
“Bu Mina, di mana Ibu, kenapa tidak menyambut ku pulang? apa Ibu sedang istirahat” tanya Riri
Seketika semua orang saling tatap dan terkejut dengan pertanyaan Riri. Ya Allah Riri ada apa dengan mu, apa hati mu sebegitu terluka nya hingga membuat mu menolak takdir Tuhan?
“Ekhem, Nak Juls biar Ibu bantu Riri ke dalam ya” ujar Bu Mina
“Ah iya Bu” balas Juliana
“Ayo Nak Ri” ujar Bu Mina kemudian membantu Riri segera masuk ke dalam kamar nya
Sesampai di dalam kamar, Bu Mina langsung memapah Riri duduk di kursi dan segera memberikan sesuatu kepada nya. “Nak ini ada titipan dari almarhuma Bu Ratih” ujar Bu Mina menyerahkan sebuah kotak pelangi kearah nya
“Kalau begitu Ibu tunggu di luar ya Nak” ujar Bu Mina segera keluar dari kamar
Akbar yang melihat Bu Mina keluar dari kamar Riri langsung sigap dan menanyakan keadaan Riri, “Bu bagaimana dengan keadaan Riri” tanya Akbar
“Nggak apa-apa Nak Akbar, Nak Juls, Riri baik-baik saja jadi kalian tidak perlu khawatir” balas Bu Mina
“Em..ada baik nya Nak Akbar pulang saja dulu, Nak Juls juga gapapa” saran Bu Mina
“Nak Riri hanya butuh istirahat saja” ujar Bu Mina
“Baik Bu kalau begitu saya permisi dulu” ujar Akbar lalu berpamitan pulang
Ya siapa saja akan merasa iba melihat orang yang kita sayangi itu seperti kehilangan arah hidup nya. Riri seperti memiliki nyawa tapi di ibaratkan seperti mayat hidup. Sungguh miris dan menyedihkan sekali betapa tidak orang yang selama ini sudah menemani nya setelah kehilangan kedua orang tua kandung nya, tapi kini orang yang sudah Riri anggap sebagai orang tua nya itu telah pergi meninggalkan nya untuk selama-lama nya
“Em..Bu aku nginep aja ya” ujar Juliana
“Nggak apa-apa toh kalau ngerepotin Nak Juls” tanya Bu Mina
“Enggak sama sekali Bu Mina, malahan Juls khawatir kalau tinggalin Riri tidur sendiri” balas Juliana
“Ya sudah Nak kalau begitu saya dan anak-anak permisi pulang ya” ujar Bu Mina berpamitan
Setelah Bu Mina dan juga kedua anak nya kembali pulang, Juliana pun segera menutup pintu rumah rapat-rapat dan segera menghampiri sahabat nya itu
“Krek” suara pintu terbuka
Juliana terkejut karena melihat Riri menangis sesenggukan sambil memeluk figura sang almarhuma Bu Ratih, Juliana pun segera menghampiri Riri dan memeluk nya
“Ri..ya ampun kamu kenapa Ri” tanya Juliana
“Hiks..hiks” tangis yang begitu menyayat dada, kenapa begitu sesak?
“Sudah ya Ri kita harus ikhlas menerima semua takdir Tuhan” ujar Juliana
“Kenapa Ibu Ratih tega banget sama aku Juls” ujar Riri
“Sabar Ri” balas Juliana menenangkan
“Aku selama ini terlalu sibuk Juls sampai-sampai aku melupakan kesehatan dan keadaan Ibu” ujar Riri
“Aku nggak berguna Juls, aku gak peka dan aku egois Juls” ujar Riri menyalahkan diri nya atas kepergian Bu Ratih
Sementara Juliana hanya menyimak keluhan beban yang di alami sahabat nya itu, Juliana pun tak bisa berkata-kata diri nya hanya mampu memberikan sandaran dan bahu yang siap sedia menopang sahabat nya itu jika ingin selalu bersandar
Kurang lebih selama 45 menit mengeluh kan segala kesakitan dan beban di hati nya Riri pun terlelap di pelukan Juliana, ya Juliana seorang sahabat yang bukan sama sekali keluarga dekat apalagi memiliki ikatan darah dengan nya, tapi sebegitu cinta dan sayang nya pada Riri dan sudah menganggap Riri adalah saudara kandung bagi nya
Kasih sayang yang tulus itu tanpa syarat dan menuntut, bagi Juliana sahabat nya itu sudah sebagian dari separuh jiwa nya, uh so sweet!! emang ya kalau bener-bener punya hati dan niat tulus itu pasti bisa di lihat dari cara seseorang memperlakukan kita di saat susah atau pun senang selalu mencurahkan segala waktu dan kasih sayang nya kepada kita
Setelah membantu menidurkan Riri, Juliana pun segera membersihkan wajah nya dan bergegas untuk tidur. “Good night my angel” ujar Juliana membelai pucuk kepala Juliana
Keesokan pagi nya setelah kedua nya sarapan bersama 2 jam kemudian datang lah keluarga besar Pratama berkunjung ke rumah nya dengan maksud itikad baik untuk segera meminang diri nya, ya sebelum kepergian Bu Ratih beliau juga sudah bertemu dengan Sarah dan memberikan pesan dan amanah untuk menjaga Riri dan jadikan putri nya itu menantu
Flashback Bu Ratih dan Nyonya Sarah
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan nya Bu Ratih pun segera pergi untuk menemui Sarah di salah satu restoran milik Pratama Grup
“Jeng maaf ya terlambat” ujar Bu Ratih menyapa teman nya itu
“Iya gapapa Ti” balas Sarah
“Oh iya mau pesan apa biar sekalian aja” tanya Sarah
“Samain aja deh biar enggak repot” balas Bu Ratih
“Oh iya ngomong-ngomong gimana keadaan kamu Ti?” tanya Sarah
“Baik-baik saja Sar, oh iya ada yang ingin aku bicara kan” ujar Bu Ratih
“Iya Ti mau bilang apa” balas Sarah
“Em..gini” ujar Bu Ratih memberi jeda saat pelayan membawa kan pesanan mereka
“Permisi nyonya” ujar pelayan restoran
“Ah iya” balas Sarah
“Ayo Ti di minum dulu” seru Sarah
“Iya” balas Bu Ratih dengan seulas senyuman
“Em..btw tadi mau ngomong apa” tanya Sarah
“Em..begini Sar, sejujurnya aku tidak yakin akan bertahan lama dengan sakit yang saat ini aku alami” ujar Bu Ratih
“Ti apa yang sebenar nya kamu sembunyikan” tanya Sarah
“Gak ada Sar, aku hanya mau bilang tolong titip Riri ya” ujar Bu Ratih
“Iya Ti” balas Sarah menggenggam tangan teman nya itu
“Aku minta tolong ya Sar sayangi Riri seperti kamu menyayangi anak-anak mu” ujar Bu Ratih
“Iya Ti, tapi kenapa kamu nggak coba dulu buat berobat ke luar Negeri” saran Sarah
“Enggak Sar, aku udah merasa cukup seperti ini, aku juga sudah pasrah Sar” balas Bu Ratih
“Yang sabar ya Ti, aku janji akan menyayangi Riri sama seperti aku menyayangi Abang dan Adinda” ujar Sarah
“Terima kasih ya Sar” ujar Bu Ratih
“Iya sama-sama Ti” balas Sarah
“Em..kalau begitu aku pamit pulang ya” ujar Bu Ratih
“Iya Ti, em..sekalian saja biar aku antarin soalnya aku juga searah kok” ajak Sarah
“Terima kasih ya” balas Bu Ratih
Kedua nya pun segera keluar dari restoran dan pergi kembali mengantarkan teman nya pulang
Flashback End
“Assalamualaikum” salam keluarga besar Pratama
“wa'alaikumsalam” jawab kedua nya dari dalam rumah
"Sudah kamu lanjutin aja, biar aku yang bukain pintu nya" ujar Juliana pada Riri yang hendak membuka pintu untuk menerima kedatangan tamu
“Eh Nyonya, ah silahkan masuk Nyonya” ujar Juliana saat menerima tamu
“Terima kasih” balas Sarah lalu masuk ke dalam rumah di susul oleh suami dan juga sang bungsu
“Em..silahkan duduk dulu Nyonya biar saya buat kan minum” ujar Juliana lalu pergi menuju ke dapur
“Eh Ri, ada tamu tuh” ujar Juliana saat berpapasan dengan Riri yang keluar dari dapur
“Siapa Juls?” tanya Riri
“Tamu spesial nya kamu” balas Juliana terkekeh lalu pergi ke dapur
__ADS_1
“Ih apaan sih itu orang” gerutu Riri lalu menghampiri tamu yang di maksud itu
“Ah Nak apa kabar kamu” tanya Sarah
“Baik Nyonya” balas Riri
“Oh iya syukur lah Nak, em..Ibu minta maaf ya Nak kalau kedatangan kami kemari mengganggu” ujar Sarah
Sedangkan Bu Mina yang hari ini sedikit terlambat masuk kerja sudah datang dan segera menemui Riri untuk membuka toko “ Assalamualaikum” salam Bu Mina
“Eh wa'alaikumsalam Bu Mina” balas Sarah
“Ah Nyonya maaf saya tidak tahu kalau anda datang hari ini” ujar Bu Mina
“Iya Bu, oh iya mari duduk dulu Bu” seru Sarah
“Terima kasih Nyonya” balas Bu Mina
“Em..maaf ya Nak Ri hari ini Ibu agak kesiangan” ujar Bu Mina
“Enggak apa-apa kok Bu” balas Riri
“Em begini Bu Mina saya dan keluarga kemari karena ada sesuatu yang ingin kami bicarakan” ujar Sarah lalu menatap suami dan bungsu nya
Sedangkan Bu Mina saling tatap dengan Riri, ya Riri sedikit di buat bingung namun tidak dengan Bu Mina karena sebelumnya anggota keluarga itu sudah sepakat dengan pesan amanah yang di berikan oleh Bu Ratih kepada mereka
“Ah Nak Riri, em apa sudah menerima pesan surat yang di sampaikan oleh almarhuma Ibu kamu Nak” tanya Sarah
“Iya Nyonya” balas Riri
“Begini Nak kami tidak akan memaksa kehendak, tapi kami sangat berharap kalau Nak Riri mau bersedia menjalankan pesan amanah itu” ujar Sarah
“Em..maaf Tuan, Nyonya silahkan di minum dulu” ujar Juliana dari arah dapur yang membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa cemilan
“Terima kasih ya Nak” balas Sarah
Juliana pun ikut bergabung duduk bersama anggota keluarga dari Pratama yang datang dengan itikad menanyakan keputusan Riri tentang pesan dan amanah yang di tinggalkan oleh Bu Ratih pada nya, Riri pun menoleh kearah sahabat nya itu. Juliana yang mengerti itu pun menggenggam tangan Riri dan menganggukkan kepala nya pelan sebagai tanda mendukung penuh atas keputusan sahabat nya itu, apapun yang terjadi semua itu Riri yang berhak menentukan jalan hidup nya, dia lah yang akan bertanggung jawab atas keputusan yang di buat nya
“Em..Bu” seru Riri kearah Bu Mina
“Iya Nak, Ibu akan selalu mendukung keputusan kamu Nak” ujar Bu Mina
“Em..Nyonya, ak..aku akan menerima dan menjalankan pesan amanah Ibu” ujar Riri
Sontak langsung membuat Sarah memeluk suami nya dan mendapat protes dari sang bungsu, “Iih Mi yang senang siapa kok meluk-meluk nya Papi” ujar Adinda
“Eh iya ya, ih kamu Pa malah kesempatan” gerutu Sarah
“Lah kok Papi yang di salahkan? Kan Mami sendiri yang meluk-meluk” balas Pratama
“Pfft” tawa ke empat orang di hadapan kedua pasangan suami istri itu
“Ya kelepasan Pa saking senang nya Mami” cicit Sarah
“Ah Nak terima kasih ya, em..sebentar dandan yang cantik ya Nak kita makan malam bersama” ujar Sarah
“Iya Nyonya” balas Riri
“Ah Pa kok panggil nya Nyonya sih, sebentar lagi kan kita bakalan jadi keluarga” adu Sarah dengan gelagat sedih pada suami nya
“Iya Nak Riri panggil kami seperti Adinda dan Abang nya memanggil kami dengan sebutan Mami dan Papi” ujar Pratama
“Em..iya Pi, Mi” ujar Riri canggung dan sedikit malu-malu
Setelah keluarga Pratama kembali pulang, Juliana tak henti-henti nya menggoda sahabat nya itu
“Cie yang sebentar lagi jadi menantu” goda Juliana
“Apaan sih Juls” elak Riri
“Cie..huhui, Bu Mina kira-kira hadiah yang cocok untuk Riri apa ya” ujar Juliana
“Em..apa aja lah Nak Juls yang penting itu membawa keberuntungan” balas Bu Mina
“Apa” ujar Riri
“Iih mulai kan PD nya” balas Juliana
“Biarin suka-suka” ujar Riri lalu melenggang masuk ke dalam kamar
Malam hari tepat pukul 19.00 Riri dan Juliana sudah siap siaga dan segera pergi untuk menghadiri undangan makan malam bersama dengan keluarga Pratama
“Juls..aku kok deg-deg an ya” ujar Riri
“Sudah di bawa santai aja kek lagi nyantai di pantai” balas Juliana
“Huh..bener gak sih keputusan aku” ragu Riri
“Eh jangan bilang kamu ragu-ragu” timpal Juliana dengan sinis
“Enggak, tapi ah..sudah lah, ayo kita masuk” ujar Riri
Sementara keluarga dari Pratama sudah hadir dan menanti kedatangan kedua tamu itu. Maldeva tak henti-henti nya tersenyum senang dan bahagia, diri nya tak perlu bersusah payah lagi meyakinkan Riri untuk segera mempersunting nya, namun saat ini Maldeva meyakinkan diri nya agar bisa membuat Riri jatuh cinta pada nya, bukan hanya menerima diri nya karena pesan amanah yang di berikan oleh mendiang Bu Ratih, tapi karena menerima diri nya dengan tulus dan ikhlas karena saling mencintai
“Maaf Nyonya kami terlambat” ujar Juliana menyapa anggota keluarga itu
“Tidak apa-apa Nak Juls” jawab Sarah
“Ekhem..Bang kedip Bang” bisik Adinda saat melihat Maldeva tanpa henti nya memandangi kecantikan Riri
“Silahkan duduk Nak” ujar Sarah pada Riri dan Juliana
“Ayo kita mulai saja makan nya” titah Pratama
“Ah ide bagus mumpung Adinda udah lapar banget” timpal Adinda
“Hush kamu tu Dek” tegur Sarah
“Ayo Nak Ri, Juls” titah Sarah
Semua orang kini menikmati hidangan yang sudah tertata rapi di depan mata. Hidangan yang sangat menggugah selera. Sementara itu Akbar yang baru saja selesai bekerja merenggangkan sedikit otot-otot nya bersandar di kursi kebesaran nya dan memejamkan kedua kelopak mata itu. Terlintas pikiran nya tentang bagaimana dengan kondisi Riri saat ini, Akbar pun merogoh saku nya untuk mengambil sebuah ponsel nya
“Hem..kau sedang apa sekarang” tanya Akbar pada foto Riri yang di lihat nya
“Aku sungguh sangat merindukan mu, kenapa begitu sakit saat melihat senyum mu pudar seperti itu” ujar Akbar seketika lamunan nya tersentak akibat telepon dari seseorang
📞: “Ya Dek” ujar Akbar
📞: “Oppa, kau kemana saja, mengapa ponsel mu susah sekali untuk ku hubungi” tanya Della
📞: “Ya ada apa” tanya balik Akbar pada Adik sepupu nya itu
📞: “Ish..kau di mana sekarang Oppa” tanya Della
📞: “Ada apa dengan mu, aku bertanya malah kau balik bertanya” gerutu Akbar
📞: “Sudah lah tidak usah berdebat, kau tahu malam ini Paman dan tante Sarah juga Abang dan Kak Dinda sedang makan malam bersama” ujar Della
📞: “Lah terus hubungan nya sama Oppa apa? Kan emang begitu nama nya acara keluarga” balas Akbar
📞: “Nah masalah nya makan malam mereka itu bareng sama Kak Riri” balas Della
📞: “Hah..apa” pekik Akbar
📞: “Ih Oppa telinga Della sakit tahu” sebal Della
📞: “Barusan kamu ngomong apa” tanya Akbar
📞: “Iya Kak Riri lagi dinner bareng sama Abang” jawab Della
📞: “tuttttt” sambungan pun di putuskan sepihak oleh Akbar setelah mendengarkan informasi itu
__ADS_1
📞: “Yah halo..halo Oppa, lah di tutup lagi, emang itu orang ya gak ada akhlak” gerutu Della
Akbar pun bergegas mengambil jas nya lalu segera pergi, “Ah aku belum mandi” ujar Akbar
“Ah masa bodoh lah, pakai parfum aja” ujar Akbar lalu mengambil parfum dan menyemprotkan ke seluruh pakaian nya, “Hem, perfect” ujar Akbar lalu dengan sigap berjalan cepat menuju lift
Sesampai nya di lantai satu bagian parkiran “Ah kenapa aku lupa menanyakan di mana mereka dinner bersama” ujar Akbar memegang kepala nya
Belum tiba Akbar menelpon Adik sepupu nya itu, sebuah nontifikasi masuk dari ponsel nya, segera Akbar melihat isi pesan yang di sampaikan oleh Della pada nya
📱: “Oppa, mereka dinner di restoran milik Paman, oh iya jemput Della ya” pesan Della dengan emoji tangan mengatup memohon pada orang nya
Tanpa di balas oleh Akbar pun langsung memasuki mobil nya dan segera mengendarai mobil nya menuju ke tempat di mana para anggota keluarga Pratama sedang berkumpul bersama
“Ckck…aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan kesempatan itu” ujar Akbar membatin
Sesampai nya di salah satu restoran milik Pratama Group Akbar dengan tergesa-gesa mencari keberadaan di mana semua anggota keluarga itu berkumpul bersama, “Hei kau tahu di sebelah mana Tante ku sedang mengadakan jamuan makan malam bersama” ujar Akbar pada salah satu manajer restoran milik Pratama Group
“Maaf Tuan anda di larang untuk mengacaukan acara ini” balas Romi sang manajer
“Rom, kau..Ah, Rom bantu aku” ujar Akbar
“Maaf Tuan” balas Romi
“Rom, kau tahu.. aku harus meluruskan kesalahpahaman di dalam sana” ujar Akbar menunjuk kearah tempat khusus VIP
“Emm…” balas Romi menimbang perkataan Akbar
“Ah..Rom seorang wanita memanggil mu” kelabui Akbar pada lawan bicara nya
Seketika Romi pun menoleh dan Akbar pun segera pergi menerobos ke dalam, “Ah sial” pekik Romi yang di kerja in oleh Akbar
Sementara anggota keluarga itu nampak senang dan bahagia karena selain acara makan malam, Maldeva pun ingin segera melangsungkan acara pertunangan, ya walaupun pernikahan kedua nya belum di tentukan, tapi itikad ini agar sebagian orang-orang termasuk saudara sepupu nya itu tahu kalau Riri adalah milik nya dan tidak bisa lagi di ganggu gugat oleh siapa pun
Akbar yang datang tiba-tiba itu langsung terpenganga saat cincin berlian itu disematkan di jemari Riri dan terpancarkan senyuman manis di wajah nya, “Berhenti” ujar Akbar
Semua orang nampak terkejut dengan suara lantang itu, Sarah dan suami nya pun menoleh saat melihat keponakan nya itu datang
“Apa yang kalian lakukan” tanya Akbar berjalan mendekati ke arah semua orang dan anggota keluarga nya
Sementara Riri sedikit cemas karena iya tahu begitu besar penantian Akbar pada nya, Riri pun mendelik kearah sahabatnya itu “Juls aku harus bagaimana?” tanya Riri bertelepati dengan kedua mata dan raut wajah yang cemas kearah Juliana
“Tenang Ri, aku yakin kamu pasti bisa selesaikan ini semua” balas Juliana
“Apa semua orang saat ini bersikap acuh pada ku?” tanya Akbar
“Dan kau, kau tahu kalau aku dan Riri selama ini memiliki sebuah hubungan, bagaimana bisa kau menikung ku seperti itu” ujar Akbar pada Maldeva
“Bar, begini Nak” sela Sarah
“Tant, apa kalian pikir Akbar ini bukan bagian dari kalian, kenapa kalian tega sekali” ujar Akbar
“Bar bukan maksud kami begitu, tapi ada hal yang harus kami pertimbangkan dan ini..” ujar Pratama terhenti saat Akbar mengacuh kan semua orang dan memilih mendekati kearah Riri
“Ri tolong ikut aku sekarang” ujar Akbar memegang tangan Riri
Dengan wajah sedikit sayu Riri menatap kearah Maldeva tersirat permohonan untuk mengizinkan nya, Maldeva yang mengerti itu pun menganggukan kepala nya
“Ayo Ri” seru Akbar lalu menggandeng tangan Riri dan segera pergi menjauh dari semua anggota keluarga
Sepanjang perjalanan Riri diam membisu, menatap pun tak mampu sebab aura yang terpancar dari lawan nya itu seperti singa yang hendak menerkam jika sedikit saja berulah. Sesampai Akbar membawa Riri di sebuah danau di mana tempat yang waktu itu kedua nya berkunjung bersama
Akbar segera turun dari mobil nya dan berteriak sekeras-keras nya “Aarghh”
Riri yang melihat itu pun hanya mampu memejamkan mata dan menutup telinga nya, setelah puas meluapkan kekesalan nya Akbar pun menoleh kearah wanita yang saat ini di bawa nya
“Apa itu balasan dari semua penantian ku?” ujar Akbar
“…” Riri tak mampu bersuara hanya memegangi kedua punggung tangan nya karena sedikit gemetar dan ketakutan
“Kenapa Ri, kenapa begitu sulit memberi ku kesempatan untuk bisa meyakinkan diri mu kalau aku pantas untuk mendampingi kamu” ujar Akbar
“Apa karena selama ini kau juga menantikan kehadiran nya” tanya Akbar
“Huh” kesal Akbar menghembuskan nafas nya secara kasar
“Maaf” ujar Riri
Akbar pun menatap lamat-lamat kearah nya, “Apa itu jawaban yang pas untuk menjawab semua pertanyaan ku” ujar Akbar
“Maaf..a..aku, hiks..hiks” ujar Riri dengan tangisan
“Aku tahu mungkin ini terasa berat dan amat sulit untuk mu, tapi ketahui lah aku pun juga sama, selama ini aku mencoba bertahan dengan prinsip dan keteguhan hati ku, tapi semua ini aku lakukan karena ingin berbakti kepada orang tua ku” ujar Riri
“Aku hanya ingin menjalankan pesan amanah Bu Ratih pada ku, apa aku salah?” tanya Riri
Akbar pun tak bisa berkata-kata bibir nya kaku, suara nya tesekat, nafas nya sesak apa yang harus diri nya lakukan jika sosok wanita yang selama ini mampu membuat nya bergetar lagi setelah di khianati, namun kenyataan begitu pahit sosok yang di harapkan ternyata lebih memilih sepupu nya itu
Entah lah saat ini pikiran kedua nya penuh dengan emosi. Akbar pun terduduk lemah entah apa jadi nya jika harapan nya sirna dan penantian nya tak berbalas
“Hem..mari kita pulang” seru Akbar
“Kenapa tak menjawab ku, mari selesaikan kesalahpahaman ini” ujar Riri
“Jangan khawatir semua ini adalah salah ku, aku terlalu memaksa kehendak ku pada mu” balas Akbar
“Kau tenang saja setelah ini aku tidak akan menemui mu atau mengganggu mu lagi” ujar Akbar
“Apa kau juga akan memutuskan pertemanan di antara kita?” tanya Riri
“Ya kira nya seperti itu, karena sepupu ku itu paling tidak suka berbagi apalagi melihat orangnya bersama dengan pria lain” balas Akbar
“Apa benar begitu, bukankah kau juga Adik nya kenapa terdengar menyeramkan sekali” ujar Riri
“Hem..sekali lagi terima kasih” ujar Akbar
“Untuk apa” tanya Riri
“Hah sudahlah, ayo segeralah kembali aku tidak ingin membuat semua orang merasa cemas” jawab Akbar
“Aku minta maaf jika selama ini telah menghadirkan kesalahpahaman ini” ujar Riri
“Hem” balas Akbar lalu berjalan menuju mobil nya
Tepat jam 21.50 malam Akbar sudah mengantarkan Riri kembali pulang, sementara Juliana yang sedari tadi menunggu di teras rumah nampak cemas karena ponsel Riri tidak dapat di hubungi
“Kemana aja sih itu orang, awas saja sampai Riri kenapa-napa” gerutu Juliana kemudian berjalan cepat ke halaman rumah saat mobil Akbar memasuki halaman rumah itu
“Ekhem..dari mana aja kamu Ri” tegur Juliana lalu mendelik sinis kearah Akbar
“Aku tadi ke danau Juls” jawab Riri
“Hah..ngapain? kamu nggak di apa-apa in kan?” tanya Juliana lalu membolak-balik kan badan Riri penuh sigap dan khawatir
“Ih Juls apaan sih, aku tuh gapapa, kamu loh jangan suuzon, dosa tahu” ujar Riri
“Ekhem..maaf Tuan Akbar, pintu pagar nya ada di depan sana, silahkan” ujar Juliana sembari membungkuk kan setengah badan nya dengan style tangan mengisyaratkan agar orang yang di maksud segera kembali pulang
“Em..Bar hati-hati ya” ujar Riri
“Hem, aku duluan” ujar Akbar
Setelah Akbar meninggalkan kediaman Riri, Juliana pun segera menggandeng lengan sahabat nya itu untuk segera masuk ke dalam rumah, Riri yang melihat tingkah manja dan peduli dari Juliana itu pun tersenyum
Ya ampun Thor gak sanggup itu gimana cerita nya Akbar nanti, aku kasihan banget sama dia
Kenapa selalu gagal ya dalam percintaan nya?
Ah sungguh ya readers emang kejutan hidup tidak ada yang bisa menebak, jika tidak di kehendaki Tuhan begitu lah ada nya, tapi jangan pesimis dan berburuk sangka apalagi sampai terluka dan memutuskan untuk mengakhiri hidup
Itu merupakan tindakan yang kurang terpuji dan malah membuat mu termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kufur, jalan Tuhan sudah di tentukan inti nya kita sebagai hamba-hamba nya hanya perlu bersabar dan menerima semua dengan lapang dada, insya Allah semua kekurangan itu akan di balas dengan sesuatu yang lebih baik, aamiin
__ADS_1
OK READERS, tolong di kasih LIKE, RATE AND VOTE
Dukung Author juga dengan cara beri comment yang membangun dan saran yang bagus-bagus ya, biar Author bisa semangat untuk terus menuangkan alur cerita ini, sarangheyo dofu-dofu