MOMENT WITH ME

MOMENT WITH ME
#MWM 20 (TIGA LELAKI INI, SIAPA?) Part 3


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 17.15 sore, sejak dari tadi riri memohon agar dirinya segera di antarkan pulang. Namun, sang singa itu tak menggubrisnya. Dirinya selalu mewaspadai gerak-gerik empuh sang mangsa


"Hei...bisakah kau diam" tegur Akbar yang merasa resah dengan kelakuan Riri yang mondar-mandir


"Ckk..ck...Rupanya aku seperti tembok bagimu" gumam Akbar


"Gimana orang gak resah, katanya cuman sebentar doang. Eh, taunya sampe jam 17.15 WIB. Ini orang Thor, di kerjain bisa gak? Biar kapok๐Ÿ™"


"Sabar Ri, entar Author kabulin deh. Kita mikir bareng cara ngerjain sih singa mesum itu, ok๐Ÿ’ช"


"Ok Thor๐Ÿ˜"


"Ah...tu..tuan perutku sakit" keluh Riri bersandirwara


"Haha...tak mudah untuk mengelabuiku" ujar Akbar santai dengan ekspresi tajamnya. Lalu berlalu ke ruang kerjanya


"Ha...tolong " ujar Riri kesakitan disertai keringat dingin bercucuran di keningnya. Wajahnya sedikit terlihat pucat ๐Ÿ˜จ


"BRUK" tak sadarkan diri


"Ri, bangun. Kamu kenapa?" tanya Akbar panik saat menghampiri Riri yang sudah tak sadarkan diri


"Da...darah" ujar Akbar terhenyak kaget


"Oh shitt...Ri, bangun. Aku bilang bangun, jangan buat aku khawatir" ujar Akbar sedikit frustasi


"Tu..tuan. Nona Riri, Tuan. Apakah nona keguguran?" tanya Bi Meri yang datang menghampiri keduanya


"Ha...tidak-tidak. Ini tidak mungkin" gumam Akbar


"Bi, segera panggilkan Mang Jai, siapkan mobil kita kerumah sakit sekarang" titah Akbar lalu membopong Riri keluar rumah


-


-


-


-


-


"Nak Akbar, di mana Riri" tanya Bu Ratih yang baru datang dengan segenap kekhawatirannya


" Iya Bu. Riri ada di dalam Bu " jawab Akbar


"Bisa gak sih, anda itu bersikap sewajarnya saja. Anda pikir anda siapa hah " bentak Juliana seakan amarahnya seperti anak krakatau yang siap mengeluarkan lahar panasnya


Seakan sadar akan kesalahannya Akbar diam membisu. Pikirannya kalut dan khawatir dengan keadaan Riri saat ini


"Nak, apa yang sudah terjadi. Bangun Nak, lihat Ibu. Ibu di sini Nak, kamu harus segera sadar Nak" lirih Bu Ratih dengan tangisannya


"Yang sabar ya, Bu. Riri pasti baik-baik saja" ujar Juliana mencoba menenangkan


-


-


-


-


"Loe apa-apaan sih, Bar. Kenapa sampai Riri, bisa masuk rumah sakit hah" ujar Maldeva yang tak kalah panik menghampirinya di koridor ruang pasien di rawat


"Tenang bro" ujar Heru melerai keduanya


"Awas loe, kalau sampe Riri, kenapa-napa. Loe sendiri yang akan tanggung akibatnya " ancam Maldeva dengan tatapan tajam tersirat kekecewaan pada saudara sepupunya itu


15 menit kemudian....


"Ceklek" suara pintu ruang pasien terbuka


"Heh, ngapain loe masih di sini" tanya Juliana. "Tidak bisakah, sedikit saja memberi kebebasan pada Riri. Kenapa harus selalu menjadikanya, seperti dia budakmu" teriak Juliana yang mulai muak dengan sikap Akbar yang menurutnya seenaknya pea


"Tenang Juls, ini rumah sakit. Kamu gak boleh, seperti itu " ujar Heru mencoba menenangkan


"Ha...gimana aku bisa tenang Kak. Kalau sahabat aku, terbaring lemah di dalam sana. Ini semua karena, ulah pria itu" tunjuk Juliana menghardik empuhnya


"Sudah...sudah, kalian kenapa ribut di sini. Riri baru saja sadar dan dokter bilang tidak apa-apa, hanya saja Riri kecapean" ujar Bu Ratih yang baru saja keluar dari ruang pasien


"A..apa kami bisa menjenguknya " tanya Maldeva


" Iya Nak, silahkan. Tolong titip Riri sebentar ya. Ibu mau ke administrasi dulu" ujar Bu Ratih

__ADS_1


" Ah... Bu, biar saya saja" ujar Akbar


-


-


-


-


-


-


"Maafin Riri, ya Bu. Riri udah buat Ibu khawatir" sesal Riri yang tak enak hati


"Udah gapapa yang terpenting kamunya udah baik-baik aja. Kamu jangan lagi ya, buat Ibu takut" ujar Bu Ratih memeluk putrinya


"Ya udah. Sekarang kamu makan dulu, terus minum obatnya" titah Bu Ratih yang merawat Riri penuh kasih


"Makasih ya Bu" ujar Riri


"Iya Nak, istirahatlah. Biar besok kamu, udah bisa pulang" ujar Bu Ratih


Keesokan harinya...


"Gimana Nak, apa udah merasa lebih baikan?" tanya Bu Ratih


"Iya Bu, Riri gapapa kok Bu" jawab Riri tersenyum


"Ya udah. Kita segera bergegas, sepertinya juliana sudah sampai dan pasti ada di halaman parkiran" ujar Bu Ratih


"Iya Bu" jawab Riri


"Eh... Nak Juls" sapa Bu Ratih saat melihat empuhnya memasuki ruang pasien


"Udah siap rupanya, hemm" ujar Juliana. "Ya udah tunggu apalagi, let's go" Sorak Juliana begitu senang


30 menit kemudian....


"Kamu istirahat dulu Nak, jangan dulu banyak aktivitasnya" ujar Bu Ratih


"Gapapa Bu. Riri baik-baik aja kok" jawab Riri


"Sudah, nanti aja di bahasnya. Ibu mau ke dapur dulu" ujar Bu Ratih


"Kita bantuin ya Bu, Ibu mau masak apa, biar Juls sama Riri aja yang masak" ujar Juliana


"Baik bener. Kalau begitu, Ibu pergi keluar sebentar ya" ujar Bu Ratih


"Ibu mau kemana, biar Riri yang anterin" ujar Riri


"Gapapa Nak, Ibu cuman ke warung seberang, mau beli telur. Kayanya persediaan telur udah habis" ujar Bu Ratih


"Ok Bu, serahin ke kita kalo urusan masak" tengah juliana lalu menarik tangan Riri agar segera menuju dapur


"Hemm...Ri. Kita masak apa ya hari ini, menu yang cocok untuk makan siang apa ya" ujar Juliana yang memilih-milih sayuran di dalam kulkas


"Gak tau" jawab Riri


"Idih...orang minta saran juga, jawabanya gak bermutu" sebel Juliana


"Kan tadi kamu yang ngaku masak" ujar Riri


"Hemm...gimana kalau aku buat tumis cah kangkung , telur balado dan sambal penyet" ujar Juliana mendapatkan ide menu makan siang


"Terserah deh, tapi aku gak makan ya" balas Riri


"Kenapa gak makan, entar sakit loh" tanya Juliana keheranan


"Maka dari itu, bantuin aku buat sup jahe telur ya, hemm " jawab Riri. "Kamu kan tahu, nyeri banget perut ku gara-gara ha*d" lanjut Riri sok cute


"Haha...btw, jadi ke ingat kemarin. ART nya si mesum itu, panik ampe kepoin kamu tau gak " ujar Juliana


"Hah..maksudnya apa sih, aneh deh" ujar Riri


"Kamu tau gak, ART nya kirain kamu keguguran. Awalnya aku kira pernyataannya itu bener dan kamu tau, aku sempet shock ngedengar itu" ujar Juliana sambil memotong sayuran kangkung. "Aku sempet gak bisa bayangin deh, kamu kenapa-napa" lanjut Juliana seakan mengingat wajah akb5ar yang membuatnya murka


"Maaf, aku udah buat kamu khawatir" ujar Riri sesal


"Emang kamu tuh biangnya. Suka banget buat aku sama Bu Ratih senam jantung" jawab Juliana


"Hayo...kenapa nama Ibu di sebut-sebut" ujar Bu Ratih yang menghampiri keduanya di dapur

__ADS_1


"Eh, hehe... Ibu. Gak ada kok Bu, tapi bener deh, Riri tuh emang anaknya jaim banget, buat orang bisa-bisa serangan jantung mendadak karena khawatir sama dia" ujar Juliana yang berkutat dengan beberapa bumbu dapur


"Ibu.....maafin Riri ya, bu" rengek riri bergelayut manja


40 menit setelah berkutat di dapur. Kini tiga chef, hebat itu telah menyiapkan hidangannya di meja makan dengan rapi


"1 jam lagi kita makan siang. Aku sama Riri mau mandi dulu deh bu, gerahan bau asem pula" ujar Juliana


"Iya Nak " jawab Bu Ratih tersenyum


_


_


_


_


"Gimana Bu, masakannya enak? " tanya Juliana


"Hemm, ini seperti chef profesional" jawab Bu Ratih


"Makasih ya Bu, pokoknya Ibu harus makan yang banyak, ini spesial loh Juls ngebuatnya" ucap Juliana dengan bangga


"Kamu juga Ri, cobain deh cah kangkung nya" titah Juliana


"Nanti aja deh, aku udah makan sup" jawab Riri


"Ya udah, kalo gak mau" ujar Juliana langsung melahap habis tanpa sisa. Hehe...kelaparan kali Thor๐Ÿ˜‚


"Ngomong-ngomong nih, Bu. Menurut Ibu, Ibu restuin yang mana nih tiga lelaki yang bakalan jadi menantu ini? " tanya Juliana bersenda gurau


"Siapa yang kamu maksudkan, Nak? " tanya Ibu Ratih


"Hehe..ya menurut aku sih, mending Tuan Maldeva. Menurut Ibu gimana"? tanya Juliana


"Oh itu, menurut kamu siapa Nak? " tanya Ibu Ratih mengarahkan ucapannya ke Riri


Sontak saja, empuhnya tersedak. Apaan coba, ngebahas di luar topik kaya gitu๐Ÿ™‰


"Uhuk...uhuk..."


"Pelan-pelan aja makannya, Nak " ujar Bu Ratih


"Iya, pelan-pelan aja. Hayo....pasti lagi mikirin seseorang nih, makanya diajak ngobrol jadinya amblas karena gak fokus" ujar Juliana


"Ih sotoi " kilah Riri


"Gak usah boong, tu kenapa muka nya udah ke tomat bonyok" ujar Juliana diikuti gelak tawa๐Ÿ˜›


"Iya Nak, memangnya siapa tiga lelaki itu? " tanya Bu Ratih. "Menurut Ibu, ada baiknya kamu kasih kepastian, siapa yang bener-bener kamu pilih dari ke tiga lelaki itu" ujar Bu Ratih


"Ih.... Ibu, kok malah ikutan mojokin Riri sih, nyebelin ah" pura-pura ngambek. "Siapa juga yang mau sama mereka, orang Riri maunya sukses dulu. Riri mau ngebahagiain Ibu, masalah jodoh kan udah ada sang pengaturnya. Riri gak mau, ninggalin Ibu sendirian. Pokoknya Ibu harus bahagia" ujar Riri bagai air sungai yang mengalir deras


"Haha....๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‚" tawa keduanya mendengarkan penuturan Riri


"Iya deh, iya yang masih fokus sama studi akhirnya" goda Juliana


"Padahal Ibu udah kepengen banget loh Juls ngebet menantu" goda Bu Ratih yang tak mau kalah dari Juliana untuk menjahili Riri


"Ibu......" rengek Riri menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya, padahal hatinya saat ini berbunga-bunga, membayangkan kebaikan serta perhatian seseorang padanya kala di rumah sakit waktu itu


*** Q & A ***


" Penasaran siapa orangnnya? "


" Sama. Saya juga, hehe๐Ÿ˜"


" Thor, kok ceritanya banyak yang skip ya?๐Ÿค”"


" Hehe...emang sengaja"


" Kok gitu sih Thor, kan gak asyik tiba-tiba udah beralih ke cerita baru"


" Maaf ya readers"๐Ÿ˜†, suka-suka author dong, hehe tapi jangan ngegas ya readers. Author sakit hati loh kalo ampe nyinyir nya berlebihan and gak baik juga loh, nanti nampungin dosa loh๐Ÿ™


Alhamdulillah. Akhirnya part 3 kelar juga. Tapi maaf banget ya buat readers, kalau menurut kalian ceritanya garing banget. Author blank guys, pikiran udah kebagi kemana-mana๐Ÿ™


Mohon di maafkan bila kurang berkenaan. Soalnya author jarang halu, jadi kurang inspirasi. So, kalo ada tips buat membangun imajinasi yang super, bantuin author ya๐Ÿ‘ bisa add akun ini:


๐Ÿ‘ IG: 96Shop_tte


"Syukur dofu-dofu & Thanks dofu-dofu๐Ÿ˜"

__ADS_1


__ADS_2