My Badboy Husband

My Badboy Husband
Bagian 2


__ADS_3

Setelah kejadian menghebohkan tadi aku jadi tak lapar lagi. Sekarang kami berada di luar ruangan konseling.


"Ternyata Baek Jin jadi gila setelah kau tolak." Kata Chaewon yang duduk di sebelahku.


"Itulah alasan aku menolaknya. Aku juga pernah melihatnya seperti ini waktu dia nembak adik tingkat."


"Wah memang sakit jiwa tuh orang."


Tiba tiba Eunsang keluar dengan wajah datar.


"Gimana? Nggak ada masalahkan?" Tanyaku langsung berdiri menghampirinya.


"Hmm. Tapi orang tua Baek Jin nggak terima. Mereka ingin ketemu orang tuaku." Jawabnya menunduk.


"Baguslah. Yang penting obati dulu lukamu. Kamu nanti nggak ada kelaskan?" Tanyaku melihat bekas luka di wajahnya.


"Iya."


"Chaewon. Aku izin ya. Bilang aja yang sebenarnya. Bapak itu ngerti kok nanti."


"Okelah. Aku ke kelas ya. Bye." Ucap Chaewon berlalu meninggalkan kami.


"Ayo ke ruang kesehatan." Ajakku menarik tangannya. Kulihat dia hanya tersenyum.


"Kamu tadi kok diam aja diperlakukan kayak tadi?" Tanyaku mengambil kotak obat.


"Hanya kebiasaan aja. Takut kelepasan." Jawabnya duduk di ranjang pasien.


"Kelepasan? Ah... seperti tadi." Ucapku tersenyum dan menghampirinya. Dia juga tersenyum melihatku.


Aku dengan teliti membersihkan lukanya dengan alkohol dia menatapku dengan senyuman.


"Ah iya. Aku mau bilang kalau kita sebelumnya pernah ketemu loh. Tapi kamu pasti nggak ingat." Ucapnya yang tadi tersenyum langsung menunduk.


"Benarkah? Tapi aku baru tau kamu sekarang tuh." Kataku yang masih sibuk dengan lukanya.


"Iya. Bahkan kita pun dekat. Sangat dekat. Kamu pun pernah berjanji padaku." Ucapnya yang masih menunduk.


Aku sungguh tak ingat kalau aku pernah dekat dengannya. Bertemu saja baru kemarin apalagi menjadi dekat.


"Selesai~ Nanti lukanya jangan kena air dulu ya. Biar cepat kering." Ucapku mengemas kotak obat tadi.


"Apa lukanya lama sembuh?" Katanya yang berdiri melihat cermin.


"Kenapa? Apa kau takut ketampanan mu akan hilang? Ckckck setelah berkelahi baru sekarang takut. Tadi kemana sebelum memukul orang?" Tanyaku dengan nada mengejek.


"Itu tadi dia duluan yang memukulku. Jadi bukan salahku." Jawabnya tak terima.


"Ya.. ya.. ya.." kataku begitu saja. Kemudian kami terdiam. Tak lama dia bersuara.


"Bisakah kamu temani aku makan sunbae?"


"Boleh. Kebetulan aku belum makan." Ucapku melihatnya. Dia tersenyum. Dia terlihat sangat manis tersenyum seperti itu.


☆☆☆☆


Pov normal


Di apartemen.


Sesampainya di apartemen Eunsang tersenyum sendiri dengan wajah penuh luka. Saat itu Wooseok sudah di rumah. Wooseok ketakutan melihat Eunsang seperti kesurupan itu. Akhirnya dia menanyakan tingkah sepupunya yang aneh itu.


"Kau kenapa? Pulang pulang pasang wajah aneh begitu. Lagian kenapa wajah mu begitu? Bukankah kau sangat peduli dengan wajahmu itu?" Tanya Wooseok tak berhenti.


"Hyung. Apakah aku tampan?" Tanyanya duduk di sofa sebelah Wooseok.


"Kau kenapa? Setelah bawa anak perempuan orang kau menjadi sedikit tak waras. Kau belum jawab pertanyaanku tadi." Ucap Wooseok sedikit kesal.


"Hahahahahaha...." begitulah suara tawanya dan berlalu ke kamarnya meninggalkan Wooseok dengan kebingungan.


"Beneran sudah kerasukan dia." Kata Wooseok yang melanjutkan tontonannya.


Pada malam hari Wooseok memanggil Eunsang untuk makan malam.


"Eunsang ayo makan!" Teriaknya.


Eunsang pun keluar dengan keadaan habis mandi. Dia pun duduk berhadapan dengan Wooseok.


"Kau harus ceritakan semuanya padaku termasuk lukamu itu." Kata Wooseok sambil mengunyah makanannya.


"Sebenarnya tidak ada masalah besar sih. Cuma orang brengsek yang tak tau diri ngamuk ngamuk."


"Jadi kau berkelahi dengannya karena kau bawa pulang perempuan itu?" Tanyanya menatap Eunsang.


"Kok hyung bisa tau?" Menghentikan makannya dan menatap Wooseok.


"Ternyata benar. Emang dia siapa?"


"Yujin. Dia Yujin. Kan tadi dia udah memperkenalkan diri." Jawab Eunsang melanjutkan makannya.


"Bukan itu maksudku. Dia siapamu? Pacar mu atau pacar orang?" Tanya Wooseok menatap Eunsang lagi.


"Dia bukan pacar orang itu kok. Dia masih sendiri." Jawab Eunsang cepat. Wooseok memang tau membuat sepupunya itu jujur.


"Ahh ternyata gebetan ya." Kata Wooseok tersenyum.


"Hyung~ Jangan beri tahu ibu ya. Nanti ibu kepo terus campuri urusan ku." Kata Eunsang memohon.


"Kamu tenang aja. Yang harus kamu khawatirkan itu lukamu. Tiga hari lagi bibi akan datang bawa makanan."


"Hah? Ibu akan datang? Kok nggak kasih tau aku sih?" Tanya Eunsang frustasi.


"Kan udah aku kasih tau barusan." Kata Wooseok mengemas piring bekasnya.

__ADS_1


"Hyung!"


☆☆☆☆


Pov Yujin.


Di kosannya.


Aku terus memikirkan ucapan anak itu. Sekeras apapun aku mengingatnya tetap saja aku tak mengingatnya. Memang baru kali ini dia mengenal anak itu. Tiba tiba ada pesan masuk dari Chaewon.


Wonnn:


Hey.. Keluar yuk. Aku traktir deh.


"Untuk apa dia ajak ku keluar malam malam gini?" Kataku yang langsung bersiap.


Sampailah aku di tempat yang aku benci sebenarnya. Sangat berisik. Tapi nggak masalah sih kalau sekali sekali.


"Hey! Lama banget nyampeknya." Kata Chaewon yang melihatku duduk disebelahnya.


"Untuk apa kau ajak aku ke sini?"


"Kan tadi siang kamu terkena masalah. Sekarang aku traktir supaya kau bisa lupakan apa yang di katakan si brengsek itu." Ucap Chaewon yang sedikit berteriak.


Dia menarikku ketengah keramaian orang. Aku hanya bisa mengikutinya. Mungkin sekali sekali aku harus kesini biar stresku sedikit hilang.


Kami pun menari penuh semangat dan mendapat sorakan dari orang orang yang ada di sana.


"Hey. Itu bukankah pria itu?" Ucap Chaewon menunjuk ke arah pria.


"Hah? Pria mana?" Tanyaku yang mengikuti tangannya. Kulihat Eunsang sedang mengobrol dengan seorang pria yang pernah aku lihat sebelumnya.


"Kenapa di mana ada kau selalu ada pria itu?" Tanya Chaewon. Tiba tiba ada dua orang pria yang menghampiri kami. Aku merasakan kalau mereka ada maksud jahat.


"Hai nona nona.. Mau main dengan kita?"tanya salah satu pria itu.


"Maaf kami hanya ingin sendiri." Kataku sopan. Aku takut kalau mereka akan macam macam.


"Kalau ingin sendiri untuk apa datang kemari?!" Tanya satunya lagi.


"Hey ayolah nona.. Jangan jual mahal begitu. Hm?" Katanya mencolek daguku.


"Ya! Kau bisa sopan sedikit tidak?!" Tanya Chaewon keras membuat seluruh mata menatap kami dan musik pun terhenti. Aku pun berdiri di depan Chaewon menghalanginya dari pria itu.


"Hahaha... Berani sekali kau bicara seperti itu pada kami. Memangnya kau siapa? Hah?!" Katanya.


'Plakkk!' Pria itu menampar wajahku keras.


Dari jauh seseorang sedari tadi melihat pertengkaran kami tiba tiba berteriak.


"Yaaaa!!!!" Teriaknya menghampiri kami. Teriakannya membuat semua orang disitu melihatnya termasuk aku dan Chaewon.


"Beraninya kau menampar perempuan??!!!" Katanya lagi. Kulihat matanya seperti ingin menghabisi pria yang menamparku tadi.


"Sudah ya. Luka mu tadi belum sembuh." Kataku mencoba menahannya.


"Nggak masalah. Kamu tenang aja ya. Aku nggak berkelahi kok." Katanya melepaskan tanganku dan menggeserku kebelakangnya.


"Kau. Bocah kecil mau apa kau? Kau tau aku siapa?" Tanyanya dengan nada sombong.


"Aku tau kok. Anak dari keluarga Jang yang ternama akan ke tenaran atas hasil perusahaannya." Kata Eunsang mantap menatap pria itu.


"Itu kau tau. Menyingkir kau dari hadapanku sebelum kau habis di tanganku." Katanya.


"Tapi sepertinya kau yang tak tau siapa aku. Hyung!" Panggilnya pada pria yang aku temui pada pagi tadi. Muncullah pria itu. Wooseok namanya. Dia terlihat tenang. Walau pun postur tubuhnya lebih pendek dari Eunsang tapi dia terlihat tenang menghadapinya.


"Owh.. Kalian lagi yang buat rusuh di sini? Bukankah kemarin itu aku sudah memperingatkan kalian?" Tanyanya menatap pria pria itu.


Kulihat mereka menunduk seperti ketakutan melihat temannya Eunsang itu. Seperti ada aura gelap yang keluar darinya walau wajahnya terlihat tampan cantik.


"Sebaiknya kalian pergi sebelum aku mengambil tindakan yang tidak kalian inginkan." Katanya dengan tenang.


Mereka pun pergi tanpa berkata sedikitpun. Sepertinya ada sesuatu di balik wajah tampan mereka ini. Setelah mereka pergi Eunsang pun membalikkan tubuhnya ke arahku dan membawa ku duduk di tempat dia duduk tadi.


"Kamu baik baik ajakan? Ah bodoh mereka sudah menamparmu bagaimana kamu baik." Katanya yang mengoceh sendiri. Aku yang dari tadi sudah ketakutan langsung memeluknya. Tanpa sadar air mataku pun mengalir.


"Hey.. Sudah sudah. Mereka sudah pergi." Ucapnya mengusap usap kepalaku.


Pov normal


Chaewon yang tadi berdiri di belakang Yujin masih syok dengan yang dilihatnya. Dia tidak tau kalau pria tadi berani menampar Yujin.


"Kau baik baik saja nona?" Tanya Wooseok padanya.


"Hah? Ah iya makasih. Tapi di mana Yujin?" Tanyanya pada Wooseok.


"Itu." Menunjuk kearah Yujin dan Eunsang yang sedang berpelukan. Chaewon pun melihat ke arah itu.


"Aish anak ini. Masih sempat sempatnya dia bermesraan di tempat umum." Omelnya sendiri yang di dengar oleh Wooseok.


"Sudahlah biarkan saja. Mending kamu temani saya ke apotik belikan obat untuk temanmu itu." Kata Wooseok berlalu keluar club yang diikuti Chaewon.


"Nama mu siapa nona?" Tanya Wooseok berjalan beriringan dengan Chaewon setelah membeli obat.


"Nama saya Chaewon. Nama kamu sendiri?" Tanya Chaewon gugup.


"Namaku Wooseok. Hey ayolah jangan gugup gitu. Biasa aja." kata Wooseok yang melihat Chaewoon gugup


"Ah iya.." kata Chaewon tersenyum menatap Wooseok.


"Gitu dong. Aku nggak makan orang kok."


Selama Chaewon dan Wooseok membeli obat Eunsang tengah menenangkan Yujin pun terlihat bingung. Karena dari tadi Yujin tidak berhenti menangis.

__ADS_1


Sekarang dia terlihat lega melihat keduanya datang. Setidaknya ada juga yang membantunya. Dan posisinya Yujin masih memeluk erat Eunsang.


"Hey hey. Yujinssi. Mau sampai kapan kau memeluk nya di tempat umum ini?" Tanya Chaewon setelah melihat Eunsang kesusahan membuat Yujin tenang.


"Kau apakan anak orang sampai menangis tak berhenti henti?" Tanya Wooseok meletakkan obat dia atas meja.


"Hyung kau tau kan aku bukan pria seperti itu." Kata Eunsang. Tiba tiba Yujin melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya


"Eh sudah? Peluk lagi aja kalau belum puas." Sindir Chaewon. Eunsang hanya tersenyum mendengarnya.


"Apa yang kau katakan. Sudah lah. Ayo pulang. Semua gara gara kau mengajakku keluar tengah malam begini." Omel Yujin.


"Yah aku kan tidak tau kalau bakal terjadi seperti ini." Ucap Chaewon. Eunsang dan Wooseok hanya melihat kedua perempuan itu beradu mulut.


"Gimana kalau kalian pulang kami antar. Lagian ini udah malam nggak baik perempuan pulang sendirian." Tawar Wooseok.


"Boleh." Jawab Chaewon tanpa menanyakan pendapat Yujin.


"Hey. Kenapa kau tak tanya kepadaku dulu?" Protes Yujin.


"Kau pasti ikut. Karena si brondong ini pasti memaksa mu. Ayo tunjukan di mana mobilnya." Kata Chaewon melihat ke arah Wooseok.


"Dasar perempuan ini." Ucap Yujin melihat tingkah Chaewon seenaknya.


"Sudahlah. Ayo. Nggak bagus juga pulang sendirian."


"Baiklah." Akhirnya Yujin pun mengalah.


Mereka pun sampai ke rumah Yujin. Mereka mengantar Yujin lebih dulu karena Chaewon searah dengan rumah mereka. Tapi sampai depan gang mereka melihat polisi dan para warga berkumpul.


"Kenapa ramai sekali di depan?" Tanya Wooseok.


"Aku pun tidak tau. Sejak aku pergi tadi tidak ada masalah." Jawab Yujin.


"Apa kamu ada tujuan lain?" Tanya Eunsang.


"Nggak ada. Kalau kerumah Chaewon aku segan bertemu ayahnya."


"Jadi gimana kau tidur malam ini?" Tanya Chaewon.


"Ntahlah. Aku juga bingung."


"Gimana kalau kamu tidur di rumahku aja. Lagian hyung juga nggak pulang malam ini." Kata Eunsang menatap wajah Yujin dari spion.


"Boleh juga. Kebetulan aku nggak bisa pulang setelah kejadian tadi di club." Ucap Wooseok yang masih menyetir.


"Ya sudah." Kata Yujin pasrah. Mau pulang pun nggak mungkin karena keadaan yang mengerikan begitu.


"Baiklah sekarang kita mengantar Chaewon dulu." Kata Wooseok yang menambahkan kecepatannya.


Sesampainya di rumah Chaewon. Wooseok keluar dari mobil mengikuti Chaewon yang sudah duluan keluar. Mereka hanya diam setelah ditinggalkan berdua.


"Hey." Panggilnya menghentikan langkah kaki Chaewon dan menoleh ke arahnya.


"Ya? Kenapa?"


"Hmm bolehkah aku meminta nomormu. Ucap Wooseok menyodorkan ponsenya pada Chaewon.


"Ah tentu." Chaewon mengambil ponsel Wooseok dan mengembalikannya lagi setelah mengetikkan nomornya.


"Oh ya. Sebenarnya aku udah penasaran dari tadi tapi ku tahan. Aku mau tanya, teman mu itu punya perasaankan terhadap Yujin?" Tanya Chaewon yang melihat Wooseok akan berbalik.


Mendengar pertanyaan Chaewon, Wooseok menatap Chaewon lama dan kemudian bersuara.


"Ayo kita bicara sebentar." Katanya. Chaewon pun mengangguk dan mengajak Wooseok duduk di halaman rumahnya.


Sementara di sisi lain Eunsang yang memainkan ponsel hanya diam di dalam mobil membuat Yujin bosan. Akhirnya Yujin mengajak Eunsang bicara.


"Sebenarnya umur mu berapa? Ku perhatikan kamu jarang mengajakku bicara dengan sopan."


"Kalau itu mungkin kamu nggak ingin dengar." Kata Eunsang yang tersenyum menoleh ke arah Yujin.


"Hey ayolah. Aku hanya merasa kesal karena adik tingkat bicara tak sopan kepadaku."


"Baiklah kalau kamu memaksa." Katanya mematikan ponsel dan menatap wajah Yujin dari kaca Spion.


"Aku kelahiran 2002. Karena kepintaranku yang luar biasa pihak sekolah meluluskanku cepat. Makanya aku sekarang sudah masuk kuliah." Katanya dengan tersenyum. Dia memang suka tersenyum saat berbicara dengan Yujin.


"Wahh.. Aku tak tau kalau kau sangat muda. Kau beda 5 tahun dariku." Kata Yujin takjub.


"Hey. Umur itu bukan masalah. Yang masalah itu hati yang menerima." Ucap Eunsang memegang dadanya menatap lurus kedepan.


"Lihatlah cara bicaramu itu seperti orang dewasa saja. Tapi tetap saja kau masih di bawah umur." Kata Yujin melunturkan senyum manis Eunsang.


"Terserah kamu saja." Ucapnya kesal dan menghidupan kembali ponselnya.


"Tapi kalau kau masih di bawah umur, kenapa kau bisa masuk ke club itu? Apa kau menipu umurmu?" Tanya Yujin memegang pundak Eunsang.


"Hey. Kamu pikir aku apaan? Itu tempat hyung tadi bekerja. Aku sudah sering mampir karena tempat itu miliknya. Lagian kan aku hanya duduk, tidak minum apapun." Kata Eunsang tak percaya. Mendengar itu Yujin langsung melotot.


"Ternyata itu miliknya. Pantas saja dia berani dengan orang itu." Kata Yujin sendiri bersamaan dengan Wooseok masuk ke dalam mobil.


"Maaf ya lama."


"Tak masalah hyung. Aku tau kau pasti mau pdkt kan sama sunbae itu?" Kata Eunsang yang mengangkat sebelah alisnya.


"Apa yang kau bicarakan? Sudahlah. Aku antar kalian pulang dulu." Katanya melajukan mobilnya. Yujin hanya terdiam masih dalam pikirannya yang memikirkan seberapa kaya teman Eunsang itu.


☆☆☆☆


Maaf typo bertebaran....


Mohon dukungannya. Jangan lupa like dan komennya. Tolong tinggalkan komentar yang berkesan.

__ADS_1


Terima kasih😁


__ADS_2