
Arjun POV
Kupikir aku adalah satu-satunya orang yang normal diantara mereka semua, tapi entah kenapa mereka menganggap Elios yang normal, emang apa salahku, ku ingat-ingat aku nggak pernah membuat masalah, tapi mereka mengecapku sebagai perusak suasana,
"oy Jun! lagi ngapin kamu itu!" teriak Rey padaku, ni anak setidaknya panggil aku 'kakak' kenapa?
"yang sopan manggilnya, aku lebih tua darimu!"
"alah, cuma beda setahun aja belagu!" komentar Rava yang tak jauh dari keberadaan kami,
"belagu banget tauk!" kulihat Reva jadi ikut-ikutan mengejekku, padahal dulu itu Reva manis banget, sekarang tingkahnya udah 11 12 sama adik kembarnya yang rese itu,
"apa rencana kalian setelah ini?" Elios menatap ke arah kami yang sedang berkumpul,
"gimana kalau kita ke hutan kota, atau kebun binatang!" usul Rey dengan penuh semagat,
"nggak!" teriak si kembar sambil melemparkan bantal bersamaan ke arah Rey, aku jadi sedikit merasa kasihan degannya,
"kau pikir kami ini anak usia lima tahun gitu, usulin tempat yang sedikit masuk akal gitu dong!"
"itu masuk akal Ev, gini deh, usulin tempat yang layak kita datangi nggak dewasa atau kekanakan!"
"aku setuju! usulan Rava bagus juga!" sahutku,
"akhirnya kau angkat bicara, dari tadi kau cuma melototi kami sambil diam!"
"ku pikir Arjun akan menerkam kita semua!"
"hahaha, si kembar bisa aja deh kalau mengejek Jun!" (โงโฝโฆ)
"kenapa selalu aku yang jadi sasaran kalian sih! nggak ada yang lainnya apa!?"
"tenang Jun, kita kembali ke topik tadi!"
__ADS_1
"em, aku punya ide!" tiba-tiba Rey berteriak,
"awas aja kalau tempat yang aneh-aneh!"
"enggak kok, jangan berprasangka buruk gitu dong Ev!"
"lha terus apa ide mu!"
"bagaimana kalau kita ke cafe nya si kembar?"
"oh betul juga, si kembar kan punya cafe" sahut Elios,
"lebih tempatnya itu hanya milikku!" Rava terlihat membenarkan pemikiran Rey dan si Os,
"punyamu ya, kupikir Ev juga punya hak!" Rey terlihat menatap Rava bingung, sebenarnya aku juga berfikir kalau cafe itu milik mereka berdua, soalnya dari kecil itu motto si kembar, 'semua milik bersama', kupikir itu tidak masuk akal,
"gimana dengan motto kalian berdua itu, 'semua milik bersama' , gimana?" baru aja aku memikirkannya, si Os udah main bahas aja,
"iya juga, aku juga nggak ingat tuh!"
"padahal dulu Ev cemburu banget denganku lho, ingat nggak waktu Ev ngambek gara-gara aku deket dengan Ava" Rey bertanya padaku, ku pikir benar juga, aku dulu menganggap mereka semua kekanakan, kecuali si Os,
"benar-benar kekanakan!" aku mencoba tidak tertawa saat mengingat waktu itu,
"ngomong-ngomong bagaimana kesan pertama kalian dulu saat pertama kali bertemu Rava?" tanyaku pada dua orang di depanku itu,
"hey Jun! bisa nggak, jangan bahas masalah itu!"
"kalau Rey sih, pertama kali ketemu Ava, takut banget, dingin, dan nggak ada tatapan persahabatan dulu dimatanya, tatapannya kosong dan dingin, pokoknya nakutin banget!" aku jadi ingin tertawa, tapi aku takut nanti bakal kena amuk si Rava,
"kalau aku, dia terlihat seperti anak sombong, nggak punya sopan santun, dan jutek nya dulu minta ampun!"
"puft, kalau aku, kupikir dia itu cuma anak sombong yang hanya ingin di puji, ingat kan dulu dimana-mana dia hanya bawa buku atau ponselnya itu, baru pas Reva datang jadi agak beda dia nya"
__ADS_1
"iya, pas Ev datang Ava mulai mau terbuka dengan kita, tapi dihalangi degan sikap posesif si Ev"
"bisa nggak kalian nggak bahas kami terus!" aku menatap ke arah sikembar, kulihat tatapan mereka begitu tajam dan dingin, juga wajah tanpa ekspresi mereka yang menambah kesan horor, sebaiknya memang nggak membuat si kembar marah atau kalian akan menyesal nantinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
.
.
.
.
#jangan lupa like ๐ dan komennya ๐
__ADS_1