
"Sunbae. Sekarang kita diikuti orang sampai sini." ucap Eunsang setelah mereka masuk kedalam apartemen lamanya.
"Apa?! Kenapa tidak dari tadi kamu beritahu aku?" Yujin sangat syok mendengarnya.
"Kalau aku beritahu dari tadi pasti sunbae panik."
"Jadi aku punya rencana untuk kabur dari mereka. Sunbae dengerin ya." Yujin hanya mengangguk. Saat itu Wooseok hanya duduk melihat mereka.
"Kita nanti keluar dari jalan belakang. Aku sudah pesan taksi untuk nunggu kita. Jadi sunbae harus bersikap biasa aja. Mengerti?" jelas Eunsang.
"Oke aku mengerti. Ayo berangkat." ucap Yujin yakin.
"Hyung kami pergi dulu ya. Kalau bisa tolong ikuti kami dari jarak jauh ya hyung." Eunsang menatap Wooseok memohon.
"Kau tenang saja."
Mereka keluar dengan gelagat biasa. Untung saja mereka tak mengikuti sampai atas pikir Eunsang. Sampailah mereka dipintu keluar dari belakang.
Baru beberapa langkah dari pintu tiba-tiba ada yang memukul pun belakang kepala Eunsang sangat kuat hingga Eunsang tak sadarkan diri. Yujin yang melihatnya teriak histeris dan menangis lalu ikutan pingsan karena syok.
Mereka dibawa dua orang berbadan besar itu ke dalam mobil dan melajukan mobil itu tidak tahu kemana tujuannya. Wooseok yang melihat kejadian itu langsung mengikuti Eunsang dan menelepon beberapa temannya dari kalangan gelap.
Perjalanan mereka sangat panjang melewati kota dan beberapa desa. Sepertinya itu markas persembunyian seseorang yang belum diketahui Eunsang.
☆☆☆☆
Yujin terbangun dalam posisi duduk terikat di kursi besi. Dia mengerjapkan matanya berulang kali karena sinar lampu menyorot ke arahnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia langsung menangis melihat Eunsang yang berada disebelah kirinya.
Saat ini dia sungguh ketakutan. Dia tak tahu apa yang akan terjadi padanya dan suaminya itu. Tak berapa lama Eunsang sadarkan diri dan melakukan hal yang sama seperti Yujin. Dia langsung menoleh ke arah Yujin karena mendengar suara tangisan.
"Sudah jangan menangis lagi. Ada aku disini." ucap Eunsang mencoba menenangkan Yujin.
"Percuma. Kamu kan diikat." ucap Yujin terisak.
"Setidaknya mereka tidak berani sakitin kamu kalau ada aku." Yujin tak perduli. Dia masih saja menangis.
Tiba-tiba ada seseorang datang dari balik cahaya yang menyorot mereka. Dengan susah payah Eunsang melihat orang itu. Mereka ada tiga orang. Satu orang memiliki tubuh hampir sama seperti Eunsang tapi sedikit lebih pendek. Dua orang lagi berbadan besar seperti bodyguard.
"Halo Eunsang apa kabar?" katanya. Dia sekarang sudah dihadapan Eunsang.
"Hah! Ternyata kau!" ucap Eunsang meninggi. Saat itu Yujin sangat terkejut mendengar suara Eunsang.
"Hey kau menakuti istrimu." sekarang dia melihat Yujin dan tersenyum.
__ADS_1
"Lepaskan dia. Dia tak bersalah." ucap Eunsang merendahkan suaranya.
"Hahahaha..... Kau lucu sekali. Kau seperti suami yang melindungi istrinya." Sihoon mendekati Yujin. Yujin hanya menangis menatap Eunsang. Dia tak berani menatap Sihoon.
"Kau yang lucu. Kau itu terlalu kekanakan melakukan seperti ini" ucap Eunsang menatap tajam Sihoon.
"Kekanakan? Ya kau bisa bilang aku seperti itu. Tapi seharusnya kau melihat situasi sekarang. Bahkan kau tak bisa melindungi istri mu ini sekarang." ucap Sihoon mengelus pipi Yujin dengan telunjuknya.
"Aku mohon lepaskan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita." akhirnya Eunsang mengeluarkan kata ini. Dia sungguh tak ingin memohon dengan seseorang.
"Wah! Ternyata seorang Eunsang bisa memohon? Tapi salahnya dia sangat berhubungan dengan masalah kita. Karena dia aku bisa lebih mudah menghancurkan mu!" suara Sihoon menggema di ruangan itu.
"Kalian hajar dia." perintah Sihoon pada dua orang itu.
Yujin histeris menjadi jadi melihat Eunsang dipukul habis-habisan sampai berdarah. Sungguh dia tak tega melihat suaminya itu dipukul dua orang berbadan besar itu.
"Cukup." ucap Sihoon.
"Lihat. Sekarang kau tidak berdaya. Mengapa dulu kau sangat sombong?"
"Aku tak pernah seperti itu. Kau saja yang selalu menganggapku musuh mu. Apa alasan kau membenci ku?" tanya Eunsang memuntahkan darah.
"Ya aku membenci mu. Sangat membencimu!" Sihoon berteriak. Seperti mengeluarkan emosi terpendamnya.
Eunsang mencoba mengingat siapa saja yang celaka dibuatnya. Dia ingat. Kim Sihan. Waktu tauran dia tak sengaja mendorong Sihan hingga terjatuh dan terbentur kepalanya.
"Itu tidak disengaja. Aku tidak ada niatan membunuh Sihan." jelas Eunsang.
"Aku tak perduli. Karena orang yang kusayang telah kau bunuh maka kau juga harus merasakan hal serupa." ucap Sihoon mendekati Yujin.
"Eunsang!" teriak Yujin.
"Sihoon jangan!"
Brakkk!! Pintu ruangan itu didobrak kuat dari luar. Sekitar lima orang masuk kedalam termasuk Wooseok. Mereka semua menatap kearah orang-orang yang baru saja datang.
"Siapa kalian?!" tanya Sihoon.
"Aku bukan siapa-siapa." ucap Wooseok tenang.
"Kondisi wajahmu lebih buruk dari dugaanku ya." ucap Wooseok pada Eunsang yang tersenyum tipis.
"Apa-apaan kalian ini! Cepat hajar mereka!" perintah Sihoon pada bawahannya.
__ADS_1
"Stop."
"Aku tidak mau membuang tenagaku sekarang karena aku sedang lapar. Tapi aku punya tawaran menarik untuk mu." sekarang dia mengambil kursi besi yang berada di dekat pintu.
Sihoon hanya dia melihat Wooseok yang begitu santai saat berbicara.
"Apa? Kau mau tukarkan uang mu padaku?! Aku tak membutuhkan itu." ucap Sihoon. Sekarang dia sedikit emosi.
"Aku pun tidak mau membuang uangku untuk anak kaya itu."
"Lalu apa yang akan kau tawarkan?" tanya Sihoon. Dia mulai berpikir kira-kira apa yang akan ditawarkan Wooseok.
"Kau lepaskan mereka atau reputasi dalam dunia mafia akan hancur." Wooseok masih santai berbicara. Yujin hanya bisa bingung dan menatap Eunsang penuh tanda tanya.
"Sebenarnya siapa kau?!" kelihatannya Sihoon mulai panik.
"Sudah kubilang aku bukan siapa-siapa. Bagaimana? Kalau tak percaya akan ku buktikan sekarang."
Sihoon mulai berpikir sejenak. Dia baru saja masuk dalam dunia mafia. Kalau reputasi barunya hancur maka usahanya selama ini sia-sia. Dia menatap Eunsang dan Yujin bergantian lalu menatap Wooseok yang menaikan sebelah alisnya.
"Ba-baiklah. Kalian! Cepat lepaskan mereka." para bawahaannya menurutinya.
"Ingat! Aku belum menyerah! Ayo pergi." mereka pergi setelah Eunsang dan Yujin terlepas.
Yujin langsung berlari kearah Eunsang dan menangku wajah Eunsang sambil menangis.
"Lihatlah. Wajah tampanmu hancur begini." Wajah Eunsang terlihat berantakan dan penuh darah. Bahkan sebelah matanya bengkak.
"Jadi aku ini tampan?" ucap Eunsang terkekeh.
"Masih bisa bercanda disaat seperti ini?!"
Wooseok hanya melihat pasutri ini.
"Sudahlah. Nanti saja bertengkarnya. Aku sudah menahan lapar sejak tadi. Ayo kita pulang." ucap Wooseok. Memang dia belum makan siang sejak mengantar Chaewon tadi.
Wooseok memapah Eunsang dibantu Yujin disebelah kanan dan Wooseok disebelah kiri. Mereka ke rumah sakit terdekat untuk mengobati luka Eunsang.
☆☆☆☆
Maaf typo bertebaran🙏🙏🙏
Selamat tahun baru🎉🎉
__ADS_1
maaf telat ngucapinya. Semoga di tahun yang baru ini semua masalah kita dimasa depan terlewati dengan baik. aminn.