
Pagi ini tepat pukul 07.00 Riri sudah selesai dengan aktivitas nya untuk membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan pagi untuk nya dan Bu Ratih “Pagi Bu” sapa Riri
“Nak” panggil Bu Ratih
“Sini Bu dudu dulu, kita sarapan ya Bu” ujar Riri menuntun Bu Ratih
“Terima kasih sayang” ujar Bu Ratih
“Iya Bu” balas Riri yang sudah menuangkan segelas teh jahe dan makanan untuk di berikan ke Bu Ratih
“Ini Bu, Riri buat kan bubur bayam dan telur asin” ujar Riri
“Terima kasih Nak, kamu juga makan yang banyak” balas Bu Ratih
“Oh iya hari ini jam berapa Nak mau berangkat kerja nya” tanya Bu Ratih
“Em..hari ini Riri izin Bu” jawab Riri
“Em..kenapa” tanya Bu Ratih
“Hehe..gapapa Bu, hari ini sengaja ambil libur karena Juliana mau datang ke sini Bu” ujar Riri
“Ya Allah, udah lama banget ya dia enggak mampir lagi” ujar Bu Ratih
“Iya Bu, kemarin sore baru balik dari Singapura” ujar Riri
“Hem..kalau begitu Ibu mau buatin bronies chocolate dulu deh” ujar Bu Ratih
“Gapapa Bu, masih ada kok cake yang semalam Riri bawa” ujar Riri
“Ibu gak usah repot-repot apalagi terlalu lelah, pokok nya ibu duduk manis aja” ujar Riri
“Hehe..yang ada Ibu pegal-pegal semua Nak” balas Bu Ratih
“Hah Ibu, ya udah habis sarapan Riri bantu mijit ya Bu” ujar Riri antusias
“Gapapa Nak, Ibu cuman becanda” balas Bu Ratih
“Em..jam berapa Juls nya mau kemari” tanya Bu Ratih
“Kata nya sih jam 10 an Bu” balas Riri
Setelah sarapan selesai Riri pun membantu Bu Ratih untuk membuka toko taylor dan merapikan beberapa orderan yang di bantu juga oleh Bu Mina. 2 jam setelah nya terdengar klakson mobil dari halaman depan rumah “Tin..tin” bunyi klakson dari mobil Juliana
“Bu Ratih” panggil Juliana dengan heboh menghampiri ketiga nya di toko taylor
“Em..wajah Bu Ratih seperti terlihat pucat” gumam Juliana
“Nak Juls, ya ampun makin cantik saja ya” ujar Bu Ratih
“Ah Ibu bisa saja, jangan kencang-kencang Bu pujian nya nanti ada yang iri lagi” balas Juliana yang mendelik kearah sahabatnya itu
“Enggak tuh” jawab Riri
“Ih PD amat Mbak” ejek Juliana
“Sudah-sudah, oh iya Nak ayo masuk ke dalam dulu” ujar Bu Ratih
“Iya Bu” ujar Juliana
Setelah kedua nya di perintahkan untuk masuk ke dalam rumah, Juliana pun memberikan oleh-oleh dari Singapura untuk Bu Ratih, Bu Mina dan juga Riri sahabat nya. Ketiga orang itu nampak senang dan suka sekali dengan buah tangan yang di berikan Juliana kepada mereka
“Ya sudah Nak kalian lanjutkan obrolan nya, Ibu mau bantuin Bu Mina dulu” ujar Bu Ratih pada kedua nya
“Bu jangan capek-capek ya, panggil Riri saja kalau memang ada yang perlu di selesaikan” ujar Riri
“Iya sayang, kamu ih Ibu enggak apa-apa juga” balas Bu Ratih
“Pfft..” tawa Juliana, “Ibu kan tahu kalau Riri sayang banget sama Ibu” ujar Juliana
“Iya iya yang sayang banget sama Ibu” balas Bu Ratih kemudian menyusul Bu Mina
Setelah Bu Ratih menyusul Bu Mina, Juliana pun dengan sigap langsung kepo mengenai keadaan Bu Ratih yang sedikit mengkhawatirkan saat melihat raut wajah Bu Ratih yang sedikit memucat itu
“Ri sekarang nih saat nya kamu ceritakan bagaimana keadaan Bu Ratih” ujar Juliana
“Em..gimana ya Juls” bingung Riri yang entah dari mana mulai menjelaskan nya
“Ih gak asyik banget sih kamu, buruan ceritakan” tuntut Juliana
“Em..ikut aku ke kamar deh” ujar Riri yang menarik tangan Juliana
“Ok..ok, ayo” balas Juliana dan langsung mengikuti Riri ke dalam kamar nya
“Jadi gimana” tanya Juliana
“Em..Juls, aku mohon bantuan nya buat membujuk Bu Ratih agar mau untuk berobat” ujar Riri
“Memang nya sakit Bu Ratih sangat parah ya” tanya Juliana sedih
“Juls..aku bakalan rela ngelakuin apa saja agar Bu Ratih segera sehat kembali, aku enggak peduli Juls seberapa besar biaya yang akan di butuhkan untuk pengobatan nya” ujar Riri
Juliana pun memeluk nya haru dan menangis bersama, “Iya Ri aku paham, aku juga akan membantu kamu sebisa aku, jadi kamu tenang aja ya” balas Juliana
“Hem..memang nya kamu sudah mendapatkan tempat pengobatan yang bagus untuk Bu Ratih” tanya Juliana
“Iya Juls, kemarin aku di rekomendasikan sama rekan kerja di rumah sakit, kata dia sebaik nya aku membawa Bu Ratih ke Singapura karena peralatan medis dan juga penanganan di sana jauh lebih memadai” ujar Riri
“Iya Ri, kamu harus kuat ya, aku yakin Bu Ratih akan baik-baik saja” balas Juliana
“Oh iya btw, besok kan hari minggu nih, kita weekand bareng yuk” ajak Riri
“Boleh, ide yang bagus” balas Juliana, “Aku bakal ajak Papa sama Mama juga” ujar Juliana
“Iya pasti bakalan seru dan rame” balas Riri
__ADS_1
“Em, tapi kita weekand nya ke mana?” tanya Juliana
“Pantai gimana” ujar Riri
“Bagus sih, tapi aku mau danau bagaimana?” ujar Juliana, “Ya aku pengen nya naik perahu donal duck” cicit Juliana yang menggigit bibir bawah nya
“Em..boleh juga, asyik kali ya kalau pakai perahu, terus sama-sama kita mendayung” balas Riri tersenyum
“Hah sejak kapan kamu bisa naik perahu? Terus mendayung lagi” tanya Juliana
“Eh..iya ya, ah pokok nya adalah” ujar Riri
“Hem..hayo apa, bilangin sekarang” tuntut Juliana dengan tatapan sinis nya
“Ih apaan sih Juls, enggak ada, ya aku cuman mau aja gitu coba sesuatu yang baru” dusta Riri
“Enggak, aku tahu ya kamu itu parnoan sama itu perahu” balas Juliana yang masih tak percaya
“Ih bawel deh di kasih tau, beneran” ujar Riri
“Bilang nggak, hayo sama siapa kamu pergi mendayung dan naik perahu” selidik Juliana
“Nggak ada Juls” balas Riri
“Yakin” tanya Juliana
“Iya Nyai” jawab Riri
“Kok gak percaya” ujar Juliana
“Bodo” balas Riri
“PLETAK” satu sentilan mengenai dahi Riri
“Rasain tuh, wlee” ejek Juliana lalu berlari ke luar kamar
Riri pun segera mengejar sahabat jahil nya itu, “ Juliana Safitri” teriak Riri menyusul Juliana di ruang tamu
“Eh kok malah kejar-kejaran sih, anak gadis loh” ujar Bu Ratih yang masuk ke dalam rumah
“Hehe..Ibu” cengir Juliana langsung berpindah tempat tepat di belakang Bu Ratih untuk menghindar dari amukan sahabat nya itu
“Eh Ibu..lihat Juls tidak” tanya Riri
“Em..”
Riri yang melihat tubuh Bu Ratih seperti di guncang oleh seseorang tepat di belakang nya, Riri pun mengendap-ngendap perlahan agar segera menangkap mangsa nya itu
“Hah” kejut Riri langsung memegang erat lengan sahabat nya itu
“Ah..ampun Ri, nggak lagi-lagi” ujar Juliana
“Nggak pokok nya harus di balas” tolak Riri
“Ibu..bantuin Juls, masa iya Juls di aniaya” rengek Juliana pada Bu Ratih
“Mau..mau” kedua nya pun bersorak dan menyusul Bu Ratih ke dapur
2 jam berkutat dengan peralatan dapur dan segala isi nya, kini hidangan untuk makan siang itu pun sudah di siapkan dan tertata rapi diatas meja makan. Ke empat orang termasuk Bu Mina pun turut ikut makan siang bersama. Di sela-sela makan siang itu kadang kala nya Juliana selalu membuat kegaduhan dengan menebarkan cerita komedi dan aksi lucu nya hingga semua nya nampak bahagia dan menghadirkan tawa
Setelah acara makan siang selesai ke empat orang itu pun duduk di ruang tamu sembari menyantap cemilan berupa makanan penutup yaitu salad buah. Nah moment ini sangat pas jika kedua nya memohon serta mencoba
untuk membujuk Bu Ratih agar mau segera berobat
“Em..gimana Bu, enak kan salad buah nya” tanya Juliana pada Bu Mina
“Iya Nak Juls enak pake banget, kapan-kapan ya Ibu mau juga di bawakan pulang buat anak-anak Ibu di rumah” balas Bu Mina sambil menyendokan santapan nya itu ke dalam mulut
“Ah Ibu, di kulkas masih banyak kok, entar sore kalau mau pulang nanti ambil saja” ujar Juliana
“Iya kan Bu Ratih” ujar Juliana pada Bu Ratih
“Iya Nak Juls” jawab Bu Ratih
“Oh iya Bu, em..kabar Ibu baik kan” tanya Juliana
“Hehe..kok tanya nya begitu, kan bisa di lihat nih Ibu baik-baik saja” ujar Bu Ratih
“Hehe, em..gini Bu, pikir Juls ada baik nya Ibu em pergi berobat dulu, ah Juls cuman khawatir saja dengan keadaan Ibu” ujar Juliana ragu-ragu karena takut menyakiti perasaan
“Hem..” Bu Ratih pun menoleh kearah Riri yang di tatap menunduk takut
“Terima kasih Nak atas saran nya, tapi Ibu beneran tidak apa-apa” ujar Bu Ratih, “Sudah ya kalian tidak perlu cemas Ibu bakalan jaga kesehatan, makan dengan teratur dan benar, rajin olahraga dan berumur panjang”
ujar Bu Ratih
“Bu, Riri minta maaf, tapi Riri mohon kali ini saja Bu kita pergi ya untuk berobat” ujar Riri
“...” diam Bu Ratih seperti menimang-nimang ajakan Riri
“Ya Bu” ujar Riri memelas iba
“Hehe..em..iya Ibu mau” balas Bu Ratih
Sontak saja kedua nya langsung memeluk Bu Ratih. “Tapi kalau Ibu yang meminta ya” ujar Bu Ratih yang langsung membuat kedua nya saling tatap dan melepaskan peluk kan dari Bu Ratih
“Tapi Bu” bantah Riri
“Sudah jangan terlalu khawatir” balas Bu Ratih, “Atau nggak sama sekali” kecam Bu Ratih
Kedua nya pun pasrah dan mengalah, ya begini lah memang jika meminta sesuatu pada Bu Ratih selalu menyetujui atau bahkan Bu Ratih yang selalu sigap untuk mendukung kedua nya, tetapi berbeda hal jika menyangkut kesehatan nya Bu Ratih orang yang sangat tertutup, mungkin karena tidak ingin membuat beban orang-orang di sekitar atau karena tidak ingin melihat Riri dalam kesusahan apalagi sampai menderita
Bu Ratih juga merupakan wanita yang tegar, iya berusaha untuk tetap baik-baik saja dalam kondisi apapun, bagi nya kebahagiaan Riri yang paling utama dari segala nya
“Ri aku balik ya” ujar Juliana
__ADS_1
“Iya Juls, ingat besok jam 08.00 pagi kita semua sudah siap” balas Riri
“Iya my angel” ujar Juliana, “Salam ya buat Bu Ratih” ujar Juliana
“Iya, kamu hati-hati ya Juls” ujar Riri
“Siap Komandan, dadah..” balas Juliana langsung mengendarai mobil nya
Belum lama pulang nya Juliana dari rumah Bu Ratih, mobil Akbar pun masuk ke dalam pekarangan halaman rumah nya “Tin..tin” klakson dari mobil nya Akbar
“Ha, ada apa kok tiba-tiba datang kemari” gumam Riri melihat kedatangan Akbar
“Hai Ri, apa kabar kamu” tanya Akbar yang menghampiri Riri
“Ah aku baik, Oh iya ada apa ya” tanya Riri
“Em..seperti nya tidak ada yang merindukan kedatangan ku” sedih Akbar
“Hehe..maaf, bukan begitu maksud ku” balas Riri
“Nggak papa, aku hanya bergurau” ujar Akbar
“Em..oh iya mari masuk” ujar Riri mempersilahkan tamu nya itu
“Oh iya di mana Bu Ratih?” tanya Akbar
“Em..Bu Ratih sedang beristirahat” jawab Riri
“Ah sayang sekali padahal aku ke sini ingin memberikan ini pada nya” ujar Akbar
“Hah tidak perlu repot-repot, oh iya sebentar ya akan aku buat kan minum” ujar Riri yang langsung masuk ke dalam rumah untuk menyuguhkan minum
10 menit kemudian Riri membawa nampan berisi segelas minuman juice dan juga toples cake kering pada tamu nya itu “Em..silahkan di minum, maaf seada nya” ujar Riri
“Terima kasih” ujar Akbar, “Hem, begini kali ya kalau sudah punya istri pas pulang pulang sudah di suguhkan sesuatu” ujar Akbar lalu menyeruput minum nya
“Ekhem..em oh iya aku dengar kalau Adik mu sedang sakit” ujar Riri
“Iya, tapi syukur lah selama 2 minggu dalam massa perawatan nya dia sudah diperbolehkan untuk pulang” balas Akbar sambil mengunyah nastar
“Hem..syukurlah” ujar Riri
“Oh iya Ri, besok aku dan keluarga akan pergi weekand, em kalau kamu tidak sibuk aku ingin mengajak kamu bersama Bu Ratih pergi bersama” ujar Akbar
“Em..maaf sebenarnya besok kami juga akan pergi” balas Riri
“Pergi, kemana?” tanya Akbar antusias
“Ah maaf, maksud ku apa aku boleh tau kalian pergi kemana?” tanya Akbar
“Em, aku dan Bu Ratih berencana untuk weekand bersama dengan keluarga Tante Rina dan juga Om Adrian” ujar Riri menjelaskan
“Di mana?” tanya Akbar
“Awal nya sih em di pantai, tapi em..” ujar Riri terhenti saat Akbar menyela
“Bagaimana kalau barengan saja kita semua weekand di danau” ujar Akbar menawarkan
“Iya kita rencana nya weekand di situ kok” balas Riri
“Em..pasti kamu nih yang kasih ide buat weekand di danau iya kan” selidik Akbar
“Em..eng..gak” jawab Riri yang sedikit gagap karena tebakan Akbar yang tepat sasaran
“Cie..yang wajah nya merah merona” goda Akbar
“Apaan sih nggak ya” dusta Riri
“Iya deh iya yang jujur” balas Akbar lalu mendekati wajah nya kearah Riri “Tapi boong” ujar Akbar
“Beneran kan dugaan ku” ujar Akbar
“…” Riri pun memilih diam seribu bahasa karena sudah menahan malu dengan kejahilan Akbar yang terus menggoda nya
“Ekhem..iya iya aku minta maaf, oh iya salam ya sama Bu Ratih” ujar Akbar lalu memberikan sebuah paper bag kearah nya Riri
“Terima kasih” balas Riri
“Iya sama-sama, kalau begitu aku pamit duluan ya” ujar Akbar
“Iya, hati-hati ya” balas Riri
“Cie..yang khawatirin aku” goda Akbar
“Ih mulai lagi kan” sebal Riri
“Haha..kamu kok kalau marah makin cantik ya” ujar Akbar
“Dasar tukang gombal” balas Riri
“Ih aku seriusan loh Ri, kalau saja ada Bu Ratih di sini pasti udah belain aku” ujar Akbar
“Tau ah, udah sana pulang” ujar Riri mendorong Akbar segera masuk ke dalam mobil nya
“Emm..kiss dulu dong” ujar Akbar mengarahkan pipi kanan nya
“Ih nggak jelas banget sih” gerutu Riri, “ Buruan pulang nggak, aku semprot nih pake air keran” ancam Riri dengan gelagat amarah
“Yaya aku pulang, bye my wife” ujar Akbar menggoda Riri
“Huh dasar singa” gerutu Riri lalu masuk ke dalam rumah
Setelah Akbar kembali pulang Riri pun melanjutkan aktivitas nya untuk membantu Bu Mina
Hai-hai guys, nyok BOOM LIKE ya, eh RATE juga ya please
__ADS_1
Sarangheyo dofu-dofu and thanks dofu-dofu guys