
Ke bayang enggak sih guys? Namanya takdir itu seperti misteri yang tak terduga, ada kalah nya Tuhan telah memberikan semua itu di depan mata namun bagi kita seakan itu sebuah hal yang biasa hingga tak nampak oleh indera penglihatan. Mungkin kali ya, ini yang di sebut menolak kehadiran takdir, hehe…jangan dong, apapun itu sebagai manusia biasa harus percaya dan bergantung pada sang pencipta aamiin..
Ngomong-ngomong undangan makan malam siapa nih? Mau dong kepo dikit, dikit aja..
Coba tebak siapa nih yang mengundang acara makan malam?
“Pak kunci mobil” pinta Akbar pada beberapa security di halaman parkir kantor
“Siap Bos” ujar Pak Midun dengan sigap memberikan kunci mobil kepada Akbar
“Ok” balas Akbar langsung mengendarai mobilnya
45 menit mengendarai kereta kencana nya itu Akbar memparkirkan mobilnya tepat di depan halaman pekarangan rumah yang asri dan bersih itu
“Assalamualaikum” ujar Akbar memberi salam
“Waalaikumssalam” balas seseorang dari dalam rumah
“Krek..” pintu di buka untuk menyambut kedatangan seseorang tamu
“Siapa ya?” tanya pemilik rumah
“Maaf Bu, perkenalkan nama saya Akbar” ujar Akbar memberi sambutan
“Oh..Nak Akbar, ya Allah Gusti sudah besar sekali kamu Nak” balas Tante Rasmi, “Oh iya lupa ya, ayo duduk dulu” titah Tante Rasmi
“Hehe..makasih ya Bu” balas Akbar menggoda Tante kesayangannya itu
“Oh iya Nak, bagaimana kabarnya Mbak Puji” tanya Tante Rasmi
“Gak tahu, mama sudah menetap di Australia” balas Akbar
“Hem..oh iya terus bagaimana dengan kabar Mas Pratama dan Dek Sarah” tanya Tante Rasmi
“Tante sama Om aman Tan, mereka baik-baik saja” jawab Akbar
“Emp..Tan” seru Akbar, “Sebenarnya Akbar ke sini mau jemput Della, Tan” ujar Akbar
“Ada apa Nak?” tanya Tante Rasmi
“Hehe..biasa Tan, Akbar lagi butuh bantuannya” jawab Akbar nyengir kuda
“Kamu tuh kalau ada mau nya aja baru datang tengokin kita” ujar Tante Rasmi
“Tenang Tan, Tante enggak usah cemberut apalagi ngambekan” ujar Akbar menggoda dengan menaik turunkan kedua alis nya, “Akbar sudah bawakan semua oleh-oleh buat Tante, sebentar Akbar ambil di bagasi mobil” ujar Akbar lalu pergi mengambil buah tangan untuk Tante Rasmi dan keluarga
_
_
“Eh..kaya nya ada orang nih, siapa ya?” gumam Della saat menghampiri Ibu nya di halaman teras rumah
“Bu, ada yang datang ya, siapa?” tanya Della
“Eh sayang, itu loh Oppa kamu” balas Tante Rasmi
“Ha..Oppa?” kaget Della dan segera menghampiri Akbar
“Dooorr” kejut Della
“Ahh..” teriak Akbar akibat ulah si sepupu jahil nya itu
“Oppa” seru Della langsung memeluk erat Akbar
“Idih..main peluk-peluk aja, izin dulu dong” jawab Akbar
“Biarin, orang kangen juga” bantah Della
“Hehe..udah gede ya” ujar Akbar seketika Della langsung melepaskan peluk kan nya
“Loh, kenapa di lepasin” tanya Akbar
“Ih..Oppa mesum” jawab Della
“Hah..emang Oppa ngapain?” tanya Akbar bingung
“Emp..enggak, eh itu apaan?” tanya Della mengalihkan pembicaraan, “Pasti ini ole-ole buat aku” tebak Della langsung membawa beberapa paper bag di tangan nya
_
_
_
“Jadi gimana, mau ya bantuin Oppa” ujar Akbar
“Emp..gimana ya” balas Della menatap langit-langit rumah seperti menimbang-nimbang tawaran Akbar untuk menjalankan misi nya
“Gimana, mau ya” ujar Akbar sedikit memelas so cute
“Eleuh..eleuh jangan gitu napa, Oppa makin maco aja deh” goda Della
“Ih..nih bocah, orang serius juga malah ajak becanda” gerutu Akbar, “Ya udah kalau gak mau, tapi sayang loh liburan ke Kanada terpaksa harus di ambil alih sama orang lain” ujar Akbar memanas-manasi
“Ha..emang siapa?” tanya Della
“Kasih tau gak ya” balas Akbar menatap langit-langit rumah
“Ih Oppa, nyebelin deh” kesal Della memangku kedua tangannya dan memanyunkan bibir mungil nya
“Haha..itu mulut udah memble gitu pake acara manyun-manyun segala, entar lepas loh” goda Akbar
“Hiss..gak ya” bantah Della, “Iya deh mau, tapi ada syaratnya” lanjut Della dengan senyum devil nya
“Ih serem amat tuh senyum” ujar Akbar bergidig ngeri, setelah negosiasi kedua nya terlaksana dan merasa saling
menguntungkan Akbar segera bersiap-siap untuk segera pergi bersama Della
“Hati-hati ya Nak, awas ya jangan nakal loh, jangan buat repot Oppa kamu” titah Tante Rasmi pada anaknya
“Tenang aja Bu, Della bakalan nurut kok” balas Della memasuki mobil, “Ibu bantuin ingatin Oppa nya, jangan suka buat repot Della” ujar Della menyembulkan kepala ke luar kaca mobil
“Idih nih bocah” geram Akbar menangkap kepala sepupu nya itu lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil
“Ya sudah Tan, Akbar duluan ya” ujar Akbar berpamitan
“Iya Nak, hati-hati ya, jangan terlalu ngebut” pesan Tante Rasmi
_
_
_
“Assalamualaikum, Bu?” ujar Riri memberi salam, “Tumben Ibu enggak sahut” gumam Riri melepaskan sepatu nya
“Bu..” panggil Riri, “Haa…” pekik Riri kaget karena ulah Bu Ratih
“Haha” tawa Bu Ratih
“Ibu, ih iseng banget deh” ujar Riri
“Gimana menurut kamu, gaun nya cantik kan?” tanya Bu Ratih
__ADS_1
“Emp..apapun yang di pakai sama Ibu semuanya pasti terlihat bagus dan cantik” jawab Riri
“Ih..orang belum selesai ngomong juga” bantah Bu Ratih
“Hemm..” Riri mengerutkan alis nya nampak guratan kebingungan
“Ini gaun nya untuk kamu, bukan untuk Ibu” ujar Bu Ratih, “Sebentar malam kita di undang makan malam bersama oleh Nyonya Sarah” jelas Bu Ratih memberitahukan Riri
“Emp..hehe” tawa canggung Riri
“Ya udah gih sana kamu bersih-bersih dulu, selesai sholat isya kita berangkat” ujar Bu Ratih
“Iya Bu” balas Riri segera masuk ke dalam kamarnya
_
_
_
Jam 20.00 WIB kemudian…
“Sudah siap Nak?” tanya Bu Ratih saat menghampiri Riri di kamarnya
“Iya Bu” jawab Riri
“Masya Allah cantik banget anaknya Ibu” ujar Bu Ratih memuji
“Ibu, jadi setiap harinya Riri enggak cantik ya Bu” tanya Riri
“Hehe..Ibu becanda sayang” balas Bu Ratih, “Ya sudah yuk, kita sudah di jemput loh” ujar Bu Ratih
“Ha.., ah iya Bu” jawab Riri, keduanya pun segera pergi dengan supir pribadi milik Nyonya Sarah
Sepanjang perjalanan Bu Ratih nampak bahagia sekaligus terharu, semoga rencana yang sudah di persiapkan berjalan matang sesuai yang di harapkan, paling tidak mengingatkan kembali Riri dengan massa lalunya tentang sosok laki-laki yang pernah menjadi teman sekaligus kakak untuknya di waktu 7 tahun silam
Berbeda hal dengan Riri sepanjang perjalanan hanya melamun dengan tatapan kosong, entahlah hati Riri sepertinya memang membatu, mungkin ada alasannya mengapa dirinya menutupi diri dengan tidak membiarkan hatinya di miliki oleh siapapun, bagi Riri cukuplah untuk menjadi pribadi yang selalu mengutamakan kebahagiaan orangtua nya dan orang yang saat ini paling berharga bagi nya adalah sosok Bu Ratih
_
_
“Nak, ayo turun” titah Bu Ratih
“Ah..iya Bu” balas Riri lalu segera membuka pintu mobil dan hendak turun
“Mari Bu, Nona” ujar beberapa pelayan dan bodyguard
“Terima kasih” jawab Bu Ratih ramah kepada pada pelayan
“Assalamualaikum” sapa keduanya di ruang tamu, keluarga besar Pratama pun teralihkan dengan kedatangan kedua tamu undangan itu, tentunya semua orang menatap kagum pada kecantikan Riri, selain cantik, anggun dan manis Riri juga wanita yang terlihat sopan dan santun dalam berpakaian
“Waalaikumssalam” jawab Sarah, “Pah gimana menurut Papa” gumam Sarah memberi kode suaminya
“Hem..cantik” balas Pratama lalu melirik menatap sang putranya
“Ekhem..” kejut Pratama membuyarkan lamunan Maldeva
“Eh Papi” ujar Maldeva
“Sepertinya sebentar lagi Papi sama Mami bakal dapat gelar Mertua nih” goda Pratama lalu menyusul istrinya
menyambut kedatangan tamu special itu
“Bang, beneran ya kakak cantik itu bakalan jadi kakak ipar aku” tanya Adinda
“Hem..agak susah sih menaklukkan hatinya” balas Maldeva
“Woah, Abang payah dong, belajar gih sono sama guru nya” saran Adinda
“Tuh orangnya” tunjuk Adinda mengarahkan pada Akbar yang baru saja datang
“Ha ngapain dia kesini” tanya Maldeva, “Mami ya yang undang” tebak Maldeva
“Bukan” jawab Adinda, “Tapi Nyonya Sarah” bisik Adinda lalu pergi meninggalkan keduanya
“He..bocah setengah preman” panggil Akbar pada Adinda
“Hiss” decih Adinda lalu pergi menyusul kedua orangtuanya di ruang makan
“Ngapain lu kesini?” tanya Maldeva
“Suka-suka gue, emang kenapa, jangan kira gue enggak tahu ya lu ngundang Riri sama Bu Ratih buat acara makan malam bersama kan” ujar Akbar
“Ya, terus masalahnya sama lu apa” tantang Maldeva
“Ya masalah lah, diam-diam lu nikung gue” ujar Akbar
“Plak..” satu tepukan keras pada bahu keduanya yang sedang asyik dengan perdebatan
“Ngapain aja sih, udah di tungguin loh sama Tante Sarah dan lainnya” ujar Della menghampiri kedua orang dewasa itu
“Eh Dell, kapan masuk nya” tanya Maldeva, “Terus Bibi Rasmi sama Aldino ikut kan” selidik Maldeva
“Hehe..enggak Bang” jawab Della
“Hah, nah terus kamu ngapain di sini” tanya Maldeva lalu melirik kearah Akbar, “Oh jadi kamu kesini karena si tengkunyuk ini?” ujar Maldeva
“Ih..apaan sih Bang, udah ya kita anak muda enggak bakal ikut campur sama urusan orang tua, enggak kakak enggak adik sama-sama ngerepotin” gerutu Della lalu pergi meninggalkan keduanya. Tak mau untuk melanjutkan perdebatan sengit itu Akbar memilih untuk segera menyusul langkah kakinya Della
“Hehe…bisa banget di andalin” ujar Akbar merangkul bahu sepupunya itu
“Enak aja, gak ada yang gratis ya” geram Della
“Hidih..nih bocah sekalian aja noh jadi rentenir” gerutu Akbar. Keseruan keduanya terhenti saat Pratama menyambut kedatangan keponakan nya itu
“Loh Dell, dek Rasmi gak ikut ya” ujar Pratama
“Hehe..gak Paman” jawab Della
“Udah kalian tuh kek perangko aja, sini duduk dulu” titah Sarah pada keduanya
“Eh Din, apa kabar Kaka setengah preman” ujar Della lalu mendaratkan bokong nya ke kursi
“Gak sopan” gerutu Adinda
“Sensi amat jadi orang, akur-akur dikit napa” ujar Della
“Udah-udah, malah ngajakin berantem” ujar Pratama
“Hehe...maaf ya Bu, biasa lah ini anak-anak kalau sudah ketemu pasti bawaan nya begini suka banget ngerusuh” jelas Sarah kepada Bu Ratih dan juga Riri
“Nah Abang kalian di mana” tanya Sarah
“Tadi sudah Della panggil kan kok Tan” jawab Della, “Nah itu Abang” ujar Della
“Maaf saya terlambat, tadi ada terima telepon dari kantor” ujar Maldeva saat menghampiri keluarganya di ruang
makan
Kecanggungan itu pun nampak dari raut wajah Riri walaupun terlihat santai dan apa adanya, Akbar yang melihat itu mengerti mungkin karena ketidak nyaman nya Riri yang secara langsung berhadapan dengan kedua sosok laki-laki yang beberapa bulan terakhir berusaha memenangkan hatinya
“Oh iya Nak Riri, perkenalkan ini anaknya Tante” ujar Sarah, “Ini anak yang tua si sulung namanya Maldeva, nah kalau yang ini si bungsu namanya Adinda” ujar Sarah
__ADS_1
“Iya Nyonya” jawab Riri
“Loh kalau kita berdua enggak di kenal kan ya Tan” tanya Della
“Ih..gak masuk daftar” balas Adinda
“Hiss, dasar preman” gerutu Della
“Nah yang cerewet itu anaknya adik ipar saya, namanya Della” ujar Sarah
“Tepatnya Dellandia Frans Hermana” jawab Della menyambung ucapan Sarah
“Dell” tegur Pratama
“Hehe..maaf Paman enggak lagi-lagi, maaf ya Tan” ujar Della cengir kuda
“Nah kalau yang ini namanya Akbar” ujar Sarah
Setelah Nyonya Pratama memperkenalkan beberapa silsilah keluarganya kini mereka asyik menikmati hidangan makan malam yang luar biasa itu, sesekali kedua bocah tengil itu selalu berisik entah membahas dan memperdebatkan apa?
Setelah selesai acara makan malam, Sarah segera menjalankan niatnya untuk memberitahukan kabar gembira atas maksud nya untuk mengundang keduanya menghadiri acara makan malam bersama
“Ekhem..maaf ya Nak Riri, maksud undangan saya dan keluarga adalah ingin menyampaikan kabar gembira untuk kita semua” ujar Sarah
“Saya dan keluarga sudah sepakat dan meminta restu pada Bu Ratih ” ujar Sarah menatap putranya
_
_
_
“Oppa maksud meminta restu, jangan-jangan Tante Sarah sama Paman mau melamar Kak Riri lagi” tebak Della
“Bener kata kamu, astaga apa yang harus Oppa lakukan” panik Akbar yang masih menatap lekat kearah Riri
“Tenang Oppa, Della punya ide” Bisik Della
“OK! laksanakan” balas Akbar
“Gak usah bikin rusuh, niat jelek enggak akan mulus” bantah Adinda
“Ih kepo banget deh, ini urusan orang tua ya” gerutu Akbar
“Halah..rasain tuh, udah di tikung duluan kan” olok Adinda
“Ini kalian pada ribut-ribut, ngapain sih?” tanya Pratama, “Itu loh Tante nya ada ngmong juga, kamu juga Bar sudah tua malah suka banget ngajakin adik-adiknya ngerusuh” ujar Pratama pada biang keladi nya
“Haha..mampus lu” olok Adinda dengan tawa khasnya
_
_
_
“Kami tidak ada niat yang lain Nak Riri, mungkin ini terlalu berlebihan atau mendadak tanpa se pengetahuan Nak Riri, jadi tolong di pertimbangkan lagi ya Nak” jelas Sarah penuh harap
“Emp..maaf Nyonya, tapi izinkan saya berunding dulu dengan Ibu saya” jawab Riri canggung
“Gak masalah, itu sudah menjadi hak kamu, tapi kami berharap ada sedikit harapan dan kabar gembira” balas
Pratama
“😊” balas Riri tersenyum ramah, entahlah ini benar-benar di luar prakiraan nya, belum lagi terpikir kan akan kedatangan Akbar itu semua benar-benar membuatnya dilema, begini amat ya guys kalau berurusan dengan percintaan, hehe…
“Emp..Pa..Ma, Bu Ratih, Maldev boleh izin ngobrol berdua sama Riri sebentar gak”? tanya Maldeva pada ketiga orangtua itu
“Oh iya Nak Dev silahkan” jawab Bu Ratih
“Ri..Ayo ikut aku sebentar” ujar Maldeva meraih jemari Riri
Tentu dengan seksama Akbar tersulut amarah karena melihat Riri di gandeng oleh pria lain selain dirinya. Hehe..Bar..Bar jangan terlalu dalam entar nyesek loh kalau bertepuk sebelah tangan
_
_
_
“Emm..aku permisi ke toilet sebentar” ujar Akbar menghindar
“Loh Bar, duduk dulu, kamu ya suka banyak alesan” todong Sarah yang tahu niat Akbar yang sebenarnya
“Iya Bar atau langsung ke ruang kerja Om aja, soalnya ada yang mau Om bahas mengenai proyek di Kota B” ujar Pratama dengan gelagat tanpa dosa
“Haiss mampus dah, ngapain sih tuh orang mau ngajak-ngajak Riri segala” gerutu Akbar membantin
“Nah di ajak bicara malah bengong” ujar Pratama
“Gimana dong” cakra ke enam Akbar bertelepati dengan lawan tatapan nya si sepupu tengil itu
“Mana aku tahu” balas Della membatin
“Gak usah pake telepati-telepati an, orang sudah bilang niat jelek enggak akan mulus” kecoh Adinda
“Sok ta..hu” balas Della mengarahkan toa nya kearah kuping Adinda
“Plak” mampus lu satu bogem mendarat di mulut Della
“Ah…dasar preman” gerutu Della, “Gue doain gak bakal ada yang mau sama preman kek lu” oceh Della memegang pipinya yang sedikit memerah
“Bodoh, emang gue pikirin” balas Adinda langsung pergi begitu saja
“Astaga ini anak, kamu juga sih suka banget jahil, nah akibatnya kan” ujar Sarah menggurui keponakan nya itu
“Hiks..hiks..tanggungjawab lu” teriak Della, “Gue beri waktu 5 menit bawain kompres es sama minyak gosok kalau gak tahu kan sendiri akibatnya” lanjut Della
“Idih emang lu siapa heh, pake nyuruh-nyuruh lagi” balas Adinda di lantai dua
“OK! Ngajak ngibarin bendera perang ya lu” balas Della
“Udah dong sayang, buruan gih ambil kotak p3k nya” seru Sarah pada putri bungsunya itu
“Gak ah, salah sendiri” tolak Adinda
“Gakpapa Jeng, biar saya aja yang ngobatin” tawar Bu Ratih
“Ah..jangan Bu, aduh anak-anak ini suka banget ngerusuh padahal udah besar-besar ini pikirannya masih labil begini, nasib ya punya anak cewek setengah preman, nah yang satunya si tukang kompor suka banget manas-manasin” ujar Sarah
“Ih Mami gitu ya, masa anak sendiri di bilang preman” gerutu Adinda saat menghampiri ketiganya di ruang tamu dengan membawa kotak p3k di tangannya
“Hehe..anak Mami di sini ya, kirain enggak nongol” ujar Sarah cengir kuda menatap putrinya itu
“Hehe…” tawa Della
“Ngapain ketawa-ketawa, gak lucu ya” ujar Adinda lalu beranjak pergi
“Siapa juga yang ketawa, geeran banget jadi orang” gumam Della
“Udah..sini pipinya biar Tante lihat” ujar Sarah
Dasar ya bocah-bocah ada aja kelakuannya, pusing enggak sih ngadepin bocah-bocah yang kek begini, tapi anehnya ya kalau lagi sendiri pasti berasa banget rumah seperti enggak ada penghuni dan pasti ujung-ujungnya kangen banget sama kerusuhan anak-anak dan canda tawa mereka, seru kali ya kalau segera si Abang nikah dan kasih cucu yang lucu-lucu pasti rumah bakal ramai, hehe..
__ADS_1
Sarangheyo dofu-dofu guys, ayo kencangin rate, like, vote and tap love nya ya