
"Apa kabar sang?" terdengar suara perempuan dari dalam. Eunsang langsung melihat ke asal suara. Lalu menatap tajam perempuan itu.
"Bu. Kenapa ibu nggak bilang kalau ada dia disini?" tanya Eunsang. Yujin merasa aura yang dikeluarkan Eunsang tidak biasa sekarang.
"Oh iya. Ibu lupa kasih tau kalian kalau kemarin Eunha menginap disini." tangan ibu Eunsang masih memegang tangan Yujin.
Sudah cukup lama Eunsang tidak melihat perempuan yang beberapa waktu lalu menghubunginya. Dia tidak mau lagi berurusan dengan anak teman ibunya itu.
Dulu mereka sempat dekat dan Eunsang juga sempat memiliki rasa dengan Eunha. Tapi saat Eunsang menyatakan perasaannya Eunha malah menolaknya. Bisa dibilang sedikit kasar. Eunha malah meremehkan Eunsang dan mengatakan kalau Eunsang tidak bisa melakukan apa pun diusianya itu.
Sudah 2 tahun berlalu dan tiba-tiba perempuan yang seumuran dengan Yujin itu malah muncul lagi dihadapannya. Sungguh menjengkelkan pikir Eunsang.
"Kenapa kau menatapku begitu? Lalu ini siapa bu?" tanya Eunha beralih menatap Yujin.
Yujin yang tidak tahu apa-apa hanya tersenyum saat ditatap Eunha.
"Ah ini Yujin istri Eunsang."
Begitulah ibu Eunsang memperkenalkan Yujin dengan senyum merekah di bibirnya. Eunha Terkejut mendengarnya. Tidak mungkin Eunsang menikah diusianya yang sekarang pikirnya.
Eunsang tersenyum sinis melihat perubahan ekspresi Eunha. Lalu Eunsang meraih tangan Yujin dan menariknya masuk ke ruang makan.
"Ayo bu. Ayah sudah menunggu." ucap Eunsang lalu pergi dengan Yujin yang mengikut begitu saja karena Eunsang menarik tangannya.
Yujin melihat tangan Eunsang yang menarik tangannya itu. Lalu menatap belakang kepala Eunsang. Yujin merasa Eunsang kesal hari ini setelah bertemu perempuan yang Yujin tahu namanya Eunha.
"Oh kalian udah datang. Ayo duduk." ucap Ayah Eunsang. Mereka pun duduk bersebelahan.
Tak berapa lama Ibu Eunsang dan Eunha menyusul. Mereka duduk bersebelahan dihadapan Eunsang dan Yujin.
"Yujin. Ini Eunha anak teman ibu."
"Ah halo. Saya Yujin." Yujin memperkenalkan dirinya dan tersenyum pada Eunha.
"Eunha dan Eunsang dari kecil sudah dekat. Orang mengira mereka kakak adik karena begitu dekatnya." jelas ibu Eunsang.
Ah ternyata begitu. Tapi kenapa Eunsang terlihat begitu kesal? Pikir Yujin.
"Bu. Lebih baik kita makan. Aku sudah lapar." ucap Eunsang mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya. Ayo dimakan. Kalian berdua nggak perlu canggung. Kita disini saudara. Yakan Eunha?" ucap ibu Eunsang menatap Eunha.
"Iya bu." balas Eunha sambil tersenyum.
Eunsang tidak perduli lagi dia langsung memakan makanan yang dihadapannya itu. Semua yang ada disitu juga mulai menyantap makanannya.
☆☆☆☆
Suara alarm memenuhi ruang kamar itu. Tapi sang pemilik kamar itu tenang dalam tidurnya. Ya siapa lagi kalau bukan Junho. Padahal dia sudah memasang alarm tadi malam karena dia ada kelas pagi ini.
Setelah bunyi alarm berhenti ponselnya kembali berdering. Kali ini suara panggilan. Kalau tadi Junho tak menunjukkan pergerakan sedikit pun kali ini tubuhnya tersentak dan langsung meraih ponselnya yang berada dinakas samping tempat tidurnya. Tapi tetap menutup matanya.
__ADS_1
"Halo..." jawab Junho dengan suara seraknya.
"Ya! Kau dimana?! Jam segini kok belum datang. Kau mau nilai kuis mu kosong?!" seru seseorang disebrang telpon.
"Emang jam berapa ini?" tanya Junho santai dan masih menutup matanya.
"Jangan bilang kau masih tidur. Ini udah jam 08.35 tau!" padahal suara teriakan laki-laki itu cukup keras tapi Junho tak bergeming sedikit pun.
Tapi beberapa saat kemudian dia membuka matanya dan terbangun.
"Apa?! Seriusan Seong?!" ternyata yang menelpon Yunseong.
"Heh jadi orang kok bodoh sih. Kau nggak punya jam di sana? hah? Buruan. Bapak itu telat 1 jam katanya. Masih keburu kalau kau bangun sekarang." lalu panggilan terputus.
"Bisa gila aku!" Junho langsung berlari menuju kamar mandi.
Dirinya tak bisa tidur tadi malam hingga jam 3 tadi. Bagaimana bisa tidur coba. Dia baru sadar kalau dia sudah mencium Hyewon. Dia senang bukan main. Apalagi sekarang Hyewon tinggal bersamanya. Rasanya dia ingin menyelinap masuk ke kamar Hyewon dan melanjutkannya. Tapi itu tidak mungkin. Kalau sampai ketahuan bundanya bisa gawat.
Setelah mandi dan berpakaian dia langsung berlari keluar kamar. Saat menuruni tangga dia melihat Hyewon sedang menyuapi Hyekyu di ruang Tv.
"Oh kau udah bangun? Tadi dibangunin nggak bangun-bangun." ucap Hyewon setelah melihat Junho sudah rapi dengan pakaiannya.
"I-iya. No-noona bunda kemana?" Ucap Junho tak berani menatap Hyewon.
"Tante pergi ke kantor. Katanya ada urusan penting. Jadi harus dia yang menangani. Kau mau kuliah? Sarapan dulu sana."
"Ah ng-nggak. A-aku udah telat banget nih. Noona aku pergi dulu ya." setelah mengucapkan itu Junho langsung berlari menuju garasi.
☆☆☆☆
"Betah kok yah. Tapi Yujin sering kesepian kalau Eunsang pergi keluar yah." jawab Yujin sambil menatap Eunsang.
"Kenapa kau sering meninggalkannya? Itulah kau dari dulu selalu saja keluyuran. Dikasih tau juga dari dulu." Ayah Eunsang sedikit emosi melihat anaknya tidak pernah berubah dari dulu.
"Sudahlah yah. Namanya juga anak laki-laki. Wajar dong. Apalagi nanti kalau sudah bekerja. Ya Yujin lebih sering ditinggalkan yah." ibu Eunsang menengahi. Eunsang hanya diam saja. Perasaannya sedang tidak mood saat ini.
"Jadi bu. Kenapa mereka bisa menikah? Apa... terjadi kecelakaan?" tanya Eunha dengan hati-hati.
Yujin membeku mendengarnya. Kenapa kalau seseorang menikah muda selalu diartikan sudah hamil duluan atau bisa dibilang kecelakaan. Memang sih awal mereka menikah juga terpaksa. Tapi mereka dipaksa juga bukan karena itu.
"Kenapa kau menanyakan itu? Apa Yujin terlihat seperti perempuan murahan?! Dia jauh lebih baik dari mu. Kau tau itu!" ucap Eunsang lalu pergi meninggalkan semua orang yang ada disana.
"Maaf ya Yujin. Aku sungguh nggak tau. Aku salah karena salah memilih kalimat." ucap Eunha. Dia sungguh merasa bersalah. Padahal bukan itu maksudnya.
"Ah nggak masalah kok. Sering kok yang tanya begitu jadi sudah terbiasa." ucap Yujin.
"Sudahlah. Si Eunsang aja yang terlalu sensi. Sebenarnya anak itu kenapa sih? Lebih baik kamu menyusulnya Eunha. Kaliankan sudah lama tidak bertemu." ucap ibu Eunsang.
"Baik bu." Eunha langsung menyusul arah pergi Eunsang.
"Ayah juga masih ada pekerjaan. Kalian mengobrol lah disini atau ketaman belakang sana sekalian menghirup udara segar."
__ADS_1
"Baiklah yah."
Setelah ayah Eunsang pergi mertua dan menantu itu saling tatap dan tersenyum. Lalu salah satu dari mereka mengajak keluar.
☆☆☆☆
"Kau ngapain sendirian disini?" tanya Eunha pada Eunsang yang sibuk menatap taman dari atas. Mereka berada digazebo lantai 2.
Eunsang tidak menjawab pertanyaan Eunha. Dia hanya menoleh sebentar lalu melihat ke arah pandangnya tadi.
"Kau masih marah? Serius deh. Kau itu beneran kayak anak kecil tau nggak." ucap Eunha yang sudah berdiri disamping Eunsang.
"Untuk apa kau menemuiku? Aku kan bocah yang nggak bisa diandalkan." ucap Eunsang tanpa menoleh.
Eunha tertawa mendengarnya. Sekarang dia sedang menghadapi anak abg yang lagi merajuk. Ayolah itu sudah lama terjadi. Kenapa dia masih marah.
"Kenapa kau tertawa. Kau mengejek ku?" kini Eunsang sudah berbicara sambil menatap Eunha.
"Hahaha.... Bukan.. Hanya saja lucu sekali. Padahal kau tau betul itu hanya cinta monyet. Tapi kau masih marah pada ku?"
"Siapa yang nggak marah. Kau sungguh kejam menolakku. Lihat! Bocah yang nggak bisa diandalkan ini sudah mempunyai istri yang lebih baik dan lebih cantik dari mu." ucap Eunsang sedikit lantang.
"Oke-oke. Tapi kau nggak mau dengar penjelasanku dulu?" kini raut wajah Eunha berubah.
Eunsang menyadari susana disekitarnya sedikit berbeda. Dia hanya diam saja menatap Eunha yang memandang langit cerah. Kebetulan hari ini memang sedang cerah.
"Aku sengaja berkata seperti itu. Aku tau kau itu keras kepala. Kalau aku menolakmu dengan baik-baik aku takut kau masih mengejarku. Aku udah menganggapmu sebagai adik kandungku. Mana mungkin aku menerima atau menyukai mu." jelas Eunha.
"Tapikan...." ucapan Eunsang terpotong.
"Eh lagian kalau dulu aku terima kau. Sekarang kau mana bisa menikahi perempuan cantik seperti Yujin." Ucap Eunha sambil menunjuk kebawah tepat dimana Yujin berada.
Eunsang mengikuti arah pandang Eunha. Dia melihat Yujin sedang berbicara pada ibunya sambil melihat bunga yang ada ditaman itu.
Benar juga pikirnya. Selama setahun setengah dia galau memikirkan dirinya yang ditolak oleh Eunha. Selama waktu itu dia melampiaskan amarahnya dengan ikut tawuran.
Sampai suatu saat dia bertemu Yujin. Saat itu kondisi pertemuan mereka tidak baik. Tapi sejak itu Eunsang selalu mengikuti Yujin dan mencari tau tentang istrinya itu.
Tanpa sadar Eunsang tersenyum karena mengingat kenangan awal mula mereka bertemu.
"Eh... senyum senyum kenapa kau ini?" Goda Eunha.
"Ehem! Siapa yang senyum?" Elak Eunsang membuang mukanya.
"Jadi? Kau mau kan memaafkanku?" Tanya Eunha.
"Yah liat nanti."
Begitulah akhir permusuhan antara Eunsang dan Eunha. Eunsang sebenarnya sudah memaafkan Eunha. Tapi dia hanya merasa kesal karena perkataan Eunha yang kelewatan.
☆☆☆☆
__ADS_1