
"Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini ya." ucap Junho.
"Itukan maumu saja." ucap Yunseong. Eunsang hanya tersenyum menanggapinya.
Sekarang mereka bertiga sudah berada di klub Wooseok. Eunsang yang meminta kedua temannya itu untuk menemaninya.
"Oh ya. Wooseok hyung kemana? Kok jadi kau yang disini?" tanya Yunseong.
"Dia lagi mengurus masalah perusahaan paman." jawab Eunsang. Dia sekarang sedang membersihkan gelas wiski.
"Tapi dia tidak mau terlalu berurusan dengan perusahaan. Kok sibuk sekali mengurusnya?" ucap Junho.
"Hmm aku juga kurang tahu. Kita tidak bisa lama-lama disini. Sebentar lagi aku akan pergi." ucap Eunsang menyusun gelas-gelas tadi.
"Kenapa? Mau ena-ena ya sama istri." ucap Junho langsung dilempar Eunsang dengan kain serbet pembersih gelas tadi.
"Pikiran kau itu. Bisa dicuci dulu tidak kalau mau bertemu. Lama-lama kulempar gelas juga." ucap Eunsang.
"Sudahlah. Kayak tidak tahu anak satu ini saja." ucap Yunseong menengahi. Tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri mereka.
"Hai apa kabar." ucap wanita itu.
"Hai juga Minjoo." balas Junho.
"Eunsang kok diam aja sih." ucap Wanita bernama Minjoo itu.
"Aku pulang duluan ya." ucap Eunsang dan melangkah pergi tanpa memperdulikan wanita itu.
"Dia kenapa sih? Salah aku apa coba?" ucap Minjoo kecewa.
"Lebih baik mulai sekarang kau menjauhinya." ucap Yunseong buka suara.
"Kau itu tahu apa? Tak usah ikut campur urusanku!" ucap Minjoo lalu pergi dari sana.
"Wah sadis.. Kenapa kau bisa suka dengan perempuan seperti itu. Mata mu sakit ya." ucap Junho yang melihat Yunseong menatap kepergian Minjoo.
"Diam kau. Aku juga mau pulang." ucap Yunseong beranjak dari duduknya.
"Tunggu. Antar aku pulang dulu." ucap Junho mengikuti Yunseong.
☆☆☆☆
"Oh sudah pulang?" tanya Yujin saat melihat Eunsang masuk. Sekarang Yujin sedang menonton tv di ruang tamu.
"Iya. Kok belum tidur?" tanya Eunsang yang mendudukkan tubuhnya disebelah Yujin.
"Aku menunggu mu." ucap Yujin menatap Eunsang.
"Hmmm mau jadi istri yang baik nih ceritanya." ejek Eunsang sambil menoel pipi Yujin.
"Iya dong. Memangnya salah?" ucap Yujin kembali menatap layar tv menghilangkan rasa malunya.
"Tidak kok." ucap Eunsang. Kemudian suasana menjadi hening.
"Kamu masih mau lanjut nonton?" tanya Eunsang memecahkan keheningan.
"Iya nih tanggung." jawab Yujin yang masih menonton.
"Kamu kalau sudah mengantuk tidur saja duluan." ucap Yujin.
"Aku belum mengantuk kok. Lagian aku ada tugas. Aku ambil laptop dulu ya." ucap Eunsang beranjak dari duduknya menuju kamar.
__ADS_1
Yujin melihat punggung Eunsang sampai tak terlihat lagi. Dia merasa bahagia karena sekarang dia memiliki keluarga. Keluarga yang menyayanginya. Selain memiliki suami, sekarang dia juga memiliki mertua yang sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri. Kadang dia merasa iri melihat orang lain memiliki keluarga.
Tak berapa lama Eunsang datang dengan membawa laptop miliknya saat Yujin masih dalam lamunannya.
"Kamu lagi berpikir tentang apa?" tanyanya mendudukkan diri disebelah Yujin dan membuka laptopnya.
"Tidak banyak. Aku hanya memikirkan masa lalu." ucap Yujin sendu.
"Kamu.... Tidak menangis kan?" tanya Eunsang menoleh ke arah Yujin.
"Tidak. Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Yujin heran.
"Kamukan kalau menangis susah berhenti. Aku bingung nanti harus berbuat apa." ucap Eunsang kembali menatap layar laptopnya.
"Ada benarnya juga sih."
"Tapi sepertinya aku tahu cara membuat kamu berhenti menangis." ucap Eunsang menatap Yujin.
"Apa?" tanya Yujin yang juga menatap Eunsang.
"Ini?" ucapnya lalu mengecup bibir Yujin.
Yujin yang di serang tiba-tiba oleh Eunsang terkejut.
"Apa sih kamu ini. Sudahlah aku mau tidur." ucap Yujin langsung bangkit dan melangkah menuju kamar.
Eunsang terkekeh melihat istrinya yang masih malu-malu. Lalu Eunsang melanjutkan kegiatannya.
☆☆☆☆
"Tega sekali dia tinggalkan aku." ucap Junho. Sekarang dia berdiri di trotoar pinggir jalan.
Junho jalan menjauh dari klub mencari taksi. Tapi sampai sekarang belum ada taksi yang lewat. Junho pun terus bejalan berharap ada taksi yang lewat.
Saat berjalan, dari jauh Junho melihat seorang pria menarik-narik seorang wanita. Terlihat jelas kalau wanita itu tidak mau ikut dengannya. Dan wanita itu menggendong anak bayi sambil menangis.
"Lepas! Aku tidak mau ikut dengan mu!" seru wanita itu.
"Kau harus ikut! Ayo!" ucap pria itu dengan kasar menarik tangan wanita itu. Sedangkan bayi yang digendong wanita itu ikutan menangis.
Junho yang tidak tahan melihat wanita menangis langsung menghampiri keduanya dan langsung menghempaskan tangan pria itu.
"Apa-apaan ini?! Siapa kau berani sekali kasar dengan nya?" ucap Junho yang sekarang berdiri di depan wanita itu.
Wanita yang kini berdiri dibelakang Junho terdiam dan menatap punggung Junho yang berada di depannya.
"Minggir kau!" ucap pria itu pada Junho.
"Aku tidak akan minggir sebelum kau pergi dari sini." ucap Junho lantang.
Hyewon nama wanita itu. Dia menarik baju bagian belakang Junho. Diremasnya baju itu membuat yang punya menoleh.
"Tolong bawa aku menjauh darinya." ucapnya pelan.
"Kau tak perlu ikut campur. Dia ini sudah kubeli dari mantan suaminya. Lebih baik kau pergi sekarang." ucap pria itu yang ingin menarik tangan Hyewon tapi di tahan oleh Junho.
"Kau yang pergi dari sekarang sebelum kulaporkan pada polisi. Akan ku laporkan bahwa kau telah menculik istri orang." ucap Junho yakin membuat Hyewon menatap belakang kepala Junho.
"Bocah seperti kau ini suaminya? Dia saja baru bercerai beberapa bulan ini. Kau jangan berbohong. Serahkan dia padaku." ucap pria itu tak percaya dengan ucapannya.
"Bocah? Siapa yang kau bilang bocah? Walau wajahku babyface seperti ini tapi umurku sudah 26 tahun." ucap Junho berbohong dengan percaya diri.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Berarti dia telah berbohong padaku." ucapnya pada dirinya sendiri.
"Sudah cepat pergi sebelum ku laporkan." ucap Junho.
"Baiklah. Kalau ternyata kau berbohong akan ku bawa dia bersamaku." ucapnya kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah pria itu pergi Hyewon belum melepaskan pegangannya pada baju Junho. Junho membalikkan tubuhnya menghadap Hyewon.
"Kalian tidak terlukakan?" tanya Junho pada Hyewon dan juga pada bayi Hyewon.
"Kami tidak terluka. Terima kasih sudah menolong." ucap Hyewon mengusap pipinya dan pipi bayinya yang tadi menangis.
"Tidak masalah. Dimana rumah kalian? Biar aku antarkan. Tidak baik pulang sendirian saat malam." ucap Junho penuh perhatian.
"Terima kasih tawarannya. Tapi kami bisa pulang sendiri. Sekali lagi maaf telah merepotkan mu." ucap Hyewon melangkah pergi tapi ditahan oleh Junho.
"Hey dengarkan aku dulu. Sekarang mungkin saja pria tadi masih disekitar sini. Jadi aku antar saja ya." bujuknya lagi.
"Tidak perlu. Saya tidak mau merepotkan tuan lagi." ucap Hyewon melepaskan tangan Junho.
"Ayolah percaya padaku. Aku hanya khawatir. Itu saja." ucap Junho meyakinkan. Hyewon menatap mata Junho yang terlihat meyakinkan akhirnya setuju.
"Baiklah. Tapi sampai halte bus saja ya." ucapnya. Dia sungguh tidak mau merepotkan orang lain.
"Oke. Ayo." ajak Junho yang berjalan duluan.
Mereka pun berjalan menuju halte. Anak yang digendong Hyewon masih belum berhenti. Mungkin dia lapar dan mengantuk karena kejadian tadi itu malam hari. Wajar bila ia menangis.
"Coba sini aku gendong. Siapa tahu bisa tenang." tawar Junho. Awalnya Hyewon ragu. Tapi karena anaknya tak mau diam jadi dia memberikan anaknya pada Junho.
"Ini." ucapnya memberikan anaknya pada Junho.
Bayi laki-laki berusia satu tahun itu bernama Hyekyu langsung diam saat Junho menggendongnya.
"Wah langsung diam dia. Siapa namanya?" ucap Junho yang mengelus kepala bayi itu.
"Hyekyu." jawab Hyewon seadanya.
"Terus nama kamu siapa?" tanya Junho lagi. Sekarang mereka sudah sampai halte bus dan duduk di bangku yang disediakan.
"Nama saya Kang Hyewon." ucapnya tanpa melihat Junho.
"Kalau aku Junho. Cha Junho. Sebenarnya aku masih kuliah tingkat 1. Jadi umurku masih 20 tahun. Kalau kamu?" kali ini Junho bermain dengan Hyekyu.
"Umurku 24 tahun." jawabnya singkat.
"Benarkah? Kenapa kamu sudah bercerai?" tanya Junho tak percaya.
"Sepertinya kita belum terlalu dekat untuk berbagi cerita. Itu bus kearah rumah kami sudah datang." ucap Hyewon bangkit dari duduknya.
"Kemarikan Hyekyu." ucapnya lagi sambil merentangkan tangannya.
"Oh? Ini." Junho memberikan Hyekyu padanya.
"Sekali terima kasih." ucap Hyewon dan melangkah menuju bus. Tapi saat hendak membayar dia memeriksa dompetnya ditasnya namun tidak ada.
"Bisa cepat tidak?" ucap penumpang yang lain dibelakangnya. Tiba-tiba ada seseorang yang menerobos masuk.
"Maaf pak. Dia bersama saya."
☆☆☆☆
__ADS_1