
Di taman belakang halaman istana yang megah itu menurut Riri desain yang begitu elegan dan berkelas yang cocok dengan orang-orang berkelas seperti mereka-mereka yang termasuk kategori orang sultan
Maldeva mengajak Riri ke tempat itu yang sebelumnya sudah di hias dan di dekor oleh beberapa pelayan, berasa banget ya jadi orang special, Author juga pengen kek begitu, pasti luluh deh hehe..habisnya romantis banget, hihi..
“Ayo duduk” seru Maldeva yang memperlakukan Riri seperti Tuan Putri
“Ah..terima kasih Tuan” balas Riri
“Em..gini ya Ri, belakangan ini saya pikir kita bukan seperti orang asing, jadi bisa kan kamu panggil saya Maldev saja atau seperti dulu kamu memanggil aku dengan sebutan Kak Iki” ujar Maldeva
“Kak Iki” gumam Riri menatap bingung kearah Maldeva
“Iya, apa kamu lupa dengan aku” ujar Maldeva, “Aku tahu mungkin sudah lama sekali dan banyak perubahan yang
terjadi dan itu hal yang wajar jika kamu sampai lupa” jelas Maldeva
“…” menatap lamat-lamat wajah Maldeva, “Deg” tiba-tiba hati Riri terketuk dan mengingat massa lampau 7 tahun silam
“Hah..gak mungkin” lirih Riri, “Apa buktinya kalau kamu itu adalah orang yang sama di massa lampau” tanya Riri
“Ini..” Maldeva menyodorkan se kotak mini berwarna ungu kearah nya
“Buka saja dan lihat lah” ujar Maldeva tersenyum
Riri pun mengambil se kotak mini berwarna ungu itu dan segera membukanya, sedikit terkejut dengan sebuah kalung berbentuk pelangi dan dibalik kalung itu terdapat nama A & R yang artinya nama keduanya Apriliana & Rizki
“Em..maaf, aku pikir banyak yang memiliki ini” ujar Riri masih mengelak entah kenapa masih bimbang dengan kenyataan itu
“OK! Tolong dengarkan ini” ujar Maldeva lalu dengan sigap memberi kode sang pemandu music klasik yang sangat
Riri sukai
Riri menikmati alunan music dan instrumental itu hingga terngiang-ngiang pada massa lampau nya itu, seketika
Riri meneteskan air matanya
“Bagaimana menurut mu” tanya Maldeva, “Aku tahu jika mendengarkan lagu ini kamu pasti akan menangis hingga
tersedu-sedu” ujar Maldeva
“Hem..terima kasih karena telah meyakinkan aku” ujar Riri, “Maaf” lanjut Riri
“Beberapa waktu lalu aku sudah tahu kalau kamu itu Kak Iki dan itu semua membawa kabar baik sekaligus membuat aku senang, akan tetapi aku sadar sepertinya waktu terlalu lama untuk mempertemukan kita lagi hingga rasanya canggung dan seperti orang asing bagiku” ujar Riri
“Maka biarkan aku untuk lebih dekat dengan kamu” balas Maldeva
“Maaf Kak, aku..” ujar Riri terhenti
“Ya aku tahu, kau pasti menolaknya karena ada hati yang kau jaga” balas Maldeva, “Aku tahu saat kamu menghadiri acara seminar yang lalu Akbar dengan lantang nya melamar kamu waktu itu, aku juga tahu kalian bersama waktu itu dan saling memberikan kenyamanan satu sama lain” ujar Maldeva
“Tapi tidakkah kau memikirkan nya lagi dan mempertimbangkan nya?” ujar Maldeva, “Menurut kamu bagaimana, niat baik seseorang yang dengan tulus hadir meminta restu dan ingin menjadikan anaknya itu sebagai seorang ratu di hidupnya” ujar Maldeva
“Maaf untuk saat ini aku..aku belum siap” jawab Riri, “Emp..maaf sepertinya sudah larut pasti Bu Ratih sudah lama menunggu” Ujar Riri mengalihkan pembicaraan
“Baiklah, tapi tolong beri aku kesempatan untuk bisa membuktikan bahwa aku pantas untuk mendapatkan hatimu” ujar Maldeva
“Emp..aku pikir aku tidak punya hak untuk melarang seseorang” tawa Riri menutupi kecanggungan itu yang di balas dengan senyuman merekah dari Maldeva
__ADS_1
Ya walaupun ujungnya seperti ini dan sudah pasti sedikit sulit untuk menaklukkan hati Riri, tapi bagi Maldeva ini belum seberapa dan seperti nya ini adalah sebuah misteri yang mungkin dapat di pecahkan namun caranya harus berbeda dan tau kunci yang pas untuk membuka gembokan hati yang keras dan berbeda itu
“Om, besok aja ya kita bahasnya” ujar Akbar setelah keluar dari kamar mandi
“Emang kenapa kalau sekarang” tanya Pratama
“Aduh gimana ya, pokoknya besok deh aku jelasin semuanya ke Om” jawab Akbar, “Aku juga enggak bawa file-filenya gimana mau jelaskan nya coba” kilah Akbar mencoba menghindari
“Haha..Bar..Bar udah ngalah aja sama Abang kamu” ujar Pratama
“Maksud Om?” tanya Akbar heran
“Ya kadang pengorbanan itu terlihat konyol terlebih merelakan sosok wanita yang sudah lama kita inginkan, tapi lebih baik melihatnya bahagia bersama orang lain itu adalah hal terbesar dan berkesan kesatria sejati” ujar Pratama
“Gak Om, Om harus adil dong, Akbar masih harus memperjuangkan dan meminta jawaban dari Riri” tolak Akbar dengan seruan Pratama padanya
“Om sarankan, kamu jangan lagi mempermainkan banyak wanita dan menggantungkan perasaan mereka” ujar Pratama menepuk bahu Akbar lalu beranjak pergi ke luar menemui sang istri dan tamunya itu
“Om..Om salah paham, Akbar sudah berubah dan Akbar serius” ujar Akbar menyusul Pratama di ruang tamu
“Loh Bar, kenapa kok teriak-teriak” tanya Sarah lalu menatap sang suami
“Ah enggak apa-apa Tan” cengir Akbar menggaruk tengkuknya
“Cie..yang galau, cie..yang lagi di saranin buat ngalah” goda Adinda
“Tahu apa lu preman” jawab Akbar
“Emang apaan sih” kepo Della menyenggol lengan Adinda
“Tau” balas Adinda
“Hah..apa, sekali lagi ucapin itu gigi lu bakalan rontok” kecam Adinda
“Udah-udah ya ampun, ini bocah-bocah” ujar Sarah mengkondisikan kedua Tom & Jerry itu
“Emp..kalau begitu kami permisi dulu ya Tuan” ujar Bu Ratih pada Pratama saat melihat kedatangan Riri menghampiri mereka di ruang tamu
“Oh iya Bu, silahkan” balas Pratama
“Hati-hati ya Bu” ujar Sarah
“Iya Jeng” balas Bu Ratih
“Emp...Tuan..Nyonya sekali lagi terima kasih” ujar Riri
“Iya Nak Riri” balas kedua Pasutri
“Emp..Bu Ratih biar saya yang anterin ya sekalian karena saya sama Della juga mau pulang” ujar Akbar menawarkan diri
“Ah gak usah biar Della bermalam aja di sini, biar saya aja yang anterin Bu” tawar Maldeva
“Eh apaan sih lu, gue mau pulang ya” sela Akbar
“Siapa juga yang ngelarang” balas Maldeva yang mengundang tawa semua orang menatap perdebatan keduanya
“Udah ah..malah berdebat” sela Sarah menangani keduanya, “Pak Mato” panggil Sarah
__ADS_1
“Iya Nyonya” jawab Pak Mato
“Tolong antarkan Bu Ratih dan anaknya pulang ya” titah Sarah
“Baik Nyonya” balas Pak Mato, “Mari Bu, Nona” seru Pak Mato menuntun keduanya untuk segera pergi
“Cie…yang yang takut sama amukan Mami” goda Adinda pada keduanya
“Cie..yang gagal dapat kesempatan” goda Della
“Eh bocah sini lu” ujar Akbar mengejar Della dan Adinda. Maldeva tak ambil pusing segera naik ke lantai dua dan pergi ke kamarnya
“Pa, anak-anak tuh” ujar Sarah
“Biarin aja Mi, namanya juga anak-anak” balas Pratama, “Mestinya kita nikmatin nih kebersamaan seperti ini, besok-besok kalau misalkan Bungsu di lamar sama orang, pasti sepi ini rumah” ujar Pratama
“Ih Papi..orang Adek nya masih kuliah ya” balas Sarah
“Emang siapa yang bilang sudah nikah” ujar Pratama
“Heh tau ah, Papi nyebelin” kesal Sarah langsung beranjak pergi ke kamar
“Kebiasaan kalau ngambekan pasti bawa-bawa kamar” gumam Pratama, “Hehe..ada untungnya juga sih” cengir Pratama lalu menyusul istrinya itu
“Mi..Ma..Mi tungguin” ujar Pratama
“Ma..Mi..Ma..Mi..tidur di luar sana” kecam Sarah melempar bantal dan guling kearah suaminya
“Ya di temenin nyamuk dong” ujar Pratama menangkap bantal dan guling yang di berikan Sarah padanya, “Mami tuh kenapa ya, lagi PMS kali ya” gumam Pratama lalu berbalik badan dan pergi ke sofa ruang tamunya
“Eh Tuan, kok tiduran di sini” ujar Pak Robo menghampiri majikannya itu
“Iya..ya kenapa saya tiduran di sini” ujar Pratama, “Ah sudahlah..oh iya menurut kamu, bagaimana caranya buat naklukin hati seorang wanita” tanya Pratama
“Hah..Tuan ada simpanan ya” ujar Pak Robo terkejut
“Ih jangan kenceng-kenceng bicara nya” balas Pratama, “Emang tampang saya masih bisa dapat yang kedua” tanya Pratama
“Hehe..masih bisa Bos, tapi…” jawab Pak Robo
“Tapi apa…?” ujar Sarah yang sudah berkacak pinggang di balik badannya
“Ah Nyonya, itu..” ujar Pak Robo gagap
“Kamu ya Pa sembarangan aja, awas aja ya sampai main gila, aku jamin rudal nya langsung aku amputasi” kecam
Sarah dengan memperlihatkan aksinya itu dengan memegang gunting rumput di tangannya
“Ah..Mami apa-apaan sih, malam-malam kok pegang-pegang gunting pamali tau” ujar Pratama
“Pamali itu kalau kamu main gila” jawab Sarah langsung pergi meninggalkan keduanya
“Ah Bos saya permisi” ujar Pak Robo langsung menghilangkan jejak nya
“Haiss…Rob, alah mak aku di kacangin” ujar Pratama langsung berlari menuju kamar
Ada-ada aja ya itu manusia, aduh serem banget sih ancaman Nyonya Sarah, bahaya nih kalau para buaya main gila, hehe..belajar gih sama Nyonya Sarah kalau basmiin pelakor, wkwkw…ini mah ngalahin jutsu milik Juliana, hehe
__ADS_1
Salam sehat and happy new year 2021, sarangheyo dofu-dofu untuk kalian semua para readers, terus pantengin MWM ya guys, hihi..