergi, Bu Ratih sudah tenang di alam nya” ujar Bu Mina


“Syuut..Bu Mina tolong kecilkan suara nya, pasti Bu Ratih sedang tidur” ujar Riri yang sudah seperti orang frustasi


“Ya Allah Nak sadar Nak” ujar Bu Mina


“Ri..udah Ri kamu jangan begini kita harus ikhlasin semua nya” ujar Juliana


“Kamu bicara apa Juls, kamu tidak lihat betapa cantik dan manis nya Ibu saat terlelap” ujar Riri mengelus wajah kaku jenazah di depan mata nya itu


Hati nya mungkin sudah remuk hingga air mata pun seakan kering tak mau membasahi kedua pipi mulus itu. Apakah sesakit itu hingga mencoba tegar walau harus menahan segala luka?


“Ri..ayo kita harus segera bersiap-siap karena jenazah nya harus di mandikan dan di sholat kan” ujar Maldeva


“Ah Kak Iki kau juga ada di sini? Kenapa kau juga bersekongkol dengan mereka, kau jahat sekali” balas Riri


“Ri..aku..” ujar Maldeva tehenti


“Haha..sudah lah aku akan tidur dengan Bu Ratih rasa nya hari ini aku sangat lelah bekerja” ujar Riri lalu membaringkan tubuh nya di samping jenazah Bu Ratih


Semua orang yang melihat itu pun merasa iba mungkin sebagian orang akan merasa tergelitik geli dengan tingkah konyol Riri, tapi ya begitulah ada nya. Kita tak dapat menebak bagaimana perasaan seseorang dan luka hati yang di alami nya


“Ri..bangung Ri, sadar Ri” ujar Juliana yang tak mampu melihat keadaan Riri yang nampak frustasi


“Juls kenapa kau berisik sekali aku tidak bisa tidur menemani Ibu ku” ujar Riri, “Ah Juls bisa kah kau membantu ku mengambil selimut? Kenapa tubuh Ibu ku dingin sekali?” ujar Riri pada sahabatnya itu


“Hiks..Ma..Pa..bujuk Riri biar dia sadar Ma” ujar Juliana pada kedua orang tua nya


“Sabar Nak, Riri saat ini sangat terpukul sayang” balas Rani pada putri nya


“Apa aku harus menampar nya agar sadar kembali” ujar Juliana


Sarah, Rani dan juga Bu Mina mencoba mendekati Riri dan mencoba membujuk nya agar segera sadar dan mencoba mengikhlaskan semua takdir yang sudah di gariskan


“Nak ayo bangun sayang” ujar Rani


“Ah Tante Rani” sahut Riri dan bangun dari tidur nya


“Iya sayang, em..maaf ya Tante mengganggu, rupa nya Bu Ratih sudah sangat merindukan keluarga nya di sana” ujar Rani


“Kamu yang  kuat ya sayang, Bu Ratih sudah di panggil oleh Tuhan karena Tuhan juga sangat merindukan sosok Bu Ratih” ujar Rani sambil mengelus rambut Riri dengan penuh kasih


“Apakah benar begitu Tante, tapi aku rasa Ibu sedang mengerjai ku” balas Riri lalu kembali menatap jenazah itu


“Lihat lah kalian semua Ibu ku tersenyum kepada ku itu arti nya beliau sedang mengerjai ku, kalian juga haha..” ujar Riri lalu tertawa seperti orang yang memiliki beban dan terlihat frustasi


Sarah dan Bu Mina hanya diam dan menggenggam tangani Riri, “Bu Mina apakah Bu Mina tidak sibuk? Ayo Bu bantu Riri menyiapkan makan siang, ah tidak rupa nya banyak tamu di sini, kita akan masak yang banyak” ujar Riri lalu bangkit berdiri dan menarik lengan Bu Mina agar mengikuti nya ke dapur


“Hai Juls kemana saja kau, tolong bantu aku ya hari ini banyak sekali tamu di rumah ku, kita akan memasak banyak hidangan untuk mereka” ujar Riri menggenggam jemari Juliana dan menariknya agar segera ke dapur

__ADS_1


Dengan sangat berat hati Juliana menghentakkan tangan nya dengan kasar lalu menampar kuat sahabat nya itu “PLAK” tamparan yang begitu kuat hingga membuat semua orang pun terpenganga


“Haha...” tawa Riri


“Sadar Ri, Ibu Ratih udah nggak ada, Bu Ratih udah tenang sekarang, kamu harus sadar Ri, sadar Ri” ujar Juliana mengguncangkan tubuh sahabatnya itu


“TIDAK” pekik Riri, “Ibu ku sedang tidur, kamu yang harus sadar Juls apa mata mu buta? Bu Ratih sedang istirahat Juls, haha..” balas Riri lalu berjalan kearah dapur


Semua orang nampak panik dan menyusul Riri ke dapur, Riri yang pikiran nya sudah kosong dan tak peduli lagi dengan apa yang di alami nya. Diri nya saat ini hanya ingin mencoba mengakhiri hidup nya, buat apa hidup jika Bu Ratih saja sudah pergi meninggalkan nya


“Ah Riri” teriak Juliana histeris saat Riri dengan cepat mengambil sebuah pisau dapur lalu menggores kan kei lengan nya


Seketika itu pula Riri tersenyum seperti orang yang sudah kehilangan kewarasan nya dan beberapa saat tubuh nya pun tumbang jatuh tak sadarkan diri dengan sigap Akbar langsung membopong tubuh nya dan segera melarikan Riri ke rumah sakit


Betapa tidak patah hati terbesar seorang anak itu bukan pada puncak kehilangan seseorang kekasih, akan tetapi sosok orang tua yang dengan rela melahirkan dan bersusah payah dalam membesarkan kita. Sungguh rapuh dan


menyisakan goresan luka yang cukup dalam hingga apapun itu tak akan mampu untuk mengobati nya


4 hari berlalu setelah pemakan jenazah Bu Ratih di semayamkan. Sementara Riri pun belum juga sadar dari tidur nya, tak lepas dari kekhawatiran Juliana selalu menyempatkan diri datang dan merawat sahabat nya itu


“Ri..apa kau tak merasa bosan, mengapa kau tidur begitu lama” gerutu Juliana


“Apa kau tidak ingin kembali bersama dengan ku, apa kau akan asyik dengan dunia mu sendiri?” ujar Juliana


Ya setiap hari nya Juliana seperti pedagang sayuran dan ikan di pasar yang menghabiskan tenaga nya hanya untuk merutuki Riri, mendumel kadang tertawa sendiri bercerita tentang masa kecil hingga mencurahkan isi hati nya tentang sosok pria yang saat ini iya inginkan


“Apa kau tidak akan bangun, apa kau tidak ingin tahu jika aku akan segera menikah” ujar Juliana


“Apa kau tidak ingin tahu pria mana yang mau menikah dengan ku?” ujar Juliana


“Ah sudah lah rupa nya kau sudah melupakan sahabat mu ini, ya aku tahu aku orang yang sangat menyebalkan, ya aku tahu aku orang yang sangat kau benci, ya aku tahu aku orang yang tidak peduli dan begitu ego, ya aku tahu aku selalu membuat mu kesal, marah dan semena-mena dengan mu, ya aku tahu…” ujar Juliana berpidato di depan sahabat nya itu sesaat terhenti saat  jemari nya di genggam oleh Riri


“Ri..” panggil Juliana yang terkejut senang


“Ah..jangan bergerak aku akan panggil kan Dokter sebentar” ujar Juliana langsung dengan sigap berlari ke luar ruangan untuk memanggil Dokter


“Dokter..Dokter” teriak Juliana menggema di penjuru ruang rumah sakit


“Ah Nona apa yang kau lakukan, kau mengganggu pasien yang lain” tegur salah satu perawat


“Ah maaf Suster, bisa kah kau panggil kan Dokter segera? Sahabat ku sudah sadar” ujar Juliana


“Ada apa ini Nona Juliana” tanya Dokter beserta beberapa Suster


“Dok..Riri..sahabat ku sudah sadar tolong lihat lah” ujar Juliana


15 menit setelah Dokter memeriksa kan keadaan Riri, “Ini sungguh keajaiban yang luar biasa, apakah anda sudah merasa lebih baik Nona?” tanya Dokter pada Riri


“…” Riri hanya menggelengkan kepala nya


“Kalau begitu beristirahatlah, saya akan kembali lagi nanti” ujar Dokter


“Em..Dok, apa aku boleh pulang, aku sudah merindukan Ibu ku” ujar Riri


Dokter pun menatap kearah Juliana dan tersenyum kearah Riri “Jika keadaan anda baik-baik saja maka pihak rumah sakit akan memberikan izin” ujar Dokter


“Ya lihat ini” ujar Riri lalu memperagakan pemanasan otot yang mengundang tawa dari beberapa perawat dan Dokter itu sendiri


“Ri apaan sih, kamu baru aja pulih loh” tegur Juliana pada sahabat nya itu


“Bagaimana Dok, apa itu sudah cukup” tanya Riri, “ Ah ataukah harus ku tunjukkan kau gerakan Bruce Lee? Ujar Riri yang langsung turun dari hospital bed


“Ah Nona tidak perlu, ya sore nanti kau sudah bisa pulang” ujar Dokter


“Tidak, aku mau detik ini juga” ujar Riri


“Ri..nggak boleh gitu, kamu tetap harus mengikuti prosedur rumah sakit” ujar Juliana


“Ah sayang sekali, hem kau sangat menyebalkan” balas Riri


Setelah kembali pulang sepanjang perjalanan Riri hanya diam mematung dengan tatapan kosong dan hampa, Juliana yang ingin mengantarkan Riri pulang pun di urung nya, akhirnya mobil yang di kendarai nya itu berbalik arah pulang ke rumah nya


“Juls kenapa harus balik, apa kau sudah lupa di mana arah jalan rumah ku” tanya Riri dengan nada dingin yang siapa saja melihat itu pasti sangat mengerikan


“Ah itu..aku lupa kalau hari ini Mama sama Papa lagi buat banyak makanan, jadi aku pikir kita kan belum makan jadi ya sekalian aja kita makan bareng kan sama-sama” ujar Juliana


“Em jarang-jarang loh Papa Mama ada di rumah” ujar Juliana


“…” Riri hanya diam mendengarkan tanpa harus berucap


Sesampai kedua nya di rumah milik keluarga Juliana, Adrian dan istrinya menyambut hangat Riri dengan penuh kasih sayang, “Selamat datang Nak, ah bagaimana kabar mu” ujar Rani


“Em baik Tante” balas Riri


“Ya sudah ayo, Tante hari ini sudah masak banyak” ujar Rani


Di ruang makan “Ekhem.. ayo Nak makan yang banyak” titah Rani


“Iya Ri kamu harus makan yang banyak, udah kamu nggak usah terlalu banyak pikiran” ujar Juliana


“Kita bakalan selalu ada untuk kamu, kita juga keluarga kamu Ri” ujar Juliana, “Iya kan Ma Pa” sahut Juliana pada kedua orang tua nya


“Apa setelah ini aku boleh kembali pulang” tanya Riri


“Em..” Rani dan suami nya saling tatap


“Ri kalau begitu aku bakalan temenin kamu” ujar Juliana


“Em..makasih ya” ujar Riri


Setelah sampai di rumah pukul 20.00 malam kedatangan kedua nya di sambut hangat oleh Bu Mina, Akbar dan juga sepupu nya Della


“Kak Juls, Kak Riri” ujar Della langsung memeluk kedua nya di susul oleh Windi dan juga Dio adik nya, mereka bertiga datang memborong kedua nya dan saling berpelukan


“Kakak bagaimana kabar nya, apakah sudah sehat” tanya Dio


“Iya Dio, Kak Riri bahkan sudah seperti Bruce Lee saat memaksa kembali pulang kemari” ujar Juliana dengan canda


“Benarkah Kak Ri, woah seperti nya aku juga harus jago seperti Kakak” ujar Dio


“Yah kau kan laki-laki jadi harus jagoan dong” balas Juliana


Sementara Riri hanya diam mengamati ke empat orang itu tatapan nya kini beralih pada Bu Mina tanpa memperdulikan keberadaan Akbar


"Ri.." sapa Akbar dengan cepat Riri memotong arah pembicaraan Akbar pada nya


“Bu Mina, dimana Bu Ratih? kenapa Ibu tidak menyambut ku pulang, apa Ibu sedang istirahat” tanya Riri


Seketika semua orang saling tatap dan terkejut dengan pertanyaan Riri. Ya Allah Riri ada apa dengan mu, apa hati mu sebegitu terluka nya hingga membuat mu menolak takdir Tuhan?


Jangan seperti itu Riri, Author dan para readers sesak ngebayangin nya, kamu harus kuat Riri, semua orang yang ada di dekat mu selalu support dan menantikan kamu, mereka selalu akan mencurahkan kasih sayang nya ke kamu. Ayo Riri semangat, kuat kan lah hati mu itu, percaya lah kejutan yang di berikan Tuhan ini pasti yang terbaik sudah semestinya kita melapangkan dada dan berbesar hati menerima ini semua


Hai guys and readers tercinta, please LIKE, RATE, VOTE AND TAP LOVE nya

__ADS_1


Author sedikit nyesek tahu gak menuangkan isi cerita ini, berasa banget feel nya dan nggak bisa bayangin gimana kalau kita yang berada di posisi Riri, hiks..hiks😭


Sarangheyo dofu-dofu dan thanks dofu-dofu


__ADS_2