My Bad Bro / Sis

My Bad Bro / Sis
#Why?


__ADS_3

Ini bukan lanjutan cerita kemarin atau yang bonus!!


"kenapa? aku hanya ingin bertemu dengan Ev!" mata Rava berlinang air mata, memang di saat-saat tertentu dia sadar kalau dia punya saudara lain, dan beginilah jadinya,


"tidak boleh, kau tidak boleh menemuinya" Azkar mengusap lembut rambut anak lelakinya itu,


"aku sangat merindukannya dad, sangat! kenapa tidak boleh? apa dia membenciku karena membuatnya terluka?" tangis Rava semakin menjadi-jadi, dia adalah lelaki paling rapuh yang pernah ada, rapuh akan saudaranya,


"bukannya kau bisa bersama dengan Rain?"


"TIDAK MAU, AKU MAU EV SEKARANG! KEMBALIKAN EV-KU, DIA MILIKKU, KENAPA KALIAN MENGAMBILNYA DARIKU? KENAPA KALIAN MELARANGKU UNTUK MENEMUINYA? KENAPA? AKU HANYA INGIN MEMELUKNYA!! DIA MILIKKU SATU-SATUNYA!" Rava mulai menggila dan merusak apapun yang ada didekatnya, apapun dilemparnya pada Daddy itu, apa salahnya ingin bertemu saudaraa, ia hanya merindukannya, merindukkan pelukannya,


"panggolkan dokter!" perintahnya pada Riko yang tak jauh dari sana, kali ini benar-benar parah, biasanya ditenangkan sedikit anak ini langsung tenang, kenapa sekarang jadi seperti ini,


"tuan, tolong buat anak anda sedikit diam, saya akan memberinya obat penenang" seorang dotek siap dengan suntikannya yang berisi obat penenang, Azkar langsung saja menarik Rava dalam pelukannya dan sang dokter memberinya obat penenang, Rava tertidur seperti seorang pangeran yang mendapat mimpi indah, wajahnya yang putih karena mendapat turunan darah Jerman dari ibunya serta mata birunya yang sekarang tertutup serta surai hitamnya yang sangat pekat, benar-benar wajah yang sangat menawan,


"aku akan membawanya kedalam kamar dulu" anak laki-laki berumur 10 tahun itu tertidur dipelukan sang ayah, Azkar mengendong anaknya menuju ke kamar untuk membaringkannya, setelah itu dia langsung turun ke bawah untuk berbincang-bincang dengan sang dokter.

__ADS_1


_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_


"tenangkan dirimu, kalau kau seperti ini bagaimana dengan putramu?" Edward menepuk pelan pundak Azkar untuk menenangkannya,


"aku tidak kuat kalau seperti ini terus, aku ingin mempertemukan dua saudar itu, aku tidak tega, Athala bahkan sama sekali tidak bisa dihubungi, aku hanya ingin Rava bisa melihat Reva walau hanya sebentar, setidaknya biarkan traumanya hilang dulu" Azkar mengacak rambutnya frustasi,


"bahkan aku sebagai kakaknya saja tidak tau dia ada dimana, aku merasa gagal jadi seorang kakak yang menjaga adiknya!"


"aku punya saran, tapi kalau kau tidak mau menerimanya ya sudah" Indra akhirnya ikut berbicara,


"apa!? kalau nggak guna awas aja!" Edward menatap tajam Indra,


"singkatnya membuat Rava melupakn Reva sepenuhnya, begitu kan?" Riko menyimpulkan perkataan Indra,


"Bing..go!!" Indra menjentikkan jarinya,


"iya, aku akan menyingkirkan semua hal tentang Reva yang ada di rumah ini dan sebaiknya kalian juga bilang pada anak-anak kalian untuk tidak membahas apapun tentang Reva pada Rava, kalau Rain, dia anak yang pintar yang sangat perhatian dengan kakaknya, dia pasti tau" Azkar langsung menelpon seseorang untuk menyingkirkan semua hal tentang Reva,

__ADS_1


"akhirnya kau sedikit berguna juga!" Edward menjitak kepala Indra, tidak terlalu keras.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


#selamat membaca untuk pembaca setia, saya uncapkan terimakasih bagi yang sudah like dan mengikuti novel ini sampai sekarang,


**☆࿐ཽ༵༆ᏖᏋᏒᎥᎷᏗ ᏦᏗᏕᎥᏂ༆࿐ཽ༵☆**


__ADS_2