
"Kamar mu bagus ya." ucap Wooseok melihat sekeliling kamar Chaewon. Chaewon hanya terdiam. Dia tidak tahu mau bicara apa.
"Kenapa kamu diam? Aku masih sama kok. Aku beneran suka sama kamu." ucap Wooseok mendekat pada Chaewon dan memegang kedua tangan Chaewon.
"Kamu beneran mafia?" tanya Chaewon memberanikan diri.
"Hmm."
"Kamu tidak ganggu kerjaan papa kan?"
"Tidak. Kamu tak perlu takut. Masalah kita tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kami." ucap Wooseok menenangkan Chaewon.
"Aku.. Aku sebenarnya tidak takut dengan mu setelah mengetahui yang sebenarnya. Tapi aku takut kamu mendekatiku karena ingin balas dendam pada papa." ucap Chaewon. Dia sungguh takut itu terjadi.
"Kamu dengarkan aku." ucap Wooseok menangkup wajah Chaewon dengan kedua tangannya.
"Aku sungguh menyukaimu. Aku sudah suka denganmu sebelum aku mengetahui siapa papamu. Walau aku sedikit terkejut tapi aku tidak pernah ada niatan balas dendam." ucap Wooseok. Kali ini dia mengelus pipi Chaewon dengan ibu jarinya.
"Tapi nanti kalau papa bertanya lagi denganku aku harus berkata apa?"
"Katakan yang sebenarnya. Dia bakal mengerti kok. Sekarang aku pulang dulu ya." ucap Wooseok mengecup kedua pipi Chaewon.
"Hmm.. Ayo keluar."
Chaewon mengantar Wooseok keluar. Mereka berdua bertemu papa Chaewon di ruang tamu.
"Pa. Wooseok mau pulang." ucap Chaewon pada papanya yang sedang duduk menonton.
"Hmm." balas papanya.
"Aku pulang dulu ya. Saya pamit om. Permisi." ucap Wooseok pada Chaewon dan papanya.
"Hati-hati ya." ucap Chaewon sambil melambaikan tangannya. Dan Wooseok pun pergi dengan mobilnya.
Chaewon menutup pintu depan setelah Wooseok pergi. Papanya hanya diam menonton tv. Saat Chaewon mau masuk kamar papanya memanggil.
"Chaewon. Coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
Sekarang Chaewon duduk di ruang tamu dengan tv yang sudah mati dan berhadapan dengan papanya. Dia bingung harus memulai dari mana.
"Apa yang harus aku jelaskan?" tanyanya pada papanya itu.
"Kenapa kamu bisa kenal dengan dia?"
Chaewon menjelaskan dengan detail semua cerita mereka sampai mereka bisa pacaran sekarang.
"Pa. Papa tenang saja. Wooseok bukan seperti yang papa pikirkan. Dia baik pa." ucap Chaewon. Dia tahu papanya itu berpikir bahwa Wooseok ada maksud lain.
"Memangnya dia seperti apa? Kamu baru kenal sedikit saja berani bilang begitu? Kalau nanti dia.." ucap papanya terpotong.
"Pa! Cukup ya. Selama ini semua teman pria ku takut berdekatan denganku karena mengetahui pekerjaan papa. Aku selalu gagal saat mau memulai pacaran. Jadi papa sekarang cukup bicara yang tidak-tidak tentang Wooseok. Kalau tidak aku pergi sekarang dan tinggal dengannya." ancam Chaewon lalu pergi meninggalkan Jaewook mematung.
Jaewook sangat terkejut mendengar perkataan putrinya itu. Bukan perkataan Chaewon yang akan meninggalkannya. Melainkan selama ini alasan putrinya tak pernah membawa teman prianya kerumah karena pekerjaannya. Walau Chaewon putri kesayangannya tapi dia tidak tahu seluruh kehidupan yang dijalani putri sematawayangnya itu.
☆☆☆☆
"Kita naik motor ya hari ini." ucap Eunsang sedang memakan sarapannya.
"Kenapa?" tanya Yujin yang duduk di hadapan Eunsang.
__ADS_1
"Aku ada tugas tapi tidak sempat mengerjakannnya. Jadi aku mau datang lebih cepat. Tak masalahkan?"
"Ya sudah. Cepat habiskan makannya kalau begitu." ucap Yujin.
Mereka hari ini masuk kuliah seperti biasa. Sejak pernyataan cinta Eunsang kemarin sebenarnya keadaan mereka sangat canggung.
Selesai makan mereka menuju parkiran. Mereka menghampiri motor sport berwarna hitam. Eunsang memakaikan helm pada Yujin dan Yujin hanya menurutinya. Eunsang naik ke motor begitu pula Yujin.
"Pegangan ya. Aku bakal ngebut nih." ucap Eunsang setelah menyalakan mesin motornya.
Yujin hanya memegang jaket Eunsang. Tanpa aba-aba Eunsang melajukan motornya dengan kecepatan dia atas rata-rata membuat Yujin repleks memeluk Eunsang karena takut jatuh.
Sesampainya di kampus Eunsang langsung menuju kelasnya. Sedangkan Yujin mampir ke kafè langganannya menunggu Chaewon. Lalu ada pria yang menghampirinya. Dia duduk dihadapan Yujin.
"Kau Yujin kan?" tanya pria itu.
"Iya benar. Kita sekelas kan?" ucap Yujin.
"Oh, kau tahu aku?" ucapnya bersemangat.
"Aku pernah melihatmu dikelas." ucap Yujin seadanya.
"Benarkah? Oh ya kemarin kau sakit. Apakah parah?" tanyanya.
"Kau tahu dari mana?" tanya Yujin. Setahunya cuma Chaewon saja yang tahu.
"Ah kemarin itu aku duduk disebelah Chaewon, jadi aku mendengar percakapan kalian." ucapnya.
"Oh ya.. Kalau begitu nama mu?"
"Minhee. Kang Minhee. Kau sekarang lagi menunggu Chaewon kan. Kau mau minum apa? Biar aku pesankan." ucapnya bangkit dari duduknya.
"Terima kasih. Aku Ice lemon tea."
Tak berapa lama kemudian Chaewon datang dan duduk dihadapan Yujin.
"Tumben kau cepat datang?" tanyanya setelah duduk.
"Tadi Eunsang mau datang lebih cepat. Won, Kau duduk disebelahku ya." ucap Yujin sedikit berbisik.
"Kenapa?" tanya Chaewon sambil pindah disebelah Yujin.
"Itu... Minhee tadi menghampiriku. Sstt! Dia datang." mereka melihat kearah Minhee yang sedang berjalan kearah mereka membawa tiga gelas minuman.
"Eh Chaewon sudah datang. Nih aku pesankan minuman. Aku tidak tahu kau suka apa jadi aku pesankan minuman yang sama dengan Yujin." ucapnya meletakkan minuman ke atas meja.
"Ah tidak masalah. Terima kasih. Kau kenapa datang cepat sekali?" tanya Chaewon.
"Aku memang selalu datang cepat." jawabnya.
"Benarkah? Kenapa Kau kemari?" tanya Chaewon lagi. Yujin hanya diam sambil meminum minumannya.
"Aku tadi mau minum sebentar sebelum kekelas. Tapi aku melihat Yujin jadi sekalian saja aku samperin." ucapnya tersenyum pada Yujin.
"Jadi kau hanya mau menyapanya." ucap Chaewon menyikut lengan Yujin.
"Eh kekelas yuk." ucap Yujin mengalihkan pembicaraan.
Mereka pun kekelas. Selama perjalanan Minhee lebih banyak berbicara pada Yujin. Tapi Yujin hanya diam saja. Malah Chaewon yang mwnanggapi perkataaannya. Sampainya dikelas Minhee menghampiri temannya dan duduk bersama temannya itu. Sedangkan Yujin dan Chaewon pergi sedikit menjauh dari mereka dan duduk berdua.
__ADS_1
"Jin. Kau tahu tidak. Dia itu sepertinya tertarik dengan mu." ucap Chaewon sambil mengeluarkan bukunya.
"Apaan sih. Dia hanya mau akrab saja kali. Kau berlebihan." ucap Yujin.
"Terserah sih. Nanti kalau suami kau tahu baru sadar. Jaga jarak saja kalau sama dia."
"Iya." ucap Yujin seadanya. Lalu tak berapa lama dosen mereka datang.
☆☆☆☆
"Sekarang bagaimana situasi di perusahaan cabang?" ucap Wooseok pada sekretarisnya. Sekarang dia berada di perusahaan ayahnya. Dua kali sebulan dia mengecek perusahaan itu.
"Walau ada masalah dengan jumlah produksi yang tidak sesuai dengan target. Selain itu semuanya aman. Ada beberapa cabang kekurangan bahan dari supplier kita dan ada juga yang mendapat keuntungan lebih dari target kita pak." jelas sekretaris itu.
"Benarkah? Kalau begitu mulai minggu depan saya akan datang selama dua minggu penuh dan akan memperhatikan semuanya. Tolong kamu atur jadwal saya selama dua minggu."
"Baik pak. Kalau begitu saya pamit. Permisi." ucap sekretaris itu lalu beranjak keluar ruangan.
"Hufft... Terpaksa datang setiap hari. Sungguh melelahkan." ucap Wooseok bersandar pada kursi kebesarannya itu.
Baru beberapa saat Wooseok memejamkan mata Sekretarisnya datang.
"Permisi pak. Pak Go ingin bertemu dengan bapak. Sekarang beliau sedang diluar." ucap sekretaris cantiknya itu.
"Suruh dia masuk."
"Baik pak." sekretaris itu keluar lalu masuk lah Jaewook.
"Ada keperluan apa sampai tuan Go mendatangi saya dikantor?" tanya Wooseok sambil berdiri mendekati Jaewook.
"Saya tidak mau basa basi. Saya disini mau membicarakan tentang Chaewon." ucap Jaewook menatap tajam Wooseok.
"Silahkan duduk." ucap Wooseok mempersilahkan papa pacarnya itu duduk.
"Annie. Tolong buatkan minuman untuk tuan Go." ucap Wooseok pada sekretarisnya itu lewat telepon. Dia pun duduk di sofa menghadap Jaewook.
"Karena tuan Go ingin membahas Chaewon jadi saya akan memanggil anda 'om'. Om ingin membahas apa sekarang?" ucapnya penuh penekanan.
"Kenapa kau mendekati putriku? Apa alasan mu?" tanyanya. Sebelum dia menyetujui dia harus tahu maksud dari musuh lamanya itu.
"Hmm... Kalau alasan pasti ada. Kalau aku bilang alasanku mendekatinya karena menyukainya apa om akan percaya?" tanyanya sedikit tersenyum.
"Lagian sebuah alasan itu tidak bisa menjamin apakah aku ada maksud jahat atau baik." ucapnya lagi. Lalu sekretarisnya datang membawakan minum lalu keluar lagi.
"Kau jangan bertele-tele. Langsung ke intinya." ucap Jaewook yang tidak mengerti arah pembicaraan Wooseok.
"Hahaha.... Intinya om tenang saja. Untuk saat ini saya akan menjamin semua aman. Tapi tidak kedepannya." nada suara Wooseok berubah di akhir kalimat.
"Kau! Awas saja kalau sampai mempermainkaan perasaan Chaewon. Aku tak perduli kau ini siapa akan ku hancurkan kau." ucap Jaewook penuh penekanan. Tapi Wooseok hanya tersenyum mendengar perkataan Jaewook.
Jaewook keluar dengan emosi yang tidak bagus. Setelah Jaewook keluar Wooseok hanya tersenyum. Lalu kembali menuju meja kerjanya dan melanjutkan aktivitasnya.
☆☆☆☆
Maaf typo bertebaran 🙏🙏🙏
Pasti kalian pada bingung karena belakangan ini author kebanyakan membahas Wooseok dan Chaewon. Author merasa beberapa episode ini memang lagi puncak emosinya.
Tapi kalian tenang saja peran utama pasti akan tetap menjadi sorotan.
__ADS_1
Nah kebetulan ini adegannya lagi musim panas ya gaes. Pokoknya terima kasih sebelumnya. 😘
Selamat membaca 😉😉