
Azkar duduk dengan tenang sambil menunggu kedua anak kemabarnya itu buka mulut, selama dia pergi bisa-bisanya mereka membuat kacau rumah, membiarkan Rain bermain sendiri, hingga jatuh dari tangga pun mereka tidak tau,
"ayo bagaimana kalian menjelaskannya?" Azkar menatap intens mereka,
"ayolah dad, kami kan nggak tau apa-apa, jangan salahkan kami, Rain kan seharian main dengan Rey, jadi kami serahin tanggung jawab menjaga Rain ke Rey" balas Reva santai,
"ehem, apa karena kau terlalu lama tinggal dengan Athala kau jadi nggak peduli gini dengan sekitarmu! dia adikmu bukannya panik kau malah cuma liat dia nangis gitu, nggak ditenangkan atau digendong gitu!"
"dad jangan marah gitu dong, nakutin tau, mending bicara baik-..."
"aku sudah bicara baik-baik, kalian ini mau aku bicara lebih baik lagi! setelah kalian jatuhin Rain terus apa, bakar rumah, buat mobil meledak, atau mau Rain jatuh dari lantai atas gitu baru kalian sadar kesalahan kalian!?" Azkar meninggikan suaranya,
"Azkar sudahlah...." Riko yang ada di samping Azkar mencoba menenangkannya,
"apanya yang sudah, mereka ini kalau nggak diajarin jadi gini, mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali, padahal umur mereka berapa sudah 16 tahun, tapi tingkahnya!" Azkar memijat pelan pelipisnya,
"sudahlah capek, aku mau tidur dulu!" Azkar berdiri lalu pergi begitu saja, meninggalkan Reva dan Rava yang tertunduk, Daddy mereka sejak dulu nggak pernah kayak gini, biasanya dia akan bilang baik-baik sambil tersenyum, apa karena Daddy punya banyak masalah?
"apa kau sepemikiran denganku Ev?"
"apa kau bercanda? tentu saja!"
"Daddy jadi seperti itu semenjak Mommy kalian datang, mungkin pikirannya kacau setelah itu, sejak dulu Atta memang selalu mengantung Azkar, bahkan sampai kalian lahirpun" Riko menghembuskan nafasnya kasar,
"aku permisi dulu ya, masih banyak kerjaan soalnya" Riko tersenyum lalu pergi begitu saja,
"sejak dulu Mommy selalu mengantung Daddy, apa nggak kasian? sepertinya dulu Dad sangat mencintai Mom juga!" Reva mengantung tubuhnya di sofa dan kepalanya hampir menyentuh lantai,
"duduklah yang baik, dan ayo kita lihat Rain, sedang apa dia sekarang?"
"bukannya kalau jam segini Rain tidur, kau sebagai kakaknya masak nggak tau kebiasaannya sih!"
"oh iya, aku lupa"
"bagaimana kalau kita ke rumah kak Eli?"
"apa kau nggak tau dad sedang marah! bukannya merenungi kesalahan malah pergi main! emang kau mau diamuk Daddy?"
"padahal aku boseeeeeen, bagaimana kalau kita mabar pabji?"
"atau emL gitu?" Reva dan Rava saling pandang, mereka diam sejenak lalu tertawa,
"emang anak kembar itu ajaib ya?"
__ADS_1
"bisa sepimikiran dan sejalan"
"emang senang ya kembar!" ucap Reva dan Rava berasamaan,
"kalian ini benar-benar anak nakal ya! bukannya merenungi kesalahan malah bercanda kayak gini!" tiba-tiba Azkar muncul dan langsung menjewer telinga mereka,
"aduh Daddy sakit!" ucap si kembar bersamaan,
"makanya kalau disuruh jaga adeknya itu jangan ditinggal main sendiri, kalian ini benar-benar....., haah, Daddy minta maaf karena marah dengan kalian tadi, Daddy hanya nggak mau kejadian yang sama kayak Reva dulu" Azkar tersenyum, tentu saja si kembar terkejut,
'Daddy ini benar-benar nggak bisa marah deh!' pikir si kembar, memang anak kembar itu sepemikiran ya?
"Daddy bagaimana kalau besok kita ke taman bareng Rain juga, nanti Ev ajak Mommy! gimana?"
"iya, sebagai perminta maafan dad, besok Daddy akan ikut" Azkar tersenyum dan mengusap kepala anak kembarnya itu,
"dad, kami sudah besar jangan usap-usap kepala dong! lihat Ev jadi nggak tinggi-tinggi tuh!"
"paan sih Va! kan aku cewek jadi tinggi 164 itu termasuk tinggi, emang kamu berapa?"
"179" ucap Rava bangga, seketika Reva langsung suram,
"sudahlah kalian ini!" Azkar mengusap lagi kepala mereka,
"iya-iya"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
.
.
.
> Jangan lupa like 👍 dan komennya 👄
__ADS_1
(ㆁωㆁ)