
#POV Author
"Ini siapa?" tanya Hyewon menunjuk Yunseong yang sedari tadi menatapnya.
"Oh ya kenalin ini Yunseong temen aku dan Eunsang. Seong ini yang kau tanya tadi. Namanya Hyewon." jelas Junho.
Yunseong hanya melongo. Bingung plus kaget karena temannya itu memperkenalkan seorang perempuan padanya. Biasanya kalau dia dekat dengan perempuan Junho hanya bercerita saja tapi tidak pernah memperkenalkan secara resmi.
"Oh iya ini ponsel kamu. Lain kali kalau dibanguni langsung bangun." ucap Hyewon sambil memberikan ponsel Junho.
Yunseong jadi berpikir kalau mereka berpacaran dan tinggal bersama. Padahal memang benar mereka tinggal bersama. Tapi yang beda hanya status. Setelah ciuman itu belum ada pembahasan lebih lanjut.
"Kamu ada kelas lagi habis ini?"
"Nggak ada kok. Dosen kami nggak masuk hari ini." ucap Junho dengan semangat.
"Tadi kamu belum sempat sarapan. Gimana kalau kita makan dulu. Kalau mau ajak aja temanmu itu." ucap Hyewon setelah itu langsung pergi meninggalkan keduanya.
Saat Junho ingin menyusul Hyewon tangannya ditahan oleh Yunseong.
"Apa sih?"
"Dia sebenernya siapamu sih? Itu yang kau panggil noona tadi?"
"Iya. Kau sih kemarin itu aku ajak nggak mau. Jadi nggak tau kabar menggemparkan deh. Ya udah ayo kalau mau ikut." Junho pun mengejar Hyewon yang mulai menjauh dari mereka.
"Huh padahal aku mau curhat. Nanti aja deh." Yunseong pun menyusul mereka berdua.
☆☆☆☆
.
"Noona. Tumben noona mengajakku makan. Biasanya kalau aku ajak noona nggak mau." tanya Junho disela makannya. Yunseong hanya mengamati keduanya.
"Kan kamu belum makan tadi. Lagian sekalian ajak pacar makan masa nggak boleh?" ucap Hyewon santai.
"Boleh sih... Tapi-- Apa? Pacar?!" bukan hanya Junho yang terkejut, Yunseong lebih terkejut lagi.
"Kenapa kaget begitu? Kan kamu sendiri yang duluan cium aku dan ngaku-ngaku jadi pacar aku."
"Iya sih. Tapi setelah itu kita kan nggak pernah bahas itu lagi. Jadi aku pikir noona marah." ucap Junho sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.
"Tunggu dulu. Tolong jelaskan sama aku. Aku dari tadi kayak orang bodoh tau nggak sih." ucap Yunseong yang tidak terima karena dia tidak mengerti kenapa bisa jadi begitu arah pembicaraannya.
"Udah nanti malam aku nginap di rumahmu. Kau bilang mau curhatkan? Sekalian aku ceritain disitu." ucap Junho lalu melanjutkan makannya sambil senyum-senyum nggak jelas.
☆☆☆☆
.
#POV Eunsang
"Aku juga cinta kamu"
Ucapan Yujin selalu terbayang dipikiran ku. Padahal itu hanya sebuah pernyataan cinta tapi kenapa aku malah menjadi tidak tenang begini?
Sekarang kami sudah diapartement. Yujin sedang mandi. Tadi kami pulang setelah makan malam di rumah Ayahku. Soalnya ibu tidak mengizinkan kami pulang sebelum makan malam.
Biasanya setelah pengakuan saling suka kemudian penyataan cinta lalu kemudian... ah aku memikirkan apa sih? Ini masih terlalu dini buat Yujin. Dia pasti akan marah padaku kalau aku membahas itu sekarang.
Suara air tidak terdengar lagi dari arah kamar mandi. Berarti Yujin sudah selesai mandi. Bagaimana nih? Entahlah pertama aku harus mengontrol ekspresiku. Dan Yujin datang menuju ranjang kami.
"Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Hah?"
"Kenapa kamu menatapku begitu?" Yujin pun duduk disebelahku.
"Nggak ada kok." entah kenapa sekarang aku sedikit gugup duduk disebelahnya. Padahal hanya duduk. Tapi aroma shampo yang Yujin pakai membuat suasananya sedikit... canggung?
"Kamu nggak mandi?"
Huh? Pertanyaan familiar macam apa ini? Padahal kami nggak berbuat apapun. Tapi kesannya kok begini?
"Eunsang! Kamu ini kenapa sih? Dari tadi diam aja." yah mungkin dia sedikit bingung karena aku nggak pernah seperti ini.
"Nggak papa kok sayangkuhh..."
Ah tanpa sadar aku memegang pipinya. Kami berdua terdiam. Menatap kedalam mata kami masing-masing.
"Hmm... Ya udah aku mandi dulu. Kamu kalau mau langsung tidur nggak masalah kok." aku pun langsung masuk ke kamar mandi meninggalkannya yang mematung.
.
☆☆☆☆
.
#POV Yujin
Hah... Kenapa jantungku berdebar kencang? Ini semua karena perkataan ibu tadi. Bagaimana aku mengatakannya pada Eunsang? Dia mungkin belum berpikir kearah sana. Nanti kalau aku memulai percakapan itu nanti aku dikira agresif lagi.
Huh... lebih baik aku tidur duluan. Masalah itu nanti saja aku pikirkan. Aku langsung masuk kedalam selimut. Aku nggak peduli lagi dengan rambut aku yang basah. Yang penting sembunyi dulu.
Sudah lebih dari 20 menit berlalu tapi Eunsang belum keluar. Padahal sudah tidak ada suara air lagi. Ih kok aku kecewa sih? Bukannya bagus kalau dia lama keluar. Bodo ah.
"Kamu udah tidur?" tiba-tiba dia bersuara membuatku kaget saja.
Eh? Eh?! Dia udah naik ke kasur saja. Jelas aku panik. Padahal bukan apa-apa dan juga setiap malam kami tidur satu ranjang begini.
"Aku tau kamu belum tidur."
Bagaimana dia tau? Dengan perlahan aku membuka selimut dan hanya menampilkan mataku saja.
"Kamu tadi tanya aku kenapa. Sekarang pertanyaan kamu tadi balik ke kamu nih. Kamu kenapa? Hm?" ucapnya sambil tersenyum manis padaku.
"Ak-aku.. nggak papa kok."
"Terus kenapa pura-pura tidur kayak gitu?" ihh dia kok manis kali sih sekarang?
"Nggak kok! Aku cuma kedinginan. Rambut aku belum kering soalnya." alasan macam apa itu? sungguh tak masuk akal.
"Loh? Kok nggak dikeringkan sih? Nanti kamu kena flu lagi. Ayo bangun keringkan dulu rambutnya." Dia berdiri dan mengambil hair dryer milikku.
Aku pun bangkit mendudukkan diriku di pinggir kasur. Aku menatapnya yang tengah sibuk membuka tali colokannya. Kemudian dia mendekat kearahku dan mulai menyalakan hair dryer itu.
"Kamu jangan sering-sering basah rambut malam-malam. Nanti kamu bisa masuk angin tau." ucapnya sambil mengeringkan rambutku dengan posisi berdiri.
Aku hanya diam saja. Entah kenapa pembicaraan dengan ibu tadi teringatku lagi. Apa aku tanyakan sekarang saja? Aku pun menatap ke atas. Menatap Eunsang yang tengah tersenyum saat aku melihatnya.
"Kenapa?"
"Hmm begini... Tadikan aku ada bicara dengan ibu. Kamu tau apa yang dibicarakan ibu?" Aku kembali menatap matanya.
Dia menghentikan kegiatannya dan duduk disampingku. Lalu diletakkannya hair dryer itu.
"Memangnya kalian bicara apa?"
__ADS_1
"Gini... Tadi ibu tanya kapan kita..." susah sekali mengucapkannya.
"Kita apa?"
Ah aku nggak tau lagi lah yang penting aku katakan saja dulu.
"Kapan kita mulai memikirkan anak!" ucapku cepat. Aku nggak tau bagaimana reaksi Eunsang sekarang. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam.
Aku perlahan mengangkat kepalaku. Ku lihat dia terdiam. Kenapa dia diam saja? Aku jadi bingung harus bicara apa. Bukan itu masalahnya. Aku butuh reaksinya menyikapi perkataanku tadi.
"Hey! Kamu dengar aku ngomong nggak sih? Aku ini udah malu banget tapi kamu malah diam saja. Kamu ini seb--"
Apa ini? Kenapa dia tiba-tiba nyerang begini? Kalian mau tau dia berbuat apa? Dia itu sekarang lagi cium aku. Tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaanku.
Tak lama dia melepaskan ciumannya dan menatapku lama. Ku lihat kilatan matanya berbeda dari biasanya. Dan juga hembusan nafasnya berat.
"Kamu yakin ibu bicarakan itu?"
"Iya.. Jadi bagaimana pendapatmu?"
"Hm."
"Hm? Apa?"
"Ishh kamu ini nggak peka banget sih. Iya aku mau. Aku mau banget malah." ucapnya cepat lalu membuang pandangannya. Kok gemes sih.
"Ya udah."
"Ya udah apa?" ih tadi bilang aku nggak peka tapi dia sendiri juga gitu.
"Bodo ah. Males. Mending tidur." ucapku lalu masuk kedalam selimut dan berbaring membelakanginya.
"Eh kok tidur sih?"
"Bodo."
Tiba-tiba Eunsang menarik tubuhku hingga menghadap kearahnya.
"Kamu harus tanggung jawab dong. Dia udah bangun nih." ucap Eunsang ambigu. Dia? Siapa?
"Apa sih? Dia siapa lagi maksud kamu. Udah ah sana aku mau tidur." saat aku bergerak tak sengaja kakiku menyentuh sesuatu yang keras? Refleks aku melihat kebawah. What?! Itu apa?
"Kenapa? Kaget?" ucapnya yang masih berada diatasku.
"Kamu... Kamu serius mau hari ini?" sumpah aku sedikit merasa takut.
"Boleh ya. Nggak kasar deh."
"Eunsang. Kamu ini diajarin siapa sampai kamu bisa bilang begitu? Pasti Wooseok kan? Atau kak Yohan? Kamu jangan terlalu sering main sama mereka. Merek--"
Cup
"Kamu kok bawel baget disituasi begini sih? Ayo buruan main sekarang. Kalau makin larut bisa-bisa besok kam--" Bodo amat aku dibilang agresif. Dia bilang aku lama tapi dianya juga lebih bawel.
Kulepaskan ciuman kami dan kami saling menatap. Dia tersenyum padaku. Senyum Eunsang selalu manis. Untung saja senyum itu selalu dia berikan padaku.
"Kita mulai sekarang ya.." aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Yah kalian taulah kelanjutannya gimana. Malam itu aku bahagia banget. Orang yang aku cintai bersamaku, tersenyum padaku. Dulu aku selalu iri dengan orang yang memiliki cinta, baik cinta kedua orang tua maupun pasangan. Tapi berkat dia aku bisa mendapatkan keduanya.
Aku harap kita bisa bersama selalu. Selalu ada disaat senang maupun susah. Nggak mungkin disuatu hubungan nggak punya masalah. Hanya saja aku ingin kita selalu bersama, berdampingan menghadapi masalah apapun.
.End
__ADS_1