
"Hai bocah, ngapain duduk di belakang" tanya Akbar saat melihat Riri yang sedari tadi sudah siaga duduk di kursi belakang mobil
"Kenapa?" tanya balik Riri merasa heran
dengan pertanyaan yang akbar lontarkan padanya
"Cepat ganti posisimu sekarang" perintah Akbar masih santai memangku kedua tangannya mengamati lawan bicaranya
"Issh, dasar tukang perintah gak lihat apa
orang udah duduk juga" lirih pelan Riri hendak
beranjak keluar mobil
"Apa kamu bilang" tanya Akbar memandang intens Riri dengan kedua sorot matanya
"Ekhem..gak ada" jawab Riri lalu beranjak
mengganti posisi tempat duduknya di bagian
depan bersama Akbar
"Ok! Pakai seatbeltnya dengan benar,
baru aku jalan" titah Akbar masih mengawasi tajam pada Riri
"Hehe" cengir Riri dengan wajah yang dibuat semanis mungkin. Namun, seakan kesal dengan perintah seenaknya dari sang singa mesum itu. Kemudian segera memasangkan seatbeltnya
"Udah siap, jangan lupa berdoa" ujar Akbar
kemudian menyalakan mesin mobil dan beranjak pergi dari kediamannya untuk mengantarkan Riri
"Hmm" jawab Riri
Di dalam perjalanan keduanya hening dan masih santai menikmati kebersamaan ini. Diam-diam Akbar mencuri-curi pandang pada Riri. Riri yang merasa seperti ada sepasang mata mengawasinya langsung mengatai akbar penuh percaya diri.
"Ya aku tahu, hari ini aku terlihat sangat menarik bagimu, tapi Tuan jauhkan pikiran mesummu itu" ujar Riri yang memangku kedua tanganya lalu menoleh pada lawan bicaranya
"Ha..haha" tawa garing Akbar. "Hai bocah, kau percaya diri sekali" ujar Akbar
"Ya sepertinya begitu. Kalau bukan, kenapa juga dari tadi lirik-lirik terus" ucap Riri
"Wah..sepertinya memang hari ini percaya
dirimu itu harus ku ancungi jempol" balas Akbar ambil menunjukkan jari jempol kiri kearah Riri dan tersenyum kikuk. Seperti menutupi kegugupannya akibat ketangkap basah dan harus mengelak
Riri yang sedari tadi hanya mendengarkan memilih diam. Pikirannya saat ini,
entah kenapa tiba-tiba merasa gelisah memikirkan bu ratih. Seketika Akbar pun,
ikut terdiam dan merasa aneh dengan sikap riri. Sekilas akbar menoleh lalu focus menyetir
"Ekhem…hei bocah" panggil Akbar masih focus menyetir
(…….) 🤐
"Hei bocah" panggil Akbar ke tiga kalinya saat menepikan mobilnya sebentar
"Hah..maaf, iya ada apa" tanya Riri seperti terlihat bingung
"Kamu kenapa, wajahmu terlihat murung
dan sepertinya memikirkan sesuatu" ujar Akbar
"Ah..tidak ada, aku baik-baik saja" jawab Riri tersenyum hambar kearah Akbar.
Lalu memperbaiki posisi duduknya senyaman mungkin, itulah sikap Riri saat ini.
Melihat sikap Riri sepertinya ada yang iya tutupi, akbar pun ingin menanyakan sesuatu padanya
"Ri?" panggil Akbar menoleh kearah Riri
"Iya" jawab Riri menoleh menatap teduh Akbar seolah menyatakan dirinya baik-baik saja, membuat akbar yang memandangnya mengurungkan niatnya
"Ha…itu rumah kamu di mana" tanya Akbar lalu memalingkan wajahnya, untuk mengatur nafasnya yang hampir membuatnya tak bernyawa. Kemudian menoleh menatap Riri dengan seulas senyuman
"Iya rumahku di perempatan depan nanti belok kiri" jawab Riri memberi petunjuk
"Ok!!" sorak Akbar lalu kembali mengemudi mobilnya dengan kecepatan pelan
_
_
_
"Nah itu di depan sana" ujar Riri memberitahukan Akbar
"Wah halaman rumahmu besar ya, sampai bisa muat untuk parkir" ucap Akbar
"Oh iya kok rumahmu jam segini tutup, apa kamu tinggal sendiri" sambung Akbar
"Iya ya apa ibu ada keluar ya" lirih batin Riri
"Empp…Tuan apakah bisa tunggu sebentar, saya mau memastikan dulu orang rumah benar ada keluar atau tidak" ujar Riri
"Baiklah, ayo kita turun" seru Akbar begitu antusias segera beranjak keluar dari mobil
Sesampai keduanya di depan pintu. Riri berulang kali memberi salam dan memangil-manggil nama Bu Ratih. Namun, hasilnya nihil. Seketika keduanya dibuat terkejut oleh kedatangan tetangga sebelah
"Eh.. Nak Riri, ada apa kok teriak-teriak" tanya Tetangga
"Ah gak kok Bu" jawab Riri tersenyum kikuk
"Oh iya Nak Rir gimana keadaannya Bu Ratih" tanya Tetangga
"Maksud Ibu apa, memangnya Ibu saya kenapa" tanya balik Riri dengan suara terdengar panik
"Loh kirain Nak Riri udah tau" ujar Tetangga. "Itu tadi sejam yang lalu Bu Ratih sempat pingsan dan di bawa oleh Bu Mina sama itu teman kamu itu siapa ya namanya" ujar Tetangga yang mencoba mengingat-ingat nama Juliana
"Teman" ucap Riri terlihat bingung
teman siapa yang dimaksud tetangganya ini
"Maaf Bu, kalau boleh ngomongnya yang jelas biar bisa di mengerti" tengah Akbar
__ADS_1
"Ya kali Mas, orang lupa juga namanya" jawab Tetangga dengan nada sinis
"Ah iya kalau gak salah namanya itu Julaiha" sambung Tetangga tersenyum riang menatap ke arah Riri
"Maksud Ibu Juliana" jawab Riri membenarkan ucapan Tetangga yang sedikit rancu itu
"Hah…entalah Julaiha atau Juliana, pokoknya dia bawa mobil warna putih" ujar Tetangga
"Terus Ibu, tahu di Eumah Sakit mana Ibuku di bawa" tanya Riri terlihat gelisah
"Iya kata Bu Mina di Rumah Sakit Umum" jawab Tetangga
"Emp…ya udah deh Bu, makasih atas informasinya ya, kalau begitu Riri pergi dulu" seru Riri
"Ah iya, salam ya buat Bu Ratih" ucap Tetangga
"Iya Bu, nanti Riri sampaikan" jawab Riri lalu keduanya beranjak pergi
"Ya mana tahu lah Bu Romla, kelihatannya si gak pulang seharian" adu domba Maber
"Mana pas pulangnya di anterin lagi sama si Cogan" sambung Maber
"Huss…Bu jangan sembarangan kalau ngomong, ingat Bu anak gadisnya di rumah" sembur pedas Bu Romla meninggalkan beberapa Maber
"Hu, sok banget sih Bu Romla" gumam Maber terlihat sinis memandangi Bu Romla
"Ya udah kita pulang yuk" seru Maber lainnya kemudian dari mereka berhamburan bubar ke kandang masing-masing 😂
"Empp..Tuan maaf sudah merepotkan" ujar Riri merasa sungkan pada Akbar yang mau
bersedia mengantarkannya ke Rumah Sakit
"It’s Ok! Itu hal yang mudah kok untuk aku laksanakan, bahkan kalau kamu inginkan aku sekalian aku siap sedia kok" ucap lantang Akbar di ikuti dengan gelak tawanya
"Hehe" balas tawa riri
"Ya sudah, saya cuman bisa nganterin kamu sampai di sini aja. Nanti kalau ada apa-apa,
jangan ragu untuk hubungi saya, Ok" ujar Akbar
"Ah…iya Tuan sekali lagi terima kasih banyak" ucap Riri tersenyum ramah kearah Akbar
"Kalau begitu saya permisi tuan" sambung Riri lalu beranjak keluar dari mobil
"Ok, don’t forget be smile" ujar Akbar dari dalam mobilnya. Kemudian menyalakan mesin mobil dan beranjak pergi "Wusssh…good bye" hihi…😎
*** RS UMUM ***
Setelah perginya Akbar dari lingkungan RS Umum. Riri dengan sigap berlari menuju bagian administrasi untuk menanyakan data pasien
"Permisi Bu, apa saya boleh tau ada pasien
atas nama Widyaratih Hasman yang di rawat di sini" tanya Riri
"Empp..sebentar ya Dek, saya cek dulu" jawab bagian administrasi" sambil mengecek data penerimaan pasien
"Iya ada Dek, Adek ini siapanya Bu Widya Ratih ya" tanya Bagian Administrasi tersenyum menatap Riri
"Ah, saya anaknya Bu. Oh ya Bu, Ibu saya di rawat di kamar nomor berapa ya" tanya Riri sigap
"Terima kasih ya Bu" balas Riri kemudian
pergi menuju ruang perawatan yang di maksud
Setibanya di depan ruang VIP B, Riri menghela nafas panjang sesaat. Kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan perawatan dengan wajah yang terlihat sedikit gusar dan khawatir
"Krek"pintu terbuka saat bersamaan Juliana hendak pergi keluar. Riri sedikit terkejut saat bersitatap dengan sahabatnya itu, seketika Riri terseyum ramah kepadanya. Namun,tak digubris oleh Juliana. Lalu, seketika menarik tanganya untuk pergi ke luar
"Dari mana aja sih kamu, tau gak aku tuh udah hubungi nomor kamu tapi gak bisa-bisa" cemoh Juliana
"Kamu tahu gak sih, kalau aku gak datang ke rumah untuk nyari kamu, pasti aku gak akan tahu Bu Ratih jatuh sakit" sambung Juliana
"Kamu itu kebangetan tau gak, seenaknya aja
mau diajak-ajak sama si tengil itu" marah Juliana
"Juls aku minta maaf udah ngerepotin kamu" ujar Riri
"Tapi sumpah, aku gak ada maksud apa-apa dan untuk Akbar, kamu salah paham aku gak ngapa-ngapain dan aku juga sempat kaget pas tahu aku ada di rumahnya” ujar Riri
"Udahlah Ri…aku tuh gak habis fikir aja sama kamu, kenapa bisa-bisanya hp kamu tuh susah banget dihubungi dari kemarin sore loh Ri" jawab kesal Juliana
"Ya…aku salah" seru Riri dengan segenap rasa bersalahnya. Pikirnya untuk saat ini tidak harus berdebat karena seseorang.
(……) 🤐
Sejenak keduanya terdiam, Riri memilih pergi untuk segera menemui Bu Ratih. Juliana yang melihat tingkah acuh Riri hanya terseyum sinis
"He…dasar bocah lemot, seenaknya peak main nyelonong aja" gumam Juliana lalu pergi untuk membeli makan siang yang sedari tadi tertunda akibat perdebatan kecilnya dengan sahabatnya itu.
"Bu mina" sapa Riri
"Eh…Nak Riri" jawab Bu Mina menoleh tersenyum kearah Riri
"Maaf ya Bu, udah ngerepotin Bu Mina" ujar Riri terlihat sungkan
"Gak apa-apa Nak, udah sepantasnya kita saling membantu" ucap Bu Mina tersenyum memegang punggung tangan Riri
"Oh iya, Ibu tinggal dulu sebentar ya Nak" ujar Bu Mina
"Iya Bu" jawab Riri kemudian menatap Bu Ratih yang masih setia dengan tidurnya
"Bu, maafin Riri yang teledor karena gak
merhatiin kesehatan Ibujangan ucap Riri memegang tangan Bu ratih
"Ibu cepat bangun, Riri gak suka lihat Ibu sakit-sakitan, biar Riri aja Bu" ucap Riri menahan rasa sedihnya
"Yang sabar ya Nak" ujar Bu Mina dari arah belakang. "Doakan semoga Bu Ratih baik-baik aja dan cepat sembuh” sambung Bu Mina
"Bu, Dokter bilang apa tentang kesehatan Bu Ratih" tanya Riri
"Begini Nak, sebaiknya Bu Ratih di rawat dulu
untuk beberapa hari kedepan untuk memastikan kondisi Bu Ratih sudah benar-benar pulih" ujar Bu Mina
__ADS_1
"Iya Bu" jawab Riri dengan menganggukan kepalanya
"Oh iya, teman kamu tadi nitipin ini,
kamu makan dulu" seru Bu Mina menyerahkan sekotak makanan
"Emp…makasih ya Bu, tapi Riri masih kenyang, biar simpan di sini aja dulu, nanti juga Riri makan kok" jawab Riri
"Ya sudah kalau begitu…Ibu letakan di sini ya" ujar Bu Mina menyimpan sekotak makanan di atas nakas samping hospital bed
"Sekalian juga Ibu izin pulang ya Nak, insyallah besok Ibu balik lagi" sambung Bu Mina
"Ah…iya Bu, gak apa-apa kok Bu, malahan Riri
berterima kasih karena Ibu udah repot-repot" jawab Riri
"Gak usah sungkan Nak…ya sudah, kalau begitu Ibu balik duluan ya Nak" ucap Bu Mina
"Iya Bu…makasih ya Bu" jawab Riri tersenyum ramah
Sesaat kepergian Bu Mina, Riri kembali
menatap Bu Ratih dengan tatapan sendunya.
"Bu…jangan lama-lama ya tidurnya, Riri udah kangen banget sama Ibu" lirih Riri kemudian mencium pipi Bu Ratih dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Bu Ratih
"Hoam…hoam, sepertinya aku rebahan sebentar" gumam Riri melangkah ke sofa untuk merebahkan dirinya sejenak akibat kantuk yang menjelmanya
30 menit istirahat berlalu. Riri yang terbangun dari tidurnya langsung menatap kearah hospital bed, namun pandangan yang
di dapatkan bagaikan arus listrik yang menyengat, seketika Riri terperanjat
kaget mencari keberadaan Bu Ratih
"Ha…Bu" panggil Riri
"Ibu.." panggil Riri mengecek ruang kamar mandi
"Kok gak ada, Ibu kemana ya" lirih Riri kebingungan
"Tok…tok.." pintu di ketuk dari luar
"Permisi" ujar Suster
"Sus, Ibu saya ke mana Sus" tanya Riri terlihat gelisah
"Oh Bu Ratih ya" jawab Suster terpotong saat pintu kamar terbuka dengan sigap Riri menghampiri Bu Ratih dan memapah kembali ke hospital bed
"Ibu" ucap Riri
"Maaf ya Bu, Riri ketiduran jadi gak tahu kalau Ibu udah bangun" ujar Riri
"Iya Nak, Ibu gak apa-apa, tadi Ibu keluar sebentar cari toilet" kilah Bu Ratih
"Hehe…toilet yang di dalam airnya tadi gak jalan" sambung Bu Ratih
"Oh iya Bu, maaf ya Bu mungkin ada kerusakan, nanti coba saya beritahu tukang servicenya" jawab Suster
"Iya Sus gak apa-apa" jawab Bu Ratih
"Baiklah Bu, saya ambil datanya sebentar ya Bu" ujar Suster memeriksa kesehatan pasien
***Flashback Bu Ratih***
"Ah…kepalaku" ucap Bu Ratih terbangun dari tidurnya memegang kepalanya yang terasa berat
Perlahan Bu Ratih, bangkit dari tidurnya
dan memposisikan tubuhnya untuk duduk. Sesaat pandanganya, terpaut kearah Riri yang terlihat polos dalam tidurnya. Bu Ratih yang
memandangnya terlukis seulas senyuman hangat di raut wajahnya. Tiba-tiba dari
arah depan. Dokter datang dengan maksud memeriksa kesehatan pasien.
"Wah…sepertinya Ibu sudah sadar ya, bagaimana kondisinya Ibu" tanya Dokter
"Ya...saya merasa cukup kuat Dok, tapi
kepala saya masih terasa sedikit berat" jawab Bu Ratih
"Kalau begitu saya periksa dulu ya Bu" seru Dokter
"Mmp..begini Bu, seperti dugaan saya sebelumnya, sepertinya Ibu harus di rawat dulu beberapa hari kedepan untuk memastikan keadaan Ibu sudah benar-benar pulih dan ada yang perlu saya bahas lagi mengenai dugaan saya ini" ujar Dokter
"Memangnya saya, kenapa Dok" tanya Bu Ratih sedikit penasaran
"Ah begini saja, saya ikut Dokter ke ruangan Dokter saja, saya gak mau membangunkan anak saya. Saya gak mau, nanti dia khawatir dengan keadaan saya" ujar Bu Ratih yang memandangi Riri sejenak
"Ya sudah Bu…mari saya bantu" ucap Dokter memapah Bu Ratih menuju ke ruanganya
"Silahkan Bu" ujar Dokter mempersilahkan pasienya untuk duduk
"Iya, terima kasih Dok. Oh iya…jadi, saya ini sebenarnya sakit apa Dok" tanya Bu Ratih
"Mmp…begini Bu, dari hasil pemeriksaan yang sudah kami chek, Ibu mengidap Kanker Kolorektal" ucap dokter lalu menyerahkan selembar amplop tentang hasil tes
"Apakah saya berpeluang untuk sembuh Dok" tanya Bu Ratih
"Untuk saat ini, pihak kami hanya mampu memberikan pertolongan, sisanya kami serahkan kepada yang maha kuasa, sebab penyakit yang ibu derita ini sudah memasuki stadium 3, tergantung bagaimana respon tubuh untuk melawan sel-sel ganas yang sudah menyebar. Harapan untuk bertahan hidup pun hanya capai 70% setelah di vonis mengidap penyakit ini" jelas Dokter
"Ya sudah dok, lakukanlah yang terbaik. Tolong bantu saya sebisanya, saya ingin melihat putri saya menikah dengan seseorang yang mampu menjaganya setelah kepergian saya nanti" ujar Bu Ratih setegar karang menerima kenyataan pahit itu.
"Pasti Bu, kami akan lakukan yang terbaik" jawab Dokter
"Iya Dok, kalau begitu saya permisi dulu" ucap Bu Ratih seraya berdiri meninggalkan ruangan Dokter
"Mari saya bantu antar ke kamarnya Bu" tawar Dokter
"Terima kasih Dok, biar saya sendiri saja" jawab Bu Ratih lalu meninggalkan ruangan Dokter dengan berat hati, perlahan-lahan memapah kedua kakinya menyusuri lorong koridor ruang rumah sakit menuju kamar perawatannya.
***Flashback End***
Note:
Maaf ya guys..jika ada banyak typing, mohon kritik dan saran yang membangun, thanks dofu-dofu and sarangheyo dofu-dofu 🤗
__ADS_1