
Pagi ini Yujin sudah bersiap seperti biasa. Sudah memasak dan berpakaian karena mereka masuk kelas pagi. Yujin pun memanggil Eunsang untuk sarapan.
"Eunsang. Makan yuk sudah jadi nih sarapannya." panggil Yujin yang menata makanan diatas meja.
Eunsang datang membawa tasnya. Dia langsung duduk dan memakan makanan diatas meja. Eunsang melihat kearah Yujin yang sedang makan. Merasa diperhatikan Yujin melihat Eunsang.
"Ada apa?" tanya Yujin.
"Tidak. Hanya... ingin bertanya." ucap Eunsang.
"Bertanya tentang apa?" kini Yujin melanjutkan makannya.
"Kalau misalnya pihak dekan tahu masalah kita kamu tidak masalah? Maksudku, bagaimana kamu mengatasinya?" ucap Eunsang melihat mata Yujin seolah meminta jawaban yang diinginkannya.
"Yah sebenarnya itu sudah dari lama aku memikirkannya. Apalagi kita menikah tanpa surat nikah aku semakin takut. Aku juga tidak tahu harus bagaimana." jelas Yujin.
"Hmm begitu ya. Aku merasa kalau hari ini kita bakal dipanggil pihak dekan." ucap Eunsang sambil memakan makanannya.
Yujin bisa melihat Eunsang terlihat khawatir dengan keadaan mereka. Yujin pun menggenggam tangan Eunsang dan tersenyum.
"Apapun yang akan terjadi nanti aku selalu ada disamping kamu. Jadi kamu tenang aja ya." ucap Yujin. Eunsang pun membalas genggaman tangannya.
"Terima kasih ya." ucapnya dengan senyum mengembang.
"Kamu sudah selesai makannya kan. Kita berangkat yuk." ajak Yujin yang menyusun piring bekas dan sisa makanan.
"Sini aku bantu." ucap Eunsang yang juga membantu Yujin mengangkut piring bekasnya.
Selesai berberes mereka langsung berangkat menggunakan motor sport Eunsang.
☆☆☆☆
Sekarang ayah dan ibu Eunsang sedang sarapan seperti biasanya. Lalu ditengah kegiatan mereka ayah Eunsang mendapa panggilan dari pihak kampus.
"Halo."
"........"
"Benar. Ada urusan apa ya pak?"
__ADS_1
"........"
"Baiklah. Saya akan datang nanti siang." lalu panggilan tersebut terputus.
"Siapa yah?" tanya istrinya.
"Pihak dekan kampus. Katanya ada yang perlu dibicarakan tentang Eunsang. Memang anak itu tidak bisa tenang sedikit pun." ucap ayah Eunsang yang segera menghabiskan makanannya.
"Ibu harap masalahnya tidak besar ya yah." ucap ibu Eunsang.
Setelah sarapan ayah Eunsang bergegas menuju kantor. Lalu pada siang hari setelah makan siang pergi ke kampus Eunsang.
☆☆☆☆
POV Yujin
Saat di kampus aku dan Eunsang masih diperhatikan mahasiswa lain jujur itu buat aku merasa tidak nyaman. Kami pun berjalan menuju kantor dekan. Tadi pagi sebelum berangkat kami mendapat pesan singkat. Mereka menyuruh kami datang ke kantor dekan.
Dengan perasaan gelisah kami memasuki ruangan itu. Disana sudah ada dekan dan beberapa dosen. Mereka menatap kami dengan tatapan biasa. Lalu dekan menyuruh kami duduk dikursi yang sudah di sediakan. Kami seperti disidang begitu.
"Kalian tahukan kenapa saya panggil kesini?" ucap bapak itu. Ya, bapak dekan yang terhormat itu.
"Sudah pak." ucap Eunsang menatap bapak itu dan para dosen. Sedangkan aku menatap kebawah tidak berani mengangkat kepalaku.
Kami saling menatap. Aku bingung harus menjawab apa. Setelah menatapku Eunsang menarik nafas dan menjawab pertanyaan dari dosen tadi.
"Benar bahwa kami tinggal bersama." ucapnya lalu menatapku sekilas lalu kembali menatap dosen itu. "Salah kalau kami tidak memiliki ikatan resmi." ucapnya dengan sangat yakin.
"Ikatan resmi seperti apa yang kamu maksud?" tanya dosen lain.
"Kami sudah menikah." ucapan Eunsang itu membuat seluruh orang di ruangan ini terkejut. Aku sudah menebak kalau Eunsang akan mengakuinya jadi tidak terkejut.
"Apa bukti kalian? Apalagi Eunsang masih berumur 17 tahun. Kamu belum lolos dalam pencatatan sipil." ucap dekan. Itulah yang selama ini kami takutkan. Bukti kami tidak ada. Kecuali pernyataan ayah dan ibu Eunsang.
"Dari tadi hanya Eunsang yang memberi pernyataan. Kami ingin mendengar pernyataan dari kamu Yujin. Ini bukan hanya masalah nama kampus. Ini juga masalah nama baik kamu." ucap Dosen yang pernah mengajar dikelasku.
"Seperti yang di katakan Eunsang. Kami memang sudah menikah."
"Tapi seperti yang bapak bilang tadi. Usia Eunsang belum mencukupi untuk lolos dicatatan sipil. Tapi kami sudah sah menikah secara agama. Tahun depan kami akan mendaftarkan pernikahan kami." ucapku yakin.
__ADS_1
"Bila bapak dan ibu disini tidak percaya bisa tanyakan langsung pada orang tua saya." kali ini Eunsang ikutan bersuara.
"Untuk masalah itu kami sudah menghubungi ayah kamu. Nanti siang beliau akan datang ke kampus." ucap dekan itu.
"Baiklah. Karena sepertinya nanti kalian masuk kelas untuk sekarang itu saja. Kalian bisa keluar." ucap Pak dekan.
Kami membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan itu. Kami saling pandang kemudian membuang nafas lega. Ternyata tidak serumit yang kami bayangkan. Tapi tadi mereka tidak memberi solusi bagaimana nanti para mahasiswa tidak menganggap mereka rendahan.
Kami pun berjalan menuju kelas. Sebelum berpisah Eunsang mengajakku mengobrol.
"Aku kira bakal ada hukumannya gitu." ucapnya.
"Iyakan. Tapi bener juga ya. Kitakan bukan anak SMA lagi. Lagian kamu kenapa bisa lulus cepat banget sih? Coba umur kita sama. Pasti kejadian kita tidak seperti ini." ucapku yang merasa iri karena aku lebih tua darinya.
"Yah biasalah anak pintar." katanya bangga.
"Iyalah tuh." ucapku cemberut. Ku kerucutkan bibirku dan mempercepat jalanku.
"Ehhh??? Iya deh iya. Jangan ngambek dong. Nanti kita nonton yuk?" ucap Eunsang yang menyeimbangkan langkahnya tapi dengan jalan mundur.
Aku menatapnya sebentar sambil berpikir. Sudah lama tidak menonton.
"Ya sudah. Kelasku berakhrir jam 3." ucapku menghentikan langkahku.
"Kalau aku jam 2. Aku tunggu didepan fakultas kamu ya. Aku ke kelas dulu dah.." ucapnya sambil tersenyum kemudian pergi berlari menuju fakultasnya yang masih jauh.
Aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah suara ternyata Baekjin yang memanggilku. Aku memutar mataku malas dan mulai melangkah karena dia mulai mendekat.
"Sombong bener lu." katanya.
"Emangnya kau siapa? Sudah ganggu hidup orang sekarang mau kau apa?" ucapku. Sekarang dia berada didepanku.
"Itu semua karena kau sudah nolak aku. Apa bagusnya bocah ingusan kayak dia. Lebih bagus aku juga." ucapnya melipat tangannya didada.
"Jadi tujuan kau manggil aku apa?" ucapku yang mulai malas meladeninya.
"Kau tau. Sebentar lagi kau dan bocah ingusan itu bakal di d.o dari kampus karena telah mencemarkan nama baik. Jadi aku mau kasih tau itu akibatnya kalau kau berani nolak aku." ucapnya panjang lebar.
"Terserah kau mau ngomong apa. Aku tidak peduli. Sekarang kau minggir. Aku ada kelas." ucapku lalu berjalan melawatinya. Malas rasanya meladeni orang tidak waras sepertinya.
__ADS_1
Aku akhirnya berjalan menuju kelas tanpa gangguan lagi.
☆☆☆☆